Nyebrang ke Sabang
August 26, 2006
Siapa yang tidak mengenal kota Sabang?. Sejak SDkita sudah hafal lagu wajib “Dari Sabang sampai Merauke” yang menunjukkan kota paling Barat dan paling timur di Indonesia. Belum lama ini, oleh sebuah iklan mie instant, syair tersebut ditambahkan “Dari Timor sampai ke Talaud”, yg menunjukkan daerah paling selatan dan paling utara di Indonesia.
Sayangnya belum banyak orang yang mengenal kota Sabang lebih jauh dari mengenal lagu Dari Sabang Sampai Merauke. Sabang merupakan salah satu obyek wisata di Indonesia. Terletak di P.Weh, pulau paling barat diwilayah NKRI. Konflik yang berkepanjangan di wilayah NAD membuat tempat wisata disana kurang banyak dikunjungi dibanding misalnya Danau Toba dan Brastagi di Sumatra Utara.
Setelah Tsunami, wilayah NAD mulai aman dari konflik bersenjata. Kehadiran NGO dan tim bantuan membuat NAD lebih terbuka dan ramai dikunjungi. Setelah dua bulan tinggal di Aceh, saya pun tidak mau melepaskan kesempatan mengunjungi tempat ini.
Dari Banda Aceh menuju Sabang dapat ditempuh dengan Kapal Ferry maupun kapal nelayan sewaan. Ferry besar yang menampung mobil berangkat dari pelabuhan Malahayati, di Krueng Raya, dengan waktu tempuh selama dua jam hingga pelabuhan Balohan di Sabang.Sedangkan Ferry cepat yang hanya mengangkut orang berangkat dari pelabuhan Ulee lheu dengah waktu tempuh satu jam hingga tiba di pelabuhan yang sama..
Dengan waktu tempuh yang dua kali lipat, Ferry besar memberikan tarif yang sangat ekonomis, yaitu 12 ribu rupiah, sedangkan Ferry cepat, harga tiket yang paling murah 60 rb, kelas bisnis 70 rb dan kelas eksekutif 100 rb. Sayangnya pemberangkatan Ferry besar hanya satu kali sehari, pada jam 14.00 siang dari Malahayati.dan jam 07.00 pagi dari Balohan. Sedangkan Ferry cepat dua kali sehari dari Banda Aceh maupun dari Sabang, yaitu pukul 09.30 dan 16.00. Oleh karena itulah dengan harga tiket yang lima kali lipatnya, banyak orang yang tetap memilih naik Ferry cepat, jadwalnya cukup untuk bepergian selama dua hari.
Selama program rekonstruksi, sabtu-minggu banyak sekali wisatawan asing yang berkunjung ke Sabang. Sabtu pagi, 22 Juli lalu, saya bersama beberapa teman dari Oxfam dan seorang teman dari UN Habitat berangkat ke Sabang. Kapal Ferry Pulo Rondo yang kami naiki, penuh dengan penumpang yang lebih dari setengah adalah warga negara asing, dan sekitar sembilan puluh persen penumpang adalah pekerja NGO yang ingin berlibur. Sambil menunggu pemberangkatan, saya sempat berkenalan dengan seorang perempuan muda, warga negara perancis yang bekerja di salah satu NGO Perancis, sudah hampir satu tahun di Aceh dan proyeknya akan selesai bulan Juli ini. Perjalanan ke Sabang kali ini merupakan perjalanan kesekian. Tidak hanya dirinya, banyak diantara penumpang kapal yang pergi kesekian kalinya. Sabang sepertinya merupakan tempat liburan yang terdekat dan menarik.
Sampai di Balohan jam menunjukkan pukul 10.30. Dari Balohan, sudah menanti minibus-minibus sewaan. Sayangnya disini memang kita tidak mempunyai pilihan kendaraan sewaan yang bagus. Kendaraan sewaan yang ada rata-rata adalah L300 dan kijang lama dengan kondisi yang sudah doyok. Tarif nya juga kurang bersahabat, 50 ribu sekali jalan dari pelabuhan ke salah satu tempat wisata. Setelah gagal menawar tariff, kami akhirnya naik salah satu L 300 yang kondisinya better. Berjubel dengan rombongan lain, yang sama-sama ingin ke Pantai Iboih.
