Tsunami Memorial Green Map Biking
June 29, 2006
Wow…segar sekali, bersepeda jam tujuh pagi, menghirup udara segar. Nggak bawa peta, modal inget-inget di otak dan tanya-tanya orang-orang di jalan, akhirnya nggak sampai setengah jam, sampailah di lapangan Blang Padang.
Lapangan Blang Padang hari minggu ramai sekali dengan orang-orang yang berolahraga, ada sekumpulan ibu-ibu yang senam, anak muda yang main bola, dan remaja yang lari pagi.
Tengok kiri-kanan mencari kumpulan sepeda, akhirnya menemukan panitia. Peserta yang datang baru enam orang. Saya ngobrol dengan panitia. Salah satu panitia pagi itu, ibu Sylvi, dosen Arsitektur Un. Syah Kuala, dibantu beberapa mahasiswanya. Beliau dan Tim dari Laboratorium Perancangan Kota UnSyah yang sedang menyusun Greenmap Banda Aceh. Peserta kemudian disuruh mendaftar. Panitia membagikan kaos, Pin , Fotocopyan draft Greenmap dan rute perjalanan (tempat-tempat) yang akan dilewati beserta keterangannya. Dalam draft Greenmap, ada 50 tempat yang di-record meliputi ruang hijau, tempat bersejarah, pusat budaya, rumah sakit, terminal dll. Masih ingat dengan Cut Putri? Yang rekaman video amatir nya ketika peristiwa Tsunami pertama kali muncul di TV?. Rumah Cut Putri, yang terletak di Banda Aceh sebelah barat daya ini di-record juga dalam Greenmap. Dan yang membedakan Greenmap Banda Aceh ini dengan Greenmap kota lain adalah peta Banda Aceh dengan keterangan bagian yang terkena Tsunami, serta peta dan tempat-tempat kuburan masal. Oleh karena itulah peta hijau ini diberi nama “Peta Hijau Kenangan Tsunami Banda Aceh” (Banda Aceh Tsunami Memorial Green Map).
Tidak lama kemudian, ibu Debra datang. Perempuan separuh baya yang cantik ini seperti tidak pernah kehabisan baterai, langsung menyambut para peserta. Beliau dan Yayasan Tifa-nya merupakan salah satu sponsor acara ini selain Greenmap, Yayasan Danamon Peduli dan media Aceh World.
Mendekati jam sembilan pagi, terkumpul sebanyak 27 orang peserta. Padahal panitia mentargetkan sekitar 50 orang peserta. Sepertinya acara seperti ini belum tersosialisi di masyarakat. Saya membayangkan jika acara ini diadakan di Jakarta, pasti pesertanya lebih dari seratus.Para peserta rupanya sebagian besar juga pendatang seperti saya yang bekerja di NGO. Ada beberapa peserta warga negara asing, hebatnya, panitia sudah menyediakan rute perjalanan dua bahasa, tapi sayangnya draft Greenmap masih satu bahasa.
Acara dibuka dengan sambutan dari ibu Debra, beberapa hal penting yang disampaikan beliau adalah informasi mengenai kampanye Greenmap Banda Aceh, rencana penghijauan kota Banda Aceh, pelestarian peninggalan sejarah, dan pembuatan pedestrian yang memadai dan jalur sepeda. Selanjutnya sambutan dari wakil II walikota Banda Aceh, bapak Rizal. Intinya beliau menyampaikan bahwa pembangunan di Banda Aceh masih tersendat karena minimnya pendapatan daerah, tapi beliau sangat respek terhadap usulan pembuatan pedestrian dan jalur sepeda.
Selanjutnya harusnya sambutan dari ibu Sylvi, tetapi karena sudah terlalu siang, beliau langsung mengajak langsung memulai acara bersepeda.Sekitar jam 9.10, kita mulai bersepeda. Ternyata saya ada teman, karena ada dua orang lagi yang pakai sepeda cewek, yang lainnya pake sepeda gunung, dan bu Debra lain sendiri naik Sepeda Ontel yang djadoel abis… lengkap dengan kantung kulit di boncengan blakangnya, mirp tukang pos jaman kumpeni.
Rute melingkar yang dilalui adalah :
1.Lap. Blang Padang
Lapangan terbesar di Banda Aceh yang dulu dikenal dengan nama Lapangan Gajah. Juga merupakan tempat monument Seulawah – replika pesawat yang dibeli Rakyat Aceh dan disumbangkan bagi Republik Indonesia untuk mendukung perlawanan terhadap Belanda dalam Aksi Militer pertama tahun 1948.
