Hipnotis, Keikhlasan dan Acara TOLONG…!
August 7, 2005
Suatu hari sabtu di pertengahan April lalu, ketika saya sedang berjalan sendirian di pelataran parkir Hero Depok, tiba-tiba dari arah belakang saya ada suara seperti orang memanggil, "De… ! Ade…!", Saya menengok. Pada jarak yang cukup jauh sekitar tiga puluh langkah ada seorang ibu setengah baya memakai gamis putih dan jilbab putih yang sedang berdiri di pos parkir pintu masuk Hero, berteriak-teriak ke arah saya. Sejenak terpikir oleh saya mungkin ada barang bawaan saya yang jatuh, saya sekilas langsung melihat benda di tangan saya, karena saat itu hanya membawa dompet dan HP dalam pouch. Setelah mengecek bahwa benar-benar tidak ada barang bawaan saya yang jatuh saya kembali melihat ke arah ibu itu, dan meyakinkan lagi apakah ibu itu memang memanggil saya. Ibu itu berjalan menghampiri saya sambil tersenyum lebar. Saya memandang ibu itu dengan tatapan bertanya-tanya.
Dalam jeda waktu ibu itu berjalan menghampiri saya, pikiran saya melayang mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu ketika saya sedang berjalan dipinggir jalan Margonda Raya tepatnya di daerah antara Kober sampai tembusan stasiun UI ada ibu muda dan anak perempuannya yang usianya sekitar 8 tahun. Ibu itu menghampiri saya kemudian bercerita bahwa dia ingin berkunjung ke sumah sanak familinya disekitar itu, dia menyebutkan alamat lengkap sampai RT, RWnya, Menurut ceritanya sanak familinya ternyata sudah tidak tinggal disitu lagi dan dia kini tidak punya ongkos pulang. Dia lalu meminta belas kasihan saya untuk memberinya ongkos pulang. Dengan berat hati saya memberinya lima ribu rupiah. Memang baru sampai segitu tingkat keikhlasan saya, karena dalam hati saya tidak sepenuhnya percaya dengan ceritanya .
Kembali lagi ke ibu setengah baya bergamis dan berjilbab putih di depan Hero, beberapa saat dia telah berada di hadapan saya, sekaligus memecahkan lamunan saya. Saya menebak ibu itu akan minta ongkos pulang juga. Masih dengan senyum lebar yang memperlihatkan semua giginya, dia berkata
"Ade’ ibu mau minta tolong De’, Ade’ mau nolongn ibu nggak?"
Dengan senyum yang rada dipaksakan saya cuma mengangguk kecil
"Saya mau tanya De’…, saudara saya kan satpam, kerja disini, saya mau ketemu sama dia, cuma kata temennya dia hari ini lagi "OFF", Ade tau nggak artinya "OFF"?"
Dalam waktu seperseratus sekian detik setelah ibu itu mengucapkan kata "OFF", secara reflek saya langsung membalik badan dan berlari tunggang langgang meninggalkan ibu itu. Cerita tentang modus hipnotis yang menggunakan kata "OFF" sudah saya dengar sekitar tiga tahun lalu dari cerita rekan-rekan di milis. Waktu itu para pelaku hipnotis banyak beroperasi desekitar UI salemba. Menurut perkiraan kata "OFF" beserta kontak mata langsung itulah yang bisa menghilangkan kesadaran. Para korban bisa dengan mudah menyerahkan barang miliknya bahkan digiring ke ATM untuk menguras tabungan. Saya tidak menyangka saat ini masih ada modus operandi seperti itu.
