Miss You Terribly
April 30, 2006
Inna lillahi wainna ilaihi rojiuun
Minggu pagi, 30 April 2006
Seorang sastrawan besar Indonesia
yang juga pejuang kemanusiaan
Pramoedya Ananta Toer
meninggal dunia dalam usia 81 tahun
belasungkawa dan untaian doa dalam tunduk yang dalam
semoga suara-suara dalam karyamu
mendapat balasanNya
Semoga kau tenang di sisi sang Pencipta
Tuhan yang pernah kau ragukan keberadaannya
__________________________________________________________
Indonesia telah kehilangan satu lagi pejuang kemanusiaan.
Berita wafatnya mungkin kalah terdengar dengan berita demo Hari Buruh.
Semalam saya membaca running text Metro TV,kira-kira bunyinya seperti ini :
"Menbudpar akan memberikan penghargaan kepada almarhum Pramoedya Ananta Toer, saat ini pemerintah akan mengkaji karya-karya beliau."
Saya langsung ngomong sendiri :
Basiiiii banget sih pemerintah….sudah meninggal baru mau dikasih penghargaan,
itu pun masih harus mempelajari karya-karyanya, kemana aja sih ???
Dulu dibakar-bakarin…jangan-jangan tulisan-tulisan Pram dibakar tanpa dibaca dulu.
Masyarakat Internasional telah memberikan penghargaan untuknya.Pemerintah negerinya sendiri baru akan berbuat….
____________________________________________________________________
BOP Cilandak 01.05.2006
Outbound, Kenangan Ospek dan Pramuka SD
April 27, 2006
Sekitar dua minggu lalu, saya ikutan Outbound teman-teman pengurus dan pengajar Lembaga Pendidikan Adik Asuh YISC Al Azhar sebagai seksi dokumentasi. Kami sekitar 30 orang outbound di Sabut Kelapa Outbound, Taman Buah Mekarsari selama dua hari. Beberapa orang teman, sudah pernah mengikuti Outbound dari kantornya.
Provider Outbound adalah Tim Savanna Indonesia. Hari pertama, habis sholat jumat diawali dengan ice breaking, selanjutnya ada games-games kecil yang berhubungan dengan kepemimpinan.
Hari kedua,games mulai banyak bergerak. Permainan-permainan lebih banyak untuk mengasah konsentrasi dan kerjasama kelompok, misalnya; games halang rintang:berkelompok dengan kaki saling terikat melintasi tali-temali yang malang melintang tanpa menyentuh tali dengan beberapa anggota kelompok yang matanya ditutup; Games menyeberang dengan ban: Berkelompok menyeberang jarak tertentu dengan menggunakan tiga buah ban, tidak boleh menyentuh tanah,
games pindah tali: memindahkan tali dan ban, dati tiang satu ke tiang berikutnya yang semakin tinggi. dan games-games lain.
Selain itu juga ada games melatih keberanian pribadi seperti Balance Beam; berjalan diatas batang bambu dengan ketinggian sekitar 7-8 m (setinggi pohon kelapa), Two Line Bridge; melintasi kawat dengan pegangan tali, dan Flying Fox; meluncur dengan rel tambang.
Outbound memang sangat marak dalam lima sampai sepuluh tahun belakangan ini. Provider Outbound merebak. Sekolah-sekolah, mulai dari playgroup sudah mulai diperkenalkan Outbound. Begitu juga karyawan-karyawan perusahaan yang ingin pelatihan sambil refreshing di alam terbuka.
Pada hari kedua, barengan dengan kami, serombongan anak salah satu SD Swasta di kawasan Bogor sedang outbound juga. Saya cukup kagum dengan keberanian anak-anak - yang masih sekitar kelas 1-2 SD itu melintasi balance beam melintang, merambat ke jaring-jaring tambang sampai ketinggian sekitar 10 meter, lalu meluncur dengan Flying Fox. Dari sekian ratus anak, saya lihat hanya dua orang yang menangis ketakutan.
Lalu ada juga serombongan kecil pelajar SMP dengan seragam Pramuka lengkap.
Sarana Outbound memang cocok sekali dengan kegiatan Pramuka. Games-games outbound banyak menggunakan tali-temali yang merupakan materi pelatihan Pramuka.
Hari itu saya ingat kegiatan Pramuka jaman SD dulu di SD Cipete. Dulu kegiatan Pramuka adalah "MEncari Jejak". Kita biasa dibawa oleh kakak pramuka ke daerah pondok cabe, dengan menggunakan truk. Disana kita trekking dengan petunjuk sandi-sandi, melintasi sungai dengan berpegangan tali. Kini kegiatan seperti itu mungkin sudah jarang. Sarana-sarana Outbound sepertinya sudah cukup menggantikannya.