2. Bioskop Garuda
Tempat presiden Soekarno membaca pidato sampai meneskan airmata, memohon dukungan masyarakat Aceh untuk membela Republik Indonesia. Tempat ini berupa bangunan ruko-ruko kuno yang sudah tidak digunakan lagi sebagai bioskop.
3. Mesjid Raya (Baiturrahman)
Pada 1873, Belanda menyerang Banda Aceh dan membakar mesjid ini sampai musnah. Pada 1875 Belanda membangunnya kembali, selesai pada 1883. Pada 1935, diperluas dengan dua kubah tambahan, dan akhirnya lima kubah antara 1959-1968. Ketika Tsunami Desember 2004 mesjid ini tidak mengalami kerusakan yang berarti. Di tempat ini banyak jenazah yang dibaringkan dan para keluarga korban mencari jenazah keluarganya disini.
4. Pante Pirak (1)
Merupakan Swalayan yang paling terkenal dan paling besar di Banda Aceh. Ada tiga cabang di Banda Aceh.
5.Jembatan Peunayong
Peunayong adalah Pecinan Banda Aceh, merupakan kawasan niaga terbesar kedua di Banda Aceh, setelah Pasar Aceh. Peunayong dan Pasar Aceh dipisahkan oleh Krueng (sungai) Aceh. Dahulu, perdagangan di Aceh dilakukan melalui lalu lintas sungai dari Pelabuhan Ulee Lheue sepanjang Krueng Aceh. Kemudian Belanda membangun Jembatan Peunayong (menghubungkan Peunayong dan Pasar Aceh) yang rendah sehingga kapal-kapal tidak dapat berjalan lagi dan menyebakan matinya perdangan disana.
6.Rex
Tempat pasar kaget yang popular untuk mencari jajanan di malam hari. Walaupun dekat dengan Krueng Aceh, Rex dikelilingi oleh ruko yang menghalangi pemandangan Krueng yang indah itu. Masih ingat kapal besar yang hanyut sampai tengah kota ketika Tsunami ???. Itulah lokasi Rex. Sayangnya kapal itu sudah dipindahkan. Padahal masyarakat meminta kapal itu dibiarkan untuk menjadi monumen Tsunami, menunjukkan dahsyatnya gelombang tsunami.
7.Krueng Aceh, Simpang Lima dan Jembatan Pante Pirak.
Krueng Aceh membelah Banda Aceh menjadi bagian utara dan selatan. Jalan-jalan yang lebar di bagian utara menunjukkan konsep tata kota yang jelas. Penjajah meluaskan kota ke bagian selatan untuk tujuan militer, sehingga bagian selatan tidak seindah bagian utara. Jembatan Pante Pirak merupakan jembatan satu lagi diatas Krueng Aceh yang menghubungkan Peunayong dengan Pasar Atjeh.
8. Museum Aceh, Rumoh Aceh, Cakra Donya
Rumoh Aceh dan Museum Aceh terletak dalam satu kompleks yang luas yang dinamakan Keraton Dalam yang menyimpan situs-situs sejarah Aceh yang penting. Rumoh Aceh merupakan model rumah tradisional Aceh. Cakra Donya adalah lonceng yang diberikan Kaisar Cina kepada Sultan Aceh dan dibawakan oleh Laksamana Cheng Ho. Sayangnya kita tidak masuk ke dalam Museum Aceh, hanya melihat-lihat dari luar saja.
9. Meuligoe Masih di sekitar Keraton Dalam
Bangunan ini dikenal dengan Pendopo Gubernur, dibangun pada 1880, dulunya adalah rumah Gubernur Jendral Belanda. Merupakan salah satu bangunan Belanda yang paling lama berdiri. Meskipun bangunan Belanda, gedung ini meniru Rumoh Aceh.
10. Taman Bustanus Salatin
Artinya Taman sultan-sultan. Merupakan taman kota yang dahulu didalamnya terdapat 100 pohon dan tanaman hias asli Aceh. Hal ini dikatakan dalam kitab Ar Raniri. Sayangnya kini tanaman itu telah menghilang, kini terkumpul kembali baru sekitar 20 jenis. Didalam taman melintas Krueng Daroy, yang dahulu diyakini airnya berkhasiat menyembuhkan penyakit. Belanda membangun jalan raya membelah taman ini, sehingga kini terpisah bagiaannya.
