Enemyster

April 18, 2007

         Smile2

          Tidak terasa, sudah hampir tiga tahun saya ikutan Friendster. Awal-awal ikutan, takjub karena nemu teman-teman SD, SMP dan teman-teman yang telah sekian lama tidak pernah kontak. Sampai saat ini ada 251 friend di kotak friend saya, mulai dari umur 20-an sampai 60-an. Entahlah jumlah itu termasuk banyak atau sedikit, yang jelas saya bersyukur masih bisa ber’silaturahmi’ dengan orang-orang yang pernah kita ‘kenal’ melalui website Social Network ini.

          Diluar sana, tentu saja masih banyak teman-teman yang tidak ikutan Friendster dengan berbagai alasan. Beberapa kawan yang tidak ikutan karena di kantornya tidak bebas berinternet. Ada kawan anak filsafat yang bilang :"Friendster hanya untuk orang-orang yang butuh eksistensi diri". Lain  lagi kawan paruh baya bilang :"Friendster hanya untuk orang-orang single yang cari jodoh".Saya lebih melihat Friendster sebagai tempat berkomunikasi dan berekspresi. 

          Yang lebih spesifik lagi, ada seorang teman yang tidak mau ikut Friendster dengan alasan karena ada ‘mantan’ nya di FS. Dia merasa tidak nyaman bila profil dia dilihat oleh ‘mantan’ nya. Saya bilang bukankah kita bisa kunci profil kita biar tidak bisa dilihat sembarang orang. Tapi dia masih tidak mau.

Enemister1           Saya jadi ingat, saya juga pernah di-delete dari kotak friend nya ’seseorang’. Sedih juga. Untungnya tidak ada website Enemyster. Kalau ada mungkin saya di-add sama dia. Oh no…. !!!

_______________________________________________________________

Teunom - Aceh Jaya NAD    20.04.2007

oh highheels…

April 16, 2007

Highheel1_2          Sejak kuliah saya suka memakai sandal (selop) hak tinggi. Alasannya bukan seperti Carrie Bradshow yang tergila-gila high heels-nya Manolo Blahnik tetapi karena saya kurang suka pakai sepatu - ribet harus pakai kaus kaki. Kalau pakai sandal teplek (sandal datar atau tanpa hak) terasa kurang rapi. Intinya bagi saya sandal berhak tinggi praktis dan rapi.

          Pengorbanannya adalah betis nyeri ketika musti berdiri lama, misalnya nggak dapat bangku di bus atau harus berjalan kaki yang cukup jauh. Saya masih ingat kejadian paling menyiksa pakai selop hak tinggi, masa-masa sering demonstrasi di kampus tahun 1998. Bukan karena SalTum, tapi waktu itu memang lagi sering-seringnya demo, tanpa jadwal, alias demo dadakan. Jalan kaki dari Kampus Teknik sampai Gerbatama dengan selop berhak 7 cm. Alamak pegelnya…

          Masa-masa kerja, setiap hari juga memakai selop tinggi, tapi tidak yang 7 cm, cukup yang 5 cm. Karena sudah terbiasa, memakai sandal ini tidak terasa terlalu menyiksa. Sejak kerja di Aceh pertengahan tahun lalu, saya benar-benar pensiun memakai selop hak tinggi. Disini setiap hari memakai sepatu atau sandal teplek.

          Ketika liburan ke Jakarta tahun baru 2007 lalu, saya jalan ke PIM  bersama teman-teman. Baru kali itu saya memakai sandal hak tinggi lagi. Belum sampai satu jam muter-muter di Mall, betis sudah nyut-nyutan, akhirnya tukeran sandal dengan teman yang pakai sandal teplek. Ternyata berpengaruh sekali sudah lama tidak memakai sandal hak tinggi, sudah tidak kuat lagi berdiri/ berjalan lama.

         Dalam artikel Teropong di Kompas jumat kemarin, ada tulisan yang membahas tentang resiko memakai sepatu berhak tinggi. Delapan puluh persen perempuan yang mengenakan sepatu hak tinggi mengalami masalah pada kaki mereka.

Feragamohh_2          Sepatu atau sandal hak tinggi lebih dari 2 cm dapat menyebabkan kerusakan postur pada tubuh dan risiko cedera karena jatuh. Salah satu masalah kesehatan yang disebabkan sepatu hak tinggi adalah Osteoartritis yaitu salah satu bagian penyakit radang sendi atau Arthritis. Gejalanya berupa rasa nyeri dan kaku di persendian tulang terutama persendian lutut dan panggul.

         Studi yang dilakukan America Academy of Orthopedic Surgeon membuktikan perempuan yang sering menggunakan sepatu hak tinggi, terutama hak diatas 5 cm, banyak yang mengalami radang sendi di sekitar lutut, paha, tulang panggul, bahkan ada yang sampai ke tulang belakang.

          Di artikel tersebut diberikan  kiat aman memakai sepatu hak tinggi, yaitu :

• Jangan memakai sepatu hak tinggi terlalu lama, cukup beberapa  jam saja.
• Gunakanlah pada waktu-waktu tertentu, misalnya ke pesta atau menghadiri acara resmi.
• Untuk menjaga penampilan, boleh-boleh saja memakai sepatu hak tinggi ke kantor, tetapi kenakan saat datang menuju dan pulang kantor saja. Selama di kantor pakailah alas kaki yang lebih nyaman.

          Jika nanti ngantor di Jakarta lagi, entahlah apakah masih kuat pakai sandal hak tinggi atau harus ganti kostum ?!.

___________________________________________________________

Teunom - Aceh Jaya NAD    15.04.2007