Mengunjungi Medan lagi pada minggu kedua Maret lalu, setelah setahun lebih, mengingatkan lagi akan masa-masa kerja di Aceh. Medan adalah tempat transit dan tempat berlibur. Berbekal tiket diskonan air asia, berdua nyokap berkunjung ke rumah my brother yang baru tiga bulan tinggal disana.

Tidak banyak rencana untuk jalan-jalan disana. Hanya sekedar melewatkan wiken yang bukan long wiken. Sempat kepikiran untuk mengajak ke Danau Toba. Ternyata pula ponakan saya sabtu masuk sekolah dan seninnya masuk minggu ulangan. Saya datang pada waktu yang kurang tepat.

Baru bisa jalan-jalan hari Minggu. Saya mengajak ke Brastagi, yang tidak terlalu jauh. Berangkat dari rumah sekitar pukul 11.00. Kakak saya salah jalan,malah ke arah utara. Sampai Binjai saya baru nyadar, itu adalah jalan lintas timur menuju Banda Aceh. Awalnya dia berkelit, ke Brastagi bisa lewat situ. Tetapi akhirnya kita balik arah menuju Medan lagi, menuju jl. Jamin Ginting, jalan Keluar kota medan ke arah barat menuju Brastagi.

Menyusuri jalan Jamin Ginting yang panjang, ternyata masih jauh menuju Brastagi. Cuaca mulai mendung dan dingin karena jalan sudah menanjak
pegunungan. Ketika melihat papan petunjuk bahwa Brastagi masih 27 KM lagi, sementara waktu sudah lewat dari pukul 14.00, kita memutuskan untuk sampai Sibolangit saja. Di sepanjang jalan banyak spanduk yang menunjukkan tempat rekrasi Green Hill Park Sibolangit yg tidak jauh lagi. Karena belum makan siang, berhenti di Restoran Garuda, Sibolangit diantara jejeran ruko yang sangat rapi. Dari tempat tersebut tampak Kincir Angin Raksasa, dan lintasan Roller Coaster layaknya di DUfan. Ponakan saya sudah tidak sabar ingin naik.

Ketika makan siang, tiba-tiba hujan deras. Kami terjebak hujan di restoran. Setelah agak reda kami menuju tempat rekreasi yang ternyata itu adalah
Green Hill Park, Sibolangit. Dari luar hanya dua mainan raksasa itu yang tampak. Setelah didekati ternyata kawasan itu adalah tempat rekreasi yang lengkap dengan areal yang luas dan landscape yang indah, milik FunWorld. Setelah masuk gerbang, memasuki amusement hall yang luas dengan aneka permainan indoor ala TImezone. Permainan-permainan outdoor hampir semua sekelas permainan di Dufan. Mainan-mainan tersebut dibagi dalam zona-zona pada lahan yang berkontur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                         Saya mengingat-ngingat lagi, rasanya terakhir lewat Sibolangit, Nov. 2007, tidak melihat tempat ini. Setelah tanya petugas, ternyata memang baru dibuka pertengahan tahun 2008. Ketika kami masuk, agak sepi karena banyak yg sudah pulang karena hujan, padahal buka sampai jam 21.00 malam. Kami hanya sempat mencoba tiga mainan, karena setelah itu hujan turun lagi dengan derasnya. Bahkan kami kembali ke mobil sambil hujan-hujanan. Berangkat pulang sekitar pukul 19.00. Sepanjang jalan hujan deras. Tidak jauh sebelum memasuki kota Medan baru agak reda, dan di Medan benar-benar kering, tidak hujan. Sampai tengah kota pukul 21.30.

Dalam perjalanan yang tidak sengaja itu, akhirnya malah menemukan tempat rekreasi baru yang cukup bagus. Biarpun tidak sampai Brastagi senang juga melihat ponakan yang bahagia mainan disana. Green Hill Park Sibolangit menjadi alternatif rekreasi kota Medan, letaknya yang tidak terlalu jauh, sekitar 30 km dari kota medan, udara sejuk serta pemandangan pegunungan yg indah.

____________________________________________________________________

home - ApriL 2009

Takjub ! acara kondangan Neni yang digabung travelling pantai selatan bisa terwujud. Hampir sebulan lebih sebelumnya, sohib saya sejak kuliah, Neni
ngabarin rencana resepsi pernikahannya, mewanti-wanti saya supaya tidak ada acara dan bisa hadir ke Banjar, Ciamis pada tanggal 27 Desember 2008.

Jauh-jauh hari saya mengajak teman-teman yang mau jalan ke Pangandaran sekaligus nemenin kondangan. Karin dan RIfa, temen kantor tim GUnung Kidul trip antusias mau. Tadinya mau nekat pergi bertiga, bawa mobil sendiri.

Minggu-minggu berikutnya setelah rencana itu, Ama ngajak Trip ke Pamengpeuk, Garut Selatan pada tanggal yang sama. SEtelah diskusi, akhirnya saya dan Ama sepakat menggabung trip kondangan Pangandaran dengan Garut Selatan dengan jadwal tiga hari 26 -28 Desember.

Itinerary fix nya baru jadi beberapa hari menjelang pergi. SEmpat bingung mengatur jadwal, karena jadwal kondangan yang tengah, serta tempat utama yang akan dikunjungi jaraknya berjauhan. Green Canyon di Pangandaran dan Pantai Santolo di Pamengpeuk, Garut Selatan.  Sampai hari-hari terakhir menjelang pergi yang ikut tadinya enam orang, Saya, Karin dan RIfa dari IKPT serta Ama dengan dua orang teman kantornya di Electronic Solution, Dadang dan Diaz. Sehari sebelum berangkat peserta bertambah satu, Chika, tim hore saya dan Ama.

Jumat, pukul 7.30 pagi, kami kumpul di kantor saya. Avanza sewaan tampak penuh seperti akan pulang kampung, dimuati kami bertujuh plus ransel-ransel. Bahkann kado saya untuk Neni yang lumayan besar tidak muat lagi, setelah menimbang-nimbang saya tinggal untuk diberikan di Jakarta saja. Karena acara packing mobil yang cukup lama, kami baru berangkat sekitar pukul 8.15. Sejak masuk Cikampek dari Cawang sampai Tambun sangat lancar, berhenti dulu di rest area KM 19 untuk isi bensin dan ke ATM. 

setelah itu jalan agak padat merayap disekitar Karawang, yang ruas jalan tengahnya sedang diperbaiki. Selepas itu lancar lagi sampai keluar tol Cileunyi. Padat lagi menjelang Nagreg, tapi tidak terlalu parah. Cuaca berganti-ganti dari panas,mendung, gerimis, sampai hujan deras.Diaz, sang driver kita menyetir dengan nyantai, sehingga saya dan Karin yang duduk di jok belakang tidak mengalami gangguan mual.

Tidak terasa hampir pukul 14.00 siang ketika memasuki Garut, mulai mencari tempat untuk makan siang. Untungnya cemilan cukup readystock
sehingga masih nyantai cari tempat makan siang yang menggugah selera. Sampai Tasik belum juga singgah, sampai akhirnya kita berhenti di Restoran Gentong, selepas Tasik. Restoran bangunan kayu dengan kolam dan taman yang nyaman. Kita memesan ayam goreng kampung dan Gurame.
Resto sangat ramai dengan mobil-mobil yg parkir sebagian besar plat B. akan melanjutkan perjalanan, hujan deras.

