Graha Cijantung merupakan Mall yang sudah cukup lama. Saya ingat jaman kuliah dulu ada teman yang rajin nonton disana. Namun kabarnya tidak terlalu menarik Sekian lama tidak pernah tau Mall itu, lepas pertengahan tahun lalu saya bolak-balik kesitu untuk suatu urusan. Isinya standar Mall-Mall lainlah, yang berbeda adalah tempat sholat yang sangat luas di lantai paling atas, tidak seperti Mall-Mall lain yang tempat sholatnya biasanya di Basement atau parkiran.

       Yang menarik lagi di pelataran Mall bukannya parkiran seperti Mall-Mall lain, tetapi food court open air dengan penataan yang menarik disisi timur bangunan. Foodcourt itu bernama PoCi atau Pojok CIjantung biarpun letaknya bukan di pojok. Counter-counter makanan dari batu bata merah yang tidak difinished - seperti gedung kampus dulu-berderet sepanjang area. beberapa counter minuman ada yang hanya berupa gerobak dari kayu alami yang cukup artistik. Furniturnya hampir semua dari kayu, kursi pitung dan meja bundar dengan payung, jadi kalau hujan nggak akan kehujanan juga, karena payung tendanya yang cukup lebar bisa memayungi semua kursi sekeliling meja. Lantainya dari koral sikat dan pasangan batu pecah, di pinggir koridor ada tiang bata merah yang ditanami tumbuhan
rambat dan lampu kecil warna-warni.

A        Saya dan teman memesan beberapa menu makanan dan minuman. Harganya harga Kantin kantor dan kaki lima. lantunan musik dari amplifier menghibur para pengunjung. Sekelompok remaja tampak asik ngerumpi, di lain tempat tampak  sepasang muda-mudi, keluarga kecil dan ada juga ibu-ibu dan mbak-mbak yang habis berbelanja. Suasananya memang cukup cozy, dan yang terutama makanannya cukup higienis karena counter-counter-nya sangat bersih.

     Saya tidak tau mengenai pengelolaan tempat ini, tetapi menurut saya penataan tempat makan seperti ini sangat bagus untuk menata pedagang makanan kaki lima. Sewa tempat dapat disesuaikan dengan kemampuan pedangang.Dengan menyewa tempat yang cukup murah kepada pedagang, harga jual makanan pun bisa lebih murah. Di PoCi ini harga makanan dan minuman sangat miring, hampir sama dengan harga di pedagang makanan di warung tenda, misalnya Soto betawi + nasi yang yummy RP 8500, es campur Rp 4000, teh botol Rp 2500, tetapi tentunya masih kena PPN+servicetax 15%, totalnya masih tidak terlalu mahal juga, dan yang terpenting adalah kebersihan makanan serta keindahan dan ketertiban tata ruang.

     Selama ini kaki lima atau warung tenda menempel dan menjalar disekirar gedung-gedung pusat keramaian seperti Mall dan perkantoran. Penggemarnyapun cukup banyak, para karyawan gedung yang mencari makanan dengan harga terjangkau. Jika pengelola gedung peduli dengan kaki lima disekitar lingkungannya kemudian mau bekerjasama untuk menata kaki lima agar menguntungkan semua pihak,  mungkin kita dapat menata kaki lima dengan lebih baik.

_________________________________________________________________________

BOP Cilandak - 26.01.2006

Radio Live Streaming

January 24, 2006

      Saya paling suka dengar radio, jika radio sudah mentok banget nggak ada channel yang bagus, barulah saya dengar kaset/CD.

     Untungnya sekarang sudah banyak radio yang live streaming. Sekarang saya cukup membawa earphone bisa mendengarkan radio dari internet di komputer kantor. Tapi sayangnya radio kesukaan saya Ramako dan Kiss belum live streaming sedangkan radio Jakarta lainnya yang sudah live streaming seperti RRI (www.rri-online.com), Prambors(www.pramborsfm.com), Iradio(iradiofm.com), RadioOne(www.radioonejakarta.com), tidak bisa, mungkin karena MEdia Player saya tidak kompatibel.Baru nemu Hardrock yang bisa.

