Sekedar perenungan sebagai HOMO JAKARTAENSIS MASOKIS !!!

Ini draft daftar masalah "pribadi" JAKARTA….

  • Defenisi menurut Patrick Geddes dalam Ensyclopedia of
         Urban Planning
    pemekaran dan pembangunan kota dalam enam tahap dimana terjadi interaksi antara faktor-faktor pebangunan kota dan kemerosotan kota.. Tahapan
         dimulai dari Eopolis, Polis, Metropolis, Megapolis, Tyranopolis dan  Nekropolis.
  • Jakarta saat ini sudah menjadi kota metropolitan dengan kata lain sudah dalam tahap metropolis dan menuju megapolis, tahap dimana mencapai titik untuk mulai merosot dalam banyak seginya dan akhirnya menuju ke bentuk kota yang disebut Tyrannopolis, dimana kehidupan kota sudah dikuasai kaum tirani. Kehidupan kota ini akan mengalami kemacetan-kemacetan, kekacauan pelayanan. Tingkat
         kejahatan serta kriminalitas sudah biasa terjadi dan mulai meninggi, Keadaan ini akan mendorong kota itu menjurus pada perkembangan yang disebut Nekropolis, yaitu situasi dimana kota sudah tidak lagi bias
         diatasi pengelolaannya dan mengalami tanda-tanda kematian. Kota akan kehilangan semua fungsi kontrolnya, dan seterusnya akan menjadikan kota itu kehilangan jiwa.

  • Ahli Tata Kota lain melihat pemekaran kota bukan dari dampak kemerosotan lingkungannya atau luas arealnya. Tetapi misalnya dari peran kota-kota itu dalam hubungan fungsinya dalam konteks membahagiakan penduduknya. Metropolis yang sudah semakin sumpek dan
         semrawut bisa menjadi Miseropolis, kota yang membuat penduduknya begitu menderita. 
  • Peter Hall dalam bukunya yang sangat populer "Great Planning Disasters" (1982) telah menganalisis peran para  aktor yang telah menimbulkan bencana dalam pembangunan kota.  Ternyata yang kontribusinya paling besar adalah pada birokrat atau para penentu kebijakan, yang acap kali berwawasan jangka pendek karena masa jabatannya yang juga terbatas. Mereka ingin menciptakan monumen untuk dirinya sendiri agar dinilai berhasil dan diharapkan kedudukannya terjamin.
  • Pelaku kedua yang membikin bencana perkotaan adalah pihak  swasta yang dengan kekuatan ekonomi dan finansialnya mampu ‘mendikte’ perkembangan kota.
  • Pelaku ketiga, diluar dugaan, adalah para profesional yang terseret arus dan melupakan kaidah-kaidah perencanaan kota, mengabaikan kode etik, dan sekadar melaksanakan apa yang diinginkan oleh birokrat dan pengusaha swasta. Akibat dari semua itu, masyarakatlah yang cenderung selalu menjadi korban karena posisi menawarnya (bargaining position) yang lemah, nyaris tidak berdaya.
  • Pembangunan-pembangunan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan atau fasilitas publik tidak sebanding dengan pembangunan yang berkaitan dengan industri kapitalis seperti pusat perbelanjaan dan hiburan.
  • Permasalahan klasik yang terus berlangsung hingga saat ini adalah masalah penggusuran pemukiman warga. Masalah yang kompleks dan bagai benang kusut ini ternyata semakin kompleks dan Pemerintah terkesan ingin langsung menggunting benang kusut tersebut. Warga yang tergusur mengatakan bahwa pemerintah tidak memperhatikan Hak Azasi Manusia karena mereka merasa telah membayar sejumlah uang kapada pihak atau oknum tertentu terhadap tanah yang mereka tinggali, dan  mengatakan bahwa penertiban dilakukan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Sedangkan pihak Pemda sangat merasa tidak bersalah karena warga – yang sebagian besar pendatang yang tidak memiliki KTP DKI – dinilai menempati tanah negara dan tanah lain yang bukan milik/haknya.
  • Masalah yang berkaitan juga dengan hal gusur-menggusur adalah penertiban pedagang kaki lima – yang berdampak pada kemacetan lalu lintas dan penyerobotan fasilitas publik.  Penanganan masalah ini juga tidak terlihat dilakukan dengan upaya yang komprehensif. Upaya penertiban Pemda dengan mengangkut lapak dan  dagangan para five feet-er tersebut tidak mempan. Dalam beberapa hari atau minggu sesudahnya mereka sudah akan kembali berdagang. Para five feet-er yang sebagian besar kaum urban - yang memang mengandalkan datang ke Jakarta untuk menggantungkan hidup karena semakin matinya sumber-sumber usaha yang menghidupkan di kampung halamannya – merasa kaki lima dan ruang publik lah tempat yang paling cocok untuk berdagang. Tidak perlu modal besar untuk membayar sewa tempat – uang keamanan  yang ditarik pihak/oknum yang merasa berkepentingan  jauh lebih murah dibanding menyewa kios dipasar – dan tempat yang strategis dimana orang yang berlalu lalang di trotoar dan ruang publik lainnya merupakan pasar yang sangat bagus untuk barang dagangannya. Para pengguna trotoar dan ruang publik yang haknya tergusur oleh kehadiran mereka lama kelamaan mengalami pemakluman dengan pola pikir tidak mau mengganggu orang mencari nafkah. Bahkan lebih repotnya lagi, lama kelamaan masyarakat merasa senang juga dengan kehadiran mereka karena bisa berbelanja dengan mudah, cepat dan praktis tanpa terpikir lagi ketidak tertiban yang terjadi dan keadaan nyaman yang lebih menguntungkan jika para pedagang tersebut tidak  ada.
  • Dari serangkaian permasalahan publik yang muncul, rasanya cukup mencerminkan seperti apakah sebenarnya kepuasan masyarakat Jakarta terhadap kenyamanan hidup di kotanya?. Bagi masyarakat menengah ke atas masih bisa merasakan kenyamanan walaupun dengan konsekuensi cost yang tinggi. Bagi masyarakat ditingkat menengah harus bergumul dengan fasilitas umum yang ada sambil membayangkan dan terus berusaha meningkatkan taraf hidupnya agar bisa membayar cost yang tinggi untuk kenyamanan yang mahal tersebut. Sedangkan bagi masyarakat menengah ke bawah yang selalu terengah-engah, sepertinya sudah tidak sempat lagi membayangkan kenyamanan berada di kota yang megah ini, hari-hari mereka sudah disibukkan dengan usaha untuk bertahan hidup dalam keadaan was-was tergusur.
  • Lama kelamaan masyarakat Jakarta akan kebal dengan keadaan kotanya yang sebenarnya sudah cukup banyak membuat tidak nyaman. Gejala apakah ini? Gejala masyarakat yang Masokis atau masyarakat yang sabar dan tawakal yang masih berharap suatu saat Jakarta seperti Paris - atau tidak usah jauh2 – seperti Singapura dan Kuala Lumpur?

For my lovely JAKARTA

****

Bintara home, Medio 2003

Leave a Reply