Kalatidha

March 20, 2007

Kalatidha_009_2 Judul : Kalatidha

Jenis : Novel Sastra

Penulis : Seno Gumira Ajidarma

Penerbit : Gramedia

Cetakan pertama, Januari 2007

viii+234 hal, ISBN-10 :979 -22 -2503 - x

_______________________________________________________________________

Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Milu edan nora tahan
Yen tan milu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada

mengalami jaman ‘gila’
hati gelap kacau pikiran
mau ikut gila tak tahan
jika tidak ikut tidak kebagian
akhirnya kelaparan
sebenarnyalah kehendak Tuhan
seuntung-untungnya yang lupa (‘gila’)
lebih untung yang ingat dan waspada (sadar dan tidak ikut ‘gila’)


Serat Kalatidha (Zaman Rusak) bait ke -7
Ronggowarsito (1802 -1873)

          Buku ini bukanlah berisi syair Kalatidha - karya pujangga besar Jawa abad 18, ROnggowarsito - beserta terjemahannya. Tetapi merupakan novel terbaru pujangga masa kini Seno Gumira Ajidarma. Setelah me-novel-kan kisah Ramayana dalam Kitab Omong Kosong, Seno seperti tidak berhenti me-novel-kan karya-karya klasik lainnya.

          Masih dengan imajinasinya yang kuat dan bahasa sastranya yang khas, Kalatidha – Zaman rusak atau Zaman gila menceritakan kegilaan jaman seperti yang ditulis oleh Ronggowarsito yang terjadi satu abad kemudian. Mengambil isu ‘kegilaan’ kejadian politik tahun 1965. Seno melukiskan sebuah kegilaan zaman masa itu dengan membuat tokoh utama orang gila ; perempuan gila dan Joni gila. Si Perempuan gila - yang merupakan korban kejahatan komunal huru-hara politik tahun 1965 – jasadnya gentayangan mendatangi satu-persatu orang-orang yang terlibat pembakaran rumah dan  pembunuhan keluarganya.

          Si Joni gila – pembobol bank yang masuk penjara orang-orang gila. Kolaburasi dua tokoh gila dalam penjara orang-orang gila diceritakan dengan gaya cerita silat dan komedi namun terselip juga  gaya cerita yang mengharukan dan menyentuh. Dengan gaya cerita apapun – seperti novel-novel Seno sebelumnya – selalu memuat pesan serius tentang permasalahan bangsa ini. _____________________________________________________________________________________ Teunom, Aceh Jaya NAD - 01.03.2007

          Sabtu lalu, saya menghadiri resepsi pernikahan teman yang dilangsungkan di Istora Senayan. Lepas dari bunderan senayan, memasuki jalur lambat, lalu lintas cukup padat. Waktu menunjukkan hampir pukul 18.00, ketika membelok memasuki gerbang utama Gelora Bung Karno (samping Sudirman Place).

          Pada jalur sebaliknya (arah keluar gerbang) terlihat antrian mobil yang hampir tidak bergerak. Yang saya tau, acara yang sedang digelar di kompleks Senayan adalah Islamic Book Fair dan Pameran perangkat digital.Ternyata  ada acara lain juga, yaitu konser musik

          Ketika melewati pintu Put-Put Golf, saya lihat mobil tidak boleh masuk, akhirnya saya terus, pintu selanjutnya (dekat mesjid) juga terlihat sama, pintu selanjutnya ( tennis indoor) terlihat terbuka, tapi tidak jelas bisa masuk atau tidak. Akhirnya saya terus dan memutar depan gedung Menpora. Setelah memutar terlihat satpam yang sedang sibuk berwalki talki, saya meminta teman yang duduk disebelah untuk menanyakan pintu mana yang dibuka untuk menuju Istora. Si Satpam dengan pede-nya bilang bahwa ke Istora, masuk lewat pintu put-put Golf. Saya lanjut, karena tidak yakin pintu put-put golf dibuka, saya masuk pintu tennis indoor, lalu bertanya jalan menuju Istora, si Satpam bilang, tidak bisa lewat situ, tetapi masuk lewat Put-Put Golf.

          Setelah keluar lagi, dan merayap sampai pintu Put-Put Golf, benar saja, pintu itu tidak dibuka. Saya menanyakan lagi kepada Satpam dengan sedikit sewot karena Satpam sebelumnya mengatakan pintu disitu dibuka. Parahnya Satpam ini juga kebingungan karena hampir semua mobil menanyakan pintu mana yang dibuka dan Satpam-satpam tidak bisa menjawabnya.

          Jurus terakhir adalah menanyakan kepada teman yang sudah sampai di Istora. Ternyata yang dibuka hanya pintu di depan TVRI. Terpaksa harus merayap lagi sambil gelisah membayangkan pintu depan TVRI yang masih jauh. Mengherankan sekali, Satpam tempat seperti Gelora Bung Karno, disaat acara padat seperti ini tidak terkoordinasi dengan baik. Padahal mereka membawa walki talki.

          Sampai pintu depan TVRI sudah jam 19.30 !. Mau masuk senayan saja perlu waktu satu setengah jam. Melelahkan. Melewati JCC, terlihat parkiran crowded. Setelah belok kanan ke arah Istora, terlihat mobil-mobil parkir di sekitar pintu masuk stadion. Saya pikir parkiran Istora penuh, saya mencari parkir disekitar pintu stadion itu. Saya pikir tidak apa-apa jalan sedikit. Kami bergegas turun, karena sudah telat. Tiba-tiba tukang parkir ‘tidak resmi’ menghampiri dan menyuruh membayar parkir di awal. Saya terheran, saya bilang, nanti saja. Eh dia ngotot minta bayar diawal. Akhirnya saya beri 3000 rupiah. Eh dia ngotot minta 5000. saya bilang nanti lagi.

