Totem
May 4, 2006
Judul : Totem
Penulis : D. Jayadikarta
Penerbit : Bentang, Cetakan pertama, Maret 2006, xi+361hal,
ISBN 979-3062-84-3
__________________________________________________________________________
Ini adalah buku kedua yang saya baca, dan ceritanya berkaitan dengan kejadian yang sedang hangat. Buku pertama adalah Da VInci Code. Buku terjemahan bahasa Indonesianya diterbitkan sekitar bulan Maret 2005, selang beberapa bulan setelah wafatnya Paus Paulus. Ketika kurun waktu tersebut banyak media massa yang memberitakan hal ihwal prosesi pemakaman Paus, suasana Vatican, sampai prosesi pemilihan Paus Baru, hal yang juga banyak diceritakan dalam Da Vinci Code.
Sekarang saya sedang membaca novel Totem, buku ini bercerita tentang masalah buruh, topik yang sedang hangat juga dalam berita. Entah disengaja atau tidak, buku ini memang terbit Maret 2006. Tokoh utamanya Tika dan Ayudya, dua wanita muda yang berteman baik. Tika bekerja di bagian keselamatan kerja sebuah perusahaan sepatu. Sedangkan Ayudya, seorang penari yang juga bekerja di sebuah firma hukum.Suami Ayudya, Ronald adalah warga AustraliA yang bekerja di sebuah LSM perburuhan.
Karena bekerja di pabrik, Tika mempunyai perhatian yang bersar terhadap nasib buruh pabrik. Penulis cukup dapat menggambarkan suasana pabrik dan Penderitaan buruh-buruh pabrik. Suatu saat, seorang buruh pabrik tewas karena kelelahan bekerja lembur tanpa istirahat untuk mengejar target produksi. Pihak perusahaan berusaha menutup-nutupi masalah ini. Tika, Ayudya dan Ronald berusaha mengangkat masalah tersebut untuk memperjuangkan nasib buruh.
Yang menarik dari cerita ini adalah unsur misteri yang ditontolkan. TIka dan Ayudya mempunyai tanda lahir di tengkuk mereka, berupa lambang "totem" yang berwarna hitam. Mereka berdua menerima email misteri yang pengirimnya bernama Totem. Totem layaknya rekan mereka tau segala hal yang mereka lalukan. Totem juga mempunyai website yang isinya foto-foto buruh yang sedang bekerja.
Penekanan masalah buruh juga ditampilkan dengan setting di CIna, ketika Ronald bertugas meliput isu perburuhan di Macao. PEnulis juga sepertinya ingin melibatkan peristiwa sejarah dalam ceritanya. Peristiwa PKI 1965 dihadirkan sebagai masa lalu TIka dan AYudya. Di akhir cerita, seting diambil Tragedi Trisakti 1998. Sayangnya kaitan-kaitan peristiwa itu terasa kurang jelas. Begitu juga kehadiran tokoh Tisna dan Sasa,dan Michelle si cewek Perancis terasa kurang menonjol. Dn diakhir cerita pembaca dibiarkan penasaran dengan siapa sebenarnyasi misterius Totem itu.
Bagaimanapun, kehadiran novel ini cukup menambah koleksi tema-tema novel sastra di tanah air. Bagi pembaca penyuka kata-kata sangsekerta, dibuku ini disuguhkan banyak kata-kata itu.
__________________________________________________________________________
BOP CIlandak 04-05-2006
Leave a Reply