Mendengar nama Gunung Kidul, yg terlintas adalah daerah di Selatan Jogja yang kekurangan air. Saya samar-samar teringat cerita almarhum nenek, tentang orang-orang di daerah Gunung Kidul yang mencari air bersih berjalan berpuluh-puluh kilometer. Mungkin leluhur saya berasal dari daerah sana juga.

Saya juga lupa darimana mendapat ide untuk meng-x-plore Gunung Kidul. Yang saya ingat beberapa bulan lalu, ketika membuka Multiply, ada orang yang telah melihat page saya, ketika saya buka page dia, ada foto-foto Pantai Siung, Wilayah peminatan khusus Panjat Tebing. Kebetulan juga saat itu sedang baca Novel Bilangan Fu, Ayu Utami, yang setting ceritanya di kawasan tersebut. Mulai saat itulah terbersit rencana menjelajah Gunung Kidul.

Ketika searching lebih lanjut tentang Gunung Kidul, ternyata banyak pantai-pantai indah disana. Saya mulai mencari info rute. Suatu saat nemu lagi foto-foto Pantai Siung di www.beningbanyubiru.multiply.com, what’s a small world, ternyata MPnya Nanung, teman lama waktu di Aceh. So far nggak kepikiran nanya Nanung, karena loose contact ketika dia pindah kerja di Papua. Emang rejeki, setelah saya kontak dia melalui MP, ternyata Nanung sedang di Jogja. Konsultasi rute sekalian minta tolong pesenin mobil sewaan ke Nanung.

Jumat, 31 Oktober 2008.Saya bertiga dengan Karin dan RIfa berangkat ke Jogja, naik kereta Senja Utama Jogja dari stasiun Jatinegara. Kereta datang sekitar pukul 19.45, tidak sampai lima menit berhenti, kereta berangkat. Perjalanan cukup lancar. Sampai sta.Tugu pukul 04.30. Sholat subuh dan cuci muka di stasiun.

Jam 05.15 Nanung dateng menjemput, lalu ke rumah Nanung di daerah Godean, rumah mungil dengan lingkungan yang asri. Disambut Rina, perempuan manis dan mungil, istri Nanung yang sedang hamil muda, kami dipersilakan masuk, numpang mandi dan sarapan gudeg. Ngobrol dengan Nanung seperti nggak ada habisnya, cerita tentang teman-teman di Aceh sampe tentang tempat-tempat yang seru untuk dijelajahi.

Menjelang jam 8.00, mobil sewaan datang, suzuki APV. Nanung nge-brieving mas Farhandriver yang akan mengantar kami.
Nanung menyebut trip kita kali ini adalah “Trip Serakah”. Dengan jadwal hanya 1.5 hari kami ingin mengunjungi minimal enam pantai disepanjang pantai selatan Gunung Kidul, yaitu Siung, Krakal, Kukup, Drini,Ngrenean, Nguyahan dan Baron. Tetapi setelah melihat peta dan penjelasan Nanung, rute dirubah dari yang paling jauh (paling timur) menuju ke barat: Wediombo - Siung -Sundak,Krakal, Kukup, Drini(dekat2an) - Baron, dengan menginap di Baron.

Jam 08.00 on time kita jalan. melalui Jalan Lingkar Luar Jogja menuju Wonosari. Syukurnya udara cerah cenderung panas. Sekitar satu jam, sudah melalui kota Wonosari, selepas itu mulai memasuki jalan dengan pemandangan bukit-bukit kapur.

Tidak segersang yang saya bayangkan, daerah Gunung Kidul masih banyak pepohonan yang tumbuh di bukit kapur tersebut. Jalan yang dilalui cukup teduh dipayungi pohon-pohon jati di kanan kiri. Papan hijau penunjuk jalan lengkap terlihat disetiap simpang jalan.

Sekitar pukul 10.45 kita sampai di Wediombo. Sekitar satu kilometer menuju Wediombo, melalui jalan diatas bukit yang lautnya sudah terlihat dari atas. Mirip pemandangan menuju Malahayati di Banda Aceh. Pemandangan laut biru dengan ombak besar Samudra Hindia. Pantainya masih berada dibawah dari tempat parkir. Untuk menuju pantai kami harus menuruni tangga yang cukup curam.