Setelah outbound, topik perbincangan dengan teman-teman masih sekitar Outbound, sambil melihat foto-foto kegiatan itu. Salah satu teman, menunjukkan video ketika ia outbound dengan kantornya. Saya melihat salah satu permainan adalah "Main panjang-panjangan". Perkelompok disuruh membuat barisan sepanjang-panjangnya dengan penyambung apa saja.
Permainan ini sama persis dengan yang diberikan senior kampus ketika ospek. Saya teringat jaman ospek, hampir sepuluh tahun yang lalu. Betapa ospek itu sebenarnya menyenangkan, tapi saya dan teman-teman kuliah menjalaninya dengan lelah. Bahkan pada tahun 1999, setelah terjadi tragedi STPDN, ospek benar-benar dilarang.
Sekarang saya tidak tau perkembangan ospek kampus. Apakah ada lagi atau sudah tidak ada. Saya pikir alangkah bagusnya jika konsep ospek dibuat seperti Outbound. Kegiatan ospek yang diberikan senior sebenarnya sangat bagus,
namun yang membuat lelah adalah karena kita disuruh menenteng minum dan tas yang penuh bawaan kemana-mana, Baju yang penuh keringat tidak ada waktu untuk ganti baju, dll.
_____________________________________________________________________
BOP Cilandak - 26.04.2006
MP book point
April 21, 2006
Siang kemarin, seorang teman mengajak ketemu. Biasanya kita ketemu di Citos, karena saya minta yang dekat dengan kantor. Tetapi kemarin dia minta ketemu di toko buku MP Book Point, di kawasan Puri Mutiara, Cilandak. Saya merasa belum pernah mendengar nama toko buku ini.
Berdasarkan petunjuk-petunjuk, akhirnya saya tau toko itu. Ternyata toko itu berada di pinggir jalan raya tidak jauh dari perempatan Antasari-Puri Mutiara, dari arah Makam Jeruk Purut ada dibelah kiri. Yang saya heran, kok saya tidak tau ada toko buku disitu, padahal hari selasa lalu, saya lewat jalan itu.
Toko buku MP Book Point ini ternyata sebagai beranda Mizan. Bangunanannya cukup luas dengan gaya minimalis dan interior yang bagus.
Saya heran-heran gembira. Heran, karena tidak menyangka Mizan membuat sebuah toko buku sekelas QB atau Aksara, dengan koleksi buku yang tidak kalah lengkap atau mungkin lebih beragam dari toko buku lain.
Gemira, karena dekat dari kantor, setidak-tidaknya ada tongkrongan baru yang dekat. Gembira juga karena disitu tidak sekedar toko buku, ada kafe, amphitheater dan ruang serbaguna yang kesemuanya diperuntukkan untuk diskusi, pemutaran film dan kegiatan komunitas.
Memasuki koridor persis sebelah kiri setelah pintu masuk, terdapat tumbukan buku new arrival. Tampak novel “Kite Runner”, novel Totem terbitan Benang dll. Tidak berapa jauh dari situ ada tumpukan buku best seller, tampak novel Da Vinci Code berbagai versi, Blue Ocean Strategy, dan yang memikat adalah cetakan baru novel favorit saya Kitab Omong Kosong-nya Seno Gumira Ajidarma dengan cover baru yang sangat klasik seperti buku primbon, mungkin ingin menyesuaikan isinya, cerita Ramayana.
Setelah mengambil novel baru terbitan Bentang, saya ke kasir. Ternyata ada diskon 10% untuk semua buku sampai akhir bulan ini. Mmm…penawaran yang cukup menarik, tapi sayangnya pembayaran dengan Credit Card dan Debit BCA belum bisa, hanya bisa Mandiri Visa. Saya menanyakan ke kasir kapan toko itu buka. Katanya sudah seminggu. Mmm..berarti saya missed lihat waktu lewat
selasa kemarin.
Bagi anda yang suka berkunjung ke toko buku yang nyaman dan lengkap, MP book point sepertinya sudah menambahkan alternatif tempat yang didatangi.
Depok 21.04.2006
Laskar Pelangi
April 12, 2006
Judul : Laskar Pelangi
Jenis : Fiksi
Penulis : Andrea Hirata Seman
Penerbit : Bentang, Cetakan ke-2,
Desember 2005, xiv+529 hal.
ISBN 979-3062-79-7
__________________________________________________________________________
SD Muhammadyah Belitung sangat sederhana. Sekolah yang mirip gudang kopra. Berada di lingkungan masyarakat miskin yang berprofesi sebagai nelayan, petani dan pegawai rendahan. Jumlah anak yang bersekolah disitu bisa dihitung pakai jari. Tahun lalu ada sebelas orang yang mendafatar. Tahun ini hanya ada sembilan orang,padahal targetnya sepuluh orang, dan di detik-detik terakhir barulah ada satu lagi yang mendaftar seorang anak tuna grahita.
