Recehan yang Merepotkan

January 9, 2006

       Sekitar setahun sampai dua tahun lalu, jika di bus ingin iseng, bisa membeli permen pada pedagang asongan,dengan uang dua ratus atau tiga ratus rupiah bisa dapat cukup banyak yaitu enam sampai sembilan buah karena dulu harga permen seratus rupiah dapat 3 buah.

      Saya biasanya memanfaatkan uang recehan pecahan Rp 100, Rp 200 dan Rp 500 untuk membeli permen, atau memberi kepada pengemen dan pengemis. Uang recehan itu biasa didapat dari kembalian ongkos angkot.

      Semenjak kenaikan BBM september tahun lalu, harga-harga ikutan naik, termasuk harga permen. Sekarang saya hampir jarang sekali membeli permen dengan uang dua ratus atau tiga ratus rupiah, karena dengan nilai itu cuma dapat dua permen. Sekarang untuk membeli permen minimal seribu rupiah.

Image112      Sekarang saya rada bingung memanfaatkan uang receh pecahan seratus dan dua ratus rupiah. Memberi pengamen atau pengemis pun tidak tega. Bisa dibayangkan uang dua ratus atau tiga ratus rupiah untuk membeli gorengan saja tidak cukup.

      Ongkos angkot pun tidak ada kelipatan uang recehan tersebut.Ongkos paling dekat sekarang Rp 1500, sedangkan jarak dekat sekali Rp 1000. KEmarin saya naik angkot, dikembalikan uang dengan pecahan dua ratus rupiah dua keping dan seratus rupiah satu keping. Sopir itu mungkin males menyimpan recehan tersebut, karena kembalian ongkos tidak ada lagi yang seratus, dua ratus, tiga ratus dan empat ratus rupiah. Jika mendapat satu keping uang logam pecahan lima ratus, biasanya saya simpan untuk sewaktu-waktu perlu. Tetapi dengan pecahan dua ratus dan seratus ini, saya bayarkan lagi ke supir angkot ketika naik angkot berikutnya.

Image113_1       Saya pikir uang pecahan itu lebih baik ditarik saja dari peredaran. Karena hanya berpindah-pindah dengan nominal minimal lima ratus rupiah, dan ini sangat merepotkan memegang tiga keping uang dengan nilai minimal yang tidak bisa dipecah lagi.Jangan sampai saya digerutuin lagi oleh pengamen atau pengemis ketika memberi uang pecahan ini. Karena sekitar tiga tahun lalu saya pernah memberi pengemis beberapa keping uang lima puluh rupiah, saat itu masih bisa untuk membeli gorengan. Tetapi si pengemis tidak mau menerimanya.

Jadi jika anda menyimpan uang recehan seratus dan dua ratus rupiah, simpan saja
untuk koleksi atau untuk ‘kerokan’ karena sekarang sudah tidak terlalu berguna.
Berilah pengemis atau pengamen minimal satu keping uang lima ratus rupiah.*

_____________________________________________________________________

BOP - Cilandak . 09.01.2006

One Response to “Recehan yang Merepotkan”

  1.   indri said:

    orang kota… orang kota….
    kalo di kampung mah seratus juga masih tawar2an neng…
    gw ga setuju pendapat lo kalo uang pecahan dibwh 500 ditarik dari peredaran…

    -ien-

Leave a Reply