Kompas1

Selasa 28 Juni lalu harian umum KOmpas genap berusia 40 tahun…
Usia yang cukup matang untuk sebuah surat kabar…

Sejak sebulan lebih lalu, Kompas sudah mendengungkan
perubahan tampilan pada hari jadinya ke-40 ini…

Hari itu, ketika berangkat kerja
di stasiun tidak seperti biasanya
Penjaja koran bergerombol desekitar gerbang masuk
Ada petugas yang membagi-bagikan voucher…
Ternyata voucher discount untuk membeli Kompas
Kompas yang harga bandrolnya RP.2400, dan di stasiun dijual Rp.2000
hari itu dijual Rp.1000

Setelah saya perhatikan, tampilan Kompas yang baru :
Ukuran  lebar lebih kecil
Berwarna
Mmm… mungkin karena baru, saya masih lebih suka
dengan tampilan lama yang lebih klasik….

Kompas3_1

Tapi, sampai besok saya masih bisa menikmati Kompas harga discount…
Nggak bisa menikmati langsung Perhelatan Megalitikum Kuantum
tapi kebagian diskonnya…^__^

Depok, 30 Juni 2005

Bajaj1

Gubernur Sutiyoso begitu
bersemangat  menggantikan Bajaj dengan
Kancil. Bajaj dinilai sudah out of date,
kerena penampilan dan kualitas kenyamanannya dinilai sudah tidak sesuai dengan
kondisi
Jakarta yang metropolis.
Suara Bajaj yang khas ‘super cempreng’ juga dibuat alasan kuat untuk
menyingkirkan Baja dari jalan-jalan ibukota.

 
Dari segi penampilan Kancil jauh
lebih trendi dibanding bajaj. Kancil,  kendaraan  karoseri dalam negri, sekilas bentuknya menyerupai Mercedes  A class. Bentuknya seperti curut, dalam keadaan baru, jika dipasang
AC menawrakan kenyamanan setingkat mobil pribadi.

 
Bandingkan saja dengan Bajaj,
kendaraan buatan India yang beroda tiga, setengah open air, karena jendela sopir tidak ada, jendela belakang atau
kabin penumpang biasanya hanya terbuat dari papan dan terpal. Jika naik bajaj, dengan keadaan jalan yang
lancar dijamin tidak akan kegerahan, panas cuaca dapat terobati dengan hembusan
angin yang menerobos kabin, bahkan jika jalan ngebut, angin dapat membuat
rambut kita seperti singa.^_^

Bajaj4_1

Bajaj terbukti tangguh sebagai
kendaraancarteran yang sangat fleksibel dan tarif yang terjangkau. Jika
dibandingkan dengan kendaraan carteran lain seperti ojek, Bajaj mempunyai kapasitas
yang jauh lebih banyak dengan kemampuan menyelip di jalan raya yang juga cukup
‘Sip’. Saya penah melihat Bajaj yang dimuati kasur kapuk sampai ke atap-atapnya,
dimuati perabot rumah tangga orang yang pindah rumah sampai dua orang muda-mudi
yang berpacaran. Bahkan Bajaj juga pernah dipakai mudik lebaran. Jika
dibandingkan dengan Kancil, Bajaj juga lebih bisa nyelip diantara kepadatan
lalu lintas.

 
Sekitar dua bulan yang lalu saya
pernah naik Kancil dari Blok M Plaza ke Al Azhar, dengan tarif Rp. 4000,
padahal waktu berangkat dari Al Azhar ke Blok M Plaza naik bajaj dengan tariff
yang sama. Kebetulan saya bertiga teman semuanya baru pertama kali naik Kancil,
walhasil semuanya tengak-tengok memperhatikan interior kancil sambil tak henti
bertanya kepada pak supir tentang hal ihwal Kancil.

 
Menurut saya memang jauh lebih
nyaman Kancil, kapasitas Kancil lebih besar : kancil seperti mobil sedan, ada
sau tempat duduk disebelah supir, kaca jendelanya lengkap, masih bisa dibuka
dan ditutup, sehingga bisa terhindar polusi dan air hujan. Kancil yang saya
naiki waktu itu juga dilengkapi Kipas Angin, sehingga cukup menyejukkan,
entahlah dengan armada yang lain, ada juga atau tidak.

