Bank Kaum Miskin
June 29, 2007
Judul : Bank Kaum Miskin
Penulis : Muhammad Yunus
Penerbit : Marginkiri, xix + 269 hal,
cetakan pertama, April 2007.
ISBN 979 - 1260 - 01 - X
________________________________________________________________
Akhir Oktober 2006, saya tertarik mengikuti rangkaian berita berita penganugrahan Nobel Perdamaian kepada Muhammad Yunus dari Bangladesh atas jasanya mengembangkan Grameen Bank (Bank Pedesaan), program kredit mikro untuk rakyat miskin. Bulan lalu, ketika pulang ke Jakarta, senang sekali menemukan buku tentang Grameen Bank.
Membaca buku ini seperti bukan membaca biografi ataupun sebuah kisah nyata. Saya pikir saya membaca sebuah fiksi. Kisah orang-orang yang berintegritas tinggi dalam usahanya memperjuangkan suatu ide gemilang yang idealis yang tentunya tidak semudah membalik telapak tangan.
Muhammad Yunus lahir dan besar di Chittangong, kota pelabuhan teramai di Bangladesh. Ayahnya seorang muslim yang taat, pengrajin perhiasan. Ibunya seorang yang berdisiplin tinggi. Sejak kecil Yunus dan saudara-saudaranya gemar membaca apa saja. Selepas lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Chittagong – salah satu universitas yang disegani di anak benua India, Yunus menjadi dosen di almamaternya. Setelah beberapa tahun mengajar, tahun 1965 dia mendapat beasiswa fullbright di AS untuk studi Ekonomi Pembangunan sampai mendapat gelar PhD.
Masa-masa ia menuntut ilmu disana adalah masa-masa politik yang panas di negrinya, perang Pakistan– Bangladesh. Pada 16 Desember 1971, Bangladesh merdeka dengan banyak korban jiwa, dan perekonomian hancur. Yunus memutuskan pulang untuk ikut membangun kembali negaranya.
Sepulangnya ke Bangladesh, ia menjadi dekan Fakultas Ekonomi Universitas Chittagong. Perjalanan dari rumah ke tempat mengajarnya setiap hari,melewati desa Jobra, dimana pemandangan yang terlihat adalah lahan-lahan tandus dan penduduk desa yang miskin. Tahun 1974 bencana kelaparan semakin meluas di Bangladesh.
Ia bukan tipe akademisi yang hanya mengajar dan bekerja di ruangan. Baginya teori-teori yang diajarkan kepada mahasiswanya harus bisa menjawab pemandangan lahan tandus, kemiskinan dan kelaparan. Usaha pertama yang ia lakukan adalah mengajukan proposal menanam padi varietas unggul serta memperbaiki sarana irigasi. Ia, rekan dosen dan mahasiswa nya turun langsung ke sawah sebagai relawan.
Tahun 1976 ia dan mahasiswanya mengunjungi langsung rumah seorang perempuan miskin pengrajin bambu di Jobra. Perempuan itu tidak memiliki uang lebih dari 22 sen. Bambu dipinjamnya dari perantara kemudian ia mendapatkan sisa penjualan dikurangi harga pinjaman yang jumlahnya sangat sedikit, hanya 2 sen. Pilihan lain bagi mereka adalah pinjam modal ke rentenir yang akan lebih berat lagi pengembaliannya. Yunus kemudian menugaskan mahasiswanya mengumpulkan data pengrajin-pengrajin sejenis. Ada42 orang dengan keseluruhan pinjaman sebesar 27$.
Yunus terkesima, karena penderitaan orang-orang itu hanya karena uang 27$. Menurutnya, pengrajin-pengrajin itu bukanlah orang yang bodoh atau malas. Mereka miskin karena tidak ada bantuan kredit kaum miskin dari lembaga finansial formal, dan telah diambil alih oleh rentenir. Yunus memulai kredit mikronya dengan memberikan pinjaman 27$ tersebut dari kantongnya sendiri.