     Setelah mencari-cari radio lainnya yang lagunya akrab dengan kuping saya, akhirnya nemu radio DJFM Surabaya di www.djfm.co.id. Nah bagi anda yang online dan suka mendengarkan radio di kantor, tapi males bawa pesawat radio maupun walkman, kini tinggal buka website radio-radio fm, dan mengklik live streaming-nya. Keep Streaming… ______________________________________________________________________________________ 

BOP-Cilandak . 24.01.2006

Ced..ced…maced…

January 19, 2006

Beginilah kalau ada kecelakaan di ruas jalan protokol. Sampai di terminal ‘bayangan jatibening’ sekitar jam 7.15 kendaraan arah ke Jakarta sudah stak tidak ada yang jalan. Saya pikir biasanya jumat pagi jalanan agak lengang. Ternyata speaker dari petugas jasamarga memberitahukan ada kecelakaan di sekitar pancoran, truk pembawa besi terbalik. Untuk material besi membutuhkan waktu cukup lama untuk membereskannya.

Belum tau berita pastinya, saya menerima nasib ’stak’ dalam bus yang terjebak
kemacetan.Berhubung macetnya makin menjadi-jadi, saya penasaran seperti apa sih kecelakaannya. Mencoba browsing dari HP, ternyata situs Kompas dan Detik tidak mau terbuka, entahlah karena padat dikunjungi atau GPRS matrix yang lagi error. Jarak dari Jatibening sampai keluar Cawang harus ditempuh dalam hampir dua jam, tetapi saya lihat arah Tanjung Priuk cukup lancar.

Memasuki tol Jagorawi arah bogor sangat lancar, arah sebaliknya sangat padat karena mendekati titik kemacetan.Syukurlah, sampai Pasar Rebo lanjut taksi dan tol Pondok Pinang sama sekali tidak terpengaruh, lancar sekali. Tetapi tetap saja sampai kantor jam 9.40…temen-temen kantor nggak ada yang kena macet lagi, berhubung sebagian besar rumahnya daerah selatan.

Sampai kantor langsung buka detik.com ternyata beritanya nggak ada ?!?!
gimana kasih tau ke orang-orang kantor ya?!untungnya ternyata di KCM ada.

Parah sekali ternyata kalau ada penghambat jalanan yang menuju daerah-daerah strategis… ?!?!

________________________________________________________________________

BOP Cilandak - 20.01.06

Recehan yang Merepotkan

January 9, 2006

       Sekitar setahun sampai dua tahun lalu, jika di bus ingin iseng, bisa membeli permen pada pedagang asongan,dengan uang dua ratus atau tiga ratus rupiah bisa dapat cukup banyak yaitu enam sampai sembilan buah karena dulu harga permen seratus rupiah dapat 3 buah.

      Saya biasanya memanfaatkan uang recehan pecahan Rp 100, Rp 200 dan Rp 500 untuk membeli permen, atau memberi kepada pengemen dan pengemis. Uang recehan itu biasa didapat dari kembalian ongkos angkot.

      Semenjak kenaikan BBM september tahun lalu, harga-harga ikutan naik, termasuk harga permen. Sekarang saya hampir jarang sekali membeli permen dengan uang dua ratus atau tiga ratus rupiah, karena dengan nilai itu cuma dapat dua permen. Sekarang untuk membeli permen minimal seribu rupiah.

Image112      Sekarang saya rada bingung memanfaatkan uang receh pecahan seratus dan dua ratus rupiah. Memberi pengamen atau pengemis pun tidak tega. Bisa dibayangkan uang dua ratus atau tiga ratus rupiah untuk membeli gorengan saja tidak cukup.

      Ongkos angkot pun tidak ada kelipatan uang recehan tersebut.Ongkos paling dekat sekarang Rp 1500, sedangkan jarak dekat sekali Rp 1000. KEmarin saya naik angkot, dikembalikan uang dengan pecahan dua ratus rupiah dua keping dan seratus rupiah satu keping. Sopir itu mungkin males menyimpan recehan tersebut, karena kembalian ongkos tidak ada lagi yang seratus, dua ratus, tiga ratus dan empat ratus rupiah. Jika mendapat satu keping uang logam pecahan lima ratus, biasanya saya simpan untuk sewaktu-waktu perlu. Tetapi dengan pecahan dua ratus dan seratus ini, saya bayarkan lagi ke supir angkot ketika naik angkot berikutnya.

Image113_1       Saya pikir uang pecahan itu lebih baik ditarik saja dari peredaran. Karena hanya berpindah-pindah dengan nominal minimal lima ratus rupiah, dan ini sangat merepotkan memegang tiga keping uang dengan nilai minimal yang tidak bisa dipecah lagi.Jangan sampai saya digerutuin lagi oleh pengamen atau pengemis ketika memberi uang pecahan ini. Karena sekitar tiga tahun lalu saya pernah memberi pengemis beberapa keping uang lima puluh rupiah, saat itu masih bisa untuk membeli gorengan. Tetapi si pengemis tidak mau menerimanya.

