Bertapa di Ujung Sumatra

June 29, 2006

          Sebelum berangkat ke Aceh, aku sempat ngobrol dengan seorang teman yang pernah bekerja di Aceh. Ketika dia tau aku bakal kerja di daerah Teunom, dia cukup takjub, mengingatkan aku bahwa disana sangat lack of facility, dan dia bilang aku bakal jadi pandito disana.

          Ketika mengambil tiket di IFRC Aldiron Pancoran, ibu salah seorang pengurus IFRC juga mengingatkan keadaan Teunom yang masih sangat primitif. Mendekati hari H keberangkatan aku sempat jiper. Hidup tanpa listrik mungkin masih mending, tapi tanpa sinyal HP dan intenet ?!?!.

          Lahir dan besar di Jakarta, rasanya belum pernah mengalami hidup tanpa listrik selama berhari-hari. Seingat saya, ketika pulang kampung ke tempat kakek nenek 21 tahun yang lalu dan ketika Kersos jaman kuliah tahun 1997&1998.

          Sampai di Banda, ternyata aku nggak jadi base di Teunom, tetapi di Banda Aceh, walaupun nanti akan ke Teunom juga. Selama seminggu di Banda Aceh belum ada perbedaan yang berarti.

          Memasuki minggu kedua, Hujan turun deras sekali disertai angin kencang. Saya sempat bergidik, rasanya seperti berada ditengah laut dan diterjang badai. Usut punya usut, ternyata bulan Juni-Juli, cuaca di Banda Aceh memang seperti ini, tiga hari berturut-turut cuaca seperti itu, akhirnya terbiasa juga.

          Yang menyedihkan setelah hujan berhenti, listrik PLN mati. Nggak tanggung-tanggung matinya enam jam. Hari pertama mati, mulai jam 18 – 00. Hari kedua sama. Pulang kerja di guesthouse mati kutu. Pelarian terakhir saya adalah ngulak-ngulik laptop, tapi paling bertahan sisa batrei cuma sekitar 2-3jam. Selebihnya saya ngobrol dengan teman. Untungnya teman satu guesthouse ada dua orang cewek yang umurnya berbeda tidak lebih dari 5 tahun, jadi bisa cuek ngobrol.

          Salah satu teman lain , si bapak yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun di berbagai NGO asing, orang Aceh asli, lumayan juga bisa menjadi guide jika perlu informasi tentang Aceh. Dia cerita, tahun 2001, Banda Aceh pernah mati listrik selama enam bulan full. Penyebabnya nggak jauh-jauh dari “7 huruf” , karena alat pembangkit yang dibeli adalah alat bekas, padahal seharusnya alat baru. Tapi penduduk tidak ada yang protes. Mungkin karena situasi Banda Aceh waktu itu, penduduk lebih banyak diam.

          Teman-teman para penggemar bola, mulai dari sewot sampai akhirnya pasrah. Ada yang bela-belain, pergi ke Warung kopi yang listriknya nggak mati, eh baru sekitar lima belas menit nonton bola disana, mati juga. Ada teman di guesthouse lain yang lebih menyedihkan, ada salah satu guesthouse NGO lain - dekat guesthouse teman tersebut -yang pasang genset, teriak-teriak ketika gol, semakin membuat dia gigit jari.

          Penyebab mati listrik kali ini, menurut kabar dari orang-orang karena pembangkitnya ada yang rusak. Tetapi saya dengar dari radio, karena ada empat tower yang dirubuhkan orang tak dikenal. Entah mana yang benar saya tidak tau, karena tidak bisa mencari informasi lebih lanjut. Cuma bisa berharap, listrik segera pulih.

          Hari ketiga, masih mati juga, cuma jam matinya bergeser, jadi pagi sampai siang. Yang ini masih mending. Eh hari berikutnya bergeser lagi jadi malam. Ternyata belum jadi pergi ke Teunom, sudah dilatih hidup tanpa listrik. Ketika mati gaya, malam-malam nggak ada listrik, belum waktunya tidur, sepertinya benar perkataan teman: jadi pandito… yah bertapa di ujung Sumatra.

BRC gh#9, Neusu, Banda Aceh  - minggu ke 3 Juni 2006.

One Response to “Bertapa di Ujung Sumatra”

  1.   Tya said:

    Hi Yas, skrg gi diAceh yaa? pindah kerja bu? hehhehe
    tapi seruw juga denger ceritanya…well I believe you can survive, gal :)

Leave a Reply