Jinou
May 25, 2005
Masih dari album KRAK, aku suka banget lagu Jinou… waktu di Wapres, penonton teriak-teriak Jinou! Jinou!
kedengerannya cuma nou…
Setelah tanya temen yang orang Aceh
Ternyata Jinou itu artinya “Today”
Ah liriknya menyentuh sekali…
Bersinergi dengan lagunya yang asik
Tambahan bunyi alat musik tradisional,
Asik deh…
Tapi denger kaset ma denger Live emang jauh banget yah…
Enakan denget live kemana-mana
KRAk… ditunggu manggungnya lagi….
Salut dan Sukses untuk KRAK
May 20, 2005
Jumat malem, alias semalem, gw bertiga ma bapak S dan Ibu S ke Wapres dengan maksud mengobrolkan idenya bapak S untuk bikin semacam "Culture Fiesta" ala YISC, sambil menikmati live music-nya Wapres yang katanya kalo Jumat malem sabtu biasanya musik etnik yang bagus-bagus.
Tidak seperti gw datang sebelumnya kesana, ternyata Wapres malem itu penuh sesak.Di panggung ada sekelompok band sedang menyanyikan lagu yang bahasanya asing telinga gw…
Setelah menyimak sejenak dua jenak ternyata itu lagu Aceh. Gw bener-bener terkesima… asli bagus banget, lagunya bagus, membawakannya penuh perasaan, pokoknya penampilan nya oke. Setelah agak lama juga baru deh nyadar ternyata Wapres malam itu lagi di booking oleh Paguyuban Orang Aceh di Jakarta dalam rangka launching album grup "KRAK".
Gw bertiga yang tiga-tiganya bukan orang Aceh ternyata nyasar disitu, tapi untungnya nggak dilarang masuk. Ternyata disana ada juga bapak F yang asli Aceh. Tapi pas gw tanya arti lagu-lagu itu ternyata bapak F juga banyak nggak ngerti ?!?!.
Salut banget ama grup KRAK, anak-anak muda Aceh di Jakarta, yang telah menulis lagu-lagu bagus dalam bahasa Aceh, juga menyanyikannya dengan penuh perasaaan. Gw yang nggak ngerti bahasanya tetap bisa menikmati lagu-lagu itu.
Kabarnya video klipnya sedang mulai digarap. Gw salut banget… semoga sukses buat KRAK untuk album "26 Desembeer 2004"-nya…
Sabtu, 21 Mei 2005
Metropolis Tunggang Langgang
May 13, 2005
Judul : JAKARTA Metropolis Tunggang Langgang
Penulis : Marco Kusumawijaya
Penerbit : Gagas Media, 2004, x +234 hlm, 18 cm,
ISBN 979-3600-23-3
JAKARTA
Metropolis Tunggang Langgang
… Jakarta telah membuat banyak orang frustasi karena gagal menjadi tempat yang lebih baik untuk tinggal, meskipun nyata-nyata ada kemampuan untuk itu. Sebagian besar warganya hidup tunggang langgang didalam dan bersamanya…
…Namun sebagai metropolis yang menawarkan kesempatan kosmopolitan, ia tetap saja menarik banyak orang…
…Banyak impian pribadi terpenuni, sebanyak yang terburai diantara para pecundang, tetapi harapan kolektif tak pernah sampai, meskipun terdapat begitu banyak rencana dan kekuatan ekonomi…
…Mereka yang telah pindah keluar mendapatkan dirinya niscaya tetap tergantung kapadanya dalam satu atau lebih banyak sisi kehidupan : petualangan, pekerjaan, pasar khalayak, kekuasaan, kekasih, sorotan lampu dan persembunyian, eksistensi dan anonimitas, edu- dan infotainment, ilusi dan dilusi, kemenangan dan penyesalan…
Jika anda pembaca setia rubrik design arsitektur dan perancangan kota pada Kompas Minggu, Anda pasti sudah pernah membaca tulisan Marco Kusumawijaya. Arsitek muda ini termasuk salah satu orang yang berdedikasi pada bidangnya.
