Bumi semakin Panas
October 3, 2005
Saya kaget sekali mendengar berita tentang topan Katrina di AS. awalnya saya menganggap musibah itu adalah gejala alam layaknya gempa. ‘
Tetapi ketika membaca pembahasan ilmiah mengenai proses terjadinya topan kemudian berikutnya menyusul topan Rita yang sudah diperkirakan sebelumnya, saya baru menyadari bahwa badai topan itu tidak sepenuhnya alami. Tetapi karena suhu yang sangat panas di lautan. Lalu hal di dikaitkan dengan issu pemanasan global.
Saya lantas bergidik. Pemanasan bumi ternyata perubahan panas matahari dari abad ke abad juga disumbang oleh pemanasan global. Issu pemananasan global mulai mencuat sejak tahun 1980-an. Ketika industri semakin berkembang biak begitu pesat, salah satu isu kerusakan lingkungan akibat pembangunan adalah pemanasan global efek gas rumah kaca. Artikel yang saya simpan ini, adalah artikel enam tahun yang lalu. Betapa penelitian yang dilakukan para ilmuwan sudah memperingatkan kita akan bahaya tersebut. Dan akibat paling parah adalah tahun ini.
Jika pembangunan yang tidak ramah lingkungan terus berlangsung, dan pemanasan global tidak dikurangi, Bumi akan semakin panas… bencana dan bencana lagi…
—–
Tahun 2000, Dunia Makin Panas WASHINGTON - Dunia akan semakin panas dan alam semakin tidak ramah, sehingga kehidupan manusia akan semakin tidak nyaman dalam tahun 2000 nanti, demikian dilaporkan Worldwatch Institute dalam laporan tahunan, "Vital Signs 1999," belum lama ini. Laporan yang disusun berdasarkan data dan fakta-fakta ilmiah ini, memberikan prediksi tentang hal-hal yang berkaitan dengan apa yang akan dihadapi dunia dan penghuninya pada abad mendatang.
Presiden Worldwatch Lester Brown dalam laporan tersebut mengatakan, persoslan besar akan dihadapi umat manusia dengan semakin meningkatnya temperatur global, ekstremitis iklim dan akan semakin banyak orang yang kehilangan tempat tinggal akibat serangan badai.
Temperatur rata-rata tahunan bumi akan mencapai 14,57 derajat Celsius (58,23 derajat Fahrenheit). Biaya kerusakan akibat serangan badai meningkat 53 persen dari angka 92 miliar dolar AS pada tahun 1998. Dan sekitar 300 juta orang akan kehilangan rumah akibat badai dan banjir yang dahsyat. Di sisi lain, menurut Brown, terjadi perkembangan yang positif dengan makin banyaknya penggunaan energi matahari dan energi angin yang meningkat 16 sampai 22 persen per tahun. Selain itu, komunikasi lintas budaya melalui internet juga meningkat pesat.
Senada dengan Brown, seorang ilmuwan AS lainnya, Richard C Willson dari Pusat Penelitian Sistem Iklim, Universitas Columbia dalam laporan penelitiannya beberapa waktu lalu mengatakan, bumi makin panas dari hari ke hari, sehingga hidup akan semakin tidak nyaman. Semua itu karena radiasi panas matahari ternyata semakin meningkat dari hari ke hari, sehingga memperburuk pemanasan global yang oleh banyak orang dianggap sebagai akibat meningkatnya emisi gas-gas rumah kaca.
”Radiasi matahari yang mencapai bumi saat ini 0,036 persen lebih panas ketimbang tahun 1986,” ujarnya. Menurut Willson, peningkatan panas yang berhasil dideteksi oleh satelit pengukur radiasi sinar matahari sepintas terlihat kecil dan sepele, tetapi untuk jangka waktu lebih dari seabad, peningkatan itu akan cukup signifikan.
Apalagi dengan makin meningkatnya pemanasan global akibat gas-gas rumah kaca. Gas Rumah Kaca Ia memperkirakan, dalam periode 100 tahun mendatang, pemanasan akibat gas rumah kaca sekitar 3,6 derajat Fahrenheit (-15.8 Celsius). Pancaran panas sinar matahari bisa memberikan kontribusi tambahan sebesar 0,72 derajat Fahrenheit. ”Angka ini sepintas tidak berarti dan jauh lebih kecil ketimbang efek gas rumah kaca, tapi tidak bisa disepelekan begitu saja,” katanya seperti dikutip kantor berita AP. Penelitian Willson ini mendapat dukungan dari sejumlah pakar. ”Ini adalah sebuah peningkatan yang signifikan, karena berarti akan meningkatkan pula angka rata-rata dari pemanasan global yang sedang dan akan kita hadapi, ” kata John Firor dari National Center for Atmospheric Research di Boulder, Colorado.
Firor mengatakan, mengacu pada estimasi terakhir tentang bagaimana gas-gas rumah kaca membuat planet bumi semakin panas di abad mendatang, maka peningkatan panas matahari yang ditemukan oleh Willson itu akan mendorong trend pemanasan global sekitar 20 persen. Penemuan terbaru Willson tersebut didasarkan para pengukuran cahaya matahari yang diambil oleh tiga satelit berbeda selama lebih dari 17 tahun. Selama kurun waktu tersebut, matahari melintasi bagian dari dua periode pada aktivitas matahari yang satu periodenya berlangsung 11 tahun. Willson mengatakan, ia mengetahui adanya peningkatan panas setelah membandingkan pancaran minimum matahari dari sebuah periode yang berakhir tahun 1986 dengan pancaran minimum matahari pada periode yang akan berakhir tahun ini.
Menurut Willson, penemuannya itu mendukung pendapat bahwa perilaku matahari memainkan peran penting dalam pola iklim bumi. Hal ini berarti konsisten dengan penelitian-penelitian tentang inti es yang diambil lewat pengeboran di deposit-deposit es berusia ribuan tahun seperti yang terdapat di Greenland. ”Dengan mempelajari sifat-sifat kimiawi isotopik dari inti-inti es tersebut, para peneliti secara spontan mengubah pola pikir lama yang menyatakan pemanasan global hanya akibat ulah manusia, lewat konsumsi gas-gas rumah kaca. Mereka kemudian menyimpulkan bahwa panas matahari berubah dari abad ke abad, dan secara dramatis mempengaruhi temperatur bumi,” ujarnya.
Suara Pembaruan Daily 20.09.1999 www.suarapembaruan.com/News/1999/09/200999/Lainlain/ip02/ip02.html
Leave a Reply