Tidak sampai satu jam kemudian sampai di gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Kota Banjar”. Waktu menunjukkan pukul 16.00. Jadwal kita hari itu langsung ke Green Canyon, tetapi tidak terkejar. Green Canyon masih 1-1.5 jam lagi. Akhirnya kita memutuskan untuk langsung ke rumah Neni. Singgah dahulu di kantor Polres Banjar yang terletak dekat gerbang tersebut untuk numpang ke toilet. Setelah itu menuju Masjid Agung dan Alun-Alun kota Banjar. Saya  menelpon Neni untuk minta dijemput. Tidak lama Anto, adik Neni datang dan memandu kami menuju rumahnya yang tidak jauh dari situ.

Rumah Neni tampak ramai oleh tamu, sesorean kami bertamu. MEnjelang magrib kami pamit menuju penginapan yang ‘alhamdulillah’ disediakan Neni. Awal nya disediakan tiga kamar, Pas untuk kami bertujuh. Tetapi salah satu kamar tidak ber-AC. Demi kesamarataan akhirnya cewe-cewe bergabung dalam satu kamar, biar Diaz dan Dadang pakai kamar berAC.
Malam itu Ama, Chika, Diaz dan Dadang muter-muter kota Banjar. Saya, Karin dan RIfa memilih untuk leyeh-leyeh di kamar. Banjar kota kecil yang sepi tidak cukup menarik kami bertiga malam itu. Sekitar pukul 21.00 peningapan ramai oleh kedatangan rombongan keluarga mempelai pria dari Jakarta. Saya sempat menemui Sigit, sang mempelai untuk mengobrol.

Keesokan pagi,kami bersiap-siap menghadiri akad nikah. Jam 8.00 kita semua sudah rapi jali. Seru melihat teman-teman dalam rencana adventure masih menyelipkan kostum kondangan lengkap dengan selopnya.

Sekitar pukul 8.15, kami berangkat menuju gedung Graha Banjar Indah, yang tidak jauh dari penginapan. Gedung yang cukup luas itu tampak cantik berhiaskan bunga-bunga dan karpet merah. meja-meja catering tampak sudah rapi, satu kelompok Sanggar Musik Sunda tampak siap mengiringi acara. di depan panggung pelaminan, tampak barisan kursi-kursi menghadap meja akad nikah, sebagian besar sudah terisi. Seorang ibu setengah baya berkebaya rapi, mempersilakan kami duduk.Kami duduk mengikuti prosesi akad nikah dengan adat Sunda sampai selesai.

Karena waktu kami yang mepet, seusai akad nikah, sekitar pukul 10.00 kami langsung pamit. Tidak menunggu resepsi yang akan dimulai pukul 11.00. Berangkat menuju Green Canyon. Sekitar 2 jam perjalanan,pukul 12.00 kami sampai di Green Canyon. Parkiran padat dengan mobil plat B. Saya nyaris tidak sadar bahwa itu di Green Canyon, bukan di Kebun Binatang Ragunan!. Tempat wisata yang jaraknya terbilang jauh dari Jakarta ini padat seperti Ragunan. ditempat pemberangkatan perahu, orang berkerumun. Syukurnya siang itu terik, sebelumnya kami khawatir hujan, sehingga tidak bisa turun ke sungai. Kami beristirahat dulu untuk makan siang, sholat dan ganti baju, hanya saya dan Karin yg tetap dengan kostum kondangan. Sekitar pukul 13.30 kami membeli tiket perahu, dapat antrian no. 487, sedangkan perahu yang sedang jalan baru antrian 330an. Akhirnya kita ke Pantai Baru Karas yang tidak jauh dari situ.

 

Berfoto-foto sampai pukul 15.15, lalu kembali ke Green Canyon.Masih menunggu sekitar 45 menit lagi sampai nomor antrian kita tiba. Sekitar pukul 16.30 perahu kita baru diberangkatkan. Tetap antusias menyusuri sungai Cijulang, biarpun sudah terlampau lelah menunggu dan kepanasan.
Matahari sudah mulai meredup. Menjelang masuk ke dinding tanah sudah agak gelap, tidak bagus untuk berfoto-foto.

Ke Green Canyon kali ini adalah yang kedua kali untuk saya, dulu tahun 2006 kesini juga ramai. Kali ini berharap lebih sepi sehingga lebih nyaman berfoto-foto, ternyata malah lebih ramai.Diaz dan Dadang ikut berenang. Saya kepengen, tapi melihat kondisi yang penuh dan sudah sangat sore, tidak memungkinkan untuk nyemplung.
Sekitar pukul 18.00 kita sudah siap lagi untuk berangkat. Tujuan berikutnya adalah makan Seafood di Pangandaran. Kali ini posisi driver digantikan Karin. Sepanjang perjalanan gerimis dan langit mulai gepan dan udara mulai dingin. Kita semua sangat-sangat kelaperan. Antrian mobil tampak padat ketika memasuki gerbang Pangandaran sekitar pukul 17.00, selanjutnya menuju deretan rumah makan SEafood di pantai timur. Mencari sisa-sisa ruang parkir diantar padatnya mobil. Kami mencari warung yang ramai namun masih menyisakan bangku. Memilih ikan, cumi dan udang untuk dimasak bermacam-macam. Makan dengan lahapnya sampai tidak bersisa.Selesai makan kita bergegas lagi melanjutkan perjalanan.
Sekitar pukul 21.00 kami berangkat dari Pangandaran menuju Cilawu Garut, untuk beristirahat di rumah kakaknya Dadang. Perjalanan yg cukup panjang dengan perkiraan akan sampai di CIlawu pukul 01.00 dini hari. Diaz kembali menyupir.

Kita tidak akan melewati jalur berangkat (lewat Banjar & Malangbong), menuruti saran bapak tukang parkir di Green Canyon, lewat Green Canyon (Parigi) - Cijulang, menyusuri jalan kecil pinggir pantai sampai CIpatujah lalu menanjak ke utara sampai Singaparna. Ternyata jalan ini tidak lebih baik dan lebih cepat dibanding melewati jalan utama Banjar - Tasik. Jalannya sempit, sepi, mistis, melewati semak belukar dan hutan. Ditambah kondisi badan yang capek dan paranoid menjelang tengah malam. SEpanjang jalan  kita menghibur diri dengan tebak-tebakan garing, nyanyi lagu-lagu dangdut yang norak, sampai berzikir.  Rifa yang sejak berangkat mual-mual tampak tidak terhibur dengan kegilaan yg lain. Hanya sebentar dan sesekali menyahut, kalo obrolan berhubungan dengan Sinetron, sampe dijulukin Rifa Muksin (Muka Sinetron).  Kondisi fisiknya diperparah dengan ketakutan akan bajing loncat dan jelangkung.

Satu persatu mulai bertumbangan, nggak hanya RIfa. Setelah RIfa muntah untuk kesekian kali, disusul AMa, kemudian Karin. Seteleh menemukan daerah yang agak terang dengan jajaran rumah penduduk, kita minggir untuk bertukar posisi duduk. Tidak banyak membantu sebenarnya, karena full seat, , hanya Karin bertukar duduk dengan Dadang.  Saya tetap di blakang, kali ini dengan Dadang, sedangkan Chika mencoba tabah diapit dua orang yang muntah, Rifa dan Ama dideretan bangku tengah.
Tidak berapa lama melanjutkan perjalanan, kondisi Ama dan Karin membaik biarpun kita semua kelelahan. Rifa malah memburuk, ingin pingsan. Kita semua panik. akhirnya berhenti lagi untuk sejenak mengobati RIfa sebisanya. Saya terus menjaga pikiran agar tidak ikut tumbang. Mencium sedikit aroma muntah cukup merangsang untuk mual juga. Saya meminta Diaz untuk jalan pelan mencari warung kopi, minum hangat untuk  memperbaiki kondisi perut.
Setelah Rifa beres, kita melanjutkan perjalanan mencari warung kopi di daerah Cisoreang. Tidak tampak warung kopi, yang ada hanya penjual makanan gerobak pinggir jalan. Saya mengamati seksama, diantara gerobak-gerobak itu manakala ada termos air panas. Akhirnya kita menemukan tukang bubur ayam yang juga menyediakan teh panas. Badan kita semua rasanya sudah merindukan tempat untuk berbaring.

