Kitab Omong Kosong

June 3, 2005

Omong_kosong_1

                                                                                                                           

Judul          : KITAB OMONG KOSONG

Penulis        : Seno Gumira Ajidarma

Penerbit     : Bentang

________________________________________________________________________

Kitab menyimpan sebuah dunia

Tapi bisa saja tak pernah dibuka

(hal 451)

Sinta telah diculik oleh Rahwana, raksasa jahat penguasa Alengka, negeri para raksasa. Tetapi, cinta Sinta tetap kepada suaminya, Rama, penguasa negeri Ayodya. Rama membawa kembali istrinya, Sinta ke Ayodya. Rakyat Ayodya tidak mengingikan Sinta berada disana karena menganggap Sinta sudah mengkhianati Rama dan mencintai Rahwana. Sinta meyakinkan Rama dan seluruh rakyat Ayodya bahwa dirinya masih suci dan cintanya tetap kepada Rama, tetapi rakyat Ayodya tidak mempercayainya. Rama yang masih mencintai Sinta akhirnya terpengaruh omongan rakyatnya, dan ia memilih keinginan rakyatnya untuk mengusir Sinta. Cinta dan Kuasa, dilema bagiRama, tapi kuasalah  yang dipilih oleh Rama

Sinta yang sedang mengandung putra Rama, menjadi pemaisuri yang terusir dari negerinya sendiri. Ia tersaruk-saruk di hutan, meratapi nasibnya dan sambil terus menyatakan bahwa ia sangat mencintai Rama.

Di tengah hutan, ia bertemu dengan Walmiki. Sinta menceritakan nasibnya kepada Walmiki. Walmiki menulis Ramayana. Setelah tujuh bulan, lahirlah putra kembar Sinta yang diberi nama Lawa dan Kusa. Mereka berempat tinggal disebuah gubuk ditengah hutan. Lawa dan Kusa tumbuh menjadi anak yang cerdas dalam bimbingan Walmiki dan sekapan kasih saying Sinta. Kedua anak itu sangat kritis mempelajari iilmu pengetahuan. Mereka juga sangat sakti. Setelah 14 tahun, mereka menanyakan “Siapakah ayah kami  ?”. Kemudian Walmiki menuliskan Ramayana, kisah Rama dan Sinta.

Rama galau mengingat dewi Sinta. Ia melakukan Persembahan Kuda. Seluruh negeridi anak benua yang akan dilalui oleh kuda kutih - yang merupakan kuda persembahan-harus tunduk kepada Ayodya. Banyak negeri yang memberontak, sehingga terjadi peperangan, kekacauan dan kehancuran.

Pada suatu hari ketika Lawa dan Kusa sedang bemain di padang rumput. Mereka berdua melihat seekor Kuda Putih yang berlari kencang. Mereka mengejarnya dan akhirnya berhasil menangkap kuda tersebut. Tidak lama kemudian, dari atas bukit muncul beribu pasukan berkuda, pasukan negeri Ayodya yang sangat kuat, yang dipimpin oleh Laksmana, adik Rama. Pasukan itu meminta Lawa dan Kusa untuk menyerahkan kuda tersebut, karena kuda itu adalah Kuda Persembahan. Lawa dan Kusa menolak, hingga terjadilah pertempuran hebat, antara beribu-ribu prajurit berkuda melawan dua orang anak remaja. Konon, prajurit-prajurit itu berguguran melawan kesaktian Lawa dan Kusa.

Laksmana kembali ke Ayodya menceritakan tentang dua orang anak remaja yang sakti kepada Rama. Rama yang terkejut mendengar pasukannya yang terkenal hebat di seluruh anak benua, langsung mengerahkan pasukan wanaranya. Tetapi lagi-lagi beribu-ribu wanara berguguran lagi melawan Lawa dan Kusa. Rama penasaran, siapakah dua anak remaja yang sakti mandarguna ini?. Rama mengundang Lawa dan Kusa ke istana Ayodya untuk menceritakan siapakah sebenarnya mereka.

Lawa dan Kusa datang ke istana Ayodya yang sangat megah. Seluruh rakyat Ayodya berkumpul di pelataran istana untuk menyaksikan mereka. Rakyat yang meonton berbisik-bisik membahas kemiripan kedua anak tersebut dengan Rama. Lawa dan Kusa menembangkan Ramayana. Seluruh penonton terharu mendengarnya begitu juga Rama, dari belakang muncullah Dewi Sinta. Rama akhirnya menyadari bahwa Lawa dan Kusa adalah anaknya.

Sinta menyatakan lagi bahwa ia masih mencintai Rama. Tapi lagi-lagi Rama masih meragukan kesucian Sinta. Sinta besumpah bahwa jika dia suci dia akan ditelan bumi. Sesaat kemudian bumi bergetar, merekah dan menelan Dewi Sinta. Lawa dan Kusa menangis tersedu-sedu memukul-mukul bumi, meratapi kepergian ibunya. Rama semakin galau. Ia menitipkan negeri Ayodya  kepada Laksmana, lalu Moksa menjadi cahaya.

tidak ada yang lebih mencintai Rama, selain Sinta,

tidak ada yang lebih mengerti Sinta selain Rama.

Sinta Moksa kedalam bumi, Rama Moksa ke udara.

