Pembeli adalah Raja, Pelanggan apalagi
November 14, 2007
CS Lion Air yang dodol.
Minggu lalu, ke Jakarta beberapa hari merupakan hari-hari yang melelahkan. Kali ini, karena urusan pribadi, pulang harus mengurus tiket sendiri dengan biaya sendiri.
Harga tiket selain Garuda yang berbeda 2/3 kalinya memang menggiurkan.Ke Jakartanya lewat rute Medan, dapat tiket Air Asia yang sangat miring, hampir 1/2 kali harga Garuda ekonomi yang biasa dibelikan kantor.
Kembali ke Teunom, memilih via Banda Aceh, karena sudah terlalu lelah membayangkan Polonia yang sumpek serta perjalanan Bandara Meulaboh - Teunom yang cukup panjang. Untuk mengejar penerbangan Cessna Banda Aceh-Calang, harus penerbangan pagi. Penerbangan Jakarta - Banda Aceh pagi, selain Garuda ada dua pilihan, Lion dan Adam. Pilihan jatuh ke Lion.
Senin, saya membeli tiket di Dina Travel, Jatiwaringin, Lion Air Jakarta-Banda Aceh untuk Kamis pagi, seharga 780rb. Selasa sore sekitar jam 16.45, tiba-tiba ada kabar keperluan mendadak untuk hari Kamis. Saya langsung menelpon call center Lion untuk merubah jadwal tiket. Telpon diterima oleh CS perempuan yang saya lupa namanya, dia menyuruh saya telpon ke travel karena travel tersebut sudah on line, katanya. Segera saya telpon ke Dina travel, kata travel saya langsung saja telp. Lion. Saya telpon lagi Lion, kali ini yang terima telp. CS laki-laki. Lagi-lagi si CS menyuruh saya menelpon Travel. Saya bilang, Travel menyuruh saya nelpon kesini
langsung. Akhirnya si CS melayani. Saya jelaskan maksud merubah jadwal dari hari Kamis menjadi hari Jumat dengan jam penerbangan yang sama.
Dia mengecek seat, lalu mengatakan bahwa masih ada seat di kelas yang sama.Saya confirm untuk rubah lalu menanyakan prosedur apalagi yang harus dilakukan.
CS : "Ibu besok dateng ke kantor kami untuk merubah tiketnya."
saya : "Tidak bisa via telpon saja ?".
CS : "Nggak bisa bu, tiketnya harus diganti"
saya : "Dimana sih kantornya mas ?"
CS : "Di Harmoni bu’
saya : "Wah jauh sekali ya, bisa nggak saya lapor di kantor Lion Bandara saja sebelum terbang"
CS : "Sebenernya bisa bu, tapi harus dua jam ebelum keberangkatan, penerbangan ibu kan paling pagi, jadi nggak bisa"
saya : "Oke deh, saya besok dateng ke Harmoni. Tapi tiket saya dirubah dulu sekarang ya."
CS : "Oke bu"
Rabu siang sekitar jam 13.00, saya sampai di Harmoni. Langsung menuju salah satu counter CS yang kosong. Sang CS, perempuan muda yang manis langsung menyambut.
CS : "Selamat siang bu, ada keperluan apa ?"
saya : "Ini mbak, kemaren sore saya menelpon Lion untuk merubah jadwal tiket, lalu saya disuruh dateng kesini untuk mengganti tiketnya".
CS : "Bisa liat tiketnya bu?" (saya serahkan, kemudian si CS sibuk mengetik)
CS : "Ibu, tiket ibu belum dirubah, ini seatnya sih masih ada, tapi ibu kena charge 20% harga tiket karena merubah jadwal kurang dari 24 jam sebelum penerbangan" - (Gubrakkkk !!!)
saya : "Loh gimana sih mbak, saya sudah nelpon kemaren sore,sudah confirm dirubah jadwal, cuma saya baru bisa dateng kesininya sekarang."
CS : "ibu inget nggak kemaren nelp. dengan yang namanya siapa ?
saya : "Saya nggak inget namanya, yang jelas laki-laki"
CS : "tapi tiket ibu belum dirubah"
Sekitar sepuluh menit saya debat kusir dengan sang CS. Nada sudah meninggi, tampang juga sudah jutek abis, sang CS masih berargumen dengan tampang manis. Sudah agak capek dan nyadar nggak punya bukti, akhirnya jurus terakhir saya minta bicara dengan manager sang CS. Dia menyuruh saya ke Customer Care, yang saat itu sedang break makan siang.
Sekitar 15 menit menunggu sambil menyelesaikan pembayaran charge, kemudian CS Customer Care muncul. Saya langsung ke mejanya, lalu menjelaskan complain dan memberi masukan untuk sistem pelayanan perubahan jadwal via telpon, agar customer diberikan semacam kode booking, sebagai bukti.Sehingga tidak perlu pula harus dateng ke kantor penerbangan.
Saya juga menceritakan pengalaman merubah tiket Sriwijaya Air yang tidak bermasalah. Agustus lalu, saya membeli tiket Sriwijaya jurusan Medan - Pekanbaru, di Jakarta. Tiketnya saya bawa ke Teunom. Setelah sampai Teunom saya merubah jadwal, jadi maju sehari. Saya telp. call Center Sriwijaya Air di Gunung Sahari, Jakarta. Memang waktunya agak lengang waktu itu, seminggu sebelum keberangkatan, jadi saya sempat menelpon dua hari berturut-turut untuk memastikan bahwa tiket memang sudah dirubah. Saya disuruh datang dua jam sebelum keberangkatan untuk melapor dikantor Sriwijaya Polonia. Hari H penerbangan, semua lancar.
