Tsunami Memorial Green Map Biking
June 29, 2006
Wow…segar sekali, bersepeda jam tujuh pagi, menghirup udara segar. Nggak bawa peta, modal inget-inget di otak dan tanya-tanya orang-orang di jalan, akhirnya nggak sampai setengah jam, sampailah di lapangan Blang Padang.
Lapangan Blang Padang hari minggu ramai sekali dengan orang-orang yang berolahraga, ada sekumpulan ibu-ibu yang senam, anak muda yang main bola, dan remaja yang lari pagi.
Tengok kiri-kanan mencari kumpulan sepeda, akhirnya menemukan panitia. Peserta yang datang baru enam orang. Saya ngobrol dengan panitia. Salah satu panitia pagi itu, ibu Sylvi, dosen Arsitektur Un. Syah Kuala, dibantu beberapa mahasiswanya. Beliau dan Tim dari Laboratorium Perancangan Kota UnSyah yang sedang menyusun Greenmap Banda Aceh. Peserta kemudian disuruh mendaftar. Panitia membagikan kaos, Pin , Fotocopyan draft Greenmap dan rute perjalanan (tempat-tempat) yang akan dilewati beserta keterangannya. Dalam draft Greenmap, ada 50 tempat yang di-record meliputi ruang hijau, tempat bersejarah, pusat budaya, rumah sakit, terminal dll. Masih ingat dengan Cut Putri? Yang rekaman video amatir nya ketika peristiwa Tsunami pertama kali muncul di TV?. Rumah Cut Putri, yang terletak di Banda Aceh sebelah barat daya ini di-record juga dalam Greenmap. Dan yang membedakan Greenmap Banda Aceh ini dengan Greenmap kota lain adalah peta Banda Aceh dengan keterangan bagian yang terkena Tsunami, serta peta dan tempat-tempat kuburan masal. Oleh karena itulah peta hijau ini diberi nama “Peta Hijau Kenangan Tsunami Banda Aceh” (Banda Aceh Tsunami Memorial Green Map).
Tidak lama kemudian, ibu Debra datang. Perempuan separuh baya yang cantik ini seperti tidak pernah kehabisan baterai, langsung menyambut para peserta. Beliau dan Yayasan Tifa-nya merupakan salah satu sponsor acara ini selain Greenmap, Yayasan Danamon Peduli dan media Aceh World.
Mendekati jam sembilan pagi, terkumpul sebanyak 27 orang peserta. Padahal panitia mentargetkan sekitar 50 orang peserta. Sepertinya acara seperti ini belum tersosialisi di masyarakat. Saya membayangkan jika acara ini diadakan di Jakarta, pasti pesertanya lebih dari seratus.Para peserta rupanya sebagian besar juga pendatang seperti saya yang bekerja di NGO. Ada beberapa peserta warga negara asing, hebatnya, panitia sudah menyediakan rute perjalanan dua bahasa, tapi sayangnya draft Greenmap masih satu bahasa.
Acara dibuka dengan sambutan dari ibu Debra, beberapa hal penting yang disampaikan beliau adalah informasi mengenai kampanye Greenmap Banda Aceh, rencana penghijauan kota Banda Aceh, pelestarian peninggalan sejarah, dan pembuatan pedestrian yang memadai dan jalur sepeda. Selanjutnya sambutan dari wakil II walikota Banda Aceh, bapak Rizal. Intinya beliau menyampaikan bahwa pembangunan di Banda Aceh masih tersendat karena minimnya pendapatan daerah, tapi beliau sangat respek terhadap usulan pembuatan pedestrian dan jalur sepeda.
Selanjutnya harusnya sambutan dari ibu Sylvi, tetapi karena sudah terlalu siang, beliau langsung mengajak langsung memulai acara bersepeda.Sekitar jam 9.10, kita mulai bersepeda. Ternyata saya ada teman, karena ada dua orang lagi yang pakai sepeda cewek, yang lainnya pake sepeda gunung, dan bu Debra lain sendiri naik Sepeda Ontel yang djadoel abis… lengkap dengan kantung kulit di boncengan blakangnya, mirp tukang pos jaman kumpeni.