Hari-hari berikutnya ia menemui manager salah satu bank pemerintah terbesar di negri itu. Ia mengemukakan maksudnya agar bank tersebut meminjamkan uang kepada pengrajin-pengrajin miskin. Bagi si manager, hal itu hanya ide konyol. Pinjaman dalam jumlah kecil bahkan tidak mampu menutup biaya dokumen pinjaman.
Mereka berdebat. Bagi Yunus, sistim perbankan yang mengharuskan deposan mengisi berbagai macam dokumen bagi rakyat Bangladesh yang saat itu 75% masih buta huruf adalah hal yang tidak adil. Si manager tidak bisa memberi keputusan. Yunus kemudian menemui manager yang lebih tinggi. Debat yang sama terulang lagi, tapi akhirnya manager regional ini akan mengajukan permintaan Yunus ke tingkat pusat. Bank akan memberikan pinjaman $300 dengan Yunus sebagai penjaminnya.
Perlu waktu enam bulan sampai proposal pinjamannya akhirnya disetujui. Hasilnya cukup mengejutkan, pembayaran kembali pinjaman oleh para peminjam tanpa agunan ini jauh lebih baik ketimbang mereka yang pinjamannya dijamin oleh asset. Inilah awal Grameen Bank .
Saat itu Yunus buta menjalankan Bank. Ia belajar sambil berjalan.Ia dan mahasiswa-mahasiswanya mengembangkan pinjaman melalui kelompok-kelompok peminjam.
Setelah 20 tahun lebih, Grameen telah menjadi lembaga yang sangat mandiri. Para peminjam Grameen menguasai 93 persen total ekuitas bank, hanya 7 persen dimiliki pemerintah Bangladesh. Jumlah peminjam mencapai 2,6 juta orang yang 95 persennya adalah perempuan. Kredit yang dikucurkan sejak berdiri mencapai 3,9 miliar $ dan sebesar 3,6 miliar $ telah dibayar kembali dengan tingkat pengembalian sebesar 98%. Grameen Bank telah berhasil meningkatkan kesejahteraan dan terutama kemandirian para peminjamnya yang awalnya sangat miskin hingga dapat mengakses pendidikan, rumah dan sarana sanitasi. Sejak 1995 Grameen memutuskan untuk tidak lagi memnta pendanaan donor. Cicilan terakhir pendanaan donor dibayarkan tahun 1998. Grameen Bank juga telah ditiru di berbagai negara miskin maupun maju.
Perjalanan sukses Grameen Bank bukan tanpa rintangan. Budaya sendiri menjadi rintangan yang cukup berat, namun Yunus memiliki metodelogi dan kecakapan yang handal dengan menerjunkan mahasiswinya dalam mewawancarai perempuan-perempuan miskin desa dan melarang mahasiswinya berpakaian mencolok ketika terjun kedesa. Tidak mudah memberikan kepercayaan kepada perempuan dimana adat setempat masih membatasi ruang gerak perempuan. Grameen juga banyak ditentang oleh tokoh agama setempat karena dicurigai organisasi misionaris.
Para perempuan dilarang meminjam ke Grameen oleh tokoh agama.
Yunus sering mengkritik badan-badan bantuan internasional di Bangladesh. Bank Dunia bahkan yang paling sering mendapat kritiknya. Bertahun-tahun Bank Dunia dan Grameen Bank berseteru dan adu pendapat. Perseteruan terbuka terjadi pada saat teleconference Hari Pangan Dunia 1986. Barber Conable, Presiden Bank Dunia menyatakan bahwa Bank Dunia memberikan dukungan keuangan kepada Grameen Bank. Yunus membantah dengan mengatakan bahwa Grameen Bank tidak pernah menginginkan atau menerima pendanaan Bank Dunia karena kami tidak suka dengan cara mereka berbisnis. Baginya cara kerja lembaga donor multilateral terhadap kaum miskin sangat salah arah.
Hal itu ia kemukakan berdasarkan pengalaman pribadinya ketika diminta membuat program serupa Grameen Bank di Filipina yang didanai oleh badan PBB mengirim staff ahlinya untuk meneliti proposal Yunus. Namun akibat ruwetnya birokrasi selama hampir 5 tahun akhirnya proyek itu tidak jadi terwujud. Padahal biaya ribuan dollar yang dikeluarkan untuk gaji professional selama itu sudah bisa membantu ratusan keluarga miskin yang menjadi sasaran program tersebut.