10. Gunongan
Bangunan dengan bentuk mirip Kue tart ulang tahun bertingkat, diameter sekitar 10 m dan tinggi 9.5 m. Berwarna putih kapur. Merupakan bangunan pusat didalam taman Bustanussalatin. Menurut sejarah, dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda, untuk menghibur permaisurinya yang kelahiran Pahang yang merindukan pegunungan negeri asalnya. Namun berdasarkan bentuknya dianggap arsitektur pra-Islam.
10. Makam Kerkhoff
MErupakan taman pemakaman Belanda, kalau di Jakarta sama dengan Museum Prasasti di Kebun Jahe, Tanah Abang. Letaknya disebrang jalan agak kesamping sedikit dari lapangan Blang Padang. Meskipun makam Belanda, putra Sultan Iskandar muda pun dimakamkan disitu, setelah dibunuh oleh sang ayah sendiri karena berzinah. Makam ini didirikan pada 1880, menampung lebih dari 2200 serdadu Belanda yang tewas dalam perang maupun terserang penyakit sejak Belanda menduduki Aceh pada 1873. Selain orang Belanda, ada juga makam serdadu dari Jawa, Manado dan Ambon.
Untungnya cuaca pagi itu cukup cerah, setelah seminggu sebelumnya hujan sepanjang hari. Ibu Sylvi dan ibu Debra memberikan guide yang baik sekali, menjelaskan dengan dua bahasa informasi sejarah yang lengkap tentang tempat-tempat yang dilewati. Karena pesertanya yang tidak terlalu banyak, kita dapat menangkap penjelasan mereka dengan baik.
Sekitar jam 10.30, kita sudah kembali lagi ke Lap.Blang Padang. Beberapa peserta, karena belum puas bersepeda mengusulkan lanjut ke Lhok Nga. Tidak berapa lama kemudian turun hujan. Kita ngumpul di bale-bale untuk istirahat, makan kue sambil dibagikan koran Aceh World. Panitia melanjutkan acara dengan berbincang-bincang dengan peserta mengenai ide kelanjutan acara tersebut terkait dengan visi dan misi Greenmap. Beberapa ide yang dicatat adalah membuat acara serupa tiap dua bulan dengan rute yang lebih jauh serta membuat komunitas Greenmap yang akan membawa misi penghijauan. Bu Debra sangat bersemangat menjelaskan program pengumpulan kembali 100 jenis pohon dan tanaman asli Aceh yang dulu terdapat di Taman Bustanus Salatin.
Rencananya draft Greenmap akan difinalisasi, bulan depan akan dicetak pertama sebanyak 1000 lembar, ukuran A2, tidak akan dijual dulu, tetapi dibagikan ke komunitas Greenmap.(Asyik dapet).
Selanjutnya diadakan pengundian DoorPrize yang hadiah utamanya sebuah sepeda sumbangan sponsor; WimCycle. Yang beruntung adalah teman cewek dari Uplink. Doorprize lainnya berlangganan Acehworld selama tiga bulan, Buku puisi tulisan Keumala, dan buku puisi sastrawan Aceh. Tapi saya tidak dapat satupun :-(.
Saya menikmati sekali acara ini, seperti acara-acara Heritage Walk yang sering saya ikuti di Jakarta, tapi ini lebih unik, karena sambil bersepeda. . Program keberlanjutan ini sebenarnya sangat penting untuk menjaga lingkungan kota Banda Aceh kedepan. Sayangnya yang ikut kemarin sebagian besar adalah pekerja-pekerja NGO yang bukan merupakan penduduk tetap Banda Aceh. Semoga pada acara-acara selanjutnya bisa lebih banyak mengajak penduduk asli. Walaupun tidak akan menetap disini, tetapi pengennya selama disini bisa mengikuti acara seperti ini. Tinggal merencakan beli sepeda biar nggak minjem lagi :-).
_________________________________________________________________________
BRC gh#9, Neusu, Banda Aceh, 27.06.2006
How green are you ??? … I’ll join….
June 29, 2006
Sebuah poster fotocopyan dengan kalimat seperti diatas tercetak besar, ditempel di lemari kantor. Entah kapan ditempelnya, saya baru melihat hari kamis, minggu lalu.
