Ramayana di Blok M Plaza

June 27, 2005

Bokap : Ayo kita ke Plaza, Ada Ramayana
di Blok M Plaza…

Anak   : Hah… Ramayana buka di Blok M Plaza,
Sumpee lo…?

            Ngapain juga…kan udah ada Matahari…

Bokap  : Ye.. bukan Ramayana Dept. Store… tapi Sendratari Ramayana…

 Anak : Hah.. apaan tuh…?!?!

 …

 

Jumat, 24 Juni 2005 lalu, Lobby Blok M Plaza dipenuhi dengan
panggung dan deretan kursi di depannya. Dari lantai satu ada seperangkat alat
lampu sorot yang mengarah ke panggung yang berada di lantai bawahnya.

 
Hari itu digelar pentas kesenian dari berbagai daerah
nusantara. Acara ini merupakan puncak acara Holiday Festival yang sudah
diselenggarakan sejak seminggu yang lalu, disponsori oleh Blok M Plaza bekerja sama dengan Dewan Kesenian Jakarta.

 
Acara tersebut menggelar penampilan dari sanggar-sanggar seni daerah. Pada hari itu tampil
Sanggar seni Betawi: Ratna Sari, Sangdar seni Minang: Sari Budaya, Sanggar Seni
Bali : Bale Ganjur,Sanggar seni Sulut: Makasiouw, Sanggar seni Sunda Jenggala
Manik, Sanggar seni SUlsel:Celebes
, Sanggar seni Kal-Bar: Ki Lin, Sanggar Seni Maluku:
Andarinyo, Sanggra seni Marawis: An Nasirian, Sanggar seni Riau:Ayodyapala dan
Sanggar seni Jawa Tengah : Sendratari Ramayana.

Degung3

Kesenian Sunda oleh Sanggar Jenggala Manik

 

Kehadiran kesenian daerah ditengah-tengah gemerlap lampu counter-counter fashion di Lantai
Underground
Plazatersebut menghadirkan nuansa unik
tersendiri. Di awal acara, tempat duduk yang disediakan untuk penonton berisi
sekitar setengahnya. Pengunjung Plaza
yang berlalu lalang juga hanya
menonton sepintas lalu, Namun menjelang sore, penonton bertambah dengan
memenuhi bangku-bangku yang kosong. Pengunjung yang berdiri disekitar panggung
pun bertambah.

 

Ditengah semakin pudarnya pementasan seni tradisi daerah,
penyelenggaraan acara semacam ini cukup mengobati rasa rindu masyarakat akan
pertunjukan seni tradisonal yang sudah sangat langka tayangannya di layar kaca.

 
Pertunjukan seni tradisional di tengah Plaza
merupakan hal yang efektif untuk
menyuguhkan seni budaya lokal kepada masyarakat. Ditengah hiruk pikuk kehidupan kota
yang semakin mempersempit waktu
luang bagi masyarakat kota
, kesenian tradisinal semakin tersingkir dari
perhatian publik. Masyarakat yang benar –benar haus akan tontongan seni
tradisional biasanya harus mengunjungi Taman Ismail Marzuki atau Gedung
Kesenian Jakarta. Dengan menghadirkannya di Plaza ataupun pusat-pusat
perbelanjaan, masyarakat didekatkan dengan seni tradisional yang merupakan kekayaan budaya bangsa.

 

Selepas Maghrib seiring dengan semakin ramainya pengunjung,
kepadatan penonton di sekitar panggung maupun dilantai atas bertambah. Tarian
melayu yang indah memukau penonton yang diikuti dengan tepuk tangan.
Selanjutnya sebagai penutup di suguhkan Sendratari Ramayana, tarian yang
menceritakan kisah klasik Rama dan Sinta.

Event seperti ini seharusnya dapat
diselenggarakan semua pusat perbelanjaan. Penyediaan ruang untuk seni
tradisonal akan membantu anak-anak mengenal seni tradisi bangsa sendiri.  Jika anak-anak mengunjungi Plaza
tersebut pada saat itu, mereka
pasti akan bertanya kepada orangtuanya,

“Siapa itu penari yang berwajah Merah menyeramkan ?”

“Siapa itu penari yang berkostum putih berbulu-bulu ?”

“Siapa itu penari yang ganteng dan cantik itu ?”

 
Dan mereka akan mengenali tokoh Rahwana, Hanoman, Rama dan
Sinta. Dan masyarakat perkotaan tidak perlu jauh-jauh menyaksikan Sendratari
Ramayana di pelataran Candi Prambanan karena di Plaza kini ada Ramayana.

Ramayana6_2 Sendratari Ramayana

- Bintara Home, 26
Juni 2005.

 

Leave a Reply