Long wiken Waisak lalu, nyokap mengajak kami semua, anak-anaknya mengunjungi sanak saudara nyokap di Puloraja, Kabupaten Asahan-Sumut.

          Kami sekeluarga, akan berangkat dari Pekanbaru - Riau menuju Asahan - Sumut menempuh jalan darat sejuah 470 km dengan dua mobil, satu Kijang Kapsul dan satu Innova sewaan.

          Berangkat dari Pekanbaru, minggu, 19 Mei 2008, jam 6.30. Jalur yang dilintasi adalah :Pekanbaru - Minas - Kandis - Duri - Bagan Batu  - Cikampak - Kota Pinang - Rantau Prapat - Aek Lopan - Puloraja.

          Jalur Pekanbaru - Duri, biarpun tidak membelah Bukit Barisan namun mirip jalan yang membelah Bukit Barisan, berkelok-kelok tajam dengan jarak pandang pendek dan lintasan bukit. Sampai di Duri sekitar pukul 10.30.

 

break sejenak di pom bensin Duri

          Sepanjang sisi jalan raya,terlihat jalur pipa minyak. Sering mendengar nama kota Duri dari teman-teman yang pernah kerja proyek minyak Chevron - Caltex, namun baru kali ini saya melihat kota Duri. Melewati kilang-kilang dan kamp pekerja. View-nya tipikal dengan lintasan kota Lhoksumawe di NAD dengan kilang Exxon-nya.Seingat saya, kilang terakhir yang dilewati adalah kilang Bangko. Setelah itu jalan tidak berkelok-kelok lagi, view-nya monoton dengan padang alang-alang di kiri kanan jalan.Lintasan panjang yang sepi, tanpa ada rumah maupun warung. Mendekati wilayah perbatasan Riau- Sumut mulai tampak perkebunan kelapa sawit.

          Melintas di gerbang perbatasan sekitar pukul 14. Tulisan “Selamat jalan dari Kabupaten Rokan Hilir” dengan beberapa huruf yang hilang tampak di atas gapura. Selanjutnya pemandangan yang terlihat sepanjang jalan adalah perkebunan kelapa sawit. Mendekati tiap kota kecamatan suasana agak ramai
dengan ruko-ruko dan pasar.

          Jalur ini padahal adalah jalur bus-bus Lintas Sumatra, namun di sepanjang jalan tidak banyak terlihat rumah makan besar tempat persinggahan bus seperti jalur luar kota di pulau Jawa. Tidak terasa, sampai pukul 15.00, belum juga makan siang
karena masih mencari-cari restoran yang representatif. Baru menemukan tempat makan yang sreg di Kota Pinang sekitar pukul 16.00 singgah di restoran dan penginapan, sekitar satu jam untuk makan, sholat, istirahat sekaligus memandikan empat orang bocah-bocah.Pukul 17.15 beranjak lagi.

          Sekitar pukul 19.30 melintas di kota Rantau Prapat, ibukota kabupaten Labuhan Batu, kota teramai yang kami lintasi. Selepas Rantau Prapat, jalur yang dilewati ramai terus. Sepertinya sudah jarang jalur jalan yang sepi di propinsi Sumatra Utara. Melihat di peta, Puloraja, tempat yang akan kami datangi tidak jauh dari Rantau Prapat. Ternyata jauh juga, akhirnya tiba di Puloraja sekitar pukul 2.00.Kenyang sekali rasanya di perjalanan dari jam 6.30 sampai jam 22.00, badan pegel dan capek, apalagi kakak saya yang nyupir mobil, langsung terkapar. .Biarpun capek, kita langsung ngobrol sampai tengah malam.

          Puloraja terletak di perbatasan Kabupaten Asahan dan Kabupaten Labuhan Batu. Keluarga di Puloraja tinggal perkebunan kelapa sawit sejak tahun 1950-an.  
Keesokan hari, pagi-pagi,saya langsung semangat mengajak ponakan-ponakan jalan-jalan pagi, menikmati suasana pedesaan; rumah dengan pekarangan yang teduh dibawah pohon kelapa sawit, dengan pohon-pohon bunga disekelilingnya, bongkahan-bongkahan batok kelapa dalam keranjang bambu, Bebek, Entog dan Soang yang berkeliaran, Sapi yang baru dilepas dari kandangnya untuk mencari rumput dan udara segar. Suasananya yang tentram bagi orang kota. Ponakan-ponakan senang sekali mengejar bebek masuk ke kandang sapi dan naik sepeda melintasi jalan setapak yang teduh.

          Sayangnya, tidak bisa berlama-lama disana, siang itu juga harus jalan pulang, karena harus menempuh perjalanan pulang lagi selama 15 jam. Sekitar Pukul 14.00, kami berangkat pulang.Sebenarnya masih capek sekali. Perjalanan yang tidak terprediksi, terlalu capek untuk dilintasi dengan darat. Jika ada rencana untuk kesana lagi, lebih baik naik pesawat ke Medan, lalu jalan darat Medan- Puloraja selama 4 jam.

          Perjalanan pulang benar-benar menguras tenaga sampai habis. Sekitar pukul 17.00 singgah lagi di restoran yang sama. Selepas maghrib baru jalan lagi. Sampai di Duri pukul 01.00 dini hari, singgah lagi untuk ngopi dan meluruskan tulang punggung. Namun kantuk tidak mempan diusir dengan kopi maupun teh hangat.Dua orang kakak saya, sang sopir, benar-benar sudah babak belur. Selepas Duri, saya coba menggantikan nyupir. Namun baru sepuluh menit menyerah.  Entahlah mengapa kali ini tidak kuat nyali ditambah juga fisik yang cape dan ngantuk. Papasan dengan bus-bus luar kota dan truk-truk tanki minyak rasanya jiper. Belum lagi mobil-mobil arah berlawanan banyak menyalakan lampu jauh yang sangat menyilaukan.

          Sampai di Minas, sekitar pukul 02.45, kakak saya benar- benar tewas, kami berhenti sekitar lima belas untuk istirahat. Selanjutnya di-geber lagi. Pukul 04.30 akhirnya sampai juga di Pekanbaru.
Nggak pake nunggu subuh, langsung tewas bablas, tidur sampe siang.

_____________________________________________

Pinggiran Jakarta - Mei 2008

One Response to “Masih ada Kampung Halaman di Asahan”

  1.   ninasilvia said:

    keren bangeeeet perjalanan pulang kampungmu Diyas.
    ada baiknya suatu saat kau ambil jalan udara :D

Leave a Reply