Bajaj mungkin bisa tergantikan
oleh Kancil. Tarif Kancil yang cukup besaing dan kenyamanan yang lebih baik
dapat membuat orang akan memilih Kancil.
Tapi kondisinya saat ini tidak semuanya supir Bajaj dan pemilik Bajaj mau dan
sanggup membeli Kancil. Supir Bajaj sebagian besar bukan pemilik Bajaj dan
mereka tidak sanggup membeli Kancil yang harganya sekitar 40 juta rupiah.
Sedankan pemilik Bajaj juga enggan karena umumya mereka juga bukan pengusaha
angkutan yang kaya raya.

Dulu, ketika saya masih SD, Bajaj
adalah kendaraan favorit keluarga untuk berlibur di akhir pekan. Dari rumah di
bilangan Cipete, saya sekeluarga berenam
biasanya naik Bajaj ke Blok M. Dulu tarifnya 400 rupiah. Saya, orang tua dan kakak-kakak saya tidak
akan pernah lupa kenangan naik Bajaj tersebut. Saya, ayah, ibu dan kakak
perempuan duduk, sedangkan kakak laki-laki saya berdiri. Bajaj yang dimuati
tujuh orang termasuk supir itu seingat saya masih terasa lega.

Lama-kelamaan, Bajaj akan semakin
tergusur. Mungkin jika nanti Gubernur Sutiyoso semakin gencar melarang Bajaj
beroperasi, Bajaj akan dikejar-kejar Tramtib. Namun Bajaj akan tetap menjadi
kendaraan favorit bagi penghuni Kota yang mempunyai kenangan-kenangan
menaikinya seperti anak-anak SD yang begitu “heboh” menaiki Bajaj dalam
foto-foto yang saya ambil di dekat kantor pada bulan November tahun lalu.

Bajaj2

 

— Manggarai, Medio 2005.

 

 

Ramayana di Blok M Plaza

June 27, 2005

Bokap : Ayo kita ke Plaza, Ada Ramayana
di Blok M Plaza…

Anak   : Hah… Ramayana buka di Blok M Plaza,
Sumpee lo…?

            Ngapain juga…kan udah ada Matahari…

Bokap  : Ye.. bukan Ramayana Dept. Store… tapi Sendratari Ramayana…

 Anak : Hah.. apaan tuh…?!?!

 …

 

Jumat, 24 Juni 2005 lalu, Lobby Blok M Plaza dipenuhi dengan
panggung dan deretan kursi di depannya. Dari lantai satu ada seperangkat alat
lampu sorot yang mengarah ke panggung yang berada di lantai bawahnya.

 
Hari itu digelar pentas kesenian dari berbagai daerah
nusantara. Acara ini merupakan puncak acara Holiday Festival yang sudah
diselenggarakan sejak seminggu yang lalu, disponsori oleh Blok M Plaza bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta.

 
Acara tersebut menggelar penampilan dari sanggar-sanggar seni daerah. Pada hari itu tampil
Sanggar seni Betawi: Ratna Sari, Sangdar seni Minang: Sari Budaya, Sanggar Seni
Bali : Bale Ganjur,Sanggar seni Sulut: Makasiouw, Sanggar seni Sunda Jenggala
Manik, Sanggar seni SUlsel:Celebes
, Sanggar seni Kal-Bar: Ki Lin, Sanggar Seni Maluku:
Andarinyo, Sanggra seni Marawis: An Nasirian, Sanggar seni Riau:Ayodyapala dan
Sanggar seni Jawa Tengah : Sendratari Ramayana.

Degung3

Kesenian Sunda oleh Sanggar Jenggala Manik

 

Kehadiran kesenian daerah ditengah-tengah gemerlap lampu counter-counter fashion di Lantai
Underground
Plazatersebut menghadirkan nuansa unik
tersendiri. Di awal acara, tempat duduk yang disediakan untuk penonton berisi
sekitar setengahnya. Pengunjung Plaza
yang berlalu lalang juga hanya
menonton sepintas lalu, Namun menjelang sore, penonton bertambah dengan
memenuhi bangku-bangku yang kosong. Pengunjung yang berdiri disekitar panggung
pun bertambah.

