Lintas Barat Pantai Selatan Jawa
January 7, 2006
Sekitar dua minggu menjelang akhir tahun 2005 saya diajak teman-teman YISC menghabiskan hari penutup tahun dengan one day trip melintasi bagian barat pantai selatan pulau Jawa.
Hari itu sabtu 31 Desember 2005, rombongan kami berjumlah 14 orang termasuk dua orang pasangan muda, teman kantor salah satu rekan yang bekerja di Bimoli. Rencana awal kumpul di Mesjid AL Azhar pukul 06.00 dan berangkat pukul 07.00. Tetapi subuh hari halangan pertama sudah menghampiri. Mobil yang kami sewa mengalami kecelakaan sehingga secara dadakan kami menyewa mobil lain. Untugnglah masih dapat biarpun harus mengambil mobil sewaan tersebut di Bogor. Karena bukan langganan mobil itupun tidak bisa lepas kunci, sehingga harus memakai supir mereka. Untunglah masih dapat mobil yang nyaman APV 2005. Mobil yang satu lagi dapat dari penyewaan lain lagi biarpun cukup tua yaitu Kijang Kapsul 1997, tapi boleh lepas kunci. Sebelum berangkat kami briefing sebentar mengenai tempat-tempat yang akan dikunjungi, rute yang dilewati dan perkiraan waktu tempuh, tidak lupa kami berdoa dahulu sebelum berangkat.
Berangkat pukul 09.00 melintasi TOL dalam kota keluar di pintu Serang Timur, kemudian mengambil arah ke Serang kota lalu menuju Pandeglang, jam menunjukkan pukul 11 siang ketika memasuki kota pandeglang. Perjalanan selanjutnya memasuki kawasan berkelok-kelok di pedesaan pandeglang. Ketika memasuki waktu zuhur, kami berhenti di sebuah mesjid yang belum jadi untuk sholat zuhur. Selepas itu perjalanan masih berlanjut dengan view yang hampir sama yaitu jalan berkelok-kelok di sekitar pedesaan Pandeglang. Cuaca saat itu silih berganti antara terang dan mendung. Karena sudah waktunya makan siang, kami kelaparan, tapi cukup sulit menemukan warung nasi di pinggir jalan. Untunglah bekal saya, kentang french fries dan chicken nugget bisa dimakan rame-rame, cukup untuk menambal rasa lapar . Setelah hampir jam 14. kami mulai memasuki daerah Malingping, menembus jalan-jalan berbatu, dikiri kanan terhampar sawah hijau. Dari kejauhan tampak warung kecil, berharap warung tersebut menyediakan makanan enak. Ternyata makanan di warung itu tidak cukup menggugah selera, sehingga kami melanjutkan perjalanan kembali. Ternyata hampir jam berikutnya kami sudah memasuki areal Pantai Bagedur.
Setelah memarkir mobil, teman-teman langsung menyerbu warung makan ada juga yang menuju ke toilet. Pantai Bagedur, terletak di daerah Malingping, wilayah paling barat dalam rute perjalanan kami. Pantai yang cukup bersih, namun tidak cukup banyak menawarkan kegiatan wisata pantai. Disitu hanya ada beberapa warung makan dan toilet. Tidak nampak resort ataupun speedboat dan perahu. Ombaknya sangat besar, karena memang ombak samudra hindia yang mengumpulkan energi begitu banyak dari lautan luas. Vegetasi dipinggir pantai menawarkan view yang memukai, mulai deretan pohon kelapa dan vegetasi pantai (saya lupa namanya ) mirip dengan view di Pantai Baron, Jogjakarta. (Mungkin karena sama-sama pantai selatan). Untungnya cuaca waktu itu cukup cerah biarpun mendung sudah tampak di kejauhan. Saya tidak sabar untuk memotret.
Sekitar lima belas menit kami bermain air di pinggir pantai sambil berfoto-foto, gerimis mulai turun. Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan karena menurut teman ‘guide’ masih banyak pemandangan indah di pantai-pantai selanjutnya. PErjalanan kami selanjutnya melewati jalanan pinggir pantai selatan, dengan jalan naik turun dan masih berkelak-kelok. Biarpun hujan semakin deras sehingga mengaburkan pandangan, namun kami tidak berhenti menatap indahnya pemandangan sepanjang pantai. Setelah itu memasuki wilayah Bayah. Hamparan pantai dan laut yang sangat indah membuat decak kagum yang spontan terlontar . Pantai itu bernama Karang Taraje. Pantai dengan karang-karang besar mengingatkan akan view Tanah Lot, Bali. Vegetasi pantai yang indah dan lekuk-lekuk pantai beserta deburan ombak yang sangat kencang menghantam karang, Masya Allah, indah banget. Tapi sekali lagi cuaca yang tidak cukup bersahabat tidak memungkinkan untuk turun dan mengambil foto.
