Pasar Malam yang Terlupakan…

December 29, 2005

       Sebelum ada Mall, Bioskop dan dan Hipermarket seperti sekarang,tempat belanja dan hiburan masyarakat adalah PAsar Malam. Sejarahnya pasar malam yang paling terkenal di Jakarta adalah "Pasar Gambir" sampai dibuat lagu keroncong "Pasar Gambir".

       PAsar malam merupakan Ruang publik yang biasanya terdiri dari tempat belanja, rekreasi dan interaksi masyarakat dari berbagai kelas mulai dari noni-noni Belanda sampai warga pribumi. Diadakannya Pekan Raya Jakarta di Lapangan Monas juga untuk melestarikan budaya Pasar Malam Gambir.

Pm2        Esensi ruang publik pasar malam berganti menjadi tempat belanja dan hiburan masyarakat kelas menengah ke bawah. Masyarakat kota menengah keatas lebih suka mendatangi Mall, Plaza, ITC, Hipermarket dan pusat belanja dan rekreasi modern lainnya. Tempat belanja dan hiburan rakyat kini terkotak-kotak antar kelas. Di Jakarta ini, masyarakat menengah bawah sampai menengah terengah-engah juga memadati pusat perbelanjaan modern.

        Menjelang liburan anak sekolah seperti sekarang ini, Pasar Malam bermunculan. Mulai buka sekitar jam empat sore, diramaikan dengan pengunjung ibu-ibu dan anak balitanya.

Pm1        Saat ini Pasar Malam hidup keliling dari satu tempat ke tempat lain di pinggiran kota dan di daerah. Mengambil tempat di tanah lapang yang masih tersedia, seperti yang saya tau di lapangan stasiun Lenteng Agung, lapangan Pabrik Sepatu Bata di Kalibata, lapangan di dekat kompleks Depkes Jatibening, lapangan stasiun Pondok Kopi.Tempat hiburan menengah ke bawah in biasanya terdiri dari deretan kios temporari dengan terpal warna-warni dan beberapa mainan seperti kincir angin, komidi putar, kereta api-kereta api mainan lainnya yang digerakkan dengan genset. Harga tiket untuk naik mainan-mainan tersebut cukup murah, sekitar 2000 - 3000 rupiah. Ironisnya kadang penyelenggaraan Pasar Malam masih kucing-kucingan dengan petugas Tramtib, karena kadang membuat kemacetan.

       Sudah seminggu ini di tanah lapang dekat rumah saya, ada rombongan yang menggelar mainan-mainan yang mirip di  pasar malam. Rombongan ini biasanya keliling dari kampung ke kampung .

Komidi1_1         Disini hanya tersedia dua macam mainan yaitu komidi putar dan ayunan ombak. Kedua mainan ini seratus persen digerakkan oleh tenaga manusia. Rangka mainan tersebut dirakit sendiri dari besi-besi dan papan kayu seadanya, ada satu ayunan komidi terbuat dari sisa mainan berbentuk kapal laut dan satu buah kuda-kudaan yang sudah rusak.

Komidi3

       Tiket naiknya sangat murah 1000 rupiah sekali naik, dengan tiga kali putaran orang, sekali diputar dengan kencang… ketika putarannya sudah pelan diputar lagi… bergitu seterusnya sampai tiga kali putar… lumayan lama untuk ongkos seribu perak.

               Saya cukup tersentuh melihat rombongan yang sepertinya satu keluarga ini, membuat tenda disebelah mainan untuk menjaga barang-barang.

Komidi4          Mereka tidak mampu menyewa lahan yang mahal dan menyewa aparat keamanan, Jadi mereka menjaga sendiri alat mereka dan menyewa lahan kosong di kampung-kampung yang cukup murah.      Di Pasar Malam pinggir jalan pun mungkin kalah bersaing dengan mainan-mainan bertenaga diesel Untungnya di kampung-kampung, mainan seperti ini masih sangat ditunggu-tunggu. Ombak1psd

       Wajah polos nan ceria anak-anak yang sedang naik ayunan ‘ombak’ tidak mengerti betapa pemilik maianan ini bertahan hidup dari uang 1000 rupiah yang mereka bayarkan. Mereka pun tidak mengerti apa bedanya naik mainan itu dengan mainan-maianan di Mall dan di Dufan, yang mereka mengerti tertawa dan teriak seiring mereka berayun-ayun.

       Senin lalu saya menemani keponakan naik ayunan "ombak" ternyata seru banget, nggak kalah dengan piring oleng "Ombang-Ambing" di Dufan..  he he ^-^

Komidi2

_________________________________________________________________________

Beltway Office Park - Cilandak. 28.12.2005

Leave a Reply