 

Ditengah semakin pudarnya pementasan seni tradisi daerah,
penyelenggaraan acara semacam ini cukup mengobati rasa rindu masyarakat akan
pertunjukan seni tradisonal yang sudah sangat langka tayangannya di layar kaca.

 
Pertunjukan seni tradisional di tengah Plaza
merupakan hal yang efektif untuk
menyuguhkan seni budaya lokal kepada masyarakat. Ditengah hiruk pikuk kehidupan kota
yang semakin mempersempit waktu
luang bagi masyarakat kota
, kesenian tradisinal semakin tersingkir dari
perhatian publik. Masyarakat yang benar –benar haus akan tontongan seni
tradisional biasanya harus mengunjungi Taman Ismail Marzuki atau Gedung
Kesenian Jakarta. Dengan menghadirkannya di Plaza ataupun pusat-pusat
perbelanjaan, masyarakat didekatkan dengan seni tradisional yang merupakan kekayaan budaya bangsa.

 

Selepas Maghrib seiring dengan semakin ramainya pengunjung,
kepadatan penonton di sekitar panggung maupun dilantai atas bertambah. Tarian
melayu yang indah memukau penonton yang diikuti dengan tepuk tangan.
Selanjutnya sebagai penutup di suguhkan Sendratari Ramayana, tarian yang
menceritakan kisah klasik Rama dan Sinta.

Event seperti ini seharusnya dapat
diselenggarakan semua pusat perbelanjaan. Penyediaan ruang untuk seni
tradisonal akan membantu anak-anak mengenal seni tradisi bangsa sendiri.  Jika anak-anak mengunjungi Plaza
tersebut pada saat itu, mereka
pasti akan bertanya kepada orangtuanya,

“Siapa itu penari yang berwajah Merah menyeramkan ?”

“Siapa itu penari yang berkostum putih berbulu-bulu ?”

“Siapa itu penari yang ganteng dan cantik itu ?”

 
Dan mereka akan mengenali tokoh Rahwana, Hanoman, Rama dan
Sinta. Dan masyarakat perkotaan tidak perlu jauh-jauh menyaksikan Sendratari
Ramayana di pelataran Candi Prambanan karena di Plaza kini ada Ramayana.

Ramayana6_2 Sendratari Ramayana

- Bintara Home, 26
Juni 2005.

 

Sekedar perenungan sebagai HOMO JAKARTAENSIS MASOKIS !!!

Ini draft daftar masalah "pribadi" JAKARTA….

  • Defenisi menurut Patrick Geddes dalam Ensyclopedia of
         Urban Planning
    pemekaran dan pembangunan kota dalam enam tahap dimana terjadi interaksi antara faktor-faktor pebangunan kota dan kemerosotan kota.. Tahapan
         dimulai dari Eopolis, Polis, Metropolis, Megapolis, Tyranopolis dan  Nekropolis.
  • Jakarta saat ini sudah menjadi kota metropolitan dengan kata lain sudah dalam tahap metropolis dan menuju megapolis, tahap dimana mencapai titik untuk mulai merosot dalam banyak seginya dan akhirnya menuju ke bentuk kota yang disebut Tyrannopolis, dimana kehidupan kota sudah dikuasai kaum tirani. Kehidupan kota ini akan mengalami kemacetan-kemacetan, kekacauan pelayanan. Tingkat
         kejahatan serta kriminalitas sudah biasa terjadi dan mulai meninggi, Keadaan ini akan mendorong kota itu menjurus pada perkembangan yang disebut Nekropolis, yaitu situasi dimana kota sudah tidak lagi bias
         diatasi pengelolaannya dan mengalami tanda-tanda kematian. Kota akan kehilangan semua fungsi kontrolnya, dan seterusnya akan menjadikan kota itu kehilangan jiwa.