Yunus memandang akar kemiskinan lain dari pandangan umum selama ini. Banyak yang menganggap orang menjadi miskin karena tidak terampil. Pemerintah, ornop dan konsultan-konsultan internasional biasanya membuat program pengentasan kemiskinan dengan memberikan pelatihan. Bagi Yunus hal itu tidak tepat. Orang miskin terbukti memiliki kemampuan bertahan hidup, jadi tidak perlu diberi pelatihan ketrampilan terlebih dahulu. Orang menjadi miskin karena tidak bisa menyisihkan hasil yang didapat dari kerja mereka. Yang terlebih dahulu harus dilakukan adalah memberikan kredit.
Oleh kaum kiri Grameen dituduh merupakan konspirasi Amerika untuk menanamkan kapitalisme diantara kaum miskin dan bertujuan menghancurkan harapan bagi sebuah revolusi dengan merampok kemarahan kaum miskin.
Banyak sekali hal menarik tentang perjalanan Grameen Bank maupun sepak terjang Yunus mengkritisi sistem yang tidak berpihak pada kaum miskin yang diceritakan dalam buku ini. Asiknya juga diawal buku, penerbit menampilkan pengantar yang ditulis oleh Robert MZ LAwang, guru besar sosiologi Fisip UI. Isi pengantar yang berjudul Membongkar Kepalsuan untuk Mengatasi Kemiskinan ini cukup meringkas pemikiran dalam buku secara menyeluruh.(dys)
****
Setelah membaca buku ini, sempat kepikiran :
-
Kisah Grameen Bank seharusnya banyak memberikan inspirasi bagi
Indonesia
dimana data statistiknya menunjukkan 17,75 % penduduknya masih berada digaris kemiskinan. Bagi yang menganggap angka itu masih kecil, jangan salah, mungkin ada dua kali lipatnya yang berada tepat digaris kemiskinan yang sebentar lagi terjungkal jatuh ke bawah garis J.
-
Kalau ingat prinsip Grameen Bank sepertinya banyak kesamaannnya dengan koperasi. Sistem ekonomi asli produk
Indonesia
yang super hebat, tidak kapitalis tidak juga sosialis. Tapi kemanakah koperasi saat ini?. Andaikan koperasi sukses mensejahterakan rakyat
Indonesia
sampai saat ini, tentu bung Hatta sudah jauh lebih dulu menerima Nobel Perdamaian.
-
Di bagian buku yang menceritakan perseturuan antara Yunus dan Bank Dunia, dibeberkan segudang kritik terhadap Bank Dunia maupun lembaga-lembaga donor Internasional. Berhubung saat ini saya lagi bekerja untuk salah satu lembaga donor, sempat merenung membaca ini, saya masih menjadi bagian dalam sistem itu. Saya jadi teringat omongan salah satu rekan kerja yang sudah lebih dari 30 tahun
malang
melintang di lembaga donor internasional. Menurutnya program-program bantuan lembaga donor internasional seperti membeli sapi, lebih mahal harga talinya dibanding harga sapinya. Artinya kira-kira, biaya untuk menggaji profesionalnya lebih besar dari dana yang dikucurkan untuk bantuan :-I.
_____________________________________________________________
Teunom - Aceh Jaya NAD. 01.07.2007
Lueng Gayo
June 28, 2007
Sepasang suami istri turis Jerman yang sedang keliling dunia bersepeda masuk ke Indonesia melalui Penang. Mereka mengunjungi Danau Toba lalu ke Aceh. Mereka bermalam di desa Lueng Gayo, Teunom, Aceh Jaya setelah meminta ijin dengan warga setempat.
Malam hari, warga yang tidak mengetahui kedatangan mereka curiga melihat nyala sentar dan melapor ke TNI. TNI menanyakan kearah senter tersebut, namun tidak ada jawaban, kemudian TNI kemudian melepaskan tembakan. Sang suami akhirnya tewas, sang istri luka tembak.
