Si Gareng yang kehilangan Habitat
February 15, 2007
Sudah tiga minggu ini, saya tinggal di camp pekerja di Teunom. Camp ini baru jadi, dahulunya merupakan kebun kelapa dan rawa .
Pertama kali menempati bedeng - standar camp di rural site - saya sudah siap dengan lotion anti serangga, maupun obat nyamuk semprot. Kelambu sudah disediakan, tetapi saya simpan, karena saya tidak suka pakai kelambu. Yang diantisipasi nyamuk, ternyata yang datang adalah saudara-saudaranya.
Di dalam rumah berkeliaran serangga-serangga yang saya kurang familiar.
Orang ‘kota’ mungkin agak asing dengan serangga-serangga ini, tetapi orang yang tinggal di lingkungan yang sekitarnya masih terdapat sawah dan kebun kemungkinan tau.
Untungnya bukan serangga-serangga yang menjijikkan semacam Lalat, Kecoa ataupun yang berbentuk Uget-Uget. Tetapi rata-rata serangga yang mirip Belalang, Jangkrik, Rengit dan Laron. Serangga-serangga ini tidak terlalu mengganggu, paling-paling membuat ngeres lantai sehingga harus sering-sering disapu.
Belakangan ada salah satu serangga yang menjadi tenar di rumah. Bentuk dan ukurannya sekilas mirip Kecoa, Warnanya hijau terang, seperti belalang dan kebanyakan serangga sawah lainnya. Serangga ini disebut Gareng, entah dimana miripnya dengan Gareng temannya Petruk, tetapi seingat saya di Jawa juga sebutannya seperti itu.
si Gareng senang beterbangan mendekati cahaya lampu, persis kelakukan Laron. Dia tidak menyerang manusia, namun cukup mengganggu, pertama binatang sekecil ini mempunyai suara sekenceng mesin Grinda.
Pertama kali ngeh kecemprengan si Gareng ini, ketika sedang ngutak-ngutik laptop waktu tengah malem yang sunyi senyap, tiba-tiba terdengar suara mesin Grinda. Bikin kaget dan horor, saya mikir-mikir apakah tengah malem ada tukang yang sedang motong keramik ?. Sambil bergidik, saya panggil-panggil teman yang sudah tidur. Untunglah dia sudah kenal kelakukannya si Gareng. Ditunjukilah si Gareng yang sedang ‘bekicau’ nemplok di lubang angin. Kita semprot Baygon sampe dia basah kuyup, tapi nggak ngaruh alias nggak mempan.
Kelakuan aneh lainnya si Gareng adalah terbang sambil menubruk-nubruk dinding. Yang mengherankan bunyi tubrukan gareng ini ke dinding partisi kayu -
dinding bedeng rumah kami - cukup keras, tadinya saya kira ada orang yang menimpuk bedeng dengan batu, atau ada buah jatuh di atap.
Belakangan ini semakin banyak Gareng yang berkeliaran masuk ke rumah, membuat kehebohan karena dia suka menubruk kita. Tidak menggigit tapi mengagetkan. Salah satu teman ada yang diincer terus oleh si Gareng, sehingga jika si Gareng masuk dia teriak-teriak sambil buru-buru mematikan lampu.
Saya cukup takjub dengan kelakukan si Gareng, penasaran kenapa suaranya bisa sekenceng mesin grinda. Ingin cari tahu tentang si Gareng, tapi tidak tau nama aslinya serangga ini, terlebih lagi nama biologinya. Kemarin sudah nanya-nanya ke teman, tapi dijawab asal, katanya nama biologinya : Droshophilla Garengese.
Saya kasihan dengan si Gareng dan teman-temannya. Mereka rupanya kehilangan habitat. Mereka masih mencari alang-alangnya yang sudah hilang berganti menjadi bedeng-bedeng yang asing.
Bagi teman-teman yang tau nama biologinya serangga ini (lihat foto) tolong diinfoin ya…
_______________________________________________________________________
Teunom - Aceh Jaya NAD. 16.02.2007
Telepati ke Jakarta
February 5, 2007
Sejak hari rabu 31 Januari 2007 kemarin, status YM temen-temen chatting di Jakarta tentang Jakarta hujan lebat.
Lalu kami chating tentang Jakarta yang mulai dan akan banjir. Keesokannya hari kamis. Teman mulai cerita tentang kemacetan lalu lintas menuju tempat kerja akibat genangan di beberapa ruas jalan.
Ternyata hari itu, Jakarta mulai banjir parah. Seorang teman lain, mengirim email yang berisi foto-foto update genangan air di wilayah Thamrin.
Kamis malam saya berniat telp. rumah untuk menanyakan keadaan. Sayangnya kamis malam jumat itu sinyal telepon disini menghilang sampai jumat pagi, dan hari jumat itu banjir di Jakarta semakin parah.
Jumat siang saya baca berita di internet, bahwa STO Jakarta
yang berada di Semanggi mati karena banjir. Jadi koneksi telkom dialihkan ke STO Gambir. Dipastikan jalur akan sangat sibuk dan berebut dalam keadaan ini.
Jumat malamnya saya mencoba telp. rumah, sinyal disini normal
tetapi justru telpon Jakarta yang tidak bisa dihubungi. Saya coba menelepon teman-teman Jakarta dengan berbagai nomor dari operator yang berbeda, tidak ada yang bisa dihubungi satu pun. SMS yang terkirim pun tidak jelas statusnya karena tidak ada balasan. Rupanya jalur telekomunikasi ke dan dari Jakarta lumpuh total.
Sabtu jam 4.30 barulah saya mendapatkan balasan SMS, mungkin menandakan jaringan berangsur normal. Sabtu pagi saya mencoba kembali menelepon rumah, ternyata masih tidak bisa. Baru jam 09. pagi saya berhasil menghubungi no. simpati Jakarta.
Sampai Sabtu malam telepon rumah tidak dapat dihubungi. Sampai Minggu dini hari jaringan kembali error. Tidak ada satu nomor pun orang Jakarta yang bisa dihubungi.
Waktunya mengeluarkan jurus telepati…
___________________________________________________________________
Teunom - Aceh Jaya NAD 04.02.2007