Selepas Bayah kami memasuki wilayah Cikotok, daerah yang terkenal dengan penambangan emasnya. Namun rute kami tidak mengunjungi penambangan tersebut, hanya mlewati, pemandangan mulai silih berganti dengan kebun karet. Mulai memasuki waktu senja, hujan masih turun, membuat jarak pandang semakin pendek, mobil kami berjalan pelan-pelan. Jalanan naik turun itu sangat sepi di wilayah ini, kami hanya papas an tiak lebih dari lima mobil dan beberapa motor. Suasana sunyi dan senyap membuat kami tertegun dan diam. Ada rasa merinding pada saya, entah pada temen-teman lain. Ternyata daerah itu termasuk daerah Badui Luar, entahlah apa yang membuat kami begitu senyap ketika memasuki wilayah tersebut. Lepas dari Cikotok, memasuki wilayah Pelabuhan Ratu, jalanan mulai ramai kembali, dikanan kiri jalan mulai terlihat lagi rumah penduduk dengan jarak yang jauh-jauh. Kemudian mulai muncul resort-resort kecil
Perjalanan seperti tidak berujung, karena mungkin kami yang sudah kenyang dijalan, setelah lepas maghrib, barulah kami melihat Hotel Samudra Beach yang besar. Saya langsung teringat dengan cerita mistis Nyi Roro Kidul yang katanya menempati salah satu kamar di hotel tersebut. MAsih didaerah pelabuhan ratu, sekitar pukul 19.00 kami berhenti di Gua Kelelawar, salah satu rute kami juga, tetapi tidak turun disitu, karena sudah gelap gulita, hanya menjemput salah satu temannya teman kami, Pak X yang rumahnya di sekitar daerah itu.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.30 ketika kami memasuki pasar pelelangan ikan Pelabuhan Ratu. Setelah berdiskusi untuk makan malam, kami berhenti di salah satu restoran lesehan di pinggir laut. Dengan menu-menu seafood yang beraneka ragam, kami makan dengan lahapnya. Hujan masih juga turun, tanpa berhenti sedari kami lepas Pantai Bagedur. Suara terompet mulai terdengar dari jalanan.
Selepas makan malam, kami menuju rumah Pak X , disana kami dijamu dengan singkong rebus, pisang goreng dan the manis hangat, beberapa teman istirahat dan sholat Isya. Beberapa ada yang melihat-lihat tempat penangkaran sarang burung wallet. Kami ngobrol sambil nonton TV sampai pukul 22.30.
Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan, niatnya kami akan menghabiskan malam tahun baru di pantai sambil meniup terompet. Ternyata jalanan muaced buanged. Karena sudah lelah, kami memutuskan untuk pulang, diperjalanan, di pom bensin kami berhenti untuk ke toilet. Jam menunjukkan pukul 23.55, akhirnya kami berkumpul untuk menunggu detik-detik pergantian tahun disitu. Tepat pukul 00.00, 0.1 Januari 2006, terompet dibunyikan oleh salah seorang teman, lalu kami berdoa bersama. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta. Sepanjang jalan hampir semuanya terlelap. Sampai di Galaxi,Bekasi, rumah salah seorang teman pukul 04.15.
Dalam lelah selepas perjalanan, pemandangan indah tidak terlupakan, betapa Negara kita begitu kaya akan potensi wisata yang begitu indah, di propinsi Banten saja begitu banyak pantai indah, belum lagi di propinsi-propinsi lain.
Bintara Home - 07.01.2006

January 28th, 2006 at 2:13 am
it’s really a beautiful beach…
aku udah pernah kesana tahun 1999, untuk eksplorasi gua-gua di bayah.. tapi lewat jalur sebaliknya.. jadi lwt bogor-cibadak-pelabuhan ratu-cisolok-bayah.. sesudah jelajah goa2 yang juga indah2 di bayah selama seminggu, kita pulang lewat malimping, seketi, pandeglang, baru ke jakarta lagi..
sayang disana infrastruktur pariwisatanya kurang memadai.. dulu kami nginap di rumah penduduk namanya pak Do’i di daerah bayah..
kalau mau datang lagi dg keluarga juga adanya kelas losmen aja yang kondisinya juga jelekkk banget..(ga tega gw bw keluarga)tapi dulu.. entah sekarang gimana..
jalannya dah bagus ya?? apesnya jg kita dulu naek jeep CJ 7 hard top, jadi kita mesti pake helm di mobil..(untungnya jalan ke goa, jd semua orang punya helm)supaya ga kejedug2 atap mobil karena banyak banget guncangannya karena jalan jelek..
c u
-ien-.