  • Ahli Tata Kota lain melihat pemekaran kota bukan dari dampak kemerosotan lingkungannya atau luas arealnya. Tetapi misalnya dari peran kota-kota itu dalam hubungan fungsinya dalam konteks membahagiakan penduduknya. Metropolis yang sudah semakin sumpek dan
         semrawut bisa menjadi Miseropolis, kota yang membuat penduduknya begitu menderita. 
  • Peter Hall dalam bukunya yang sangat populer "Great Planning Disasters" (1982) telah menganalisis peran para  aktor yang telah menimbulkan bencana dalam pembangunan kota.  Ternyata yang kontribusinya paling besar adalah pada birokrat atau para penentu kebijakan, yang acap kali berwawasan jangka pendek karena masa jabatannya yang juga terbatas. Mereka ingin menciptakan monumen untuk dirinya sendiri agar dinilai berhasil dan diharapkan kedudukannya terjamin.
  • Pelaku kedua yang membikin bencana perkotaan adalah pihak  swasta yang dengan kekuatan ekonomi dan finansialnya mampu ‘mendikte’ perkembangan kota.
  • Pelaku ketiga, diluar dugaan, adalah para profesional yang terseret arus dan melupakan kaidah-kaidah perencanaan kota, mengabaikan kode etik, dan sekadar melaksanakan apa yang diinginkan oleh birokrat dan pengusaha swasta. Akibat dari semua itu, masyarakatlah yang cenderung selalu menjadi korban karena posisi menawarnya (bargaining position) yang lemah, nyaris tidak berdaya.
  • Pembangunan-pembangunan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan atau fasilitas publik tidak sebanding dengan pembangunan yang berkaitan dengan industri kapitalis seperti pusat perbelanjaan dan hiburan.
  • Permasalahan klasik yang terus berlangsung hingga saat ini adalah masalah penggusuran pemukiman warga. Masalah yang kompleks dan bagai benang kusut ini ternyata semakin kompleks dan Pemerintah terkesan ingin langsung menggunting benang kusut tersebut. Warga yang tergusur mengatakan bahwa pemerintah tidak memperhatikan Hak Azasi Manusia karena mereka merasa telah membayar sejumlah uang kapada pihak atau oknum tertentu terhadap tanah yang mereka tinggali, dan  mengatakan bahwa penertiban dilakukan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Sedangkan pihak Pemda sangat merasa tidak bersalah karena warga – yang sebagian besar pendatang yang tidak memiliki KTP DKI – dinilai menempati tanah negara dan tanah lain yang bukan milik/haknya.
  • Masalah yang berkaitan juga dengan hal gusur-menggusur adalah penertiban pedagang kaki lima – yang berdampak pada kemacetan lalu lintas dan penyerobotan fasilitas publik.  Penanganan masalah ini juga tidak terlihat dilakukan dengan upaya yang komprehensif. Upaya penertiban Pemda dengan mengangkut lapak dan  dagangan para five feet-er tersebut tidak mempan. Dalam beberapa hari atau minggu sesudahnya mereka sudah akan kembali berdagang. Para five feet-er yang sebagian besar kaum urban - yang memang mengandalkan datang ke Jakarta untuk menggantungkan hidup karena semakin matinya sumber-sumber usaha yang menghidupkan di kampung halamannya – merasa kaki lima dan ruang publik lah tempat yang paling cocok untuk berdagang. Tidak perlu modal besar untuk membayar sewa tempat – uang keamanan  yang ditarik pihak/oknum yang merasa berkepentingan  jauh lebih murah dibanding menyewa kios dipasar – dan tempat yang strategis dimana orang yang berlalu lalang di trotoar dan ruang publik lainnya merupakan pasar yang sangat bagus untuk barang dagangannya. Para pengguna trotoar dan ruang publik yang haknya tergusur oleh kehadiran mereka lama kelamaan mengalami pemakluman dengan pola pikir tidak mau mengganggu orang mencari nafkah. Bahkan lebih repotnya lagi, lama kelamaan masyarakat merasa senang juga dengan kehadiran mereka karena bisa berbelanja dengan mudah, cepat dan praktis tanpa terpikir lagi ketidak tertiban yang terjadi dan keadaan nyaman yang lebih menguntungkan jika para pedagang tersebut tidak  ada.
  • Dari serangkaian permasalahan publik yang muncul, rasanya cukup mencerminkan seperti apakah sebenarnya kepuasan masyarakat Jakarta terhadap kenyamanan hidup di kotanya?. Bagi masyarakat menengah ke atas masih bisa merasakan kenyamanan walaupun dengan konsekuensi cost yang tinggi. Bagi masyarakat ditingkat menengah harus bergumul dengan fasilitas umum yang ada sambil membayangkan dan terus berusaha meningkatkan taraf hidupnya agar bisa membayar cost yang tinggi untuk kenyamanan yang mahal tersebut. Sedangkan bagi masyarakat menengah ke bawah yang selalu terengah-engah, sepertinya sudah tidak sempat lagi membayangkan kenyamanan berada di kota yang megah ini, hari-hari mereka sudah disibukkan dengan usaha untuk bertahan hidup dalam keadaan was-was tergusur.
  • Lama kelamaan masyarakat Jakarta akan kebal dengan keadaan kotanya yang sebenarnya sudah cukup banyak membuat tidak nyaman. Gejala apakah ini? Gejala masyarakat yang Masokis atau masyarakat yang sabar dan tawakal yang masih berharap suatu saat Jakarta seperti Paris - atau tidak usah jauh2 – seperti Singapura dan Kuala Lumpur?