Pada Ulang tahun Jakarta ke-477 tahun 2004 lalu, British Council bekerjasama dengan penerbit Gagas Media meluncurkan “JAKARTA Metropolis Tunggang Langgang” sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan Marco tentang Jakarta. Acara peluncuran buku yang diadakan di British Council ini menghadirkan para tokoh-tokoh muda - yang concern terhadap problematika kehidupan Jakarta - antara lain : Ketua Ikatan Arsitek Muda Indonesia (maaf lupa namanya,nanya Indri arsitek juga nggak tau^_^), Yeni Rosa Damayanti, Mandra dan Andre Syahreza (pimred majalah Djakarta, red). Wakil dari British Council yang memberikan sambutan pada pembukaan acara tersebut mengungkapkan
kebanggannya kepada Marco yang begitu rajin membaca dan meminjam literature Urban Design milik perpustakaan British Council hingga mengumpulkan tulisannya menjadi buku .
Marco, yang kini beraktifitas di World Bank, sejak menjadi Mahasiswa di Jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan memang terkenal sebagai mahasiswa aktif. Ke-concern-annya pada masalah yang berkaitan dengan bidangnya ditunjang dengan keuletan, kerja keras dan menuangkan pemikirinnya dalam tulisan. Suatu sinergi yang sangat bagus. Ketika kita membaca tulisan Marco yang pendek-pendek, akan terasa sekali kepadatan dan kemudahan dalam mencerna isinya. Marco dapat menuangkan pemikirannya dan analisa teori arsitektur dengan bahasa yang mudah dipahami khalayak awam. Dan yang kental pada tulisannya adalah “jiwa” humanis Marco yang selalu muncul dalam setiap tulisannya.
Buku tipis ini membagi kumpulan tulisan dalam empat sub judul : Metropolis Kampung – Besar, Angkutan untuk Pawongan, Ruang dan Tempat Khalayak, dan Politik Ibukota. Pada sub bab pertama kumpulan tulisan mencakup gambaran-gambaran dan analisa fisik wajah Jakarta, penekanan kembali perancangan kota dari segi filsafat ruang dan pentingnya kebijakan yang mendasar, jelas dan tegas dalam perancangan kota untuk membangun karakter sebuah kota. Pada sub bab pertama ini mencakup tulisan tentang Sejarah nama Jakarta, Gedung Jangkung di Jakarta, Superblok, Urbanisasi, seorang Jerman yang membuat peta Jakarta sampai tulisan Marco untuk Ulang Tahun Jakarta.
Dalam tulisan Marco selalu muncul pemikiran bahwa perancangan kota sangat berkaitan erat dengan sosio-kultur masyarakat penghuninya. Pemikiran yang senafas dan sempat diterapkan oleh arsitek dan budayawan senior almarhum Romo Mangunwijaya.
“Kota tidak hanya fungsional, tetapi juga ekspresif. Ini artinya wujud dan bentuk ruang tidak dapat dianggap sebagai “akibat” dari aturan dan kebijakan, tetapi sebagai tujuan yang hendak dicapai itu sendiri melalui aturan dan kebijakan yang menunjang. “ (hal
"Hal ini mudah sekali dibayangkan para arsitek dan seniman, tetapi ternyata tidak mudah bagi birokrat atau perencana"(hal 9)
Marco ingin mengungkapkan bahwa selama ini tata ruang yang merupakan hasil dari kebijakan-kebijakan pemerintah. Dan kebijakan itu sendiri lebih banyak tidak menyerap sosio-kultur masyarakat yang ada. Dengan system birokrasi pemerintahan Jakarta yang begitu kental suasana politis, kebijakan pemerintah lebih banyak berseberangan dengan desain tata ruang yang mumpuni.
