Sabtu lalu, saya menghadiri resepsi pernikahan teman yang dilangsungkan di Istora Senayan. Lepas dari bunderan senayan, memasuki jalur lambat, lalu lintas cukup padat. Waktu menunjukkan hampir pukul 18.00, ketika membelok memasuki gerbang utama Gelora Bung Karno (samping Sudirman Place).

          Pada jalur sebaliknya (arah keluar gerbang) terlihat antrian mobil yang hampir tidak bergerak. Yang saya tau, acara yang sedang digelar di kompleks Senayan adalah Islamic Book Fair dan Pameran perangkat digital.Ternyata  ada acara lain juga, yaitu konser musik

          Ketika melewati pintu Put-Put Golf, saya lihat mobil tidak boleh masuk, akhirnya saya terus, pintu selanjutnya (dekat mesjid) juga terlihat sama, pintu selanjutnya ( tennis indoor) terlihat terbuka, tapi tidak jelas bisa masuk atau tidak. Akhirnya saya terus dan memutar depan gedung Menpora. Setelah memutar terlihat satpam yang sedang sibuk berwalki talki, saya meminta teman yang duduk disebelah untuk menanyakan pintu mana yang dibuka untuk menuju Istora. Si Satpam dengan pede-nya bilang bahwa ke Istora, masuk lewat pintu put-put Golf. Saya lanjut, karena tidak yakin pintu put-put golf dibuka, saya masuk pintu tennis indoor, lalu bertanya jalan menuju Istora, si Satpam bilang, tidak bisa lewat situ, tetapi masuk lewat Put-Put Golf.

          Setelah keluar lagi, dan merayap sampai pintu Put-Put Golf, benar saja, pintu itu tidak dibuka. Saya menanyakan lagi kepada Satpam dengan sedikit sewot karena Satpam sebelumnya mengatakan pintu disitu dibuka. Parahnya Satpam ini juga kebingungan karena hampir semua mobil menanyakan pintu mana yang dibuka dan Satpam-satpam tidak bisa menjawabnya.

          Jurus terakhir adalah menanyakan kepada teman yang sudah sampai di Istora. Ternyata yang dibuka hanya pintu di depan TVRI. Terpaksa harus merayap lagi sambil gelisah membayangkan pintu depan TVRI yang masih jauh. Mengherankan sekali, Satpam tempat seperti Gelora Bung Karno, disaat acara padat seperti ini tidak terkoordinasi dengan baik. Padahal mereka membawa walki talki.

          Sampai pintu depan TVRI sudah jam 19.30 !. Mau masuk senayan saja perlu waktu satu setengah jam. Melelahkan. Melewati JCC, terlihat parkiran crowded. Setelah belok kanan ke arah Istora, terlihat mobil-mobil parkir di sekitar pintu masuk stadion. Saya pikir parkiran Istora penuh, saya mencari parkir disekitar pintu stadion itu. Saya pikir tidak apa-apa jalan sedikit. Kami bergegas turun, karena sudah telat. Tiba-tiba tukang parkir ‘tidak resmi’ menghampiri dan menyuruh membayar parkir di awal. Saya terheran, saya bilang, nanti saja. Eh dia ngotot minta bayar diawal. Akhirnya saya beri 3000 rupiah. Eh dia ngotot minta 5000. saya bilang nanti lagi.

          Sambil bergegas jalan saya menggerutu, tukang parkir tambah bikin reseh saja. Setelah jalan beberapa langkah, teman menganjurkan untuk memindahkan parkir saja, berusaha mencari parkir disekitar gedung Istora. Mengingat tukang parkir yang kurang bersahabat itu, kita kembali lagi ke mobil dan memindahkan parkir,masuk ke Istora. Untungnya ternyata masih ada tempat. Tukang parkir kali ini rombongan dan tampangnya lebih menyeramkan. Sama-sama minta bayaran dimuka. Saya kasih 3000 tapi tidak protes. Untunglah.

          Selesai acara, ternyata ada kerusuhan di tempat konser musik. Mobil-mobil yang akan keluar menuju Asia Afrika dialihkan ke Sudirman semua, sampai jam  22.00 antrian mobil tampak merayap meninggalkan kompleks Senayan. Ketika membayar parkir ‘resmi’ di gerbang keluar JCC, saya kembali gemas. Kenapa pengelola parkir tidak lebih professional me-manage ketika banyak pengunjung seperti ini. Tidak tampak petugas parkir resmi didalam kompleks. Yang ada malahan petugas tidak resmi yang membuat tarif sendiri dan tidak memandu dimana tempat yang masih kosong.

________________________________________________________________

Bintara Jaya – Bekasi , 12.03.2007

Leave a Reply