Kemana perginya mainanku ?

September 15, 2007

Kemana perginya mainanku?
Mobil-mobilan dari kulit jeruk
Kuda-kudaan dari pelepah pisang
Entah kemana perginya…

Mainanku – Iwan Fals 1993

          Waktu main ke rumah kakak bulan lalu, ponakan perempuan saya yang berumur 5 tahun yang sedang bermain di luar rumah tiba-tiba menangis kejer. Rupanya ada tawon menempel di bajunya, teman-temannya teriak, dia kaget dan ketakutan. Untunglah tidak sampai diantup.

          Kakak ipar saya lalu menyeret anaknya pulang, sambil mengomeli sang anak. Isi omelannya adalah menyalahi sang anak karena main diluar dan melarangnya untuk bermain di luar rumah lagi.

          Melihat kejadian itu, saya miris. Saya ingat masa kecil dimana banyak waktu bermain yang saya habiskan di luar rumah bersama teman-teman sebaya, seperti main Tak jongkok, Tak umpet, Kasti, Main Boy, Galasin, Main Benteng, Maen Karet ( lompatan, lompat jongkok, puteran ),  Taplak Geser, Taplak Gunung, dan masih banyak lagi mainan-mainan yang ada unsur lari-larian, lompat-lompatan dan teriak-teriak.

          Di Majalah Tempo edisi akhir Juli lalu, terdapat tulisan menarik “Bermainlah Anak-Anak Indonesia” yaitu artikel liputan program Ayo Main Bersama – Jangan Takut Kotor, acara menyambut hari anak yang disponsori Rinso.

Mengutip tulisan pada halaman pertama artikel itu :

Hasil riset Play and Physical Quotient (PQ) atau riset kemampuan fisik dan bermain anak yang dilakukan pada Januari 2006 oleh Rinso, menunjukkan anak-anak Indonesia menempati urutan terendah dibandingkan Thailand, Vietnam dan Jepang. Dan, orangtua di Indonesia memiliki persentase paling tinggi dalam melarang anak-anak bermain di luar rumah.

          Test PQ dilakukan terhadap sekitar 4000 ribu anak usia 6-12 tahun di sejumlah kota besar di empat negara tersebut. Hasil riset menunjukkan aktivitas yang sering dilakukan anak setiap hari adalah mengerjakan pekerjaan rumah dan menonton televisi. Jika ada waktu luang, anak-anak Indonesia menggunakannya untuk baca buku dan main komputer, anak-anak Thailand membantu orang tua mengerjakan pekerjaan rumah. Anak-anak Vietnam berolahraga, dan anak-anak Jepang bermain diluar rumah.

          Menurut psikolog, bermain diluar ruangan (alam bebas) memberikan warna yang khas dan bernilai positif terhadap kegiatan yang dilakukan anak. Nilai tambah bermain di luar ruangan akan memperkaya pengalaman anak untuk melakukan eksplorasi sehingga wawasan mereka semakin luas.

          Sayangnya saat ini banyak orang tua yang cenderung membatasi anaknya bermain di luar rumah dengan berbagai alasan, misalnya demi keamanan – takut anaknya diculik, demi kebersihan – takut baju kotor, over protected – takut anaknya kecapekan, bahkan tidak sedikit ibu muda jaman sekarang yang melarang anak perempuan mungilnya bermain diluar ruang karena takut anaknya hitam (mungkin takut anaknya nggak bisa jadi pemain sinetron nantinya :-P)

          Pada Hari Anak Juli lalu itu, bertempat di Lapangan gedung Aldiron – Pancoran, para orang tua dan anak-anaknya  mengikuti berbagai permainan luar ruang anak-anak digelar Rinso.

         Sudah lama sebelumnya Rinso telah memulai program ini dengan memberikan hadiah langsung pembelian Rinso berupa buku Ayo Main Bersama – Jangan Takut Kotor, yang berisi keterangan tentang permainan luar ruang anak-anak yang saat ini sudah jarang dimainkan oleh anak-anak sekarang. Bukunya cukup menarik karena disertai ilustrasi.

          Bukan bermaksud mengiklankan Rinso, saya cukup terkesan dengan program Ayo Main Bersama ini.Setidaknya memperkenalkan lagi nilai-nilai positif permainan anak-anak jaman dulu yang mulai ditinggalkan anak-anak jaman sekarang.

          Sayangnya ruang terbuka dikota besar tempat anak-anak bermain memang semakin berkurang. Permainan anak-anak luar ruang juga kini dikemas dalam produk yang harus dibeli. Banyak sekolah mengikutkan siswanya dalam program Outbound yang diselenggarakan provider khusus dengan biaya yang tidak cukup murah bagi yang tidak mampu.

         Jaman saya kecil dulu, untuk merasakan tegangnya ketinggian, serunya berayun ditempat tinggi dan nyebur ke kubangan tidak perlu ikut Outbound, cukup menyelinap masuk ke kebun tetangga, manjat pohon jambu klutuk, berayun-ayun diayunan tambang yang diikatkan ke dahannya, dan nyebur ke empang kecil yang ada dibawahnya :-) .

Mainan

Ket. foto :

  • kiri : Permainan Taplak Gunung - dari sampul kaset album Hijau Iwan Fals 1993.
  • tengah : Permainan Lompatan (main karet) - anak-anak di P.Breuh - NAD
  • kanan : Permainan Lompatan (main karet) - anak-anak disekitar sanggar Rumah Dunia - Serang , Banten.

_______________________________________________________________

Teunom - Aceh Jaya NAD    15 September 2007

Leave a Reply