Saya celingak-celingkuk mencari tikar yg biasa digunakan tidur untuk si tukang penjual, hanya ada tikar kecil di emperan toko yang sempit, bangku kayu panjang tanpa sandaran akhirnya menjadi pilihan, lumayan untuk sejenak meluruskan punggung. Teh seduh hanyat menjadi penolong berarti pukul 01.00 dini hari itu. Belum ada tanda-tanda akan sampai ke tujuan. Dadang pun, sang tuan rumah tidak tau berapa lama lagikita akan sampai di Cilawu. Kita seperti tersesat di somewhere in nowhere. Sambil ngobrol-ngobrol saya celingukan mencari Karin, ternyata tuh anak sudah jadi sleeping beauty, tidur di bangku kayu panjang dengan bantal kumal dan sarung beraroma apek milik si tukang bubur :-D.

Kita minum teh sambil ketawa ketiwi menghibur diri sekitar 20 menit, kemudian melanjutkan perjalanan. Badan dan pikiran mulai segar kembali, apalagi ketika akhirnya menemukan papan penunjuk jalan menuju Singaparna. Kami kembali nyanyi-nyanyi sambil cela-celaan. Menjelang pukul 02.00 belum juga sampai, kantuk menyerang lagi, akhirnya saya tertidur, sampai sadar lagi dibangunin karena sudah sampai di CIlawu, pukul 02.30.
Rumah kakaknya Dadang terletak di pinggir jalan raya. Kami menurunkan barang-barang, kemudian dipersilakan masuk, langsung menuju kamar yang berada di lantai mezzanine. tanpa ba bi bu, begitu melihat kasur saya langsung tumbang. Pukul 06.00 begitu sinar matahari  masuk kamar, kami terjaga, masih enggan untukbangun. Hangatnya matahari tidak cukup
menggantikan dinginnya udara Garut. Akhirnya bergantian mandi dan berkemas lagi. Akhirnya kondisi badan kita bisa fit lagi setelah bisa beristirahat nyaman sekitar 4 jam.
Kami beramah tamah dengan keluarga kakaknya Dadang serta bermain dengan ponakan Dadang yg lucu. Ditambah pula jamuan sarapan yang lengkap mulai dari kue-kue sampai nasi dan soto hangat. Persiapan yang prima menjelang perjalanan panjang berikutnya menuju Pamengpeuk.

Sekitar pukul 09.00 kami pamit berangkat. Udara cerah melewati jalan raya yang ramai. Selepas Cilawu, jalan mulai berkelok-kelok dengan pemandangan  seperti di Puncak. Semakin jauh jalan mulai menyempit, berkelok semakin tajam dan menanjak bukit. Kami singgah sejenak di “Batu Numpang” untuk berfoto.

Sebagian besar pemandangan perpaduan seperti Puncak, Subang dan Ciwidey. Menjelang tengah hari belum juga sampai.

Saya mulai mengantuk berat ketika jarak menuju Pamengpeukmasih sekitar 40 km lagi. Sekitar pukul 13.00 sampai di Pamengpeuk, tujuan pertama adalah Pantai Karang Taranye, namanya mirip dengan Karang Taraje di Banten Selatan. Pantai dengan hamparan pasir luas, semak-semak khas vegetasi pantai selatan dan hamparan karang berbentuk Taranye.

Matahari membakar ubun-ubun, tampak rombongan mahasiswa FK Unpad sedang akan berkemah disekitar lokasi. Kawanan sapi kurus tampak melepas dahaga di muara kecil. Dari tempat memarkir mobil, harus berjalan sekitar 300 meter menuju pantai dan mandaki bukit karang. Berfoto sambil menikmati pemandangan. Sekitar lima belas menit kita kembali lagi ke mobil dan beranjak lagi.

Tipikal pemandangan di Pamengpeuk adalah sawah hijau yang berada di tepi pantai. Garis pantai menjadi pembatas warna biru laut dah hijau sawah. Sekitar setengah jam perjalanan melewati gerbang Pantai Santolo, tapi kita akan menuju tempat yang lebih jauh dulu, yaitu Cijayana. Pemandangan semakin eksotis selepas Santolo. Jalan lurus dengan alinyemen vertikal turun naik, di kanan jalan hamaran perbukitan hijau yang landai, dikiri jalan hamparan sawah hijau dan laut lepas Pantai Selatan.
Jalan berada cukup tinggi dari permukaan laut, sangat cocok untukmelihat pemandangan indah ke segala arah. Kita tidak sabar untuk foto-foto. Tetapi kita akan makan siang dulu. Waktu hampir pukul 15.00, rencananya akan menuju Cikelet untuk makan seafood. Namun karena tidak sampai-sampai, akhirnya kita mampir di warung nasi sederhana. Hanya Diaz dan Dadang yang makan nasi, yang lainnya Indomie telor. Setelah sholat, kita melanjutkan perjalanan ke arah balik. Karin jadi driver lagi, dan saya duduk depan. Berfoto-foto di beberapa tempat favorit, salah satunya adalah jembatan dengan view RCTI oke.

Sekitar pukul 17.15 kita memasuki gerbang Pantai Santolo. Waktu di rumah kakaknya Dadang, kita mendapat password untuk bebas biaya masuk ke Pantai Santolo dari kakaknya Dadang. Kita disuruh mengaku tamunya Pak Sugeng dari LAPAN. Ternyata didalam komplek pantai Santolo terdapat kantor penelitian LAPAN. Menjelang gerbang masuk, Dadang baru teringat pesan kakaknya, dia yang duduk di belakang minta tuker duduk dengan saya. Saya bilang, biar saja nanti saya yang bilang ke petugas. Di gerbang pemeriksaan, saya bilang ke petugas
“Permisi Pak, kami dari Jakarta, tamunya Pak Sugeng”
kata petugas;

 ”LAPAN ya?”
saya yang Jaka Sembung bawa gitar, sempat bingung, saya pikir, password Pak Sugeng tidak manjur sehingga kita harus tetap membayar, bahkan dihitung delapan orang. Saya malah menjawab dengan;

“Tujuh”


sang petugas tampak bingung juga dengan berkata lagi “LAPAN ?”
saya juga mengulang jawaban dodol “tujuh”.


Si petugas lalu mengaunkan tangannya menyuruh mobil kita jalan. Saya dan si petugas sama-sama bingung. Karin yang sadar duluan, sambil menjalankan mobil perlahan dia bilang “orang itu bukan nanya jumlah Mih”. Hanya jeda beberapa detik, kita semua sadar dan teringat cerita kakaknya Dadang, bahwa pak Sugeng itu orang LAPAN. Sontak kita ngakak rame-rame nggak brenti-brenti sampe sakit perut. Habislah semua mencela saya yang masih juga geli sendiri.

Beberapa ratus meter dari gerbang tampak Pantai Santolo, pantai lengkung seperti busur dengan pasir yang cerah. Cukup ramai pengunjung. Kami berjalan menyusuri pantai sambil berfoto. Tidak lama lagi matahari akan tenggelam. Tidak sampai setengah jam kami bergegas untuk pulang. Menjelang gelap kita berangkat pulang langsung menuju Jakarta.