Perjalanan melewati jalan aspal menanjak yang cukup bagus dengan median jalur hijau yang dibatasi kanstin – tampak baru dibangun oleh BRR Aceh – Nias. Sekitar lima belas menit kemudian mulai tampak laut biru yang cerah. Selanjutnya jalan aspal agak berbatu berkelok-kelok dengan pemandangan laut disebelahnya. Ketika melalui kelokan dengan view yang sangat bagus, kita meminta supir berhenti sebentar untuk mengambil foto.
Setelah berfoto ria, kami melanjutkan perjalanan, sekitar tiga puluh menit kemudian kami sampai di pantai Gapang. Resort-resort yang cukup terawat tampak di pinggir pantai. Tarif cootage ini sekitar 300 ribu/malam untuk cottage dengan satu kamar. Mobil sewaan kami berhenti disini menurunkan beberapa penumpang, sambil menunggu penumpang lain yang ingin ke toilet.
Saya melihat-lihat keindahan pantai Gapang dari bangunan panggung yang merupakan tempat reservasi dan ruang pertemuan cottage tersebut. Tidak lama kemudian kami melanjutkan perjalanan. Sekitar lima belas menit kemudian kami sampai di Pantai Iboih. Hamparan pasir putih dan laut yang bening dengan ombak yang tenang membentang di depan mata.
Tidak seperti tempat wisata pantai di Jawa yang ramai dengan penginapan dan para pedagang. Pantai disini sepi, hanya beberapa rumah yang membuka warung. Di gerbang masuk, ada wanita muda yang menarik retribusi tempat wisata. Menurutnya kebetulan tiketnya sedang habis, jadi kami tidak melihat tiket masuk tersebut.
Dari gerbang, jalan menanjak dan menurun melalui jalan setapak plesteran yang berundak-undak ditutupi rimbun pohon yang berada sekitar sepuluh meter diatas laut. Di sebelah kiri jalan tampak berpencar-pencar bangunan penginapan dari kayu. Di sebelah kiri tampak pantulan sinar matahari dari air laut memancar melalui sela-sela daun Sekitar limaratus meter kemudian barulah kami sampai di pantai landai yang cukup ramai.
Beberapa wisatawan asing ada yang berjemur, ada yang berendam di laut dan beberpa lagi ramai mengunjungi stand Rubiah Diving.
Di Iboih tidak ada penginapan yang cukup permanen. Penginapan hanya berupa bangunan dari papan dengan fasilitas seadanya seperti kasur kapuk yang sudah tipis lengkap dengan kelambunya, buatan para penduduk, disewakan dengan tarif sekitar 60 – 80 rb rupiah permalam. Kamar mandi tertutup hanya ada satu di WC umum, itupun tidak boleh digunakan untuk mandi, hanya untuk buang air. Jika ingin mandi, dipersilakan menggunakan “sumur” , yang merupakan dinding tembok tanpa pintu. Airnya harus ditimba dari sumur yang cukup dalam.
Siang itu, setelah menyewa kamar, kami menaruh barang-barang, kemudian makan siang, memesan nasi goreng dari salah satu warung. Setelah makan kami melihat sekumpulan anak muda sedang mencetak adukan semen dalam kotak kayu panjang. Kami menghampiri dan bertanya. Ternyata mereka adalah mahasiswa dari PTN di Jawa yang sedang KKN disini membuat terumbu karang.
Proyek tersebut dikelola oleh Pak Doden, salah satu sesepuh Iboih yang pernah mendapatkan penghargaan atas perhatiannya terhadap terumbu karang di teluk sabang ini. Selain itu, Pak Doden juga merupakan maestro diving, dialah pengelola Rubiah Diving, sekolah menyelam dengan standar internasional. Kami sempat menemui Pak Doden, bercerita seputar pelestarian terumbu karang dan kegiatan diving. Setelah puas bertanya, kami melanjutkan acara dengan snorkeling.
