Baru saja saya menerima SMS dari teman, bunyinya :
"Hai all, Bru denger dari radio ntar jam 02.00-0.300 dsuruh siaga aja, takutnya da gempa susulan..tlg 4ward kesmua teman2.(sumber berita dari trisakti)."

         Menurut saya, informasi seperti ini sering menjadi pedang bermata dua bagi, satu sisi berguna, satu sisi (kadang) hanya membuat kepanikan yang berlebihan. Setelah meinimbang, saya memilih tidak memforward SMS ini*,

          Sudah hampir tiga minggu saya tidak menonton televisi. Senin malam kemarin, kakak saya SMS tentang tsunami Pangandaran. Menyedihkan sekali karena indovision di gh sedang mati,  Saya, yang biasanya tidak terlalu gelisah tanpa televisi, mendadak jadi gemes tidak bisa nonton TV.  Akhirnya hanya mendapat cerita by phone dari rumah.

          Keesokannya baru bisa mengakses informasi dari internet. Dengan informasi terbatas, karena internet juga sering down,,  hari itu baru mendapatkan berita sekedarnya.Yang jelas, sore hari mendapat email dari teman, yang isinya kumpulan foto-foto kerusakan Pangandaran dari berbagai media.

         Pada salah satu foto, terlihat kerusakan dikawasan Pantai Barat Pangandaran, disekitar cottage pinggir pantai yang didepannya jalan aspal yang biasa digunakan untuk bersepeda santai wisatawan dengan sepeda sewaan. Terbidik pula sepeda sewaan - yang khas dengan dua sadel - terserak diantara puing-puing yang tersapu ombak. Foto itu mengingatkan pada event wisata saya dan teman-teman ketempat tersebut diakhir Mei lalu. Ketika pagi hari, sehari sebelum gempa Jogja, kami bersepeda ria dan berfoto-foto dipantai itu.

          Kemarin, Jakarta dihebohkan lagi dengan gempa yang berpusat di sekitar Ujung Genteng, Sukabumi. Menurut berita, saat ini penduduk pulau jawa sedang dilanda superpanik karena gempa dan perkiraan para ahli maupun paranormal yang mengatakan akan terjadi rangkaian gempa susulan.

          Rasanya khawatir juga terhadap keadaan di Jakarta maupun Jawa, justru keluarga saya yang  mengkhawatirkan saya disini. Karena tsunami Aceh yang sangat besar pula, masyarakat dilanda paranoid.

          Alhamdulillah saya disini cukup tenang. Walaupun dua minggu pertama dulu, ketika baru datang di Banda Aceh, sudah mengalami dua kali gempa. Satu kali sangat terasa, karena saya sedang berada di lantai 2, guesthouse dengan tiang kolom yang cukup langsing dengan jarak antar lantai sekitar 4.5 m, dan kait-kait pintu dan jendela yang terasa kurang kaku. Gemeretak kayu dan kaca yang cukup kencang membantu menyadarkan bahwa bangunan sedang bergoyang. Ketika ngobrol dengan orang-orang Aceh,mereka bilang sudah terbiasa dengan gempa-gempa seperti itu. Kejadian satu lagi saya tidak berasa, karena sedang berada dalam mobil dijalan.

          Jakarta, yang terletak di pantai utara Jawa, terletak zona 3 sampai 4 dalam peta wilayah gempa**. Cukup jauh dari kawasan selatan pulau jawa yang 1-2 tingkat lebih tinggi zona gempanya. (Cilacap, Pangandaran : zona 4, Ujung Genteng, pantai selatan Jawa barat bagian barat: zona 5, Ujung kulon :zona 6). Namun ancaman gempa terhadap Jakarta paling  dikhawatirkan, karena Jakarta ibukota yang merupakan pusat ekonomi dengan kepadatan penduduk paling tinggi dan sangat banyak gedung-gedung tinggi.

Kakak saya, ketika menelpon bilang : "Nggak ada tempat aman lagi ya di Indonesia, dimana-mana gempa".

Lalu saya bilang : "Di kalimantan nggak ada gempa"
kata dia lagi : "Iya nggak ada gempa, tapi banjir bandang"
saya:" ?!?!?!?"

Indonesia memang sedang mengalami ujian paling berat, bahkan dana darurat untuk penanggulangan bencana sudah hampir habis. Sedangkan diperkirakan gempa masih akan terjadi dalam waktu dekat.

were are trapped in gruesome situation…

Kalau kata Ebiet G Ade:
Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita
yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita…

Lirik lagu yang sederhana ini sangat bermakna mengingatkan kita
akan dua hal yang sering terlupakan oleh manusia…

Sudah deadline bagi kita untuk berhenti "setengah hati" terhadap-Nya
dan berhenti semena-mena terhadap alam

wallahualam bisshawab…

___________________________________________________________________________________________________________________________

* sory fren, semoga lembaga-lembaga yang lebih berwenang bisa menginformasikan dengan lebih jelas (LIPI, BPPT, Himpunan ahli geologi dan pakar kegempaan, dll) melalui media yang paling cepat sampai ke masyarakat.

** Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung

   SNI-1726-2002 , hal. 21

Petagempa

gh#9, Neusu, Banda Aceh - 20.07.2006  22:30

Perjalanan ini
Terasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk disampingku kawan

Banyak cerita
Yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan


_______________________________________________

          Lagu Ebiet G. Ade yang sangat long lasting ini terasa menyentuh sekali mengiri perjalanan pertama saya dan teman-teman dari Banda Aceh menuju Teunom via jalan darat. Kami bersepuluh dari tim lapangan berangkat jam 9 pagi dengan dua mobil Ford Ranger lengkap dengan muatan barang-barang keperluan program BRCS.

         Dari bersepuluh, hanya saya yang baru pertama kali akan ke Teunom. Beruntung sekali perjalanan pertama ini, karena membawa banyak barang, saya dapat kesempatan untuk merasakan jalan darat. Jika tidak,melalui  jalan laut dengan speedboat dari Lampulo sampai Calang selama dua jam baru kemudian dilanjutkan jalan darat dari Calang ke Teunom selama satu jam.

          Baru lima belas menit beranjak dari Banda Aceh, kami sudah melewati pantai LhokNga setelah itu sepanjang jalan terlihat pantai yang bersih dan indah dengan background langit yang biru bersih. Selanjutnya jalan mulai semi off road dan sinyal HP mulai lenyap. Jalan batu-batu perkerasan yang belum diaspal ini merupakan jalan alternatif yang  belum selesai dibangun setelah jalan asli putus akibat Tsunami.

Img_0701_1           Disepanjang jalan tampak rumah-rumah bantuan yang baru dibangun berbagai NGO. Driver kami menawarkan untuk berhenti jika ingin foto-foto. Tapi saya tidak membawa kamera, dan teman-teman yang lain sudah pernah foto-foto.
Sehingga kami tidak singgah, hanya kadang berjalan pelan, jika ingin ambil foto dari mobil dengan kamera poket.

         Jam sebelas kami tiba di Lamno, Kecamatan yang  cukup besar dalam jalur kami. Sampai sini langit mendung dan sedikit gerimis. Karena kami tidak prepare hujan,kami mampir di pasar, membeli terpal plastik untuk menutupi barang bawaan di bak belakang pickup, sekaligus makan siang, karena perjalanan masih jauh dan persinggahan selanjutnya adalah Calang, yang masih membutuhkan waktu tempuh 3 jam lagi.

          Sekitar jam 11.40, kami melanjutkan perjalanan. Ternyata mendung lewat, berganti panas yang terik. Saya sempat tertidur sekitar sepuluh menit, karena panas diluar terasa menembus kaca mobil.Perjalanan masih melewati pantai dan off road berselang-seling. Sesekali ketika menikung cukup terlihat jalur jalan yang putus. Bongkahan-bongkahan bagian jembatan baja dari profil besar-besar tampak masih tersisa, menunjukkan kedahsyatan Tsunami. Begitu juga ruas jalan aspal yang sudah tersapu agak ketengah dari pantai, sudah seperti lembaran kertas yang tercelup di air.

Img_0700          Mendekati Calang mulai menemukan jalan aspal kembali. Jalan dengan sisi kiri bukit dan sebelah kanan pantai yang indah.Kami singgah di warung pinggir untuk melepas dahaga sambil menikmati keindahan alam. Setelah itu melanjutkan perjalanan yang tidak jauh lagi menuju Calang. Menyaksikan keindahan alam sepanjang jalan, saya membayangkan Aceh adalah surga untuk para wisatawan.  Namun konflik yang berkepanjangan di Aceh, membuat tidak ada pengelolaan tempat wisata disepanjang jalur ini.

         Mulai memasuki Calang, terlihat keramaian penduduk dalam rumah-rumah bantuan. Di Calang sinyal HP muncul kembali. Sempat memanfaatkan untuk SMS.
Namun selepas Calang, sinyal hilang lagi. Sepanjang jalan Calang menuju Teunom, kiri-kanan lebih banyak terlihat alang-alang, kebun-kebun dan sesekali terlihat bangunan beton yang sudah meliuk-liuk.

         Akhirnya sekitar jam 16.00 tiba di Teunom. Perjalang  Banda Aceh Calang dengan mobil-mobil Ranger membutuhkan waktu paling cepat enam jam. Jika menggunakan angkutan umum, satu-satunya yang tersedia saat ini adalah L300 tanpa AC, yang membutuhkan waktu delapan sampai sembilan jam dengan tarif 100rb. Sebelum tsunami, jarak ini dapat ditempuh hanya dengan kurang dari tiga jam. Angkutan umum dengan trayek ini pun beragam dengan tarif hanya 45 ribu.

Welcome to Teunom…
Saya akan seminggu disini, tanpa listrik dan sinyak HP.

* Foto by Tata

____________________________________________________________________________

Teunom 06.07.2006