Dalam salah satu tulisannya Marco menekankan pentingnya ruang terbuka pada suatu kota dan ia berpendapat bahwa ruang terbuka di Jakarta tidaklah kurang tetapi terbengkalai sebingga tidak berfungsi. Menurutnya, “kualitas”, “aksesibilitas” dan “defensibilitas” ruang tebuka itulah yang harus ditingkatkan. Kini keaadaan ruang terbuka yang ada adalah tidak terawatt, tidak dapat dengan mudah dicapai. Contohnya lihatlah Taman Martha Tiahahu yang ada di terminal Blok M, dua puluh tahun yang lalu Taman ini masih menjadi tempat bermain warga yang memiliki anak kecil dengan daya tarik air mancur dan patung-patung binatangnya. Sekarang taman ini begitu kotor, patung-patung binatang sudah hancur, air mancurnya sama sekali tidak berfungsi, dan digunakan untuk berdagang dan muda-mudi yang nongkrong ataupun pacaran. Kini hampir tidak ada ruang terbuka di Jakarta yang menjadi tujuan bagi warga untuk berekreasi. Anak-anak kecil di Jakarta jaman sekarang mungkin tidak akan pernah tahu bahwa taman kota dan ruang terbuka publik lainnya merupakan tempat rekreasi.
Dalam pembahasan sejarah nama Jakarta Marco menjelaskan bahwa tanggal yang ditetapkan sebagai Ulang Tahun Jakarta adalah penguasaan Pelabuhan Sunda Kelapa oleh Pangeran Fatahillah yang mengalahkan serangan Portugis pada tanggal 22 Juni 1527. Pada tulisan Poros Sejarah dan Identitas Jakarta, ia menceritakan sejarah pusat dan urat nadi kota Jakarta sejak jaman VOC. Ia seperti ingin menekankan bahwa sejarah perkembangan kota sangatlah penting dan ia mengutip sebuah kata bijak orang Perancis: “ sebuah negeri tidak dapat membangun masa depan tanpa mengenali masa lalunya”.
Pada tulisan mengenai gedung jangkung di Jakarta Marco menjelaskan kegelisahan arsitektur ketika gedung-gedung jangkung bermunculan di kota-kota besar di dunia. Pada tulisan tentang Superblok, ia menyoroti tentang perkembangan Jakarta yang pesat yang menumbuhkan urbanitas dan perkembangan kepadatan di kawasan pinggir Jakarta. Lahirnya superblok atau “kota dalam kota “ dipinggiran Jakarta menurutnya banyak yang salah kaprah dalam pencapaian tujuannya. Lahirnya superblok di pinggiran Jakarta melahirkan kemacetan dititik perbatasan dengan wilayah Jakarta ketika aksesibiltas infrastruktur jalan tidak memadai untuk menunjang keberadaan kantong-kantong pemukiman tersebut.
Pada sub bab kedua yang Marco banyak menyoroti tentang “ruang jalan”. Dalam tulisan-tulisannya dia menyajikan fakta dan analisa filsafat ruang dan arsitektur dengan begitu mengena. Seperti petikan kalimat berikut :
“Waktu yang disia-siakan di jalan-jalan Jakarta telah memanjang sebesar 36-67% dalam kurun waktu 1985-2000. Kerugian akibat kemacetan pada tahun 2002 diperkirakan Rp 8,258 triliun. Tak terhitung kerugian akibat batal hadir dalam kegiatan-kegiatan reproduktif sosial budaya yang juga memiliki potensi ekonomi melalui pembangkitan kreativitas. “ (hal 56)
Warga Jakarta yang hidup tunggang langgang karena semakin ketatnya persaingan hidup semakin tunggang langgang lagi dengan kemacetan di Jakarta yang kini tidka saja menjakiti jalan-jalan protokol tetapi merambah ke jalan akses ke seluruh wilayah Jakarta. Waktu di jalan yang semakin lama memakan waktu produktif dan waktu istirahat. Dua puluh tahun lalu, orang kantoran masih bisa berangkat dari rumah jam 7 atau 7.30 pagi menuju kantor untuk mengejar jam kantor yang rata-rata dimulai pukul 8.00, kini sebagian besar warga berangkat dari rumah jam 6.00 pagi bahkan bagi yang bermukim di wilayah pinggiran Jakarta harus berangkat ke kantor pukul 5.00 pagi. Waktu diperjalanan warga kantoran Jakarta rata-rata sekitar 4 sampai 5 jam. Dengan waktu untuk berkumpul dengan keluarga yang semakin sedikit dan kelelahan yang bertambah akibat kemacetan juga menurunkan kualitas bersantai bersama keluarga. bahkan warga Jakarta sudah tidak memiliki waktu luang lagi untuk mengikuti kegiatan sosial budaya.