Pembahasan lapan dan tujuh nggak habis-habis sepanjang jalan. Semua tampak fit malam itu , tidak seperti malam sebelumnya. Perjalanan juga cukup lancar. Menjelang Nagreg mulai macet. Diaz memutuskan ambil jalan alternativ melewati Majalaya. Menjelang Cileunyi sekitar pukul 22.30, singgah di POM Bensin untuk ke toilet. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan ganti driver lagi ke Karin. Tidak jauh kemudian sudah masuk tol Cileunyi, Cipularang dan CIkampek lancar, keluar tol Cawang sekitar pukul 01.15. Saya, Karin dan RIfa turun di halte Carefour Cawang, ber say good bye ke semuanya. Kemudian berpencar pulang masing-masing.
What a real adventure !

____________________________________________________________

Cawang - Januari 2009

Mendengar nama Gunung Kidul, yg terlintas adalah daerah di Selatan Jogja yang kekurangan air. Saya samar-samar teringat cerita almarhum nenek, tentang orang-orang di daerah Gunung Kidul yang mencari air bersih berjalan berpuluh-puluh kilometer. Mungkin leluhur saya berasal dari daerah sana juga.

Saya juga lupa darimana mendapat ide untuk meng-x-plore Gunung Kidul. Yang saya ingat beberapa bulan lalu, ketika membuka Multiply, ada orang yang telah melihat page saya, ketika saya buka page dia, ada foto-foto Pantai Siung, Wilayah peminatan khusus Panjat Tebing. Kebetulan juga saat itu sedang baca Novel Bilangan Fu, Ayu Utami, yang setting ceritanya di kawasan tersebut. Mulai saat itulah terbersit rencana menjelajah Gunung Kidul.

Ketika searching lebih lanjut tentang Gunung Kidul, ternyata banyak pantai-pantai indah disana. Saya mulai mencari info rute. Suatu saat nemu lagi foto-foto Pantai Siung di www.beningbanyubiru.multiply.com, what’s a small world, ternyata MPnya Nanung, teman lama waktu di Aceh. So far nggak kepikiran nanya Nanung, karena loose contact ketika dia pindah kerja di Papua. Emang rejeki, setelah saya kontak dia melalui MP, ternyata Nanung sedang di Jogja. Konsultasi rute sekalian minta tolong pesenin mobil sewaan ke Nanung.

Jumat, 31 Oktober 2008.Saya bertiga dengan Karin dan RIfa berangkat ke Jogja, naik kereta Senja Utama Jogja dari stasiun Jatinegara. Kereta datang sekitar pukul 19.45, tidak sampai lima menit berhenti, kereta berangkat. Perjalanan cukup lancar. Sampai sta.Tugu pukul 04.30. Sholat subuh dan cuci muka di stasiun.

Jam 05.15 Nanung dateng menjemput, lalu ke rumah Nanung di daerah Godean, rumah mungil dengan lingkungan yang asri. Disambut Rina, perempuan manis dan mungil, istri Nanung yang sedang hamil muda, kami dipersilakan masuk, numpang mandi dan sarapan gudeg. Ngobrol dengan Nanung seperti nggak ada habisnya, cerita tentang teman-teman di Aceh sampe tentang tempat-tempat yang seru untuk dijelajahi.

Menjelang jam 8.00, mobil sewaan datang, suzuki APV. Nanung nge-brieving mas Farhandriver yang akan mengantar kami.
Nanung menyebut trip kita kali ini adalah “Trip Serakah”. Dengan jadwal hanya 1.5 hari kami ingin mengunjungi minimal enam pantai disepanjang pantai selatan Gunung Kidul, yaitu Siung, Krakal, Kukup, Drini,Ngrenean, Nguyahan dan Baron. Tetapi setelah melihat peta dan penjelasan Nanung, rute dirubah dari yang paling jauh (paling timur) menuju ke barat: Wediombo - Siung -Sundak,Krakal, Kukup, Drini(dekat2an) - Baron, dengan menginap di Baron.

Jam 08.00 on time kita jalan. melalui Jalan Lingkar Luar Jogja menuju Wonosari. Syukurnya udara cerah cenderung panas. Sekitar satu jam, sudah melalui kota Wonosari, selepas itu mulai memasuki jalan dengan pemandangan bukit-bukit kapur.

Tidak segersang yang saya bayangkan, daerah Gunung Kidul masih banyak pepohonan yang tumbuh di bukit kapur tersebut. Jalan yang dilalui cukup teduh dipayungi pohon-pohon jati di kanan kiri. Papan hijau penunjuk jalan lengkap terlihat disetiap simpang jalan.

Sekitar pukul 10.45 kita sampai di Wediombo. Sekitar satu kilometer menuju Wediombo, melalui jalan diatas bukit yang lautnya sudah terlihat dari atas. Mirip pemandangan menuju Malahayati di Banda Aceh. Pemandangan laut biru dengan ombak besar Samudra Hindia. Pantainya masih berada dibawah dari tempat parkir. Untuk menuju pantai kami harus menuruni tangga yang cukup curam.


Siang sudah cukup terik, tidak banyak pengunjung disana, tidak terlihat pula orang lalu lalang berjualan. Ada dua warung yang satu tutup, yang satu lagi tampak tidak terlihat barang dagangannya. Sekitar satu jam disana berjalan menyusuri pantai menikmati pemandangan. Sekitar pukul 12.30 kami beranjak lagi menuju Pantai Siung, sambil mencari-cari tempat makan siang. Ternyata sepanjang jalan tidak terlihat warung makan. Berharap di Pantai Siung ada warung makan yang enak.

 Sampai di Pantai Siung sekitar pukul 13.30. Siang semakin terik, pemandangan pantai yang indah agak tersapu silau mentari. Dalam keadaan lelah dan lapar, kami belum tertarik ke pantai, langsung menuju warung.
Ternyata merindukan makanan enak ala wisata kuliner seperti merindukan bulan di tempat yang cukup terpencil ini. Makan nasi cuma tersedia laut ikan setengah matang yang siap digoreng, tidak cukup menggugah selera. Pilihan terakhir, indomi telor. Setelah perut agak lumayan terganjel, kami sholat zuhur. Setelah itu barulah agak segar untuk mengeksplorasi pantai dengan deretan tebing-tebing kapur tinggi.

Saya membayangkan cerita dalam Bilangan Fu. Kawasan tebing tampak sudah dibagi-bagi dalam beberapa blok.

Tampak kait-kait besi pemanjatan ditanam disela-sela sepanjang ketinggian. Perlu mendaki ke bukit-bukit untuk melihat dinding tebing dari dekat. Dari atas bukit kita berada di tepi dinding, dengan pemandangan laut lepas dibawahnya.


Sekitar pukul 16.00 kita turun dan siap untuk beranjak lagi. Tujuannya langsung ke Pantai Baron, untuk melihat sunset dan bermalam disana. Dalam perjalanan ke Pantai Baron, ternyata melewati Pantai Sundak, Krakal dan Kukup. Kita tergoda mampir di pantai Krakal, pahadal jadwal kesana adalah keesokannya. Di Pantai Krakal tidak terdapat tebing kapur tinggi, bentuk pantai yang lengkung bujur dengan pasir putih kemerahan tampak cantik disore itu.


