Ramadhan 2006

October 24, 2006

Safari Malam Calang - Banda Aceh

        Tepat empat minggu saya melewati Ramadhan di Aceh, dua minggu di Banda Aceh dan dua minggu di Teunom. Ramadhan kali ini cukup berkesan karena pertama kali merasakan Ramadhan di Banda Aceh dan cukup banyak kejadian yang penuh petualangan maupun kejadian yang menguji iman.

        Hari keempat puasa, saya berangkat ke Teunom. Untunglah cuaca hujan, sehingga perjalanan tidak terlalu melelahkan. Hampir sepanjang perjalanan saya dan teman-teman seperjalanan tidur. Perjalanan pulang ke Banda Aceh lima hari kemudian cuaca juga tidak jauh berbeda, mendung dan sedikit hujan, tetapi saya agak mabok, entah karena kondisi badan, tapi saya merasa karena driver membawa kendaraan kurang smooth. Sempat khawatir jatuh sakit, karena teman sekantor lima orang terkena typus pada waktu yang hampir berbarengan. Untungnya setelah itu istirahat dua hari, segar kembali.

        Memasuki minggu ketiga, saya harus ke Teunom lagi. Cuaca kali ini cukup panas. Tetapi alhamdulillah tidak menghambat puasa. Berencana kembali ke Banda Aceh hari jumat gagal, karena mobil sudah penuh. Mendekati liburan lebaran, manifest kendaraan cukup padat. Saya masuk jadwal pulang ke Banda Aceh hari senin, dengan demikian harus melewati weekend di Teunom.

           Karena kantor di Teunom baru pindahan, jaringan internet sudah semenjak awal puasa mati. Lima hari di Teunom sudah terasa membosankan tanpa internet. Alat penghubung satu-satunya di daerah tanpa sinyal telepon ini. Akhirnya karena perlu bertelpon ria, saya memutuskan untuk pulang ke Banda Aceh sabtu pagi dengan angkutan umum L300.

          Jumat malam tiba-tiba saya diajak pulang oleh dua orang teman kantor yang juga akan ke Banda Aceh. Malam itu kami bertiga pulang dengan mobil carteran sampai Calang. Dari Calang naik L 300. Mobil baru jalan pukul 21.30. Bagi saya ini pertama perjalanan jauh di Aceh dengan L300. Full adventure karena perjalanan pertama malam hari dengan medan yang cukup berat. Mobil red cross tidak mengijinkan jalan diatas jam 16.00.

          Mencoba menikmati perjalanan biarpun dalam hal kenyamanan jauh dibanding naik Land Cruiser. Tanpa AC dan bau rokok, saya buka jendela lebar-lebar, membuat masuk angin dan muka jadi putih berbedak debu yang super duper tebal.

          Yang seru adalah, sebelum memasuki Lamno, ada jalan yang jeblos karena hujan minggu sebelumnya. L300 lebih banyak yang mengambil jalur potong jalan sekaligus menghindari jalan jeblos itu dengan menyebrangi sungai.

          Saya lihat pukul 01.30, ketika mobil sampai di penyeberangan rakit. beberapa penumpang turun dari mobil. Saya sebenarnya ingin turun, berdiri diatas rakit, sambil menikmati temaram bayangan bulan dan beberapa lampu dalam riak-riak kecil air sungai yang lebar. tapi badan rasanya sudah pegal-pegal. Saya hanya menikmati pemandangan dari jendela mobil, sambil berdoa semoga selamat sampai ke seberang.

          Selepas Lamno, barulah saya bisa tertidur. Untungnya musik yang disetel supir juga masih cukup bersahabat, kumpulan lagu-lagu Panbers. Saya tidak bisa membayangkan kalo supir nyetel lagu dangdut, mungkin saya bakal begadang.

          Tepat pukul 04.30, akhirnya sampai di terminal Setui Banda Aceh. Supir menyuruh penumpang untuk sahur dulu di terminal sebelum melanjutkan perjalanan mengantar satu persatu penumpang ke rumah. Tetapi karena masuk angin, saya lanjut naik becak motor, sahur di rumah.

Mantap sekali perjalanan malam itu.

Kicau Burung diantara doa-doa

          Sejak memasuki Ramadhan saya ingin sekali merasakan Tarawih di mesjid raya Baiturrahman. Akhirnya baru kesampaian setelah minggu kedua. Berdua dengan teman satu guesthouse, kami naik becak motor ke Baiturrahman.

          Selepas minggu kedua, Baiturrahman sudah tidak terlalu penuh. Tidak seperti mesjid-mesjid di Jakarta yang melakukan sholat Tarawih 8 rakaat + Witir 3 rakaat atau Tarawih 20 rakaat + Witir 3 rakaat pada mesjid yang berbeda. Mesjid-mesjid di Aceh hampir rata-rata menyelenggarakan 23 rakaat. Di Mesjid Baiturraham, setelah sholat Isya lanjut ceramah lanjut Tarawih 8 rakaat lanjut witir 3 rakaat, lanjut lagi Tarawih 12 rakaat dan witir 3 rakaat dengan imam yang berbeda.

          Mesjid Baiturrahman pada malam hari tampak klasik sekali. Pada fasade depan atas, dimana terletak jam dinding, banyak burung gereja yang hinggap dan beterbangan, diterangi lampu sorot. Pemandangan ini seperti pemandang gedung-gedung tua di Eropa.

Baiturrahman_1           Ketika sholat, ditengah-tengah imam membacakan doa-doa sholat, terdengar kicauan burung-burung gereja. Suasana begitu syahdu jika mengingat tegarnya mesjid ini diterjang gempa dan tsunami yang dahsyat hampir dua tahun lalu. Dilangit-langit mesjid banyak juga burung yang hinggap. Sesekali bulu nya yang mungil jatuh. Namun dari sekian banyak burung yang beterbangan di dalam mesjid, tidak ada sekalipun yang membuang kotoran di dalam mesjid. Wallahualam bis shawab.

          Pada malam Nuzulul Quran, Bapak Menpora datang ke Baiturrahman untuk menjadi imam sekaligus khatib. Diakhir khutbah, beliau memimpin doa dan renungan yang begitu khusyuk sehingga membuat hanyut jemaah.

__________________________________________________________________________

Banda Aceh - Jakarta , Oktober 2006                                                         Photo by Diyas

Leave a Reply