Untuk menuju tempat snorkeling kami, menyewa perahu dengan harga 200rb dan alat-alat snorkeling masing-masing 15rb untuk kaki bebek, pelampung dan masker. Perahu berjalan menuju Pulau Rubiah, pulau kecil yang didalamnya terdapat makam Rubiah, salah satu leluhur yang merupakan wali yang disegani di Sabang,
Kami snorkeling melihat taman laut teluk Sabang yang bening dan cantik. Terumbu karang disini tidak terlalu unik, tetapi ikan-ikannya sangat cantik, beraneka ragam dan berwarna-warni. Ombaknya sangat tenang, sehingga tidak terlalu khawatir terbawa arus. Namun bagaimanapun harus selalu waspada, jika keasikan berenang, begitu bangun sudah berada jauh ketengah laut. Disini tidak ada petugas jaga, jadi wisatawan harus menajaga diri sendiri. Saya teringat ketika snorkeling di Tanjung Lesung dua tahun lalu dengan tarif sekitar 90rb perorang yang waktunya dibatasin selama satu jam. Disini, tidak dibatasi waktu, sepuas-puasnya.
Sekitar jam 17.00, kami diantar si abang perahu ke tempat yang terdapat mata air panas. Mengitari pulau, sapailah di pantai bagian lain yang banyak pohon bakaunya. Tidak jauh dari pantai terdapat sumur air hangat. Kami mengguyur badan dengan air sumur itu untuk menghilangkan lengket air laut. Segar sekali rasanya. Anehnya, air laut disekitar pantai itu juga terasa hangat. Menurut si abang perahu, konon karena dibawah laut disekitar daerah itu terdapat gunung berapi.
Setelah puas berguyur ria, kami kembali kepenginapan, sekitar jam 18.30 kami sampai, matahari mulai siap tenggelam. Kami beres-beres, kemudian mencari makan malam. Karena malas berjalan jauh, makan malam di Kafe Chill Out, ruko kecil yang terletak disebelah stand rubiah diving. Malam itu Chill Out ramai sekali. Memesan Indomie rebus dan the manis hangat harus menunggu hampir satu jam. Sayangnya pelayanan di kafe ini kurang bersahabat karena pemilik kafe kurang prepare perlengkapan memasak serta lebih mendahulukan warga asing.
Sekitar jam 22.00 kami kembali ke kamar untuk istirahat. Dalam kamar dari papan kami pun seba salah, jika pintu ditutup terasa panas, tetapi jika dibuka nyamuknya sangat banyak.
Esok harinya beberapa teman meneruskan acara berenang di laut. Saya hanya berjalan-jalan berkeliling menyusuri pantai. Kami sarapan dikios dekat gerbang sambil membicarakan rencana ke Kilometer Nol.
Dari Iboih ke Kilometer Nol, harus menyewa mobil lagi seharga 150 ribu. Sekitar pukul 10.30 kami berangkat ke Kilometer Nol. Pemandangan sepanjang jalan kesana tidak banyak berbeda dengan pemandangan dari Balohan ke Iboih. Sekitar dua puluh menit kami sampai disana.
Saya tadinya berpikir di Kilometer Nol ada tempat wisata yang terdapat orang-orang yang datang maupun berjualan. Ternyata saat itu hanya kami satu mobil yand datang. Tempatnya hanya berupa jalan diatas bukit yang bawahnya langsung laut, disekitarnya terdapat tugu kilometer nol yang merupakan tanda dimulainya perhitungan jarak di Indonesia. Darah ini merupakan titik paling barat wilayah NKRI. Disamping kita, sejauh mata memandang, terhampar lautan luas, biru agak pekat, dengan ombak yang berdebur.. Saya tertegun melihat keindahan alam disini.
