…           

Headline sebuah koran ibukota memberitakan korupsi miliaran rupiah yang dilakukan oleh KPUD DKI Jakarta.
          
Headline koran lainnya memberitakan seorang pemulung warga Jakarta yang menggendong mayat anaknya karena tidak sanggup membayar biaya pemakaman Rp 350 ribu yang di peraturan besarnya hanya Rp 4 ribu

 
Supriyono,
nama itu dalam dua hari ini mewarnai berita-berita di media massa
. "Si
Penggendong mayat" itulah sebutan untuknya.

  Kisah
singkatnya adalah sebagia berikut.Supriyono adalah seorang pemulung yang
sehari-hari bersama kedua anaknya, saya lupa namanya (6 tahun) dan khaerunnisa (3
tahun) tinggal di gerobak yang digunakan untuk memulung sehari-hari, yang
mangkal di stasiun Cikini.

                  Suatu
hari anaknya yang kecil sakit muntaber, hingga akhirnya meninggal. Ia tidak
mempunyai uang sedikitpun untuk biaya penguburan anaknya. Akhirnya ia ingin
menguburkan anaknya di Bogor
. Ia menggendong anaknya yang sudah menjadi mayat,
bersama anakya yang sulung ingin menumpang kereta ke Bogor
. Ketika ingin menumpang kereta,
karena tidak memiliki karcis ia ditanya oleh petugas kereta.

   Ketika mengetahui ia membawa
mayat, petugas mencurigai Supriyono sebagai pelaku kejahatan, Supriyono disuruh
mengotopsi jenazah yang digendongnya untuk membuktikan bahwa jenazah tersebut
memang anaknya. Supriyono malah pergi ke rumah seorang kenalannya yang bernama
Ibu Sri di daerah Manggarai. Ibu Sri yang biasa dipinjamkan duit oleh
Supriyono, ketika Supriyono datang begitu kaget kemudian mengumpulkan sumbangan
dari warga setempat hingga terkumpul sekitar 600 ribu. Uang tersebut kemudian
digunakan untuk memakamkan jenazah Khaerunisa di pemakaman Menteng Pulo. Biaya
pemakaman resminya adalah Rp.4000 - tetapi kenyataan di lapangan Rp. 350ribu.
Biaya yang tak tergapai oleh seorang warga seperti Supriyono.

 Kisah tersebut menjadi headline
koran "Warta
Kota" pada hari Kamis, 08 Juni
2005 lalu (habis makan siang di kantor, baca koran punya satpam , ^_^).
Pada berita kecil, yang menyangkut berita utama, diberitakan pimpinan koran tersebut memberikan sumbangan
kepada Supriyono, berita tentang seorang ibu warga negara Indonesia yang
tinggal di Australia yang sangat tersentuh dengan nasib Supriyono dan ingin
membiayai sekolah anak Supriyono yang satu lagi.

 Jum’at pagi sebelum berangkat kerja
saya biasa mendengarkan radio Mustang Double eight ^_^. Tidak disangka topik
pembicaraan Rico Ceper n Bedu’ adalah "Kisah Supriyono", Mustang
malah menggalang dana untuk Supriyono, maupun Supriyono-Supriyono lain.

  Siangnya saya meminjam koran Satpam lagi
^___^).Headline koran Warta Kota hari ini, 9 Juni 2005 memberitakan
masyarakat yang berdemo dengan menggendong mayat dari boneka untuk menggugat
pemerintah atas nasib Supriyono. Supriyono adalah "satu" dari sekian
banyak Supriyono-supriyono lain yang mencoba bertahan hidup di ibukota ini. Supriyono
adalah korban dari suatu sistem penataan masyarakat yang carut marut.

Disaat penyelenggara pemetrintahan
mendapat kesempatan memanfaatkan uang miliaran rupiah yang harusnya digunakan
untuk kepentingan umum, Supriyono tidak sanggup membayar biaya pemakaman
anaknya.

Manggarai - Depok , 9 Juni 2005

 

 

One Response to “Dua Headline Harian Ibukota”

  1.   usman said:

    hiks…hiks…hiks…
    Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…Hiks…

Leave a Reply