Itu adalah kejadian di desa Lueng Gayo empat tahun lalu, ketika Aceh masih dalam suasana konflik, dimana berita baku tembak TNI – GAM kerap terdengar di media. Saat ini, kesibukan yang tampak di desa Lueng Gayo maupun desa-desa lainnya disepanjang pantai barat Aceh telah berganti. Kehidupan masyarakat yang mulai bergeliat serta pekerja lembaga donor dan kontraktor yang sibuk membangun rumah bantuan.
Pantai Lueng Gayo merupakan salah satu tempat terdekat tujuan wisata - (?!?! Jaraknya sekitar 4-5 km dari compound) - teman-teman yang bekerja disini. Tentunya bukan tempat wisata dengan loket karcis maupun plang-plang dinas pariwisata seperti pantai tujuan wisata di Jawa.
Hanya pantai dengan hamparan pasir putih kecoklatan dengan debur ombak samudra hindia. Keindahan pantai ini dan pantai sepanjang sisi barat Aceh lainnya adalah keasliannya; masih alami, bersih (karena tidak banyak dikunjungi) dan ombaknya yang ‘menantang’. Letaknya disisi barat membuat ketika senja pantai disepanjang sisi barat menjelma menjadi lukisan sunset yang indah.
Kami biasanya kesini sekedar untuk bermain bola, foto-foto atau sekedar menikmati pemandangan.
____________________________________________________________
Teunom - Aceh Jaya NAD 26.06.2007
NostalGila JaDul ayo Dul…
June 6, 2007
Saya paling suka kalo ngerumpiin yang jadul-jadul bareng temen-temen yang sama-sama masih inget. Bisa ketawa nggak brenti-brenti.
Terakhir ngrumpi jadul pas ke Jakarta pertengahan Mei lalu. Lagi kongkow di belakang Al Azhar, lupa mulainya ngebahas apa, kayanya sih ngebahas nonton, terus bahas Nagabonar, trus nyambung-nyambung ke film-film Indonesia, film DOno-Kasino-Indro, trus Catatan si Boi sampe akhirnya ngebahas semua-semua yang
sejaman dengan Catatan si Boi. Topik yang nggak pernah ketinggalan dibahas kalo ngrumpi jadul :
- ACI.
Serial mingguan cerita tentang anak SMP. Lagu pembukanya kaya gini nih :
A C I Aku Cinta Indonesia/A bisa Amir/C bisa Cici/I bisa ITo/ tapi ACI/AKu Cinta Indonesia
Yang saya inget, dulu, satu sekolah, temen-temen cewe pada ngefans ma Ito, temen-temen cowo ngefans ma Cici
Saya masih menyimpan bundel majalah Ananda jaman dulu, yang ada artikel profil pemain-pemain ACI: Agil Syahrial (AMir), Diah Ekowati (Cici ) dan Ito (kok lupa ya namanya, ntar liat bundel majalahnya dulu ).
- Rumah Masa Depan
Kisah keluarga tentram bahagia yang tinggal di desa Cibeureum. Dedi Sutomo jadi bapaknya, Aminah Cendrakasih jadi ibunya, anaknya dua, yang sulung Bayu ( Septian Dwicahyo), yang bungsu Gerhana (Andi Azni). Temen sekolah Bayu dan Nana (Gerhana) ada yang pinter namanya Sangaji, yang pulang sekolah kerjanya jualan majalah-majalah bekas. Ada juga tokoh pak Salim, penjual celengan tanah liat yang sakit lepra, yang dagangannnya nggak ada yang mau beli karena dia sakit Lepra.
- Serumpun Bambu
Kisah keluarga transmigrasi. Pemainnya : Nizar Zulmi, Edi Riwanto, Anggraini Joned, Herman ngantuk. Duh memori agak-agak low kalo tentang cerita ini :-(.
Biar cuma dibahas sebentar-sebentar tapi lumayan semua acara TV jaman itu inget sedikit-sedikit, kaya Losmen Bu Broto, Dokter Sartika , Jendela Rumah Kita, Bu Subangun (duh judulnya apa ya ?!, dulu ngefans ama yang jadi Purnomo, yang kaya anak tirinya Bu Subangun).