Poster itu berisi informasi acara Funbike, menyusuri tempat-tempat bersejarah di Banda Aceh pasca Tsunami dalam rangka pembuatan Green Map kota Banda Aceh yang akan diadakan pada Minggu pagi, 25 Juni 2006. Penyelenggaranya adalah Komunitas Peta Hijau Aceh. Saya langsung bersemangat untuk ikut, tapi ada tiga masalah yang harus dipecahkan :
Pertama, informasi di poster itu mentah sekali, tidak ada informasi contact telp. Panitia, hanya melalui email. Kedua, saya masih sangat buta Banda Aceh, untuk mencapai tempat ngumpul dari guest house saja belum tau. Ketiga, yang paling menyedihkan, saya nggak punya sepeda, tapi diotak langsung terpikir untuk meminjam sepeda teman satu guesthouse.
Keesokan harinya saya mengirim email ke penyelenggara, karena di poster tidak dicantumkan contact person panitia, akses informasi melalui email. Jumat sore sudah mendapat jawaban. Peserta disuruh datang langsung ke lapangan Blang Padang, pendaftaran bisa langsung ditempat. Untuk informasi lebih lanjut, saya disuruh menelpon ibu Debra Yatim. Masalah satu terlewatkan.
Kedua, saya cari informasi lokasi lapangan Blang Padang. Melototin peta Banda Aceh yang ditempel dikantor dan bertanya sana sini. Ternyata lapangan itu tidak jauh dari guesthouse. Kebetulan hari minggu lalu, saya sempat keliling kota sendirian naik angkot melewati lapangan itu. Untungnya di lapangan itu terdapat replika pesawat Seulawah, yaitu pesawat GIA pertama yang dibeli dari sumbangan rakyat Aceh (inget yang dipelajaran Sejarah kan???)- jadi gampang diingat. Masalah kedua terselesaikan.
Ketiga, teman yang punya sepeda kebetulan sedang R&R* ke Jakarta. Sampai sabtu siang saya belum berhasil menghubungi dia karena HP-nya dimatiin. Saya SMS sambil pasrah, kalo nggak dijawab juga, saya nggak mau pake sepeda dia tanpa ijin. Syukur Alhamdulillah minggu pagi, mendekati detik-detik acara, jam 6 kurang 10menit pagi, SMS dibales juga, yang isinya ngijinin sepedanya dipake.
Sepeda temen ini sebenernya jauh dari kriteria saya. Sepedanya feminim dan centil banget. Model sepeda cewek, dengan keranjang blanja didepan, ada belnya yang bunyinya nyaring, ada boncengannya…dan yang paling parah..warnanya Ungu ngejreng !!!. Sebetulnya pembunuhan karakter saya pake sepeda ini, tapi daripada nggak ada. Sempet juga mupengin sepeda gunung di kantor, tapi belum tau siapa yang punya…
Abis subuh nggak tidur lagi, langsung mandi, sarapan roti, nyiapin bawaan ; ransel multiguna beserta isinya. Selanjutnya ngecek kondisi sepeda; ban depan dan belakang untungnya nggak kempes. Untuk jaga-jaga, belum tau lokasi bengkel sepeda disini, pompa sepeda dibawa juga, diiket di boncengan blakang.Setelah siap semua peralatan tempur. Berangkatlah saya dengan baca Bismillah…
R&R = rest & relax___________________________________________________________________________
BRC gh#9, Neusu, Banda Aceh - 27 Juni 2006
Bertapa di Ujung Sumatra
June 29, 2006
Sebelum berangkat ke Aceh, aku sempat ngobrol dengan seorang teman yang pernah bekerja di Aceh. Ketika dia tau aku bakal kerja di daerah Teunom, dia cukup takjub, mengingatkan aku bahwa disana sangat lack of facility, dan dia bilang aku bakal jadi pandito disana.
Ketika mengambil tiket di IFRC Aldiron Pancoran, ibu salah seorang pengurus IFRC juga mengingatkan keadaan Teunom yang masih sangat primitif. Mendekati hari H keberangkatan aku sempat jiper. Hidup tanpa listrik mungkin masih mending, tapi tanpa sinyal HP dan intenet ?!?!.
Lahir dan besar di Jakarta, rasanya belum pernah mengalami hidup tanpa listrik selama berhari-hari. Seingat saya, ketika pulang kampung ke tempat kakek nenek 21 tahun yang lalu dan ketika Kersos jaman kuliah tahun 1997&1998.