For my lovely JAKARTA

****

Bintara home, Medio 2003

…           

Headline sebuah koran ibukota memberitakan korupsi miliaran rupiah yang dilakukan oleh KPUD DKI Jakarta.
          
Headline koran lainnya memberitakan seorang pemulung warga Jakarta yang menggendong mayat anaknya karena tidak sanggup membayar biaya pemakaman Rp 350 ribu yang di peraturan besarnya hanya Rp 4 ribu

 
Supriyono,
nama itu dalam dua hari ini mewarnai berita-berita di media massa
. "Si
Penggendong mayat" itulah sebutan untuknya.

  Kisah
singkatnya adalah sebagia berikut.Supriyono adalah seorang pemulung yang
sehari-hari bersama kedua anaknya, saya lupa namanya (6 tahun) dan khaerunnisa (3
tahun) tinggal di gerobak yang digunakan untuk memulung sehari-hari, yang
mangkal di stasiun Cikini.

                  Suatu
hari anaknya yang kecil sakit muntaber, hingga akhirnya meninggal. Ia tidak
mempunyai uang sedikitpun untuk biaya penguburan anaknya. Akhirnya ia ingin
menguburkan anaknya di Bogor
. Ia menggendong anaknya yang sudah menjadi mayat,
bersama anakya yang sulung ingin menumpang kereta ke Bogor
. Ketika ingin menumpang kereta,
karena tidak memiliki karcis ia ditanya oleh petugas kereta.

   Ketika mengetahui ia membawa
mayat, petugas mencurigai Supriyono sebagai pelaku kejahatan, Supriyono disuruh
mengotopsi jenazah yang digendongnya untuk membuktikan bahwa jenazah tersebut
memang anaknya. Supriyono malah pergi ke rumah seorang kenalannya yang bernama
Ibu Sri di daerah Manggarai. Ibu Sri yang biasa dipinjamkan duit oleh
Supriyono, ketika Supriyono datang begitu kaget kemudian mengumpulkan sumbangan
dari warga setempat hingga terkumpul sekitar 600 ribu. Uang tersebut kemudian
digunakan untuk memakamkan jenazah Khaerunisa di pemakaman Menteng Pulo. Biaya
pemakaman resminya adalah Rp.4000 - tetapi kenyataan di lapangan Rp. 350ribu.
Biaya yang tak tergapai oleh seorang warga seperti Supriyono.

 Kisah tersebut menjadi headline
koran "Warta
Kota" pada hari Kamis, 08 Juni
2005 lalu (habis makan siang di kantor, baca koran punya satpam , ^_^).
Pada berita kecil, yang menyangkut berita utama, diberitakan pimpinan koran tersebut memberikan sumbangan
kepada Supriyono, berita tentang seorang ibu warga negara Indonesia yang
tinggal di Australia yang sangat tersentuh dengan nasib Supriyono dan ingin
membiayai sekolah anak Supriyono yang satu lagi.