Jadi jika anda menyimpan uang recehan seratus dan dua ratus rupiah, simpan saja
untuk koleksi atau untuk ‘kerokan’ karena sekarang sudah tidak terlalu berguna.
Berilah pengemis atau pengamen minimal satu keping uang lima ratus rupiah.*

_____________________________________________________________________

BOP - Cilandak . 09.01.2006

     Sekitar dua minggu menjelang akhir tahun 2005 saya diajak teman-teman YISC menghabiskan hari penutup tahun dengan one day trip melintasi bagian barat pantai selatan pulau Jawa.

     Hari itu sabtu 31 Desember 2005, rombongan kami berjumlah 14 orang termasuk dua orang pasangan muda, teman kantor salah satu rekan yang bekerja di Bimoli. Rencana awal kumpul di Mesjid AL Azhar pukul 06.00 dan berangkat  pukul 07.00. Tetapi subuh hari halangan pertama sudah menghampiri. Mobil yang kami sewa mengalami kecelakaan sehingga secara dadakan kami menyewa mobil lain. Untugnglah masih dapat biarpun harus mengambil mobil sewaan tersebut di Bogor. Karena bukan langganan mobil itupun tidak bisa lepas kunci, sehingga harus memakai supir mereka. Untunglah masih dapat mobil yang nyaman APV 2005. Mobil yang satu lagi dapat dari penyewaan lain lagi biarpun cukup tua yaitu Kijang Kapsul 1997, tapi boleh lepas kunci. Sebelum berangkat kami briefing sebentar mengenai tempat-tempat yang akan dikunjungi, rute yang dilewati dan perkiraan waktu tempuh, tidak lupa kami berdoa dahulu sebelum berangkat.

      Berangkat pukul 09.00 melintasi TOL dalam kota keluar di pintu Serang Timur, kemudian mengambil arah ke Serang kota lalu menuju Pandeglang, jam menunjukkan pukul 11 siang ketika memasuki kota pandeglang. Perjalanan selanjutnya memasuki kawasan berkelok-kelok di pedesaan pandeglang. Ketika memasuki waktu zuhur, kami berhenti di sebuah mesjid yang belum jadi untuk sholat zuhur. Selepas itu perjalanan masih berlanjut dengan view yang hampir sama yaitu jalan berkelok-kelok di sekitar pedesaan Pandeglang. Cuaca saat itu silih berganti antara terang dan mendung. Karena sudah waktunya makan siang, kami kelaparan, tapi cukup sulit menemukan warung nasi di pinggir jalan. Untunglah bekal saya, kentang french fries dan chicken nugget bisa dimakan rame-rame, cukup untuk menambal rasa lapar . Setelah hampir jam 14. kami mulai memasuki daerah Malingping, menembus jalan-jalan berbatu, dikiri kanan terhampar sawah hijau. Dari kejauhan tampak warung kecil, berharap warung tersebut menyediakan makanan enak. Ternyata makanan di warung itu tidak cukup menggugah selera, sehingga kami melanjutkan perjalanan kembali. Ternyata hampir jam berikutnya kami sudah memasuki areal Pantai Bagedur.

Pantai1_3

       Setelah memarkir mobil, teman-teman langsung menyerbu warung makan ada juga yang menuju ke toilet. Pantai Bagedur, terletak di daerah Malingping, wilayah paling barat dalam rute perjalanan kami. Pantai yang cukup bersih, namun tidak cukup banyak menawarkan kegiatan wisata pantai. Disitu hanya ada beberapa warung makan dan toilet. Tidak nampak resort ataupun speedboat dan perahu. Ombaknya sangat besar, karena memang ombak samudra hindia yang mengumpulkan energi begitu banyak dari lautan luas. Vegetasi dipinggir pantai menawarkan view yang memukai, mulai deretan pohon kelapa dan vegetasi pantai (saya lupa namanya ) mirip dengan view di Pantai Baron, Jogjakarta. (Mungkin karena sama-sama pantai selatan). Untungnya cuaca waktu itu cukup cerah biarpun mendung sudah tampak di kejauhan. Saya tidak sabar untuk memotret.

