Nasib Gedung Teater Baru
September 20, 2005
Suatu hari di awal Agustus lalu, Sore itu peserta Workshop drama menuju Gedung Baru di Taman Ismail Marzuki. Gedung yang terletak di belakang Planetrium ini tampak indah dengan pijar-pijar lampu yang sedah dinyalakan pada sore itu.Rangka besinya ikut memantulkan sinar-sinar lampu yang begitu soft. Seluruh dindingnya dari kaca. Pagar kelilingnya masih berupa seng gelombang.
Memasuki gedung itu masih terasa sekali aroma bangunan baru, bau cat, debu amplasan dan aroma material finishing lainnya. Semua peserta yang masuk mengamati sekeliling ruang lobby. Sore itu akan ditampilkan pentas Teater dari salah satu naskah terbaik hasil Lokakarya Penulisan Naskah Drama yang diadakan antara Bulan oktober tahun lalu sampai bulan Januari kemarin di 7 kota besar di Indonesia. Menunggu acara yang akan dimulai jam 5 sore saya keliling lantai dasar itu dan bertanya kepada Satpam mengenai gedung itu.
Gedung Teater Besar ini dimaksudkan sebagai Gedung Kesenian Modern yang memang seharusnya sudah layak dimiliki oleh sebuah kota besar seperti Jakarta. Design Arsitek nya dikerjakan oleh PT. Atelier Enam Arsitek. Saya tahu ini karena dulu pernah bekerja di Atelier Enam Struktur dan sempat menghitung beberapa balok bentang besar di bagian atas untuk penggantung layar panggung. Desainnya cukup bagus, ada menara di depannya, dan layout bangunan jika dilihat dari atas udara akan membentuk Mata Pena. Entah apa maksud konsepnya, yang jelas kita perlu bangga kalau bangunan ini sudah jadi.
Gedung itu dirancang tahun 1997, menurut alasan klasik, karena dana pemerintah maka pembangunannya bertahap menurut anggaran sehingga sampai sekarang belum selesai. Hitung menghitung mengenai kebutuhan Gedung Kesenian harusnya pembangunan tersebut tidak perlu tersendat. Di Eropa Gedung Kesenian ramai dikunjungi layaknya Bioskop. Teater-teater terkenal dipadati penonton setiap kali pentas. Teater atau seni panggung merupakan hiburan layaknya film. Mungkin terlalu jauh jika membandingkan Jakarta dengan kota-kota di Eropa, tapi Singapur telah membangun gedung kesenian modern The Esplanade. Jumlah penonton pertunjukan teater mungkin tidak ada apa-apanya disbanding jumlah penonton AFI atau Indonesian Idol. Pembangunan gedung Teater mungkin hanya mengandalkan dana pemerintah.
Gedung kesenian tidak hanya untuk pertunjukan Teater, tetapi bisa berfungsi Untuk berbagai pertunjukan. Di luar masalah gonjang-ganjing para seniman pada kongres kesenian yang digelar di beberapa kota beberapa waktu lalu, sebaiknya pembangunan Gedung Teater besar harus segera dirampungkan, Jangan sampai terbengkalai, atau ketika melanjutkan yang belum selesai,yang sudah dipakai malah rusak tak terawat. Pusat kesenian dengan gedung kesenian modern akan menambah Asset sebuah kota yang dapat menjadi Landmark kota . Bukan hanya asset yang menghasilkan tangible value tetapi juga intangible Value dengan berkembangnya apresiasi kebudayaan masyarakat di dalamnya untuk mewariskan nilai-nilai luhur kebudayaan ke generasi berikutnya.
Sore itu pertunjukan diadakan di Teater Kecil, Satu-satunya studio yang sudah bisa digunakan. Begitu nyamannya gedung baru. Masih bersih dan rapi dan wangi. Pertunjukan Teater dari Kendari mengawali keseluruhan pertunjukan yang akan digelar. Malamnya pertunjukan diadakan di Graha Bakti Budaya. Pentas malam pertama itu menampilkan Karya peserta dari Jakarta . Penulisnya mbak Lia Marliana, dengan judul “Kena Batunye”, merupakan naskah komedi yang dimainkan oleh Teater Siluet. Pentas kali itu begitu menyegarkan suasana dengan format Lenong yang membuat penonton tertawa.
Terakhir kali saya nonton teater adalah sekitar 2 tahun lalu, pertunjukan “Anak-anak Kegelapan” Oleh Teater Satu Merah Panggung. Kemudian Agustus tahun lalu ada pertunjukan teater singkat Pada acara peluncuran buku Putu Oka diGoethe Menteng.
Pementasan naskah "Konde yang Terburai" karya Dwi Rahayuningsih, Jogja.
Menyaksikan pertunjukan kali ini merasakan bahwa pertunjukan teater merupakan hiburan kesenian yang terlupakan. Kalah pamor dengan budaya pop. Dari segi bisnis mungkin dianggap tidak mempunyai pasar.
-Selatan Jakarta- Medio Sept.05
Leave a Reply