          Sambil bergegas jalan saya menggerutu, tukang parkir tambah bikin reseh saja. Setelah jalan beberapa langkah, teman menganjurkan untuk memindahkan parkir saja, berusaha mencari parkir disekitar gedung Istora. Mengingat tukang parkir yang kurang bersahabat itu, kita kembali lagi ke mobil dan memindahkan parkir,masuk ke Istora. Untungnya ternyata masih ada tempat. Tukang parkir kali ini rombongan dan tampangnya lebih menyeramkan. Sama-sama minta bayaran dimuka. Saya kasih 3000 tapi tidak protes. Untunglah.

          Selesai acara, ternyata ada kerusuhan di tempat konser musik. Mobil-mobil yang akan keluar menuju Asia Afrika dialihkan ke Sudirman semua, sampai jam  22.00 antrian mobil tampak merayap meninggalkan kompleks Senayan. Ketika membayar parkir ‘resmi’ di gerbang keluar JCC, saya kembali gemas. Kenapa pengelola parkir tidak lebih professional me-manage ketika banyak pengunjung seperti ini. Tidak tampak petugas parkir resmi didalam kompleks. Yang ada malahan petugas tidak resmi yang membuat tarif sendiri dan tidak memandu dimana tempat yang masih kosong.

________________________________________________________________

Bintara Jaya – Bekasi , 12.03.2007

          Minggu kemarin saya pusing memikirkan proyek di desa kedua yang kami masuki. Site supervisor sedang libur, tapi masyarakat sudah mau ngecor beton. Disini tidak tersedia split/kerikil/batu pecah, jadi adonan beton menggunakan koral - yang disini disebut ‘batu jagung’. Yang membuat khawatir adalah koral yang digunakan tidak diayak dulu.

          Ukuran koral bercampur aduk dari yang kecil-kecil, yang biasa buat nyambit sampai yang sebesar batu ulekan, di-hajar bleh saja untuk campuran beton. Mandor proyek tim kami lapor , bahwa masyarakat tidak mau dibilangi, malah ‘nantangin balik’ dengan bilang "kita sudah sering membangun Pak, kita lebih tau ketimbang bapak". Si mandor, yang kebetulan juga orang baru dari Bogor, tidak berani juga memaksa. Akhirnya jurus terakhir usaha kita, adalah meminta mereka mengurangi porsi koral, dari perbandingan 1 semen, 2 pasir, 3 koral menjadi 2.5 koral.

          Hasil cor betonnya tampak mulus, bekisting (cetakan) beton yang mereka buat memang cukup bagus. Tapi siapa yang tau bahwa koral yang digunakan memiliki gradasi ukuran yang sangat asal.

          Saya sampai mbatin, lebih baik pindah divisi, menjadi perencana murni, urusan pelaksanaan dan pengawasan biarlah menjadi tanggung jawab kontraktor dan konsultan pengawas.

          Tapi saya disini berada dalam divisi program kampanye pembangunan konstruksi yang baik dan benar dengan berbasis masyarakat. Organisasi memberikan dana kepada masyarakat untuk membangun satu bangunan umum desa. Masyarakat diberikan pelatihan teori dan praktek cara membangun. Mereka yang nukang dengan dipandu dan diawasi oleh mandor dan site supervisor dari kita.

           Target program kami adalah supaya masyarakat paham prinsip-prinsip keamanan konstruksi bangunan sederhana untuk daerah rawan gempa, dan dapat melaksanakan pembangunan sesuai pemahaman itu. Tetapi yang namanya Kampanye memang susah-susah gampang. Harapan kita mereka mau mendengarkan dan mengikuti penjelasan kita, yang terjadi malah sebaliknya, kita yang diajari oleh mereka.

          Kapasitas tim kami dalam konstruksi saya rasa cukup berlebih untuk merancang dan membangun bangunan sederhana dengan luasan dibawah 100m2. Tetapi yang perlu dikerahkan lebih banyak di program ini adalah pendekatan kita ke masyarakat supaya perencanaan kita bisa didengarkan, dipahami dan diikuti oleh mereka.

          Di desa ketiga, terasa sekali masyarakatnya lebih ‘penurut’. Mereka memperhatikan sekali penjelasan site supervisor dan melaksanakannya dengan baik. Beberapa hari lalu saya dan tim disain mengembangkan detail pemasangan pengangkuran besi pertemuan balok - kolom - sesuai referensi disain tahan gempa untuk bangunan sederhana - agar mudah dilaksanakan dengan teknologi yang sederhana oleh masyarakat.

          Kemarin saya diskusikan lagi metode pemasangan angkur itu dengan site supervisor. Hari ini saya ke lapangan, angkur-angkur itu sudah dipasang dengan rapi dan dibuat dengan metode yang dapat memudahkan pekerjaan selanjutnya.Stek

          Rasanya membahagiakan sekali, sebagai perencana, ketika bangunannya dibuat secara detail sesuai dengan gambar. Hilanglah stress minggu lalu karena koral  yang tidak diayak. Tinggal berdoa, semoga di desa-desa selanjutnya bisa seperti ini.

_______________________________________________________________

Teunom - Aceh Jaya NAD, 06.03.2007