Rute melingkar yang dilalui adalah :
1.Lap. Blang Padang
Lapangan terbesar di Banda Aceh yang dulu dikenal dengan nama Lapangan Gajah. Juga merupakan tempat monument Seulawah – replika pesawat yang dibeli Rakyat Aceh dan disumbangkan bagi Republik Indonesia untuk mendukung perlawanan terhadap Belanda dalam Aksi Militer pertama tahun 1948.
2. Bioskop Garuda
Tempat presiden Soekarno membaca pidato sampai meneskan airmata, memohon dukungan masyarakat Aceh untuk membela Republik Indonesia. Tempat ini berupa bangunan ruko-ruko kuno yang sudah tidak digunakan lagi sebagai bioskop.
3. Mesjid Raya (Baiturrahman)
Pada 1873, Belanda menyerang Banda Aceh dan membakar mesjid ini sampai musnah. Pada 1875 Belanda membangunnya kembali, selesai pada 1883. Pada 1935, diperluas dengan dua kubah tambahan, dan akhirnya lima kubah antara 1959-1968. Ketika Tsunami Desember 2004 mesjid ini tidak mengalami kerusakan yang berarti. Di tempat ini banyak jenazah yang dibaringkan dan para keluarga korban mencari jenazah keluarganya disini.
4. Pante Pirak (1)
Merupakan Swalayan yang paling terkenal dan paling besar di Banda Aceh. Ada tiga cabang di Banda Aceh.
5.Jembatan Peunayong
Peunayong adalah Pecinan Banda Aceh, merupakan kawasan niaga terbesar kedua di Banda Aceh, setelah Pasar Aceh. Peunayong dan Pasar Aceh dipisahkan oleh Krueng (sungai) Aceh. Dahulu, perdagangan di Aceh dilakukan melalui lalu lintas sungai dari Pelabuhan Ulee Lheue sepanjang Krueng Aceh. Kemudian Belanda membangun Jembatan Peunayong (menghubungkan Peunayong dan Pasar Aceh) yang rendah sehingga kapal-kapal tidak dapat berjalan lagi dan menyebakan matinya perdangan disana.
6.Rex
Tempat pasar kaget yang popular untuk mencari jajanan di malam hari. Walaupun dekat dengan Krueng Aceh, Rex dikelilingi oleh ruko yang menghalangi pemandangan Krueng yang indah itu. Masih ingat kapal besar yang hanyut sampai tengah kota ketika Tsunami ???. Itulah lokasi Rex. Sayangnya kapal itu sudah dipindahkan. Padahal masyarakat meminta kapal itu dibiarkan untuk menjadi monumen Tsunami, menunjukkan dahsyatnya gelombang tsunami.
7.Krueng Aceh, Simpang Lima dan Jembatan Pante Pirak.
Krueng Aceh membelah Banda Aceh menjadi bagian utara dan selatan. Jalan-jalan yang lebar di bagian utara menunjukkan konsep tata kota yang jelas. Penjajah meluaskan kota ke bagian selatan untuk tujuan militer, sehingga bagian selatan tidak seindah bagian utara. Jembatan Pante Pirak merupakan jembatan satu lagi diatas Krueng Aceh yang menghubungkan Peunayong dengan Pasar Atjeh.
8. Museum Aceh, Rumoh Aceh, Cakra Donya
Rumoh Aceh dan Museum Aceh terletak dalam satu kompleks yang luas yang dinamakan Keraton Dalam yang menyimpan situs-situs sejarah Aceh yang penting. Rumoh Aceh merupakan model rumah tradisional Aceh. Cakra Donya adalah lonceng yang diberikan Kaisar Cina kepada Sultan Aceh dan dibawakan oleh Laksamana Cheng Ho. Sayangnya kita tidak masuk ke dalam Museum Aceh, hanya melihat-lihat dari luar saja.
9. Meuligoe Masih di sekitar Keraton Dalam
Bangunan ini dikenal dengan Pendopo Gubernur, dibangun pada 1880, dulunya adalah rumah Gubernur Jendral Belanda. Merupakan salah satu bangunan Belanda yang paling lama berdiri. Meskipun bangunan Belanda, gedung ini meniru Rumoh Aceh.