Sampai di Banda, ternyata aku nggak jadi base di Teunom, tetapi di Banda Aceh, walaupun nanti akan ke Teunom juga. Selama seminggu di Banda Aceh belum ada perbedaan yang berarti.
Memasuki minggu kedua, Hujan turun deras sekali disertai angin kencang. Saya sempat bergidik, rasanya seperti berada ditengah laut dan diterjang badai. Usut punya usut, ternyata bulan Juni-Juli, cuaca di Banda Aceh memang seperti ini, tiga hari berturut-turut cuaca seperti itu, akhirnya terbiasa juga.
Yang menyedihkan setelah hujan berhenti, listrik PLN mati. Nggak tanggung-tanggung matinya enam jam. Hari pertama mati, mulai jam 18 – 00. Hari kedua sama. Pulang kerja di guesthouse mati kutu. Pelarian terakhir saya adalah ngulak-ngulik laptop, tapi paling bertahan sisa batrei cuma sekitar 2-3jam. Selebihnya saya ngobrol dengan teman. Untungnya teman satu guesthouse ada dua orang cewek yang umurnya berbeda tidak lebih dari 5 tahun, jadi bisa cuek ngobrol.
Salah satu teman lain , si bapak yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun di berbagai NGO asing, orang Aceh asli, lumayan juga bisa menjadi guide jika perlu informasi tentang Aceh. Dia cerita, tahun 2001, Banda Aceh pernah mati listrik selama enam bulan full. Penyebabnya nggak jauh-jauh dari “7 huruf” , karena alat pembangkit yang dibeli adalah alat bekas, padahal seharusnya alat baru. Tapi penduduk tidak ada yang protes. Mungkin karena situasi Banda Aceh waktu itu, penduduk lebih banyak diam.
Teman-teman para penggemar bola, mulai dari sewot sampai akhirnya pasrah. Ada yang bela-belain, pergi ke Warung kopi yang listriknya nggak mati, eh baru sekitar lima belas menit nonton bola disana, mati juga. Ada teman di guesthouse lain yang lebih menyedihkan, ada salah satu guesthouse NGO lain - dekat guesthouse teman tersebut -yang pasang genset, teriak-teriak ketika gol, semakin membuat dia gigit jari.
Penyebab mati listrik kali ini, menurut kabar dari orang-orang karena pembangkitnya ada yang rusak. Tetapi saya dengar dari radio, karena ada empat tower yang dirubuhkan orang tak dikenal. Entah mana yang benar saya tidak tau, karena tidak bisa mencari informasi lebih lanjut. Cuma bisa berharap, listrik segera pulih.
Hari ketiga, masih mati juga, cuma jam matinya bergeser, jadi pagi sampai siang. Yang ini masih mending. Eh hari berikutnya bergeser lagi jadi malam. Ternyata belum jadi pergi ke Teunom, sudah dilatih hidup tanpa listrik. Ketika mati gaya, malam-malam nggak ada listrik, belum waktunya tidur, sepertinya benar perkataan teman: jadi pandito… yah bertapa di ujung Sumatra.
BRC gh#9, Neusu, Banda Aceh - minggu ke 3 Juni 2006.
Untung udah lulus SMA…
June 23, 2006
Selepas saya lulus SMA, program A1. A2, A3 dst diganti namanya jadi jurusan IPA, IPS dan Bahasa. Pembagian semeter diganti menjadi catur wulan, dan banyak sekali kurikulum yang berubah. Setiap mendengar cerita sepupu yang masih SMA, saya dan kakak-kakak saya selalu komentar "untung kita udah lulus SMA…".
Banyak yang mengeluhkan kurikulum sekolah saat ini, mulai dari SD sampai SMA semakin sulit. Entah karena mentri Pendidikan Nasional yang ganti-ganti, atau memang tuntutan perkembangan zaman. Menurut pendapat yang sering saya dengar, beban anak-anak sekolah saat ini sangat berat, sampai-sampai banyak anak sekolah yang stress.
Tahun ini sepupu saya sebelah rumah lulus SMA. Sejak beberapa bulan terakhir dia sibuk mengobrol dengan saya mengenai topik-topik ujian dan pilihan jurusan kuliah.Setelah pengumuman kelulusan SMA kemarin ternyata cukup banyak siswa yang tidak lulus. Untungnya sepupu saya lulus.
Ujian Akhir Nasional atau yang sering disebut UAN, waktu jaman saya SMA disebut Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS). Dulu yang diujikan ada tujuh mata pelajaran. Saat ini, UAN hanya menguji tiga mata pelajaran. Banyak dari yang tidak lulus adalah nilai Matematikanya yang Jeblok.