Tidak puas memandang Samudra Hindia dari atas, kami turun ke laut, menuruni lereng setinggi kurang lebih 15 m dengan kemiringan sekitar 80 derajat. Berpegangan dan berpijak pada akar-akar pohon dan batu, akhirnya sampai juga dibatu karang-batu karang besar. Menyaksikan keindahan lautan luas dari dekat, dekat sekali.
Setelah puas memandang dan memotret, kami naik , balik ke mobil dan kembali ke Pantai Iboih. Sampai di Iboih sekitar jam 13.30, kemudian berisap-siap untuk pulang. Sekitar jam 14,00 kami berngkat pulang, dengan mobil sewaan yang sudah siap mengantar kembali ke pelabuhan Balohan dengan rute melaui pusat kota Sabang, rute yang berbeda dengan perjalanan berangkat.
Saya letih sekali dalam perjalanan pulang ini, panas yang menyengat membuat kantuk semakin menjadi-jadi. Dalam keadaan setengah sadar dan tidur, sempat melihat keadaan kota Sabang, namun tidak sempat melihat mobil-mobil mewah yang katanya banyak bersliweran didaerah dengan pelabuhan bebas ini.
Sebenarnya masih banyak tempat lain di Sabang yang menarik untuk dikunjungi, ytu air terjun, gua alam dan benteng Belanda. Namun keterbatasan waktu dan transportasi umum yang kurang fleksibel membuat ber-backpacker menjadi terbatas. Untuk next trip mungkin lebih baik membawa kendaraan sendiri, naik Ferry besar dan lebih dari dua hari .
Sekitar jam 15.00 kami tiba di pelabuhan Balohan. Mengambil tiket Ferry yang sudah dipesan, kemudian nongkrong di warung mie untuk makan siang. Tampak para calon penumpang menghampiri pedagang makanan khas Sabang – Bakpia dan Dodol Sabang – yang bersliweran disekitar pelabuhan. Jam 15.30 kami masuk ke Ferry. Jam 15.45 Ferry berangkat.
Goodbye Sabang…, I’ll come back, sometime… somehow…
Mata sudah sangat berat ketika tiba di Ulee lheu jam 16.45. Untungnya ditawari pulang bareng mobil jemputan Oxfam. Thanks untuk teman-teman Oxfam. (dys)
____________________________________________________________________________________ BRC gh # 9, Neusu, Banda Aceh – 31 Juli 2006.





June 26th, 2007 at 12:40 am
whuaaa,,pengen bangedd ke sabang lagi bis tsunami,teakir pegi dah jaman kapan yakz,,
pokoknya ceritanya chippz,,
February 8th, 2008 at 4:15 am
memang masih banyak wisata pantai yang butuh publikasi agar menarik minat para wisatawan asing untuk datang
February 6th, 2009 at 3:32 am
memang sabang merupakan salah tempat kunjungan wisata bahari yang sangat menarik. tetapi masih banyak tempat-tempat yang kurang dapat perhatian dari pemerintah setempat.
March 7th, 2009 at 6:36 am
Asslamualaikum wr wb..
perkenalkan, saya putra org asli sabang…
trima kasih sudah datang, ke kampung halaman saya serta membuat serita indah d atas…
sekarang saya kul d salah satu univ jakarta..
doakan agar sabang tetap menjadi pulau yang indah..
trima kasih..
March 9th, 2009 at 4:10 am
Terima kasih telah mampir di Blog saya
Bersyukur mempunyai kampung halaman yang indah.
Semoga keindahan tersebut tetap lestari.
Doakan jg saya bisa berkunjung lagi ke Sabang..
August 11th, 2009 at 11:56 pm
asyik benar ceritanya… membuat saya serasa sudah berada disana… sebab rencananya minggu ini saya akan berlibur dengan keluarga ke sabang.. salam
August 18th, 2009 at 7:52 am
Selamat berlibur bung Mahadi
Jangan sampai terlewatkan sedikitpun keindahan Sabang…
ngomong-ngomong berangkat darimana ?