10. Taman Bustanus Salatin
Artinya Taman sultan-sultan. Merupakan taman kota yang dahulu didalamnya terdapat 100 pohon dan tanaman hias asli Aceh. Hal ini dikatakan dalam kitab Ar Raniri. Sayangnya kini tanaman itu telah menghilang, kini terkumpul kembali baru sekitar 20 jenis. Didalam taman melintas Krueng Daroy, yang dahulu diyakini airnya berkhasiat menyembuhkan penyakit. Belanda membangun jalan raya membelah taman ini, sehingga kini terpisah bagiaannya.
10. Gunongan
Bangunan dengan bentuk mirip Kue tart ulang tahun bertingkat, diameter sekitar 10 m dan tinggi 9.5 m. Berwarna putih kapur. Merupakan bangunan pusat didalam taman Bustanussalatin. Menurut sejarah, dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda, untuk menghibur permaisurinya yang kelahiran Pahang yang merindukan pegunungan negeri asalnya. Namun berdasarkan bentuknya dianggap arsitektur pra-Islam.
10. Makam Kerkhoff
MErupakan taman pemakaman Belanda, kalau di Jakarta sama dengan Museum Prasasti di Kebun Jahe, Tanah Abang. Letaknya disebrang jalan agak kesamping sedikit dari lapangan Blang Padang. Meskipun makam Belanda, putra Sultan Iskandar muda pun dimakamkan disitu, setelah dibunuh oleh sang ayah sendiri karena berzinah. Makam ini didirikan pada 1880, menampung lebih dari 2200 serdadu Belanda yang tewas dalam perang maupun terserang penyakit sejak Belanda menduduki Aceh pada 1873. Selain orang Belanda, ada juga makam serdadu dari Jawa, Manado dan Ambon.
Untungnya cuaca pagi itu cukup cerah, setelah seminggu sebelumnya hujan sepanjang hari. Ibu Sylvi dan ibu Debra memberikan guide yang baik sekali, menjelaskan dengan dua bahasa informasi sejarah yang lengkap tentang tempat-tempat yang dilewati. Karena pesertanya yang tidak terlalu banyak, kita dapat menangkap penjelasan mereka dengan baik.
Sekitar jam 10.30, kita sudah kembali lagi ke Lap.Blang Padang. Beberapa peserta, karena belum puas bersepeda mengusulkan lanjut ke Lhok Nga. Tidak berapa lama kemudian turun hujan. Kita ngumpul di bale-bale untuk istirahat, makan kue sambil dibagikan koran Aceh World. Panitia melanjutkan acara dengan berbincang-bincang dengan peserta mengenai ide kelanjutan acara tersebut terkait dengan visi dan misi Greenmap. Beberapa ide yang dicatat adalah membuat acara serupa tiap dua bulan dengan rute yang lebih jauh serta membuat komunitas Greenmap yang akan membawa misi penghijauan. Bu Debra sangat bersemangat menjelaskan program pengumpulan kembali 100 jenis pohon dan tanaman asli Aceh yang dulu terdapat di Taman Bustanus Salatin.
Rencananya draft Greenmap akan difinalisasi, bulan depan akan dicetak pertama sebanyak 1000 lembar, ukuran A2, tidak akan dijual dulu, tetapi dibagikan ke komunitas Greenmap.(Asyik dapet).
Selanjutnya diadakan pengundian DoorPrize yang hadiah utamanya sebuah sepeda sumbangan sponsor; WimCycle. Yang beruntung adalah teman cewek dari Uplink. Doorprize lainnya berlangganan Acehworld selama tiga bulan, Buku puisi tulisan Keumala, dan buku puisi sastrawan Aceh. Tapi saya tidak dapat satupun :-(.
Saya menikmati sekali acara ini, seperti acara-acara Heritage Walk yang sering saya ikuti di Jakarta, tapi ini lebih unik, karena sambil bersepeda. . Program keberlanjutan ini sebenarnya sangat penting untuk menjaga lingkungan kota Banda Aceh kedepan. Sayangnya yang ikut kemarin sebagian besar adalah pekerja-pekerja NGO yang bukan merupakan penduduk tetap Banda Aceh. Semoga pada acara-acara selanjutnya bisa lebih banyak mengajak penduduk asli. Walaupun tidak akan menetap disini, tetapi pengennya selama disini bisa mengikuti acara seperti ini. Tinggal merencakan beli sepeda biar nggak minjem lagi :-).
_________________________________________________________________________
BRC gh#9, Neusu, Banda Aceh, 27.06.2006
Leave a Reply