Kickandy: the show that makes me cry
August 9, 2007
Sudah cukup lama rasanya tidak pernah nonton film ataupun tayangan TV yang sampai membuat nangis. Tayangan Kick Andy dua minggu terakhir berturut-turut sukses menguras emosi hingga mata berkaca-kaca dan akhirnya air mata berderai-derai. (ini nggak hiperbola loh…ini beneran).
Kick Andy dua minggu lalu, saya nonton yang tayangan hari kamis malam jumat. Awalnya nggak niat nonton, hampir tewas setelah seharian muter-muter Jakarta dari jam 6 pagi sampai jam 21. Tapi begitu duduk di depan TV, liat pembukaan Kick Andy, judulnya “Sepenggal asa dibalik terali” cerita tentang anak-anak penghuni Lapas Anak Tangerang, kantuk sedikit menghilang. Apalagi ketika mulai ditampilkan sudut-sudut Lapas, teringat ketika mengunjungi Lapas ini pada Ramadhan 2005 bersama teman-teman YISC Al Azhar. Detail cerita pada tayangan mungkin masih dapat dilihat di situs www.kickandy.com.
Sesi yang menguras emosi adalah ketika Randy- salah satu anak Lapas yang sejak masuk lapas beberapa tahun lalu karena kasus pencurian tidak pernah dijenguk oleh keluarganya dan dia sangat rindu dengan rumah dan keluarganya - ditanya oleh bung Andy, kurang lebih dialognya seperti ini
Andy : “benda apa yang kamu inginkan saat ini ?”
Randy: “Mukena”.
Andy : Kenapa mukena ?
Randy ; Saya ingin memberikan mukena untuk ibu saya jika bertemu nanti.
Kemudian bung Andy memberikan mukena untuk Randy. Setelah memberikan mukena bung Andy bilang:
“Randy tidak perlu menungggu dijenguk atau menunggu bebas untuk memberikan mukena ini kepada ibu, karena ibu Randy sudah ada disini sekarang”.
Bersamaan dengan itu, muncul dari balik partisi, perempuan berkerudung, dengan usia yang mulai menginjak tua. Spontan saja Randy langsung memeluk ibunya, dan keduanya menangis. Kemudian bung Andy menanyakan kepada sang ibu.
“Kenapa ibu tidak pernah menjenguk Randy?”
Sang ibu menjawab sambil sesenggukan.
“Saya tidak tega…”.
Mmm…adegan yang membuat emosi toh ?
Episode lainnya, yaitu tayangan minggu lalu yang saya tonton episode ulangnya hari minggu jam 15.05. Judulnya “Mencari akar di luasnya dunia”, cerita tentang anak yang terpisah dengan orang tua kandungnya sejak kecil karena berbagai alasan, kemudian ketika dewasa sang anak mencari untuk bertemu orang tua kandungnya. Kisah selengkapnya juga masih bisa dilihat disitus kickandy.
Sesi yang menguras emosi adalah kisah Kiyati. Kiyati, yang lahir di Salatiga sejak bayi diadopsi oleh keluarga List yang berkebangsaan Jerman. Bung Andy mewawancarai Kiyati dalam bahasa Inggris mengenai kisahnya yang kurang lebih seperti ini.
Ibu Kiyati masih terlalu muda ketika melahirkan Kiyati. Sang ibu bersedia menyerahkan Kiyati kepada keluarga List demi kebahagiaan Kiyati. Suaminya pergi ke Jakarta dan tidak pernah kembali sehingga kesulitan ekonomi untuk membiayai anaknya. Orang tua angkat Kiyati tidak mengganti nama asli Kiyati. Kiyati tumbuh dan besar di Jerman. Ia sudah diberitahu oleh orang tua angkatnya tentang keberadaan orang tua kandungnya di Salatiga.
Ketika berusia 14 tahun, ia pergi ke Indonesia untuk menemui ibunya. Tetapi saat itu ia masih shock, kurang siap mental untuk bertemu sang ibu. Kini, diusia nya ke-31, ia datang lagi ke Indonesia, untuk bertemu ibunya dengan persiapan yang lebih matang. Ia belajar bahasa Indonesia dan merasa telah siap secara mental.
Pada saat hadir diacara Kick Andy itu, Kiyati belum bertemu ibunya. Rencananya dalam hari jumat minggu tersebut ia akan berangkat ke Salatiga.
Ditengah-tengah dialog bung Andy dan Kiyati, kamera berpindah menanyangkan kehidupan ibu Kiyati dan adik-adik tiri Kiyati di rumahnya yang sederhana di salah satu desa di Salatiga. Tim Kick Andy mewawancarai sang ibu menanyakan bagaimana perasaannya akan bertemu sang anak yang telah sekian lama tidak bertemu, kemudian meminta sang ibu menulis surat untuk Kiyati. Sang ibu yang buta huruf, mengejakan isi surat yang ditulis oleh adik Kiyati.
Kemudian kamera berpindah lagi ke studio. Bung Andy menyerahkan surat dari ibu Kiyati kepada Kiyati dan meminta Kiyati membacakannya. Kiyati membacanya dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata. Isi suratnya tidak panjang, intinya menanyakan kabar dan keluarga di Salatiga ikut senang jika Kiyati senang. Ketika bung Andy bertanya apakah Kiyati mengerti isi surat itu, ia hanya menjawab mengerti sedikit.
Kemudian bung Andy bertanya, jika nanti ketemu ibunya, apakah ia akan memberikan suatu benda. Kiyati kemudian menunjukkan rangkaian foto dalam bingkai seukuran folio. Ada foto-foto dia dengan kostum tari bali, dan foto-fotonya di Jerman. Tak lama kemudian bung Andy mengatakan:
“Kiyati, kamu tidak perlu menunggu lagi untuk bertemu ibu kamu, karena dia sudah datang kesini.”
Dari balik partisi muncul sang ibu ditemani adik Kiyati. Wajah perempuan yang lugu dengan dandanan yang sederhana, sang ibu menghampiri Kiyati. Tanpa ucapan, namun wajahnya menampilkan kesedihan.
Sejenak keduanya bingung untuk berekspresi. Sekian waktu yang telah memisahkan mereka sepertinya telah membuat mereka begitu jauh. Keduanya tidak bisa bahasa Indonesia, sang ibu hanya bisa bahasa jawa, Kiyati berbahasa Inggris dan Jerman. Namun beberapa detik kemudian bahasa kalbu akhirnya menumpahkan emosi keduanya, mereka berpelukan dan tangis Kiyati pecah dalam pelukan ibu kandungnya.
Bung Andy menanyakan Kiyati apakah ada yang ingin disampaikan kepada ibunya. Dengan bahasa Indonesia yang sangat kaku Kiyat hanya mengucapkan “Saya cinta kamu”.(:-)) Sang ibu tetap speechless, namun dari sorot matanya terbaca perasaannya.
Duh…lagi-lagi adegan yang sangat emosional toh ?
____________________________________________________________
Teunom - Aceh Jaya, NAD 08.08.2007
Leave a Reply