 Jum’at pagi sebelum berangkat kerja
saya biasa mendengarkan radio Mustang Double eight ^_^. Tidak disangka topik
pembicaraan Rico Ceper n Bedu’ adalah "Kisah Supriyono", Mustang
malah menggalang dana untuk Supriyono, maupun Supriyono-Supriyono lain.

  Siangnya saya meminjam koran Satpam lagi
^___^).Headline koran Warta Kota hari ini, 9 Juni 2005 memberitakan
masyarakat yang berdemo dengan menggendong mayat dari boneka untuk menggugat
pemerintah atas nasib Supriyono. Supriyono adalah "satu" dari sekian
banyak Supriyono-supriyono lain yang mencoba bertahan hidup di ibukota ini. Supriyono
adalah korban dari suatu sistem penataan masyarakat yang carut marut.

Disaat penyelenggara pemetrintahan
mendapat kesempatan memanfaatkan uang miliaran rupiah yang harusnya digunakan
untuk kepentingan umum, Supriyono tidak sanggup membayar biaya pemakaman
anaknya.

Manggarai - Depok , 9 Juni 2005

 

 

Kitab Omong Kosong

June 3, 2005

Omong_kosong_1

                                                                                                                           

Judul          : KITAB OMONG KOSONG

Penulis        : Seno Gumira Ajidarma

Penerbit     : Bentang

________________________________________________________________________

Kitab menyimpan sebuah dunia

Tapi bisa saja tak pernah dibuka

(hal 451)

Sinta telah diculik oleh Rahwana, raksasa jahat penguasa Alengka, negeri para raksasa. Tetapi, cinta Sinta tetap kepada suaminya, Rama, penguasa negeri Ayodya. Rama membawa kembali istrinya, Sinta ke Ayodya. Rakyat Ayodya tidak mengingikan Sinta berada disana karena menganggap Sinta sudah mengkhianati Rama dan mencintai Rahwana. Sinta meyakinkan Rama dan seluruh rakyat Ayodya bahwa dirinya masih suci dan cintanya tetap kepada Rama, tetapi rakyat Ayodya tidak mempercayainya. Rama yang masih mencintai Sinta akhirnya terpengaruh omongan rakyatnya, dan ia memilih keinginan rakyatnya untuk mengusir Sinta. Cinta dan Kuasa, dilema bagiRama, tapi kuasalah  yang dipilih oleh Rama

Sinta yang sedang mengandung putra Rama, menjadi pemaisuri yang terusir dari negerinya sendiri. Ia tersaruk-saruk di hutan, meratapi nasibnya dan sambil terus menyatakan bahwa ia sangat mencintai Rama.

Di tengah hutan, ia bertemu dengan Walmiki. Sinta menceritakan nasibnya kepada Walmiki. Walmiki menulis Ramayana. Setelah tujuh bulan, lahirlah putra kembar Sinta yang diberi nama Lawa dan Kusa. Mereka berempat tinggal disebuah gubuk ditengah hutan. Lawa dan Kusa tumbuh menjadi anak yang cerdas dalam bimbingan Walmiki dan sekapan kasih saying Sinta. Kedua anak itu sangat kritis mempelajari iilmu pengetahuan. Mereka juga sangat sakti. Setelah 14 tahun, mereka menanyakan “Siapakah ayah kami  ?”. Kemudian Walmiki menuliskan Ramayana, kisah Rama dan Sinta.

Rama galau mengingat dewi Sinta. Ia melakukan Persembahan Kuda. Seluruh negeridi anak benua yang akan dilalui oleh kuda kutih - yang merupakan kuda persembahan-harus tunduk kepada Ayodya. Banyak negeri yang memberontak, sehingga terjadi peperangan, kekacauan dan kehancuran.

