a long paradise beach Bd.Aceh - Calang
July 10, 2006
Perjalanan ini
Terasa sangat menyedihkan
Sayang engkau tak duduk disampingku kawan
Banyak cerita
Yang mestinya kau saksikan
Di tanah kering bebatuan
…
_______________________________________________
Lagu Ebiet G. Ade yang sangat long lasting ini terasa menyentuh sekali mengiri perjalanan pertama saya dan teman-teman dari Banda Aceh menuju Teunom via jalan darat. Kami bersepuluh dari tim lapangan berangkat jam 9 pagi dengan dua mobil Ford Ranger lengkap dengan muatan barang-barang keperluan program BRCS.
Dari bersepuluh, hanya saya yang baru pertama kali akan ke Teunom. Beruntung sekali perjalanan pertama ini, karena membawa banyak barang, saya dapat kesempatan untuk merasakan jalan darat. Jika tidak,melalui jalan laut dengan speedboat dari Lampulo sampai Calang selama dua jam baru kemudian dilanjutkan jalan darat dari Calang ke Teunom selama satu jam.
Baru lima belas menit beranjak dari Banda Aceh, kami sudah melewati pantai LhokNga setelah itu sepanjang jalan terlihat pantai yang bersih dan indah dengan background langit yang biru bersih. Selanjutnya jalan mulai semi off road dan sinyal HP mulai lenyap. Jalan batu-batu perkerasan yang belum diaspal ini merupakan jalan alternatif yang belum selesai dibangun setelah jalan asli putus akibat Tsunami.
Disepanjang jalan tampak rumah-rumah bantuan yang baru dibangun berbagai NGO. Driver kami menawarkan untuk berhenti jika ingin foto-foto. Tapi saya tidak membawa kamera, dan teman-teman yang lain sudah pernah foto-foto.
Sehingga kami tidak singgah, hanya kadang berjalan pelan, jika ingin ambil foto dari mobil dengan kamera poket.
Jam sebelas kami tiba di Lamno, Kecamatan yang cukup besar dalam jalur kami. Sampai sini langit mendung dan sedikit gerimis. Karena kami tidak prepare hujan,kami mampir di pasar, membeli terpal plastik untuk menutupi barang bawaan di bak belakang pickup, sekaligus makan siang, karena perjalanan masih jauh dan persinggahan selanjutnya adalah Calang, yang masih membutuhkan waktu tempuh 3 jam lagi.
Sekitar jam 11.40, kami melanjutkan perjalanan. Ternyata mendung lewat, berganti panas yang terik. Saya sempat tertidur sekitar sepuluh menit, karena panas diluar terasa menembus kaca mobil.Perjalanan masih melewati pantai dan off road berselang-seling. Sesekali ketika menikung cukup terlihat jalur jalan yang putus. Bongkahan-bongkahan bagian jembatan baja dari profil besar-besar tampak masih tersisa, menunjukkan kedahsyatan Tsunami. Begitu juga ruas jalan aspal yang sudah tersapu agak ketengah dari pantai, sudah seperti lembaran kertas yang tercelup di air.
Mendekati Calang mulai menemukan jalan aspal kembali. Jalan dengan sisi kiri bukit dan sebelah kanan pantai yang indah.Kami singgah di warung pinggir untuk melepas dahaga sambil menikmati keindahan alam. Setelah itu melanjutkan perjalanan yang tidak jauh lagi menuju Calang. Menyaksikan keindahan alam sepanjang jalan, saya membayangkan Aceh adalah surga untuk para wisatawan. Namun konflik yang berkepanjangan di Aceh, membuat tidak ada pengelolaan tempat wisata disepanjang jalur ini.
Mulai memasuki Calang, terlihat keramaian penduduk dalam rumah-rumah bantuan. Di Calang sinyal HP muncul kembali. Sempat memanfaatkan untuk SMS.
Namun selepas Calang, sinyal hilang lagi. Sepanjang jalan Calang menuju Teunom, kiri-kanan lebih banyak terlihat alang-alang, kebun-kebun dan sesekali terlihat bangunan beton yang sudah meliuk-liuk.
Akhirnya sekitar jam 16.00 tiba di Teunom. Perjalang Banda Aceh Calang dengan mobil-mobil Ranger membutuhkan waktu paling cepat enam jam. Jika menggunakan angkutan umum, satu-satunya yang tersedia saat ini adalah L300 tanpa AC, yang membutuhkan waktu delapan sampai sembilan jam dengan tarif 100rb. Sebelum tsunami, jarak ini dapat ditempuh hanya dengan kurang dari tiga jam. Angkutan umum dengan trayek ini pun beragam dengan tarif hanya 45 ribu.
Welcome to Teunom…
Saya akan seminggu disini, tanpa listrik dan sinyak HP.
* Foto by Tata
____________________________________________________________________________
Teunom 06.07.2006
July 10th, 2006 at 4:30 am
gambar yang kedua indah banget, Yas….
wuah seems like u enjoy to work there yaaakkk
July 11th, 2006 at 1:23 am
itu motretnya dari mobil, sambil jalan…
Sepanjang jalan kayak gitu tuh Noek… asik kan ?
Sebenernya pengen banget turun, jalan santai sambil nikmatin pemandangan…
tapi nggak enak Noek, jam kerja bo!
sometime deh kalo libur naek angkutan umum… ^-^
January 17th, 2007 at 9:27 pm
Diyas, Aku dulu tahun 1980-an pernah ke Banda Aceh, sayangnya belum sempat ke tempat Fatahillah, Pasai, apalagi Sabang dengan alam lautnya yang begitu amazing, indah tak terucapkan. Aku sdh pernah ke Sulawesi Tenggara, juga Flores Timur (pulau Solor) dan Kep. Riau. Sekali lagi belum ke Sabang, wah-wah-wah! Salam, RA.