“kenyamanan atau ketidak nyamanan semua orang (kaya atau miskin, bermobil atau berjalan kaki) di jalan akan menentukan hubungan pribadi dengan kotanya.” (hal 62)
Ia berpendapat mengenai adanya loncatan skala ruang dalam kaitannya dengan hubungan sosial yang merupakan konsekuensi sosio-geografis dari pembangunan prasarana jalan bebas hambatan.
“Ruang yang tadinya bersifat antropologis – georafis - memperoleh makna dari hubungan antara penghuni yang tumpang tindih dan satuan ruang yang jelas tertentu – berubah menjadi cair dan mengalir kerena ketergantungan kepada dinamika ( yang tidak lagi selalu terduga ) dari jaringan hubungan yang terjadi dalam ‘ruang’ yang sangat ekspansif atau tidak tertentu sama sekali.”
Jalan di Jakarta telah menjadi “kantor’ bagi sebagian besar kaum urbanisasi yang tidak kebagian berkantor di gedung perkantoran. Perebutan ruang “jalan” antara pejalan kaki, pengguna kendaraan dan para pedagang sudah menjadi pemandangan biasa di Jjalan-jalan Jakarta. Pendapatnya tentang ruang “jalan” dikemukakan dengan begitu arif oleh Marco.
Jalan ternyata memang membingungkan kaum metropolit Jakarta, yang tidak banyak lahir dalam kondisi urban. Sebab itu banyak perdebatan mengenai “jalan itu untuk apa?” Siapa dan apa saja kegiatan yang boleh menempati jalan ?. Jalan, sebelum menjadi masalah teknis bagi para arsitek, perancang kota dan pegawai PU, sebenarnya adalah pertama-tama masalah budaya (apa itu jalan?) dan sosial (bagaimana konflik penggunaan dirundingkan?).
Pejalan kaki yang menikmati jalan-jalan santai di kaki lima Jakarta hampir tidak ada, mungkin hanya beberapa orang gila yang kerap berada disitu. Di Jakarta orang hanya berada di kaki lima untuk kegiatan-kegiatan sesaat yang penuh tujuan utiliter; menunggu kendaraan umum atau menuju ke tempat tertentu dari tempat parkir.
Dalam sub bab Politik Ibukota, marco banyak menyoroti kekerasan, ketidak tertiban dan hak-hak warga yang terbengkalai berkatian dengan kebijakan politik ibukota. Menurutnya, kekerasan dan runtuhnya ketertiban serta disiplin Kota Jakarta merupakan akibat atau reaksi atas ketidakadilan dan pengelolaan kota yang tidak berdasarkan konsesus luas.
Penggunaan ruang publik yang sering disebut “tidak tertib’ sebenarnya tidak mempunyai kriteria yang jelas: tidak ada konsesus yang mantap mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak. Kalau ada konsesus yang jelas, mudah bagi arsitek dan perancang kota untuk mendukung “kehendak kolektif” melalui perancangan yang memadai bagi semua pihak tanpa harus menimbulkan konflik horizontal.
Terhadap masalah yang dihadapi bersama warga Jakarta, menurutnya yang sangat penting adalah partisipasi yang nyata sehari-hari dan aliansi lintas warga. Karena setiap masalah seperti, Banjir, Sampah dll tidak hanya merugikan kaum “urban poor” tetapi juga warga yang tidak “poor”.
Masih banyak pemikiran-pemikiran dalam buku kecil ini yang belum disampaikan dalam ringkasan ini, karena buku kecil ini begitu padat berisi. Mungkin rekan-rekan yang tertarik dapat membacanya di waktu luang. Bagi semua warga Jakarta yang mencintai kota tempat tinggalnya tidak salah untuk mulai concern terhadap kota ini. Sekarang atau nanti yang pernah tinggal disini, biarpun tidak lahir disini pasti menyimpan cinta dan rindu untuk hadir di kota ini mungkin nanti bersama anak- cucunya kelak. Save the City…! .(diyas)
*)Pernah diterbitkan pada majalan intern Berita YISC Al Azhar edisi no.12/Semester I/2005 dengan beberapa modifikasi.
B C K t v ý

