Perempuan itu bernama Ibu

December 22, 2005

kupanggil ia ibu seluruh waktu,
perempuan dengan kebaya di ladang
menanam benih berabad menyebar dan menuai
tak mengerti mengapa tak menolak segala
mengapa menggigil dalam igau dan tak meronta

ibu yang tak membaca buku-buku
dan tak menonton iklan layanan
berdiri di luar gedung pertemuan
dan tak terlihat di antara kerumunan unjuk rasa

ia sendiri membajak sawah
menyebar benih dan menuai kesunyian

berabad kupanggil ia ibu
kesunyian mengeja erangan sendiri yang bisu dan kosong
membaca dongeng lelaki yang menempelkan dengus zakarnya

ibu yang tak menangisi kekecewaan
menerima dengan dekapan tulus
dengan pangkuan hangat
dengan Rahwana yang memburunya

kupanggil ia ibu
perempuan yang menyimpan satu birahi untuk Rama yang menolaknya
menerima kobaran api dan rintihan yang mengalirkan
kesucian cinta

berabad kupanggil ia ibu
yang sendirian dan menangis

menanti benihbenih berabad tak tumbuh menjadi kehidupan
ilalang liar dan gundukan tanah dengan rumput kering
kupangil ia ibu
yang berias daun bayam
menanak tiwul untuk seratus bocah lapar
dan memulas dahaga dengan harum keringatnya

kupanggil ia ibu
yang bercermin gerimis sepanjang musim
menghitung jembar sawah berhektar
dan kebun rimbun kebijaksanaan

aku menangis melihat seribu lelaki
memperkosaku tak hentihenti

——-

berhubung daku ndak bisa bikin puisi, ini puisinya mbak Dorothea Rosa Herliany  dari kumpulan puisi "Festival Puisi Internasional Indonesia - 2002"

dalam rangka Hari ibu - 22.12.2005

Leave a Reply