Sepuluh murid sekolah tersebut yang membentuk kelompok dengan nama Laskar Pelangi. Si Ikal, merupakan gambaran si penulis yang dalam buku menyebut sebagai "aku",anak seorang buruh tambang bergaji kecil yang bercita-cita apa saja, asal jangan jadi pegawai pos. Kesembilan temannya adalah Trapani; seorang yang sangat tergantung kepada ibunya, Sahara; satu-satu nya cewek dalam genk mereka,Mahar; mempunyai jiwa seni yang tinggi, Lintang; anak nelayan miskin yang otaknya encer, Syahdan; yang terobsesi menjadi pejabat. Kucai dan Borek,si usil yang sukar diatur, A Kiong; satu-satunya keturunan Tiongho dan Harun, yang mentalnya agak terbelakang, namun karena disana tidak ada SLB, dimasukanlah dia di sekolah itu.
Sekolah ini secara fisik begitu kontras dengan sekolah yang berjarak hanya satu lemparan batu dibalik tembok milik perusahan pertambangan Timah terbesar di Belitung,yang serba berada. Namun murid-murid sekolah yang reot tersebut bisa lebih unggul otak dan kreatifitasnya daripada sekolah mewah itu. Guru dan murid dalam sekolah yang sudah reot ini memiliki semangat belajar dan mengajar yang tinggi.
Saya suka novel ini dalam mendeskripsikan semua tempat dan suasana. Misalnya kelas tanpa potret presiden dan wakil presiden, dinding kelas yang sudah bolong ditutupi poster penyanyi dangdut, potret kehidupan anak-anak kampung yang bahagia ditengah kekurangan ekonomi keluarga mereka, misalnya cerita ketika mereka bermain mandi hujan, suasana gembira benar-benar dilukiskan dengan detail disini sehingga pembaca benar-benar bisa ikut merasakan romantika keindahan masa kecil mereka.
Hal lain yang tidak kalah menarik adalah penyisipan kisah cinta dalam cerita. Si Ikal dan seorang teman sering ditugaskan guru membeli kapur di toko kelontong milik orang Cina. Toko tersebut begitu berantakan dan bau. Tugas yang sangat tidak membuat mereka semangat. Tapi si Ikal menemukan sesuatu yang sangat menarik disitu, jari-jemari lentik milik perempuan yang menjuali dari balik tirai. Cara mengisahkan si Ikal yang jatuh cinta pada jari-jemari tersebut sampai akhirnya bertemu merupakan cara bercerita yang ‘pintar’. . Kita dibuat penasaran, terbawa gemas hingga klimaks yang sangat menggelitik. Namun ada bagian cerita yang saya kurang menikmatinya, yaitu ketika beberapa anggota laskra pelangi gandrung akan mistik dan membentuk kelompok penggemar mistik.
Kisah ini ingin menyampaikan kehidupan sebagian besar masyarakat Belitung yang masih miskin dan sebagian kecil yang hidup makmur dari hasil pertambangan Timah. Seolah ingin menyampaikan, di pulau penghasil Timah terbesar di Indonesia, fisik sekolah dan kehidupan keluarga mereka masih sangat miskin.
Nilai penting yang terdapat dalam cerita ini adalah Semangat untuk maju dalam keadaan kekurangan materi. Sayangnya dalam ending cerita, si otak encer, Lintang harus terjebak juga dalam lingkaran kemiskinan. Si Ikal, yang anti menjadi pegawai pos, akhirnya harus menjalani pekerjaan itu juga. Sementara teman-teman ada yang sukses tanpa diduga, seperti Syahdan yang menjadi ahli IT, dan Kucai yang cita-citanya kesampaian menjadi anggota DPRD.
Istilah-istilah ilmiah maupun istilah budaya lokal kerap ditemui dalam buku ini. Namun jangan khawatir, karena dibelakang buku ada “kamus” yang menjelaskan istilah-istilah tersebut.
Bagaimanapun Laskar Pelangi merupakan novel yang berisi buat saya. Mempunyai visi pendidikan dan syarat akan unsur budaya lokal dan dikemas dengan bahasa yang ringan dan humoris. Sebagian menyebutnya sebagai novel sosiologi. Semoga novel ini bisa menjadi pioneer bagi terbitnya novel-novel serupa yang mengangkat kisah daerah dalam fiksi yang bervisi.
Huis, 09.04.2006
I’ve read it…
April 10, 2006
Hari minggu lalu, akhirnya saya bisa lihat isi Playboy juga.
