Laskar Pelangi
April 12, 2006
Judul : Laskar Pelangi
Jenis : Fiksi
Penulis : Andrea Hirata Seman
Penerbit : Bentang, Cetakan ke-2,
Desember 2005, xiv+529 hal.
ISBN 979-3062-79-7
__________________________________________________________________________
SD Muhammadyah Belitung sangat sederhana. Sekolah yang mirip gudang kopra. Berada di lingkungan masyarakat miskin yang berprofesi sebagai nelayan, petani dan pegawai rendahan. Jumlah anak yang bersekolah disitu bisa dihitung pakai jari. Tahun lalu ada sebelas orang yang mendafatar. Tahun ini hanya ada sembilan orang,padahal targetnya sepuluh orang, dan di detik-detik terakhir barulah ada satu lagi yang mendaftar seorang anak tuna grahita.
Sepuluh murid sekolah tersebut yang membentuk kelompok dengan nama Laskar Pelangi. Si Ikal, merupakan gambaran si penulis yang dalam buku menyebut sebagai "aku",anak seorang buruh tambang bergaji kecil yang bercita-cita apa saja, asal jangan jadi pegawai pos. Kesembilan temannya adalah Trapani; seorang yang sangat tergantung kepada ibunya, Sahara; satu-satu nya cewek dalam genk mereka,Mahar; mempunyai jiwa seni yang tinggi, Lintang; anak nelayan miskin yang otaknya encer, Syahdan; yang terobsesi menjadi pejabat. Kucai dan Borek,si usil yang sukar diatur, A Kiong; satu-satunya keturunan Tiongho dan Harun, yang mentalnya agak terbelakang, namun karena disana tidak ada SLB, dimasukanlah dia di sekolah itu.
Sekolah ini secara fisik begitu kontras dengan sekolah yang berjarak hanya satu lemparan batu dibalik tembok milik perusahan pertambangan Timah terbesar di Belitung,yang serba berada. Namun murid-murid sekolah yang reot tersebut bisa lebih unggul otak dan kreatifitasnya daripada sekolah mewah itu. Guru dan murid dalam sekolah yang sudah reot ini memiliki semangat belajar dan mengajar yang tinggi.
Saya suka novel ini dalam mendeskripsikan semua tempat dan suasana. Misalnya kelas tanpa potret presiden dan wakil presiden, dinding kelas yang sudah bolong ditutupi poster penyanyi dangdut, potret kehidupan anak-anak kampung yang bahagia ditengah kekurangan ekonomi keluarga mereka, misalnya cerita ketika mereka bermain mandi hujan, suasana gembira benar-benar dilukiskan dengan detail disini sehingga pembaca benar-benar bisa ikut merasakan romantika keindahan masa kecil mereka.
Hal lain yang tidak kalah menarik adalah penyisipan kisah cinta dalam cerita. Si Ikal dan seorang teman sering ditugaskan guru membeli kapur di toko kelontong milik orang Cina. Toko tersebut begitu berantakan dan bau. Tugas yang sangat tidak membuat mereka semangat. Tapi si Ikal menemukan sesuatu yang sangat menarik disitu, jari-jemari lentik milik perempuan yang menjuali dari balik tirai. Cara mengisahkan si Ikal yang jatuh cinta pada jari-jemari tersebut sampai akhirnya bertemu merupakan cara bercerita yang ‘pintar’. . Kita dibuat penasaran, terbawa gemas hingga klimaks yang sangat menggelitik. Namun ada bagian cerita yang saya kurang menikmatinya, yaitu ketika beberapa anggota laskra pelangi gandrung akan mistik dan membentuk kelompok penggemar mistik.
Kisah ini ingin menyampaikan kehidupan sebagian besar masyarakat Belitung yang masih miskin dan sebagian kecil yang hidup makmur dari hasil pertambangan Timah. Seolah ingin menyampaikan, di pulau penghasil Timah terbesar di Indonesia, fisik sekolah dan kehidupan keluarga mereka masih sangat miskin.
Nilai penting yang terdapat dalam cerita ini adalah Semangat untuk maju dalam keadaan kekurangan materi. Sayangnya dalam ending cerita, si otak encer, Lintang harus terjebak juga dalam lingkaran kemiskinan. Si Ikal, yang anti menjadi pegawai pos, akhirnya harus menjalani pekerjaan itu juga. Sementara teman-teman ada yang sukses tanpa diduga, seperti Syahdan yang menjadi ahli IT, dan Kucai yang cita-citanya kesampaian menjadi anggota DPRD.
Istilah-istilah ilmiah maupun istilah budaya lokal kerap ditemui dalam buku ini. Namun jangan khawatir, karena dibelakang buku ada “kamus” yang menjelaskan istilah-istilah tersebut.
Bagaimanapun Laskar Pelangi merupakan novel yang berisi buat saya. Mempunyai visi pendidikan dan syarat akan unsur budaya lokal dan dikemas dengan bahasa yang ringan dan humoris. Sebagian menyebutnya sebagai novel sosiologi. Semoga novel ini bisa menjadi pioneer bagi terbitnya novel-novel serupa yang mengangkat kisah daerah dalam fiksi yang bervisi.
Huis, 09.04.2006
Leave a Reply