Pada suatu hari ketika Lawa dan Kusa sedang bemain di padang rumput. Mereka berdua melihat seekor Kuda Putih yang berlari kencang. Mereka mengejarnya dan akhirnya berhasil menangkap kuda tersebut. Tidak lama kemudian, dari atas bukit muncul beribu pasukan berkuda, pasukan negeri Ayodya yang sangat kuat, yang dipimpin oleh Laksmana, adik Rama. Pasukan itu meminta Lawa dan Kusa untuk menyerahkan kuda tersebut, karena kuda itu adalah Kuda Persembahan. Lawa dan Kusa menolak, hingga terjadilah pertempuran hebat, antara beribu-ribu prajurit berkuda melawan dua orang anak remaja. Konon, prajurit-prajurit itu berguguran melawan kesaktian Lawa dan Kusa.

Laksmana kembali ke Ayodya menceritakan tentang dua orang anak remaja yang sakti kepada Rama. Rama yang terkejut mendengar pasukannya yang terkenal hebat di seluruh anak benua, langsung mengerahkan pasukan wanaranya. Tetapi lagi-lagi beribu-ribu wanara berguguran lagi melawan Lawa dan Kusa. Rama penasaran, siapakah dua anak remaja yang sakti mandarguna ini?. Rama mengundang Lawa dan Kusa ke istana Ayodya untuk menceritakan siapakah sebenarnya mereka.

Lawa dan Kusa datang ke istana Ayodya yang sangat megah. Seluruh rakyat Ayodya berkumpul di pelataran istana untuk menyaksikan mereka. Rakyat yang meonton berbisik-bisik membahas kemiripan kedua anak tersebut dengan Rama. Lawa dan Kusa menembangkan Ramayana. Seluruh penonton terharu mendengarnya begitu juga Rama, dari belakang muncullah Dewi Sinta. Rama akhirnya menyadari bahwa Lawa dan Kusa adalah anaknya.

Sinta menyatakan lagi bahwa ia masih mencintai Rama. Tapi lagi-lagi Rama masih meragukan kesucian Sinta. Sinta besumpah bahwa jika dia suci dia akan ditelan bumi. Sesaat kemudian bumi bergetar, merekah dan menelan Dewi Sinta. Lawa dan Kusa menangis tersedu-sedu memukul-mukul bumi, meratapi kepergian ibunya. Rama semakin galau. Ia menitipkan negeri Ayodya  kepada Laksmana, lalu Moksa menjadi cahaya.

tidak ada yang lebih mencintai Rama, selain Sinta,

tidak ada yang lebih mengerti Sinta selain Rama.

Sinta Moksa kedalam bumi, Rama Moksa ke udara.

Maneka, perempuan muda 20tahun, pelacur yang diperkosa satu

kota

. Suatu ketika seekor kuda yang melesat masuk ke kamarnya dan menjadi rajah di punggungnya. Orang-orang seantero  yang sedang mengejar kuda tersebut – yang diyakini sebagai kuda yang membawa malapetaka – beramai-ramai menyerbu kamar Maneka. Maneka yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba menjadi serbuan orang-orang tersebut. Walhasil Maneka berhasil melarikan diri dari kepungan, ia mengembara jauh hingga bertemu dengan Satya. Pemuda yang usianya empat tahun lebih muda. Seluruh keluarga Satya telah tewas akibat bencana Persembahan Kuda. Maneka menceritakan kejadian yang menimpa dirinya. Akhirnya mereka berdua sepakat untuk mencari Walmiki, penulis Ramayana, konon Walmikilah yang bisa menuliskan jalan hidup orang-orang

Akibat Persembahan Kuda, peradaban yang telah dibangun berabad-abad hancur. Kekacauan menjalar dimana-mana. Manusia saling membunuh dan menjarah. Untuk membangun peradaban yang telah hancur tersebut diperlukan waktu yang sangat lama. Perpustakaan-perpustakaan yang menyimpan ilmu pengetahuan untuk membangun peradaban telah hancur. Manusia harus mulai dari nol lagi.