Pantai Krakal lebih terlihat sebagai tempat wisata dibanding Pantai Siung dan Wediombo. Terlihat deretan warung makan yang cukup ramai. Tapi sore itu kita sudah tidak lapar. Pukul 15.10 kita bergegas beranjak lagi, mengejar senja hilang di pantai Baron Sampai pantai Baron ternyata matahari sudah siap tenggelam. Kita kehilangan Sunset.
Dalam keadaan cukup lelah, langsung menuju penginapan. Jangan berharap ada hotel mewah dikawasan ini.Hanya ada beberapa hotel disekitar pantai,  penginapan seadanya tanpa pendingin udara.  Ada sedikit kamar dengan AC, tapi letaknya diatas bukit. Karin kekeuh pengen kamar itu. Tapi Rifa yang super duper penakut, sudah merinding liat kamar diantara pepohonan gelap yang terkesan angker. Akhirnya kita memilih kamar bawah tanpa AC.
Setelah booking kamar, kami menuju warung makan. Tampak warung dengan tumpukan udang goreng tepung dan aneka rempeyek hangat. Cukup menggugah selera. Memesan aneka masakan seafood. Tapi tenyata rasanya tidak seenak yang kita harapkan.Rifa malah sempet menelan beberapa ekor lalat yg sudah tercampur cumi asam manis :-D. Habis makan lalu balik ke kamar.

Ketika Karin mandi, saya menelpon di teras kamar, Rifa melihat-lihat foto di kamar. Tiba-tiba RIfa keluar dengan wajah mencurigakan. Rifa yang sejak menginjakkan kaki dipenginapan sudah paranoid,dengan wajah panik menghampiri saya :

“Mbak bener kan mbak, di foto yang tadi siang ada penampakan”.

 Saya langsung ikutan merinding dan takut. Rifa menyodorkan kamera kesaya, supaya saya ngeliat fotonya. BUkannya saya lihat, malah saya matikan. Lalu kita berdua sama-sama bergidik ketakutan. Dengan panik saya telpon Farhan. Sambil nunggu Farhan dateng, kita ketakutan, sampe kepikiran untuk tidur di mobil dan subuh-subuh cabut ke Jogja.

Nggak lama, Farhan dateng. saya minta tolong Farhan untuk melihat foto itu. Farhan memperhatikan foto dengan teliti, trus bilang

“Nggak ada apa-apa kok mbak”

Lalu saya mulai ikutan ngelihat pelan-pelan, memang nggak ada apa-apa, tapi kemudian gw ngeh yang dimaksud Rifa yaitu bayang-bayang putih diair yang tampak seperti kucing.

Ternyata itu bayangan celah bukit. Dalam keadaan masih ribut-ribut, mendekat seorang laki-laki dengan menjinjing kamera SLR, namanya Pak Yap, fotografer dari Semarang yang sedang hunting sendirian. Pak Yap kemudian menjelaskan proses terjadinya bayangan yg dikira hantu itu secara ilmiah. Barulah kita benar-benar tenang. Obrolan akhirnya menjadi lebih santai dengan membahas fotografi. Malam itu akhirnya kita bisa mengusir rasa takut, biarpun masih sedikit paranoid.
Sepanjang malam hujan rintik-rintik. Untungnya selepas subuh hujan berhenti. Subuh-subuh males bangun karena udara dingin sehabis hujan. Setelah matahari terbit, kita baru keluar, kelewatan melihat sunset. Jalan ke Pantai, main air dan melihat aktivitas nelayan.

Pak Yap mengajak kami mendaki bukit untuk memotret. Baru mendaki setengah ketinggian, kita menyerah. Turun lagi, lalu memesan sarapan di warung yang direkomendasikan pak Yap. Benar saja, masakan di warung
ini jauh lebih enak dan bersih dibanding warung semalem. Sarapan cumi bakar dan ikan kakap bakar.

Setelah sarapan berfoto-foto lagi sebentar di pantai, lalu balik ke kamar untuk mandi dan siap-siap berangkat. Pukul 09.30 kita berangkat ke Pantai Drini, sampai disana pukul 10.00.Pantai cekungan yang dikelilingi tebing-tebing kapur. Sepi dan damai. Saya suka sekali pemandangan disini.
Tidak terlihat warung dan orang berjualan. Sayang sekali, kami terlalu siang sampai disini. View sunset disini pasti bagus sekali.


Sekitar 30 menit menikmati pemandangan, pukul 10.30 kita beranjak menuju Pantai Kukup. Sampai di Kukup sekitar pukul 11.00. Pantai ini salah satu tujuan wisata yang sering dikunjungi. Tersedia tempat parkir yg cukup luas dengan warung-warung dipinggirnya. Sepanjang jalan dari tempat parkir ke pantai, banyak yg berjualan gorengan hasil laut; udang, cumi dan ikan, serta souvenir dari kerang.

Siang itu pantai sudah ramai, sudah banyak yg mandi air laut. Pengunjung yang datang, selain dari Jogja juga dari Magelang,Solo, Salatiga dan Semarang.

Kami tidak lama-lama disitu. Tidak sampai 30 menit, beranjak lagi. What a small world lagi, pas jalan pulang ke parkiran, ketemu Putri, kakaknya Karin bersama gengnya.

Sekitar jam 11.30 kami beranjak pulang. Langsung menuju Jogja.
Sepanjang jalan cuaca silih berganti panas dan gerimis. Sampai di Jogja jam 13.30. Kita stop di Mirota Batik, Malioboro untuk berbelanja sedikit oleh-oleh. Saya janjian ketemu dengan Hanintyo, temen kuliah yang udah jadi orang Jogja. Saya dengan Hanin tetanggaan , tapi udah lama banget nggak pernah ketemu. Seneng banget bisa ketemu di Jogja. Siang itu kita ditraktir Gudeg bu Juminten yang lezaatttt.

Setelah makan gudeg, pisah dengan Hanin, kita balik lagi ke Malioboro beli lanting, trus pulang ke rumah Nanung. Sampe rumah Nanung sekitar pukul 16.00. Langsung cerita-cerita dengan serunya. Siap-siap sambil disiapin makanan dan teh manis panas. Sayang sore itu terasa cepat berlalu.

Jam 17.30, pamitan, kita sudah harus berangkat ke Stasiun.Pukul 17.50 kita sampai di stasiun.  Kereta kita, Senja Utama sudah ada. Stasiun tidak terlalu ramai. Kita naik dengan nyantai. Duduk di kereta sambil menunggu berangkat, cerita-cerita mengenang lagi perjalanan dua hari itu yang seperti mimpi. Perasaan baru saja kemaren lusa di kantor, lalu kemarin ekspedisi pantai, lalu sore itu sudah siap balik lagi ke Jakarta.

Tidak terlalu ngaret dari jadwal yang seharusnya berangkat pukul 18.30, sekitar pukul 18.40 kereta berangkat. Kereta tidak sepenuh waktu berangkat, perjalanan juga begitu lancar. Pukul 04.30 sampai di stasiun Jatinegara. Sedikit letih dan ngantuk, menghadapi kenyataan bahwa hari itu adalah hari senin, pagi ini harus ke kantor lagi, tapi suara debur ombak pantai-pantai Gunung Kidul masih terngiang-ngiang.

______________________________________________________________________
- Cawang - Nov. 2008

 

 

 

 

Baksos aka Pencucian Dosa

October 18, 2008

Entah ada angin yang berhembus dari nafas malaikat mana, sekitar pertengahan Juli lalu, tiba-tiba dari temen-temen kantor alias tim Racun ada keinginan untuk ngadain baksos. Tujuan utamanya sebenernya adalah ajang pencucian dosa karena selama ini terlalu sering pengajian ke Hj.Ainur Rohimah alias Inul Vizta.

Awalnya cuma mau ngasih sumbangan ala kadarnya dari beberapa teman yang sering ngumpul. Tapi akhirnya idenya berkembang, jadi kita mintain juga ke teman-teman lain. Alhamdulilah dari tim yang cukup katro ini, dengan bermodal proposal ala kadarnya dan mengandalkan sumbangan dari para “fans”, terutama fans teman PSK dan IR, bisa dapet hasil malak sekitar 10juta.