Saya meninggalkan kantor Lion dengan rasa capek dan gelo (bhs jawanya nyesel -red.) Banyak yang bikin nyesek. Perjalanan dari rumah ke Harmoni dalam cuti yang singkat hampir memakan waktu 1/2 hari. Sampe sana harus bayar pula.
Kalo dihitung, harga tiket+charge+bensin, sudah hampir mendekati harga tiket Garuda. Bayangkan betapa memudahkannya sebuah sistem. Tiket Garuda 1.2jt, untuk merubah tiket cukup menelpon call center, lalu tidak lama kemudian mengeceknya di website. Menambah Miles Frequent Flyer cukup banyak pula.
Mudik lebaran kemarin, tiga kali ngerubah jadwal tiket Medan-Jakarta dengan mudahnya. Mmm… penyesalan tiada guna…
- when you lose, don’t loose the lesson - (ngutip Feby)
NG yang Molor & Kurir desperado
Sejak National Geographic Indonesia terbit, ketika event pameran photo NG di gedung Arsip Nasional, saya mendaftar untuk berlangganan. Keuntungan berlangganan adalah diskon yang mencapai 20%, dapat merchandise NG, serta datengnya NG yang cukup awal, tanggal 22 bulan sebelumnya biasanya sudah diantar. (iklan banget ya ?!)
Sejak ke Aceh, saya membaca NG sesempatnya ketika pulang ke Jakarta, lalu membawanya ke Aceh. Ketika mudik lebaran kemarin, tiba di Jakarta tanggal 4 Oktober, begitu tiba biasanya langsung mengecek kiriman surat-surat tagihan dan majalah. Kali itu saya tidak teringat NG.
Lima hari kemudian alias tanggal 9 baru teringat kalo NG edisi Oktober belum datang. Hari itu yang sudah mendekati Lebaran saya menelpon Gramedia. Sang CS meminta maaf dan bilang akan dikirim besok. Besoknya tanggal 10, selepas magrib ada yang menelpon ke HP. Ternyata kurir Jasa Pengiriman yang akan mengantar NG, menanyakan detail alamat. Dia nyasar ke komplek yang namanya mirip dengan jalan rumah.
Lima belas menit kemudian, si kurir menelpon lagi, masih kebingunan mencari alamat saya. Saya jelaskan sedetail-detailnya.
Saya merasa aneh. Malam itu sudah malam takbiran bagi yang berlebaran tanggal 11. Lagi pula baru kali ini, ada kiriman datang malam hari. Tidak lama kemudian lagi, saya sedang keluar rumah. Lagi lagi si kurir menelpon.
Kurir : "Bu, rumah ibu jauh nggak dari jalan ?"
saya : "Enggak terlalu jauh, sekitar 100 meter"
Kurir : "Saya bingung nih Bu, ibu nunggu didepan jalan aja deh, daripada nggak ketemu" ( -gubrak!!!-)
saya : "Wah nggak bisa Pak, saya lagi keluar nih, Bapak bukan kurir yang biasa ngirim ke rumah saya ya?!
biasanya nggak ada kesulian tuh."
Kurir : "iya Bu, udah mau lebaran nih, udah malem, makanya kalo bisa ibu cegat aja di depan jalan"
saya : "Nggak bisa Pak, bapak masuk aja ke jalan itu, terus kalo nggak tau, tanya-tanya orang sekitar situ"
Kurir : "Dari simpangan warung masih jauh nggak bu ?"
Saya : "Udah deket, tinggal dua rumah"
Kurir : "Bisa masuk mobil nggak ?’
saya : "Bisa"
Kurir : "Orang rumah ibu suruh tunggu di simpang warung itu deh bu"
Saya : "Ya udah deh Pak, bapak cari aja dulu rumah saya, nanti saya juga suruh orang rumah samperin"
Baru kali ini saya ketemu Kurir yang desperado, mungkin dia mau mudik malem itu.
Kemoloran NG ternyata terulang lagi bulan ini. Senin, minggu lalu, NG edisi November belum juga dateng. Saya telpon lagi Gramedia. Sang CS sangat-sangat meminta maaf. Saya ceritakan kejadian kurir desperado itu, sang CS agak panik, dia bilang NG memang sedang kalang kabut dengan masalah pengiriman karena ganti Jasa Pengiriman. Banyak komplain serupa juga katanya.Sang CS menjanjikan akan mengirimkan hari itu.
Hari Kamis, tiga hari berselang, baru nyadar, NG belum juga dateng, saya telpon lagi.
saya : "Mbak, kok NG nya belum datang juga, kan saya sudah telp. dari hari Senin"
CS : "Aduh, belum ya mbak, padahal sudah saya minta kirim hari itu juga, ada nih surat permintaan saya.Sudah dikirim kok
mbak, mungkin sampai hari ini, atau besok."
saya : "yaa…, besok saya sudah keluar kota, gimana nih mbak, kok NG telat mulu, tolong dong mbak bulan depan jangan telat lagi, saya kan sudah langganan dari awal."
CS : "iya mbak, maaf banget ya, nanti kita ganti deh provider pengirimannya."
Untungnya, Kamis sore NG nya dateng dan tidak pakai acara kurir nyasar-nyasar lagi :-). Entah bulan depan.
______________________________________________________________
Teunom - Aceh Jaya NAD 15.11.2007
Leave a Reply