Nebeng mobil teman, kebetulan dia beli. Salah seorang teman lain sibuk ‘ngedumel’ "harusnya nggak boleh terbit, wah isinya pornografi semua etc." Saya hanya komen …" majalah laen juga kayak gini, FHM n Popular" sambil membaca artikel wawancara Playboy dengan sastrawan besar Pramoedya ANanta Toer, sambil mbatin juga "Ini teman naif banget…nggak pernah liat majalah FHM or Popular di tukang majalah apa???, atau maklumlah dia ini orang sumatra barat asli*). artikel lain tidak saya baca, cuma lihat foto-fotonya. Mmm…lumayan "terbuka" ya…
PEndapat saya cuma, yang paling urgent & mendesak adalah mengatur distribusi majalah-majalah serupa itu. Kalau melarang, kayanya dah ketinggalan kereta… sudah terbit bakalan sulit dilarang apalagi majalah serupa sudah exist cukup lama.
Masyarakat kita juga sepertinya masih merupakan pasar potensial untuk majalah-majalah tersebut. Jika diberedel, apakah malah mengerikan jika ada peredaran ilegal. Jikalau diberedel, pemerintah harus konsisten. Banyak sekali tabloid lokal yang lebih parah dari majalah-majalah itu. Dijual di loper koran pinggir jalan dengan digantung. Anak sekolah bisa membelinya dengan harga dibawah sepuluh ribu rupiah. harusnya tabloid-tabloid seperti ini juga ditertibkan.
Tapi bagaimana mau menertibkan jika masih banyak yang membelinya.
ADa gula ada semut. Selagi masih dicari, media-media seperti itu akan terus diterbitkan entah bagaimana caranya. Apalagi mental aparat yang masih diragukan, bisa disogok atau jangan-jangan mereka juga langgangan membacanya. ups…
*Yandri, sory ya…
_________________________________________________________________________________
BOP CIlandak-11.04.2006
Is this really Playboy ???…
April 7, 2006
Hari ini majalah Playboy Indonesia terbit edisi perdananya.
Rencana penerbitannya yang kontroversial tak membuat penerbitnya gentar. Anjing menggonggong Kafilah berlalu….
FPI mengancam akan men-sweep majalah itu. Ketua PP Muhammadyah membuat pernyataan menentang. Lepas dari itu diluaran orang-orang membelinya. APalagi kebiasaan di Indonesia semakin dilarang semakin laris manis tanjung kimpul.
Siang tadi saya lihat driver kantor menenteng-nenteng majalah itu.
Ketika saya ledekin, dia tersipu sambil menutupi majalah agar tidak terlihat oleh saya. Saya hanya sekilas melihat cover yang berwarnah merah cabe.
Ketika membuka detik.com, saya baru melihat lebih jelas covernya. Model cover adalah photo dada keatas Andara Early dengan tangtop yang anggun. SAma sekali tidak menunjukkan kesan vulgar. Bandingkanlah dengan cover majalah Cosmopolitan jauh…jauh lebih ‘terbuka’ Cosmopolitan.
Saya ingin melihat isinya, tetapi driver saya tidak muncul-muncul. Saya tanya teman yang sudah membaca, komentar dia "Isinya kaya Femina…mmm..atau cosmolah…nggak kaya Playboy".
Para penentang playboy mengatakan edisi pertama ini dibuat sopan hanya untuk pancingan. Konon polisi juga bingung jika harus men-sweep majalah tersebut karena tidak punya alasan.
We don’t know…gimana cover next edition… apakah benar-benar pancingan ??? Kasihan sekali para pembeli Playboy yang sudah membayangkan Playboy edisi pertama ini seperti Playboy luar negeri. Mereka kecele…
Oh negriku…
kasihan sekali dibuat penasaran oleh para kapital media raksasa. Semoga sometime orang-orang Indonesia tidak membeli Playboy bukan karena dilarang,
tapi karena kesadaran akan bermanfaat atau tidaknya majalah tersebut….
________________________________________________________________________________
BOP Cilandak 07.04.2006
waar kan ik heen
April 6, 2006
Waar kan ik heen
Ik stond selfs in dubio
Maar ik nam geen enkel risico….
?!#&$*%@!!!
__________________________________________________________
BOP 06.04.2006
Happy Anniversary…
April 4, 2006
Yesterday is our company 3th anniversary. Mmm..really.. Still young, Like a child start to learn speaking clearly
.
We celebrated it on Satoo Buffet, Shangri-La hotel, Jakarta. Our boss spoke on ceremony party opening and then we enjoyed the delicious food. We just eat and talked to each other. There’re not more another sessions. We’re really.. eat and then went out… SMP (Sudah Makan Pulang)
Our sister company, Team Module also celebrate its first anniversary. The ceremony held on last Saturday at the office&workshop park in Surabaya. The sessions were Parasmanan on lunch time and rousing dangdut stage ^-^.
I didn’t attend the party, just saw the photos.
I would say…Happy Anniversary Team Module and my TeamworX. Wish you the best of luck in finding new project in the future… Keep maintain our professionalism and good services.
______________________________________________________________________
BOP Cilandak - 04.04.2006