Untunglah persiapan hingga pelaksanaan baksos tidak terlalu bertele-tele.Survey sekali, lalu diputuskan untuk menyumbang ke Panti Asuhan Kampung Melayu. Tadinya cukup bingung memberikan barang sumbangan karena banyak ide, sampai kesepakatan untuk memberikan alat musik Marawis. Tetapi pihak panti mengharapkan bantuan berupa peralatan mandi dan mencuci, dan mengatakan bahwa mereka sudah mempunyai peralatan Marawis yang cukup lengkap. Finally, kita nyumbang peralatan mandi mencuci untuk penghuni panti yang berjumlah 60 anak usia SD-SMA.

Rame-rame belanja sikat gigi, shampo, sabun, odol, talk dan detergen di Makro Kelapa Gading seperti mau kulakan. Handuk dan seprei dibelanjain oleh teman IR, karena rumahnya yang tidak jauh dari Tanah Abang. Yang sempat kesulitan adalah mencari keranjang plastik yang sama sejumlah 60 buah. Akhirnya keranjang plastik dibeli di tempat yang berbeda-beda, jadi tidak seragam.

Sabtu, 24 Agustus 2008, ngumpul di rumah PSK untuk packaging. Yang bisa ikutan packaging cuma gw, PSK, IR, RG, HP dan Li, istri HP. Karena masih mencari keranjang plastik yang kurang, acara packaging baru mulai jam 12 siang. Sempat pesimis juga apakah akan selesai membuat 60 paket hari itu. Untunglah dengan jurus kejar tayang ala tukang parcel. Sampai magrib selesai juga parcel sabun yang cantik sebanyak 60 buah.

Hari H baksos dilaksanakan pada Minggu, 31 Agustus 2008, dengan harapan barang-barang yang kita berikan dapat digunakan pada bulan Ramadhan yang mulai pada 1 September 2008. Hari H, jam 09.30 kita ngumpul lagi di rumah PSK. Untunglah banyak yang antusias ikutan membantu seperti PMS dan Al - yang mobilnya buat ngangkut parcel, An, yang dateng dari Bandung pagi buta & belum mandi, Guse yang diharapkan ngasih kultum dan pimpin doa, dan Cp yang ternyata karena bakat “ngemeng”-nya, hari itu berguna banget jadi MC.

Sampe di panti sudah agak siang, sekitar pukul 10.50.Adik-adik panti sudah berkumpul (karena rencananya kita datang pukul 10). Acara penyerahan sumbangan tidak terlalu bertele-tele. Sambutan dari pak Munawar, ketua dan pendiri Panti, sambutan dari kita, pemberi bantuan, doa dan pertunjukan Marawis dan Nasyid dari adik-adik Panti. Sekitar jam 12.00 selesai, kami pamit pulang.

Hari itu rencananya, setelah baksos mau karaokean edisi penutupan menjelang Ramadhan di Dlight-Bellagio Boutique. Ternyata Dlight tutup, masih penasaran lanjut ke TReX, Grand Indonesia, tutup juga. Akhirnya insyaf karena emang nggak ada yang buka menjelang Ramadhan :-D. Emang susah deh kalo baru mau tobat udah kumat lagi.

_____________________________________________________________

Test upload foto

October 17, 2008

test blog baru

October 17, 2008

blog baru bikin bingung

Untung Jawa one day trip

August 6, 2008

Sejak kembali ke rutinitas hidup di Jakarta awal tahun ini, terkadang kangen juga dengan rutinitas kerja di Aceh, yang banyak jalan-jalannya. Sebulan di Jakarta, gue udah ribut ngajakin teman2 travelling.

Kangen dengan nyebrang-nyebrang pulau di Aceh, sekaligus juga belum pernah nyebrang ke Pulau Seribu, gue buat planning trip ke Pulau Pramuka.
Banyak yang berminat, namun sampai bulan April trip itu belum juga terwujud.

Di Akhir April, akhirnya nekat jalan dengan yang jadwalnya cocok, bertiga;Gue, Chika dan Nina.

Trip kali ini begitu rencana dadakan dan lumayan sukses. Kamis, 26 April nantangin Chika untuk berangkat Sabtu, 28 April. Karena rencananya
cuma berdua, tujuannya diganti bukan ke Pulau Pramuka, tapi Pulau Onrust yang bisa dijabanin satu hari. Tapi sampe malem sabtu masih bingung mau ke pulau apa dan nyebrang lewat mana. Jumat malem sabtu rencana masih ke P.Onrust dan nyebrang lewat Marina. Tapi tiba-tiba, gara-gara SMS-an ma Sari, rencana berubah. Belum lama, Sari abis jalan ke P.Untung Jawa. AKhirnya malem itu juga gw minta rute ke Untung Jawa dari Sari. Rencana ke Onrust via Marina dibatalin, diganti ke Untung Jawa, nyebrang via Tanjung Pasir, Tangerang.

Rute yang dikasih Sari :
Dari Kalideres naik angkot kearah Tangerang turun di Pintu Air, trus naik angkot ELF ke Kampung MElayu. dari Kampung Melayu naik angkot kecil ke Tanjung Pasir.

Sabtu, 28 April 2008, gue, Chika n Nina janjian di Terminal Blok M jam 08.00 pagi. Dari Blok M, nunggu bus yang ke Kalideres nggak dateng-dateng, akhirnya sekitar jam 09.00 ada patas AC yang ke Tangerang, kita naik. Sekitar pukul 10.00 kita sudah sampai di Tangerang. Turun di perempatan gede (lupa namanya) yang nggak jauh dari kantor Pemkot Tangerang. Waktu dikasih rute ma Sari, gw bolak-balik nanya, angkotnya no. berapa?. Ternyata didaerah sana nggak usah pake nomer angkot. Kalo naek langsung aja tanya sebutin nama tempat yang pengen kita datengin, ntar dikasih unjuk naik angkot yang mana.

Dari perempatan itu, kita naik angkot sampe tempat ngetem Angkot ELf yang ke Kampung Melayu. Ternyata itu daerah adalah kawasan barat Bandara Soekarno Hatta. Setelah cukup lama ngetem, sekitar jam 10.30 angkotnya Jalan. Gue n Chika duduk di depan, sebelah supir niat liat-liat pemandangan.
Asik juga sepanjang jalan ngobrol sambil liat-liat daerah yang blum pernah dilewatin. Ternyata jalurnya menyusuri bantaran sungai Cisadane.

Lumayan lama juga perjalanan, sekitar satu jam sampai di daerah yang namanya Kampung Melayu.SEtelah gw amatin, di daerah itu
banyak orang keturunan yang kulitnya agak legam. Gw baru inget, ternyata daerah itu adalah Teluk Naga, yang tiap Imlek sering diliput media, memberitakan sisi lain kehidupan kaum keturunan. Dipasar yang berjubel,tampak orang yang lalu lalang, naik motor sampai supir angkot, dengan wajah khas keturunan TIonghoa, namun dengan warna kulit yang lebih gelap dari kebanyakan yang
sering kita lihat di Jakarta.

Dari pasar Kampung Melayu, kami naik angkot putih ke arah Tanjung Pasir. Angkot_1 Pemandangannya mulai banyak kebun dan sawah-sawah. Melewati

penangkaran buaya, yang gw pernah liat juga di TV. Tampak patung buaya yang cukup besar yang terbuat dari beton. Di tempat itu juga terdapat
restoran yang menyajikan makanan olahan daging buaya. Sang supir angkot menawarkan apakah kami mau turun disitu, tapi kami lanjut. Sekitar jam 11.45, kami sampai di Tanjung Pasir, kawasan penyebrangan yang tidak terlalu ramai. Kami memasuki gerbang pelabuhan Tanjung Pasir dengan membayar Retribusi Rp 2000,-. Beberapa orang pemuda menawarkan naik perahunya untuk nyebrang. Di bibir pantai tampak beberapa perahu.Tanjungpasir

Perut sudah keroncongan memasuki tengah hari, tapi perahu yang ngetem nggak keliatan tanda-tanda mau jalan.
sekitar jam 12.30 akhirnya perahunya jalan dengan penumpang tidak sampai sepuluh orang.
Sekitar jam 13.00 akhirnya sampai di pulau Untung Jawa. Uj10_1 Berlabuh di dermaga yang masih cukup bagus dan rapi.

