Habis stress terbitlah senang
March 10, 2007
Minggu kemarin saya pusing memikirkan proyek di desa kedua yang kami masuki. Site supervisor sedang libur, tapi masyarakat sudah mau ngecor beton. Disini tidak tersedia split/kerikil/batu pecah, jadi adonan beton menggunakan koral - yang disini disebut ‘batu jagung’. Yang membuat khawatir adalah koral yang digunakan tidak diayak dulu.
Ukuran koral bercampur aduk dari yang kecil-kecil, yang biasa buat nyambit sampai yang sebesar batu ulekan, di-hajar bleh saja untuk campuran beton. Mandor proyek tim kami lapor , bahwa masyarakat tidak mau dibilangi, malah ‘nantangin balik’ dengan bilang "kita sudah sering membangun Pak, kita lebih tau ketimbang bapak". Si mandor, yang kebetulan juga orang baru dari Bogor, tidak berani juga memaksa. Akhirnya jurus terakhir usaha kita, adalah meminta mereka mengurangi porsi koral, dari perbandingan 1 semen, 2 pasir, 3 koral menjadi 2.5 koral.
Hasil cor betonnya tampak mulus, bekisting (cetakan) beton yang mereka buat memang cukup bagus. Tapi siapa yang tau bahwa koral yang digunakan memiliki gradasi ukuran yang sangat asal.
Saya sampai mbatin, lebih baik pindah divisi, menjadi perencana murni, urusan pelaksanaan dan pengawasan biarlah menjadi tanggung jawab kontraktor dan konsultan pengawas.
Tapi saya disini berada dalam divisi program kampanye pembangunan konstruksi yang baik dan benar dengan berbasis masyarakat. Organisasi memberikan dana kepada masyarakat untuk membangun satu bangunan umum desa. Masyarakat diberikan pelatihan teori dan praktek cara membangun. Mereka yang nukang dengan dipandu dan diawasi oleh mandor dan site supervisor dari kita.
Target program kami adalah supaya masyarakat paham prinsip-prinsip keamanan konstruksi bangunan sederhana untuk daerah rawan gempa, dan dapat melaksanakan pembangunan sesuai pemahaman itu. Tetapi yang namanya Kampanye memang susah-susah gampang. Harapan kita mereka mau mendengarkan dan mengikuti penjelasan kita, yang terjadi malah sebaliknya, kita yang diajari oleh mereka.
Kapasitas tim kami dalam konstruksi saya rasa cukup berlebih untuk merancang dan membangun bangunan sederhana dengan luasan dibawah 100m2. Tetapi yang perlu dikerahkan lebih banyak di program ini adalah pendekatan kita ke masyarakat supaya perencanaan kita bisa didengarkan, dipahami dan diikuti oleh mereka.
Di desa ketiga, terasa sekali masyarakatnya lebih ‘penurut’. Mereka memperhatikan sekali penjelasan site supervisor dan melaksanakannya dengan baik. Beberapa hari lalu saya dan tim disain mengembangkan detail pemasangan pengangkuran besi pertemuan balok - kolom - sesuai referensi disain tahan gempa untuk bangunan sederhana - agar mudah dilaksanakan dengan teknologi yang sederhana oleh masyarakat.
Kemarin saya diskusikan lagi metode pemasangan angkur itu dengan site supervisor. Hari ini saya ke lapangan, angkur-angkur itu sudah dipasang dengan rapi dan dibuat dengan metode yang dapat memudahkan pekerjaan selanjutnya.
Rasanya membahagiakan sekali, sebagai perencana, ketika bangunannya dibuat secara detail sesuai dengan gambar. Hilanglah stress minggu lalu karena koral yang tidak diayak. Tinggal berdoa, semoga di desa-desa selanjutnya bisa seperti ini.
_______________________________________________________________
Teunom - Aceh Jaya NAD, 06.03.2007
Leave a Reply