Konon, hanya ada satu perpustakaan yang tidak hancur, yaitu perpustakaan Ayodya. Di perpustakaan itu tersimpan sebuah kitab sumber ilmu pengetahuan. Dengan mempelajari ilmu pengetahuan dari kitab yang tersisa tersebut, manusia dapat menghemat waktu sekitar tiga ratus tahun untuk membangun peradaban. Namun ada saja manusia yang menginginkan agar manusia tetap bodoh supaya semua tenggelam dalam kegelapan sehingga dengan menjadi penguasa tunggal atas pengetahuan bisa berkuasa mutlak atas segala bidang. Dengan demikian kitab tersebut menjadi rebutan berbagai kepentingan antara yang ingin membangun kembali peradaban dan yang ingin menguasai.

Satya dan Maneka ditugaskan untuk mencari kitab tersebut demi kelangsungan hidup umat manusia. Kitab tersebut bernama Kitab Omong Kosong, yang dibagi dalam LIMA BAB. Kabar terakhir menyebutkan kitab tersebut tidak lagi berada di perpustakaan Ayodya, karena takut dicuri pihak yang ingin menguasai. Kitab tersebut ada ditangan Hanoman yang bijaksana yang bersemayam di Gunung Kendalisada.

Satya dan Maneka mengembara melalui berbagai pengalaman hidup, menjelajah berbagai negeri di anak benua. Selama mengembara mereka mendapatkan berbagai pelajaran hidup. Mereka berdua akhirnya menemukan di pertapaan Kendalisada, tempat Hanoman bersemayam. Hanoman memberikan Bab pertama dari Kitab Omong Kosong. Ia mempercayakan kitab terebut kepada Satya dan Maneka dan menugaskan keduanya untuk mencari keempat lainnya Bab pertama kitab itu berjudul : Dunia Seperti adanya Dunia.

Bab kedua berjudul : Dunia Dalam Pandangan Manusia. Bab ini menjelaskan bahwa dunia tergantung dari pandangan setiap manusia yang berbeda-beda. Seperti misalnya sebuah pohon yang dipandang dengan berdiri tentu bentuknya akan berbeda jika dipandang dengan tiduran. Begitupun dengan dunia, tidak akan sama jika dipandang dari sisi yang berbeda.

Dalam perjalanan selanjutnya Satya dan Maneka menjumpai tukang buku bekas yang sangat miskin. Di tukang buku itulah Satya menemukan bab ketiga. Kata si Penjual buku, kitab itu dijual oleh Hanoman kepadanya.

Bab ketiga berjudul : Dunia yang Tidak ada

Bab ini menceritakan bahwa dunia itu tidak ada, yang ada adalah cara-cara tampilnya dunia kepada manusia. Manusia hanya bergelut dengan gambaran-gambaran mengenai dunia, bukan dunia itu sendiri.

Bab keempat yang berjudul : Mengadakan Dunia ditemukan di Lembah Pintu Naga, tempat yang sangat berbahaya. Bab tersebut menceritakan bahwa manusia selalu memandang masa depan sebagai suatu ekberadaan yang penting, maka manusia berusaha agar kehidupan mempunyai makna, dengan cara membuat dunia kembali ada. Manusia membuat dunia-dunia mereka untuk memaknai kehidupannya.

Bab kelima berjudul : Kitab Keheningan. Apa isi bab terakhir dari Kitab Omong Kosong ini?. Kiranya lebih seru jika Anda membaca sendiri roman yang sangat memperkaya sastra negeri ini.

Setelah membaca Kitab Omong Kosong, saya semakin yakin bahwa Seno adalah sastrawan teratas di negeri ini untuk saat ini. Cerita ini pernah dimuat dalam cerita bersambung di Harian Tempo pada tahun  2001, dengan judul Rama dan Sinta.

                Daya imajinasi Seno yang hebat dtambah pemahamannya akan cerita pewayangan yang kaya akan falsafah hidup dituangkan dengan lancar dan mengalir dalam cerita ini. Memasukkan sang penulis Ramayana, Walmiki, kedalam cerita membuat roman ini begitu unik. Begitupun dengan tokoh Satya dan Maneka, tokoh sebagai korban  Persembahan Kuda. Selanjutnya Seno lebih mematangkan kisah imajinasinya yang luar biasa dalam novel -yang tak kalah bagusnya - Negeri Senja yang ditulis sesudah cerita ini.

                                                  ***

Manggarai, Medio Mei 2005