Suasana di pulau begitu tenang dan teduh. Dengan jarak yang tidak begitu jauh dari kota Tangerang ternyata ada suasana yang berbeda sekali. Uj3_1 Kita jalan pelan-pelan menikmati pemandangan sambil mencari tempat makan.
Nggak mau gambling, makan di tempat yang direkomen Sari,Saung Sari Kuring.Makanan
Pesen cumi bakar, cumi saus padang dan es kelapa muda. SEger…

Tapi obyek wisata disini nggak ada apa-apa, cuma pemandangan doang.Ada taman bermain namun kurang terawat. Uj7 Abis makan, kita hanya jalan-jalan nikmatin pemandangan, foto-foto dan sesekali ngobrol dengan penduduk.

Sebenarnya dari Untung Jawa bisa nyebrang rakit ke pulau sebelahnya, yaitu Pulau Rambut. Pulau itu hanya dihuni satwa dan dijadikan taman argasatwa. Tapi kita nggak kesana.

Pulau Untung Jawa yang kecil dan sedikit penduduknya ini ternyata mempunyai makanan khas, yaitu Keripik Sukun.Uj6 Biarpun dikerjakan sebagai produksi rumahan, namun mereka membuat kemasannya dengan plastik tebal yang disablon.ku
Keripik Sukun yang renyah dan gurih. Ketika gue tanya ke penjualnya gimana cara bikinnya, dia tidak mau memberi tahu, katanya rahasia penduduk Untung Jawa :-D.

Jam 15.30 kami balik ke dermaga. Sekitar jam 15.50, perahu beranjak pergi.Senja2 Angin laut dan sinar matahari senja membuat mata ngantuk.
Jalan pulang dengan rute yang sama. Namun habis turun ELF, kita naik angkot ke terminal Kalideres. Sampai di terminal Kalideres sekitar maghrib. Dari Kalideres naik patas AC yang lewat Semanggi, mulai Grogol udah kena macet. Baru saja merasakan ketenangan di pulau kecil di tengah laut, tidak lama kemudian sudah terjebak lagi ditengah-tengah macet.

Sampai di Plaza Semanggi sekitar jam 20.30, makan malem dulu di Cavana, trus pulang mencar-mencar.

Trip yang simple. :-D

______________________________________________

Pinggiran Jakarta - Agustus 2008

          Long wiken Waisak lalu, nyokap mengajak kami semua, anak-anaknya mengunjungi sanak saudara nyokap di Puloraja, Kabupaten Asahan-Sumut.

          Kami sekeluarga, akan berangkat dari Pekanbaru - Riau menuju Asahan - Sumut menempuh jalan darat sejuah 470 km dengan dua mobil, satu Kijang Kapsul dan satu Innova sewaan.

          Berangkat dari Pekanbaru, minggu, 19 Mei 2008, jam 6.30. Jalur yang dilintasi adalah :Pekanbaru - Minas - Kandis - Duri - Bagan Batu  - Cikampak - Kota Pinang - Rantau Prapat - Aek Lopan - Puloraja.

          Jalur Pekanbaru - Duri, biarpun tidak membelah Bukit Barisan namun mirip jalan yang membelah Bukit Barisan, berkelok-kelok tajam dengan jarak pandang pendek dan lintasan bukit. Sampai di Duri sekitar pukul 10.30.

 

break sejenak di pom bensin Duri

          Sepanjang sisi jalan raya,terlihat jalur pipa minyak. Sering mendengar nama kota Duri dari teman-teman yang pernah kerja proyek minyak Chevron - Caltex, namun baru kali ini saya melihat kota Duri. Melewati kilang-kilang dan kamp pekerja. View-nya tipikal dengan lintasan kota Lhoksumawe di NAD dengan kilang Exxon-nya.Seingat saya, kilang terakhir yang dilewati adalah kilang Bangko. Setelah itu jalan tidak berkelok-kelok lagi, view-nya monoton dengan padang alang-alang di kiri kanan jalan.Lintasan panjang yang sepi, tanpa ada rumah maupun warung. Mendekati wilayah perbatasan Riau- Sumut mulai tampak perkebunan kelapa sawit.

          Melintas di gerbang perbatasan sekitar pukul 14. Tulisan “Selamat jalan dari Kabupaten Rokan Hilir” dengan beberapa huruf yang hilang tampak di atas gapura. Selanjutnya pemandangan yang terlihat sepanjang jalan adalah perkebunan kelapa sawit. Mendekati tiap kota kecamatan suasana agak ramai
dengan ruko-ruko dan pasar.

          Jalur ini padahal adalah jalur bus-bus Lintas Sumatra, namun di sepanjang jalan tidak banyak terlihat rumah makan besar tempat persinggahan bus seperti jalur luar kota di pulau Jawa. Tidak terasa, sampai pukul 15.00, belum juga makan siang
karena masih mencari-cari restoran yang representatif. Baru menemukan tempat makan yang sreg di Kota Pinang sekitar pukul 16.00 singgah di restoran dan penginapan, sekitar satu jam untuk makan, sholat, istirahat sekaligus memandikan empat orang bocah-bocah.Pukul 17.15 beranjak lagi.

          Sekitar pukul 19.30 melintas di kota Rantau Prapat, ibukota kabupaten Labuhan Batu, kota teramai yang kami lintasi. Selepas Rantau Prapat, jalur yang dilewati ramai terus. Sepertinya sudah jarang jalur jalan yang sepi di propinsi Sumatra Utara. Melihat di peta, Puloraja, tempat yang akan kami datangi tidak jauh dari Rantau Prapat. Ternyata jauh juga, akhirnya tiba di Puloraja sekitar pukul 2.00.Kenyang sekali rasanya di perjalanan dari jam 6.30 sampai jam 22.00, badan pegel dan capek, apalagi kakak saya yang nyupir mobil, langsung terkapar. .Biarpun capek, kita langsung ngobrol sampai tengah malam.

          Puloraja terletak di perbatasan Kabupaten Asahan dan Kabupaten Labuhan Batu. Keluarga di Puloraja tinggal perkebunan kelapa sawit sejak tahun 1950-an.  
Keesokan hari, pagi-pagi,saya langsung semangat mengajak ponakan-ponakan jalan-jalan pagi, menikmati suasana pedesaan; rumah dengan pekarangan yang teduh dibawah pohon kelapa sawit, dengan pohon-pohon bunga disekelilingnya, bongkahan-bongkahan batok kelapa dalam keranjang bambu, Bebek, Entog dan Soang yang berkeliaran, Sapi yang baru dilepas dari kandangnya untuk mencari rumput dan udara segar. Suasananya yang tentram bagi orang kota. Ponakan-ponakan senang sekali mengejar bebek masuk ke kandang sapi dan naik sepeda melintasi jalan setapak yang teduh.

          Sayangnya, tidak bisa berlama-lama disana, siang itu juga harus jalan pulang, karena harus menempuh perjalanan pulang lagi selama 15 jam. Sekitar Pukul 14.00, kami berangkat pulang.Sebenarnya masih capek sekali. Perjalanan yang tidak terprediksi, terlalu capek untuk dilintasi dengan darat. Jika ada rencana untuk kesana lagi, lebih baik naik pesawat ke Medan, lalu jalan darat Medan- Puloraja selama 4 jam.

