I’ve read it…
April 10, 2006
Hari minggu lalu, akhirnya saya bisa lihat isi Playboy juga.
Nebeng mobil teman, kebetulan dia beli. Salah seorang teman lain sibuk ‘ngedumel’ "harusnya nggak boleh terbit, wah isinya pornografi semua etc." Saya hanya komen …" majalah laen juga kayak gini, FHM n Popular" sambil membaca artikel wawancara Playboy dengan sastrawan besar Pramoedya ANanta Toer, sambil mbatin juga "Ini teman naif banget…nggak pernah liat majalah FHM or Popular di tukang majalah apa???, atau maklumlah dia ini orang sumatra barat asli*). artikel lain tidak saya baca, cuma lihat foto-fotonya. Mmm…lumayan "terbuka" ya…
PEndapat saya cuma, yang paling urgent & mendesak adalah mengatur distribusi majalah-majalah serupa itu. Kalau melarang, kayanya dah ketinggalan kereta… sudah terbit bakalan sulit dilarang apalagi majalah serupa sudah exist cukup lama.
Masyarakat kita juga sepertinya masih merupakan pasar potensial untuk majalah-majalah tersebut. Jika diberedel, apakah malah mengerikan jika ada peredaran ilegal. Jikalau diberedel, pemerintah harus konsisten. Banyak sekali tabloid lokal yang lebih parah dari majalah-majalah itu. Dijual di loper koran pinggir jalan dengan digantung. Anak sekolah bisa membelinya dengan harga dibawah sepuluh ribu rupiah. harusnya tabloid-tabloid seperti ini juga ditertibkan.
Tapi bagaimana mau menertibkan jika masih banyak yang membelinya.
ADa gula ada semut. Selagi masih dicari, media-media seperti itu akan terus diterbitkan entah bagaimana caranya. Apalagi mental aparat yang masih diragukan, bisa disogok atau jangan-jangan mereka juga langgangan membacanya. ups…
*Yandri, sory ya…
_________________________________________________________________________________
BOP CIlandak-11.04.2006
Leave a Reply