Dari dulu memang Matematika jadi monster ujian. Saya tidak mengerti apakah pelajaran Matematika SMA sekarang lebih sulit atau karena yang diujikan hanya tiga mata pelajaran sehingga jika satu nilai jeblok, rata-rata nilai akhirnya menjadi rendah.
Yang jelas, akhir-akhir ini, setiap habis pengumuman kelulusan SMA, banyak sekali berita memilukan, seperti kemarin ini, ada siswa yang bunuh diri karena tidak lulus, ada yang membakar sekolah dan banyak sekali yang stress. Lagi-lagi bagi yang sudah melewati masa SMA nya mungkin akan mbatin "Untung saya udah lulus SMA…", tapi dibalik itu semua yang paling penting adalah bagaimana nasib mereka-mereka yang masih sekolah ???.
_________________________________________________________________________
IFRC hotspot area, Banda Aceh - 24.06.2006
Jakarta…oh Jakarta…
June 22, 2006
Happy Anniversary Jakarta…
Kangen ma kerlap-kerlip lampu malam…
Kangen ma gorengan pinggir jalan…
______________________________
Banda Aceh - 22 Juni 2006
Nelpon Gretong
June 19, 2006
Kartu Mentari membuat promo "Free Talk" sejak sebulan lebih yang lalu, yaitu menelepon gratis dari Mentari ke kartu Indosat lainnya dari jam 12 dini hari Sampai jam 5 pagi.
Saya, yang menggunakan Matrix, waktu awal-awal sempat terkecoh. Kirain Berlaku juga bagi Matrix, ternyata tidak. Temen sekamar kos sering sekali memanfaatkan promo itu. Dia hampir bergadang tiap malam untuk telpon-telponan.
Saya cukup salut dengan Mentari yang mengadakan promo kreatif ini. Sempat ketika tidak pulang ke kos, teman saya menelepon dengan fasilitas ini. Biarpun tiap lima menit berhenti,disambung berkali-kali.
Sekarang, jauh dari teman-teman di Jakarta. Saya mengandalkan teman-teman yang akan menelepon dengan Gratisan. Janjian sejak siang, jam 9 malam tidur dulu, lalu jam 00. telpon-telponan. Sayangnya, untuk sambungan jarak jauh Jakarta - Aceh ternyata tidak berjalan mulus. Sulit sekali tersambung,dan sekalinya nyambung, nyasar ke orang lain. Kacau beliau deh pokoknya…
Tapi sekali lagi, Gratis masih tidak tergantikan, pantang mundur, biarpun musti pencet berkali-kali dan sering salah sambung, coba terus sampai nyambung. Thanks to Mentari yang mendukung gosipku dengan teman-teman di Jakarta nyambung terus. Semoga aja promonya sampai akhir tahun ini…atau lebih bagus lagi kalo selamanya…. ^-^
____________________________________________________________________
Banda Aceh, 15.06.2006
Banda Aceh at a glance
June 19, 2006
On Saturday, June 10, 2006 05.05 PM, I arrived at Banda Aceh. Aceh’s government settled regulation that said Moslem women have to wear muslimah dress. I had wear a veil since in the aircraft before took off at Soekarno Hatta. Having landed at St.Iskandar Muda airport I was picked up by BRC driver. I enjoyed beautiful scenery a long way to central city of Banda Aceh. Two lanes and not too wide asphalt road has shaded threes along the sides. Banda Aceh which encircled with a chain of hill is as beautiful as the cities in west java but contrary in the temperature which approximate 31 – 33 o C .
The most significant different between Banda Aceh from other cities is the pleasure place atmosphere. It has neither 21 Cinema nor big shopping mall. The largest supermarket just two story building is like a traditional market in Jakarta.
A lot of NGO rent luxury houses as operational base camp. House leasing rates in Banda Aceh rose up as while the increasing of demand. Living cost here more expensive than in Depok J. I found the prices of some foods and beverages more expensive, whereas its tastes were not more delicious.
I feel the day longer than the nigh, the time goes faster from dusk till dawn. The sun rises around 6 AM, and down around 7 PM. I rather confused between maghrib time and Isya time. Maghrib comes at 07.10 PM and Isya at 08.10 PM .
______________________________________________________________________
Banda Aceh - Medio of June 2006