     Sekitar lima belas menit kami bermain air di pinggir pantai sambil berfoto-foto, gerimis mulai turun. Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan karena menurut teman ‘guide’ masih banyak pemandangan indah di pantai-pantai selanjutnya. PErjalanan kami selanjutnya melewati jalanan pinggir pantai selatan, dengan jalan naik turun dan masih berkelak-kelok. Biarpun hujan semakin deras sehingga mengaburkan pandangan, namun kami tidak berhenti menatap indahnya pemandangan sepanjang pantai. Setelah itu memasuki wilayah Bayah. Hamparan pantai dan laut yang sangat indah membuat decak kagum yang spontan terlontar . Pantai itu bernama Karang Taraje. Pantai dengan karang-karang besar mengingatkan akan view Tanah Lot, Bali. Vegetasi pantai yang indah dan lekuk-lekuk pantai beserta deburan ombak yang sangat kencang menghantam karang, Masya Allah, indah banget. Tapi sekali lagi cuaca yang tidak cukup bersahabat tidak memungkinkan untuk turun dan mengambil foto.

     Selepas Bayah kami memasuki wilayah Cikotok, daerah yang terkenal dengan penambangan emasnya. Namun rute kami tidak mengunjungi penambangan tersebut, hanya mlewati, pemandangan mulai silih berganti dengan kebun karet. Mulai memasuki waktu senja, hujan masih turun, membuat jarak pandang semakin pendek, mobil kami berjalan pelan-pelan. Jalanan naik turun itu sangat sepi di wilayah ini, kami hanya papas an tiak lebih dari lima mobil dan beberapa motor. Suasana sunyi dan senyap membuat kami tertegun dan diam. Ada rasa merinding pada saya, entah pada temen-teman lain. Ternyata daerah itu termasuk daerah Badui Luar, entahlah apa yang membuat kami begitu senyap ketika memasuki wilayah tersebut. Lepas dari Cikotok, memasuki wilayah Pelabuhan Ratu, jalanan mulai ramai kembali, dikanan kiri jalan mulai terlihat lagi rumah penduduk dengan jarak yang jauh-jauh. Kemudian mulai muncul resort-resort kecil

Perjalanan seperti tidak berujung, karena mungkin kami yang sudah kenyang dijalan, setelah lepas maghrib, barulah kami melihat Hotel Samudra Beach yang  besar. Saya langsung teringat dengan cerita mistis Nyi Roro Kidul yang katanya menempati salah satu kamar di hotel tersebut. MAsih didaerah pelabuhan ratu, sekitar pukul 19.00 kami berhenti di Gua Kelelawar, salah satu rute kami juga, tetapi tidak turun disitu, karena sudah gelap gulita, hanya menjemput salah satu temannya teman kami, Pak X yang rumahnya di sekitar daerah itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 19.30 ketika kami memasuki pasar pelelangan ikan Pelabuhan Ratu. Setelah berdiskusi untuk makan malam, kami  berhenti di salah satu restoran lesehan di pinggir laut. Dengan menu-menu seafood yang beraneka ragam, kami makan dengan lahapnya. Hujan masih juga turun, tanpa berhenti sedari kami lepas Pantai Bagedur. Suara terompet mulai terdengar dari jalanan.

     Selepas makan malam, kami menuju rumah Pak X , disana kami dijamu dengan singkong rebus, pisang goreng dan the manis hangat, beberapa teman istirahat dan sholat Isya. Beberapa ada yang melihat-lihat tempat penangkaran sarang burung wallet. Kami ngobrol sambil nonton TV sampai pukul 22.30.

    Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan, niatnya kami akan menghabiskan malam tahun baru di pantai sambil meniup terompet. Ternyata jalanan muaced buanged. Karena sudah lelah, kami memutuskan untuk pulang, diperjalanan, di pom bensin kami berhenti untuk ke toilet. Jam menunjukkan pukul 23.55, akhirnya kami berkumpul untuk menunggu detik-detik pergantian tahun disitu. Tepat pukul 00.00, 0.1 Januari 2006, terompet dibunyikan oleh salah seorang teman, lalu kami berdoa bersama. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta. Sepanjang jalan hampir semuanya terlelap. Sampai di Galaxi,Bekasi, rumah salah seorang teman pukul 04.15.

Dalam lelah selepas perjalanan, pemandangan indah tidak terlupakan, betapa Negara kita begitu kaya akan potensi wisata yang begitu indah, di propinsi Banten saja begitu banyak pantai indah, belum lagi di propinsi-propinsi lain.

Bintara Home - 07.01.2006