Sekitar akhir tahun lalu, seorang teman perempuan saya menjadi korban hipnotis di depan D’Best Fatmawati. Tetapi modus operandinya melalui kontak fisik. Sang pelaku, pemuda berwajah bersih, berpenampilan rapi mengaku lulusan pesantren. Bergaya seperti sama-sama menunggu bus dengan teman saya. Awalnya dia mengajak ngobrol layaknya seorang yang baru kenal. teman saya tidak keberatan mengobrol dengan pemuda itu karena menurutnya pemuda tersebut memiliki kesan pertama yang cukup baik. Dia bercerita bahwa memiliki kemampuan meramal kemudian menawarkan teman saya untuk diramal. Sebelum diramal si pemuda sempat menunjukkan kemampuan ala "Deddy Corbuzier"nya, dia mengiris lengan teman saya tanpa luka sedikitpun. Setelah itu teman saya diramal, kata pemuda itu, teman saya tahun ini akan sakit-sakitan. Teman saya tambah percaya akan ramalan pemuda tersebut karena ia memang merasa sering sakit. Lalu pemuda itu masih dengan gaya sulapnya mengeluarkan sebutir batu dari mulutnya dan langsung menggenggamkannya ke tangan teman saya sambil berkata bahwa batu itu dapat mengusir penyakit-penyakit. Selanjutnya dia memerintahkan teman saya menyerahkan barang-barang miliknya untuk membersihkan diri dari penyakit. Dan teman saya dengan entengnya menyerahkan tas dan perhiasan yang dipakainya. entah berapa lama kemudian teman saya tersadar, dirinya masih berdiri di pinggir jalan tetapi pemuda itu sudah tidak ada.
Petang tadi saya menonton acara "TOLONG" di SCTV, sebuah reality show yang menguji keikhlasan seseorang. pada edisi itu ada seorang gadis yang ceritanya tidak mempunyai cukup uang untuk membayar SPP, dia ingin menjual pialanya untuk menutupi kekurangannya.Kalau tidak salah lebih dari lima kali ia menawarkan piala tersebut seharga 30 ribu rupiah kepada pedagang-pedagang di pinggir jalan, tidak ada yang mau membantunya membeli piala tersebut. Hingga pada akhirnya dia menghampiri seorang bapak tua yang berjualan bunga tabur di trotora jalan. Bapak tua itulah yang akhirnya mau mebeli pialanya. Tidak lama kemudian datang gadis lain seperti ingin membeli bunga yang dijual bapak tua itu. Si gadis menanyakan harga bunga, si bapak tua menjawab "lima ribu", kemudian si gadis mengeluarkan segepok uang kertas,
"Ini tiga juga rupiah untuk bapak karena bapak tadi sudah menolong membeli piala itu”.
Si Bapak tua berusia 75 tahun itu tampak bengong sejenak kemudian terharu sambil mencium uang yang diberikan padanya. Acara ini ingin menunjukkan bahwa keikhlasan tidak dimiliki semua orang, dari sekian orang hanya satu orang yang ikhlas menolong. Saya kemudian merenung, mungkin saya belum bisa ikhlas seperti Bapak tua penjual bunga itu. Kakak saya, sehabis saya ceritakan kejadian saya hampir dihipnotis di depan Hero, malah dengan entengnya mengatakan,
"Siapa tau ibu-ibu itu tim TOLONG-nya SCTV, rugi kan lu nggak dapet 5 juta".
Padahal saya sama sekali tidak terpikir seperti itu, yang terpikir alangkah "nyesek"nya saya jika si Ibu berhasil menghipnotis saya, biarpun jika itu menimpa saya, mungkin merupakan peringatan bagi saya yang kurang beramal. Lahir dan besar di kota Jakarta,,mendengar dan mengalami kejadian-kejadian seperti diatas, mungkin telah membentuk karakter sulit untuk percaya kepada orang yang tidak dikenal ataupun baru dikenal pada diri saya. Sumbangan yang saya berikan dengan rasa curiga dan setengah terpaksa kepada ibu di Kober, entahlah akan menjadi pahala atau tidak. Wallahu alam bis shawab… .
Tetapi lagi-lagi mungkin keikhlasan saya masih sangat terbatas dan masih harus banyak belajar dari Bapak yang ada di acara “TOLONG!” tadi sore.
Depok, 18 Mei 2005
August 8th, 2005 at 1:01 am
jadi sebetulnya si ibu2 itu meng-hipnotis ato ga siy…??
*masih penasaran…*