Kalo film video Betamax, selain Dono Kasino Indro, yang masih inget film sedih yang judulnya Buah Hati Mama - ceritanya keluarga Sophan Sophian - Widyawati punya anak 3, 2 cowok, dan yang bungsu cewe mereka abis pulang dari Belanda. Si sulung dan anak kedua berantem terus, tapi yang dibela ortunya selalu yang nomor dua sampai suatu hari si sulung kabur dari rumah dan nyari uang sebagai pemain topeng monyet. Keluarganya akhirnya nyariin si sulung sampai suatu saat ketika nemu, si Sulung sudah hampir sekarat sakit dan kehujanan di rumah kardusnya di pinggir kali.
Film-film lucu favorit jaman itu selain warkop adalah film-filmya Benyamin & Ateng - ISkak. Film-film seremnya saya nggak terlalu suka, model-model filmnya Suzanna. Dari dulu memang saya nggak suka film horor, Paling berani nonton film Si Manis Jembatan Ancol. Film-film romantis nggak pernah absen tuh yang namanya Rano Karno dengan pasangannya kalo nggak Lidya Kandow, Yessy Gusman sampe Paramitha Rusady. Lucunya film romantis jaman dulu pasti ada acara kemping, api unggun & nyanyi-nyanyi sambil gitaran deket api unggun. Trus ada yang jadiann deh pas kemping itu.
Kalo mau tau resensi film-film Indonesia, nonton acara Apresiasi Film Indonesia, yang nggak bakal lupa di awal dan akhir acara ada gambar layar panggung turun perlahan-lahan diiringi lagunya Bimbo : "aku cinta/anda cinta /semua cinta/ buatan Indonesia…"
Abis ngebahas film, ganti ngebahas lagu-lagu. MTV-nya generasi 80-an tuh Anekaria Safari, Selekta Pop, Album Minggu Ini & Kamera Ria.
Anekaria Safari tuh acara live gitu, yang bawain Sri Maryati & Edi Sud. Yang masih inget nyanyi di acara ini Ari Wibowo (bukan Ari Wibowo jaman sekarang ya :-P) nyanyi Madu dan Racun, Tommy J Pisa (judul lagunya saya lupa tapi inget cerita lagunya dia jadi orang buta) & Julias Sitanggang nyanyi lagu Maria.
Kalo Selecta Pop, isinya video klip rekaman, yang bawain acara Mariana Ramelan. Bayangin deh video klip jaman dulu lagu-lagunya Helen Sparingga, KRistin Panjaitan, Duet Betaria Sonata & Obbie Messakh, Muklas Adi Putra & Riana Andam Dewi. Hi hi hi
Kamera Ria atau nama lainnya Puspen ABRI, diawal, tengah dan akhir lagu ada ibu-ibu ABRI yang nyanyi paduan suara pake Kolintang. Kalo Album Minggu Ini, lebih mirip ulangan Selekta Pop. Kalo yang lain acaranya malem jam 21.30 (setelah Dunia Dalam Berita). Album Minggu ini, Minggu siang jam 11.00. Sebenernya masih ada satu lagi acara lagu-lagu, Chandrakirana, yang bawain Dyah…( siapa ya ?), model-model orkestra gitu tapi saya jarang nonton.
Ganti topik lagi, tentang acara radio. Yang selalu diinget tiap orang adalah drama radio Babad Tanah Leluhur, itu tuh Brama Kumbara & Mantili. Dulu tiap pulang sekolah langsung nyetel radio, kalo nggak salah mulainya jam 11.00. Sorenya dengerin Misteri Gunung Berapi alias Mak Lampir (kalo gak salah mulainya jam 17.00).Kalo acara komedi radio, masih inget sersan Prambors ato Opor Ayam-nya radio SK.
Duh banyak banget sih NostalGila yang Djadoel-Djadoel. Kalo pengen nostalgila beneran, ada ajang ngerumpi-in 80-an yang lebih lengkap. Saya juga baru nemu nih, disini :
Met ber-djadoel ria…
_______________________________________________________________
Teunom - Aceh Jaya. 06.06.2007