          Perjalanan pulang benar-benar menguras tenaga sampai habis. Sekitar pukul 17.00 singgah lagi di restoran yang sama. Selepas maghrib baru jalan lagi. Sampai di Duri pukul 01.00 dini hari, singgah lagi untuk ngopi dan meluruskan tulang punggung. Namun kantuk tidak mempan diusir dengan kopi maupun teh hangat.Dua orang kakak saya, sang sopir, benar-benar sudah babak belur. Selepas Duri, saya coba menggantikan nyupir. Namun baru sepuluh menit menyerah.  Entahlah mengapa kali ini tidak kuat nyali ditambah juga fisik yang cape dan ngantuk. Papasan dengan bus-bus luar kota dan truk-truk tanki minyak rasanya jiper. Belum lagi mobil-mobil arah berlawanan banyak menyalakan lampu jauh yang sangat menyilaukan.

          Sampai di Minas, sekitar pukul 02.45, kakak saya benar- benar tewas, kami berhenti sekitar lima belas untuk istirahat. Selanjutnya di-geber lagi. Pukul 04.30 akhirnya sampai juga di Pekanbaru.
Nggak pake nunggu subuh, langsung tewas bablas, tidur sampe siang.

_____________________________________________

Pinggiran Jakarta - Mei 2008

Nggak terasa, udah sepuluh tahun berlalu:

- Demo-demo disela-sela kuliah, sampe gw nasakom.  (pembelaan diri, padahal emang dodol)

- Nginep di gedung DPR, nggak mandi, sampe dekil banget ( pembelaan diri lagi, padahal emang udah dekil)

- Kejebak di Salemba pas kerusuhan 14 Mei 98, tapi masih bisa kabur ke Depok pake KRL disela-sela kerusuhan.

- Demo di Mustopo malem2, sampe peristiwa Semanggi.

Apa kabar temen-temen yang dulu sama-sama turun ke Jalan ?. Banyak cerita masa itu, yang setidaknya akan tercatat dalam sejarah perjalanan bangsa ini. (apa sih ?!?!)

Sepuluh tahun yang lalu, yang jelas gw masih muda banget waktu itu:-P.

______________________________________________

Pinggiran Jakarta - Mei 2008

          Sabtu, 16 Maret 2008, HUT milis 80-an yang dikasih judul ANeka Ria 80-an digelar di Grand Kemang Hotel. Dari jauh-jauh hari, gw emang niat dateng ke acara ini, apalagi karena salah satu bintang tamunya, Keenan Nasution.

          Senengnya, temen AA gw, Ama, Chika & Amel juga kena virus 80-an, sehingga bisa diajak dateng bareng, selain juga temen forever gw, Nence
yang gw yakin mau ikutan, karena nih anak biarpun lahir tahun 1980, tapi memory nya akan era 80-an lumayan tajem.

           Sabtu siang hujan deres, bikin agak males berangkat. Untungnya ujannya nggak lama. Sampe di tempat acara jam 15.15, acara belum dimulai. Tampak temen-temen panitia, wajah-wajah familiar yang aktif di room chat, sibuk mondar-mandir. Sambil nunggu acara, liat-liat makanan & mainan jadul di stand kecil Cemal-Cemil. Gw beli yoyo kayu, salah satu mainan favorit jaman SD. Tapi yoyonya agak-agak macet :-(.

          Mba Eny, sang ketua panitia, say sorry karena acara telat. RUpanya karena ujan siang itu, acara yang rencananya digelar di luar, dipindahin ke dalem, untuk antisipasi. Sekitar ujam 17.00 acara dimulai. Yang dateng nggak terlalu banyak, sekitar 250 orang, cukup bikin meriah. Tampak salah satu artis 80-an, mbak Ria Resty Fauzi. Abis ngeliat mbak Ria, temen-temen langsung nginget2 lagunya "sepatu dari kulit rusa, itu aku tak minta…":-D.

         Acara dimulai dengan sambutan-sambutan dari panitia serta kilas balik terbentuknya komunitas 80-an. Lalu dilanjutin dengan lagu-lagu dari Band 80-an. Sekitar setengah jam berselang, artis 80-an berikutnya, Ikang Fawzy dateng. Yang gw heran dari Ikang , jaman gw SD sampe sekarang tampangnya ngga berubah, super awet muda. Nence yang penggemar berat Ikang, seneng banget bisa ketemu Idola lamanya :-D. Keenan Nasution yang entah kapan datengnya, gw baru liat pas sholat magrib bareng di mushola.

          Abis magrib ketemu Prita,junior 1 tahun di bawah gw, di kampus dulu. Dia ketularan virus 80-an dari kakaknya, Suryo, gitaris band 80-an.

          Selepas Maghrib, acara tambah meriah. Begitu Keenan Nasution naik ke panggung, kita langsung ngumpul di sekitar panggung. Keenan nyanyi dua lagu wajib Gang Pegangsaan; "Dirimu""Nuansa Bening". Hampir semua ikutan nyanyi.

          Selain lagu-lagu, acara diselingin dengan dance ala 80-an dengan background music lagunya Debby Gibson, Electric Youth, tarian-tarian ala GSP Production & Swara Mahardika, yg di era 80-an sering banget muncul di TV, dan ada juga
peragaan busana ala 80-an. NGgak ketinggalan kuis yang pertanyaannya seputar 80-an.

         Ikang                                                                          Makin malem, makin meriah, apalagi pas Ikang Fawzy naik ke panggung, lagi-lagi penonton mendekat ke panggung. Lagu pertama yang dinyanyiin adalah "Salam Terakhir" trus dilanjutin lagu "Preman" selesai dua lagu, penonton masih
nuntut nyanyi lagi, dilanjutin lagu andalan Ikang "Sailing"-nya Rod Steward. Selesai itu, masih diteriakin lagi untuk nyanyi, akhirnya lanjut lagu soundtrack film yang fenomenal di 80-an "Catatan si Boy".Ikang sempet komentar serasa hidup lagi, dari wajahnya emang keliatan bahwa Ikang dan Keenan seneng banget, mungkin nggak nyangka lagu yang umurnya sekitar 20 tahun, bisa dinyanyiin lagi sekarang, dengan penonton yang masih hafal ikut nyanyi bareng. Sayangnya mbak Ria Resti Fauzi malah nggak nyanyiin lagu lamanya, cuma ikutan ditarik nyanyi, ketika 80-an band nyanyi Terajana.

          Acara ditutup sekitar pukul 21.00 setelah bagi-bagi doorprize yang lumayan banyak. Biarpun banyak tetep aja gw ga dapet :-I, malah Cika dapet langganan IDEA, & Amel dapet doorprize utama, voucher nginep di Grand Kemang. Padahal sebelumnya Ama sempet komen "kalau salah satu dari kita dapet voucher nginep, kita langsung pake malem ini yuk". Eh yang dapet Amel,yang pas dibacain justru udah pulang duluan.

         Biarpun ngga dapet doorprize, semua yang dateng dapet goody bag yang isinya CD lagu 80-an, majalah F1, Eve & Intisari, Cola-cola dan cemilan 80-an. Thanks to Panitia yang udah nyiapin acara yang seru & meriah. Berharap tahun depan bisa lebih meriah lagi, kalo bisa ada lawak 80-an, kayak Jayakarta Grup (biarpun yang tersisa tinggal Jojon),Srimulat, Grupnya Komar & Tompel (gw lupa nama grup nya), Abah Us Us dah pelawak-pelawak 80-an lainnya yang sering muncul di Aneka Ria Safari.

Kemanghut

Photo by : KizzJD

____________________________________

_______________

Pinggiran Jakarta 22.03.2008