Ketika bus berada di perempatan UKI suatu petang, naik dua orang anak muda dengan menyandang gitar, siap untuk mengamen. Biasanya pengamen-pengamen itu adalah anak kecil bermodal alat musik botol plastik yang berisi beras. Tetapi pengamen kali ini membawakan musikalisasi puisi dengan penuh penghayatan. Suara gitar dan suara mereka terdengar cukup merdu untuk ukuran pengamen.

Penampilan meraka merupakan kolaburasi yang serasi karena yang satu menyanyikan lagu Iwan Fals "Gali GOngli" dan yang satu lagi membaca puisi Cak Nun "Kemana anak-anak itu".

Lagu Gali Gongli menceritakan ‘anak jadah’ anak lelaki kecil yang tinggal di pelacuran, anak dari pelacur yang bapaknya entah siapa. Sedangkan puisi "kemana anak-anak itu" merupakan perenungan akan nilai-nilai luhur kehidupan yang telah sirna dari bumi Indonesia. Anak-anak disini merupakan konotasi dari kemerdekaan, hak dan martabat manusia, cinta kasih sesama dan nilai-nilai lainnya yang hilang di negri ini. Saya ikut hanyut dalam lirik-lirik lagu dan puisi yang mereka bawakan.

Bus mulai mendekati pintu tol jatibening, ketika si pengamen mulai bungkus permen penampung sumbangan. Penumpang yang duduk sebagian besar tertidur, yang berdiri dengan tampang lelah memandang kosong keluar jendela. Entah didengar atau tidak nyanyi si pengamen, kemungkinan besar tidak….

…………………………….

Gali Gongli

Iwan Fals

Lelaki Kecil Usia Belasan
Rokok ditangan depan kedai tuak
Disela gurau tiga temannya
Diatas koran asik main domino

DI lokasisasi pinggiran kota
Yang nama dosa mungkin tak bicara
Neraka potret indah kamar remang
Engkau lahir lelaki kecil malang

Gali Gongli bocah karbitan
besar dari belaian ribuan bapak
Gali Gongli anak rembulan
Hidup dari bibir yang iklankan tubuh mulus ibunya

Lelaki kecil usia belasan
Usai berjudi pagi habis subuh
Kembali ia ditelan sepi
entah esok apalagi hari depan

…………………………………..

Kemana Anak-Anak itu

Emha Ainun Najib & Kyai Kanjeng

Kemana anak-anak kita itu
Anak-anak yang dilahirkan oleh seluruh bangsa ini dengan keringat, dengan luka, dengan darah dan kematian.
Anak-anak yang dilahirkan oleh sejarah dengan air mata tiga setengah abad,
kemana?
kemana anak-anak itu ?

Kemana anak2 itu?
Siapa yang yang berani menyembunyikan mereka?
siapa yang menculik mereka?
siapa yang mencuri dan membuang mereka

Anak-anak yang bernama kemerdekaan
Anak-anak yang bernama hak makhluk dan harkat kemanusiaan
Anak-anak yang bernama cinta kasih sesama
Anak-anak yang bernama adilnya kesejahteraan
Anak-anak yang bernama keterbukaan dan kelapangan
Kemana ?
Kemana anak-anak itu ?

Aku melihat anak-anak itu lari tunggang langgang
anak-anak itu diserbu rasa takut  yang mencekam
AKu melihat anak-anak itu bertiarap dibalik tonggak-tonggak zaman
anak-anak itu ngumpet dibalik kegelapan
__________________________________________________________________________

BOP Cilandak - Medio Mei 2006

Leave a Reply