Maneka, perempuan muda 20tahun, pelacur yang diperkosa satu

kota

. Suatu ketika seekor kuda yang melesat masuk ke kamarnya dan menjadi rajah di punggungnya. Orang-orang seantero  yang sedang mengejar kuda tersebut – yang diyakini sebagai kuda yang membawa malapetaka – beramai-ramai menyerbu kamar Maneka. Maneka yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba menjadi serbuan orang-orang tersebut. Walhasil Maneka berhasil melarikan diri dari kepungan, ia mengembara jauh hingga bertemu dengan Satya. Pemuda yang usianya empat tahun lebih muda. Seluruh keluarga Satya telah tewas akibat bencana Persembahan Kuda. Maneka menceritakan kejadian yang menimpa dirinya. Akhirnya mereka berdua sepakat untuk mencari Walmiki, penulis Ramayana, konon Walmikilah yang bisa menuliskan jalan hidup orang-orang

Akibat Persembahan Kuda, peradaban yang telah dibangun berabad-abad hancur. Kekacauan menjalar dimana-mana. Manusia saling membunuh dan menjarah. Untuk membangun peradaban yang telah hancur tersebut diperlukan waktu yang sangat lama. Perpustakaan-perpustakaan yang menyimpan ilmu pengetahuan untuk membangun peradaban telah hancur. Manusia harus mulai dari nol lagi.

Konon, hanya ada satu perpustakaan yang tidak hancur, yaitu perpustakaan Ayodya. Di perpustakaan itu tersimpan sebuah kitab sumber ilmu pengetahuan. Dengan mempelajari ilmu pengetahuan dari kitab yang tersisa tersebut, manusia dapat menghemat waktu sekitar tiga ratus tahun untuk membangun peradaban. Namun ada saja manusia yang menginginkan agar manusia tetap bodoh supaya semua tenggelam dalam kegelapan sehingga dengan menjadi penguasa tunggal atas pengetahuan bisa berkuasa mutlak atas segala bidang. Dengan demikian kitab tersebut menjadi rebutan berbagai kepentingan antara yang ingin membangun kembali peradaban dan yang ingin menguasai.

Satya dan Maneka ditugaskan untuk mencari kitab tersebut demi kelangsungan hidup umat manusia. Kitab tersebut bernama Kitab Omong Kosong, yang dibagi dalam LIMA BAB. Kabar terakhir menyebutkan kitab tersebut tidak lagi berada di perpustakaan Ayodya, karena takut dicuri pihak yang ingin menguasai. Kitab tersebut ada ditangan Hanoman yang bijaksana yang bersemayam di Gunung Kendalisada.

Satya dan Maneka mengembara melalui berbagai pengalaman hidup, menjelajah berbagai negeri di anak benua. Selama mengembara mereka mendapatkan berbagai pelajaran hidup. Mereka berdua akhirnya menemukan di pertapaan Kendalisada, tempat Hanoman bersemayam. Hanoman memberikan Bab pertama dari Kitab Omong Kosong. Ia mempercayakan kitab terebut kepada Satya dan Maneka dan menugaskan keduanya untuk mencari keempat lainnya Bab pertama kitab itu berjudul : Dunia Seperti adanya Dunia.

Bab kedua berjudul : Dunia Dalam Pandangan Manusia. Bab ini menjelaskan bahwa dunia tergantung dari pandangan setiap manusia yang berbeda-beda. Seperti misalnya sebuah pohon yang dipandang dengan berdiri tentu bentuknya akan berbeda jika dipandang dengan tiduran. Begitupun dengan dunia, tidak akan sama jika dipandang dari sisi yang berbeda.

Dalam perjalanan selanjutnya Satya dan Maneka menjumpai tukang buku bekas yang sangat miskin. Di tukang buku itulah Satya menemukan bab ketiga. Kata si Penjual buku, kitab itu dijual oleh Hanoman kepadanya.

Bab ketiga berjudul : Dunia yang Tidak ada

Bab ini menceritakan bahwa dunia itu tidak ada, yang ada adalah cara-cara tampilnya dunia kepada manusia. Manusia hanya bergelut dengan gambaran-gambaran mengenai dunia, bukan dunia itu sendiri.

Bab keempat yang berjudul : Mengadakan Dunia ditemukan di Lembah Pintu Naga, tempat yang sangat berbahaya. Bab tersebut menceritakan bahwa manusia selalu memandang masa depan sebagai suatu ekberadaan yang penting, maka manusia berusaha agar kehidupan mempunyai makna, dengan cara membuat dunia kembali ada. Manusia membuat dunia-dunia mereka untuk memaknai kehidupannya.

Bab kelima berjudul : Kitab Keheningan. Apa isi bab terakhir dari Kitab Omong Kosong ini?. Kiranya lebih seru jika Anda membaca sendiri roman yang sangat memperkaya sastra negeri ini.

Setelah membaca Kitab Omong Kosong, saya semakin yakin bahwa Seno adalah sastrawan teratas di negeri ini untuk saat ini. Cerita ini pernah dimuat dalam cerita bersambung di Harian Tempo pada tahun  2001, dengan judul Rama dan Sinta.

                Daya imajinasi Seno yang hebat dtambah pemahamannya akan cerita pewayangan yang kaya akan falsafah hidup dituangkan dengan lancar dan mengalir dalam cerita ini. Memasukkan sang penulis Ramayana, Walmiki, kedalam cerita membuat roman ini begitu unik. Begitupun dengan tokoh Satya dan Maneka, tokoh sebagai korban  Persembahan Kuda. Selanjutnya Seno lebih mematangkan kisah imajinasinya yang luar biasa dalam novel -yang tak kalah bagusnya - Negeri Senja yang ditulis sesudah cerita ini.

                                                  ***

Manggarai, Medio Mei 2005

Leave a Reply