Siang sudah cukup terik, tidak banyak pengunjung disana, tidak terlihat pula orang lalu lalang berjualan. Ada dua warung yang satu tutup, yang satu lagi tampak tidak terlihat barang dagangannya. Sekitar satu jam disana berjalan menyusuri pantai menikmati pemandangan. Sekitar pukul 12.30 kami beranjak lagi menuju Pantai Siung, sambil mencari-cari tempat makan siang. Ternyata sepanjang jalan tidak terlihat warung makan. Berharap di Pantai Siung ada warung makan yang enak.

 Sampai di Pantai Siung sekitar pukul 13.30. Siang semakin terik, pemandangan pantai yang indah agak tersapu silau mentari. Dalam keadaan lelah dan lapar, kami belum tertarik ke pantai, langsung menuju warung.
Ternyata merindukan makanan enak ala wisata kuliner seperti merindukan bulan di tempat yang cukup terpencil ini. Makan nasi cuma tersedia laut ikan setengah matang yang siap digoreng, tidak cukup menggugah selera. Pilihan terakhir, indomi telor. Setelah perut agak lumayan terganjel, kami sholat zuhur. Setelah itu barulah agak segar untuk mengeksplorasi pantai dengan deretan tebing-tebing kapur tinggi.

Saya membayangkan cerita dalam Bilangan Fu. Kawasan tebing tampak sudah dibagi-bagi dalam beberapa blok.

Tampak kait-kait besi pemanjatan ditanam disela-sela sepanjang ketinggian. Perlu mendaki ke bukit-bukit untuk melihat dinding tebing dari dekat. Dari atas bukit kita berada di tepi dinding, dengan pemandangan laut lepas dibawahnya.


Sekitar pukul 16.00 kita turun dan siap untuk beranjak lagi. Tujuannya langsung ke Pantai Baron, untuk melihat sunset dan bermalam disana. Dalam perjalanan ke Pantai Baron, ternyata melewati Pantai Sundak, Krakal dan Kukup. Kita tergoda mampir di pantai Krakal, pahadal jadwal kesana adalah keesokannya. Di Pantai Krakal tidak terdapat tebing kapur tinggi, bentuk pantai yang lengkung bujur dengan pasir putih kemerahan tampak cantik disore itu.


Pantai Krakal lebih terlihat sebagai tempat wisata dibanding Pantai Siung dan Wediombo. Terlihat deretan warung makan yang cukup ramai. Tapi sore itu kita sudah tidak lapar. Pukul 15.10 kita bergegas beranjak lagi, mengejar senja hilang di pantai Baron Sampai pantai Baron ternyata matahari sudah siap tenggelam. Kita kehilangan Sunset.
Dalam keadaan cukup lelah, langsung menuju penginapan. Jangan berharap ada hotel mewah dikawasan ini.Hanya ada beberapa hotel disekitar pantai,  penginapan seadanya tanpa pendingin udara.  Ada sedikit kamar dengan AC, tapi letaknya diatas bukit. Karin kekeuh pengen kamar itu. Tapi Rifa yang super duper penakut, sudah merinding liat kamar diantara pepohonan gelap yang terkesan angker. Akhirnya kita memilih kamar bawah tanpa AC.
Setelah booking kamar, kami menuju warung makan. Tampak warung dengan tumpukan udang goreng tepung dan aneka rempeyek hangat. Cukup menggugah selera. Memesan aneka masakan seafood. Tapi tenyata rasanya tidak seenak yang kita harapkan.Rifa malah sempet menelan beberapa ekor lalat yg sudah tercampur cumi asam manis :-D. Habis makan lalu balik ke kamar.

Ketika Karin mandi, saya menelpon di teras kamar, Rifa melihat-lihat foto di kamar. Tiba-tiba RIfa keluar dengan wajah mencurigakan. Rifa yang sejak menginjakkan kaki dipenginapan sudah paranoid,dengan wajah panik menghampiri saya :

“Mbak bener kan mbak, di foto yang tadi siang ada penampakan”.

 Saya langsung ikutan merinding dan takut. Rifa menyodorkan kamera kesaya, supaya saya ngeliat fotonya. BUkannya saya lihat, malah saya matikan. Lalu kita berdua sama-sama bergidik ketakutan. Dengan panik saya telpon Farhan. Sambil nunggu Farhan dateng, kita ketakutan, sampe kepikiran untuk tidur di mobil dan subuh-subuh cabut ke Jogja.

Nggak lama, Farhan dateng. saya minta tolong Farhan untuk melihat foto itu. Farhan memperhatikan foto dengan teliti, trus bilang

“Nggak ada apa-apa kok mbak”

Lalu saya mulai ikutan ngelihat pelan-pelan, memang nggak ada apa-apa, tapi kemudian gw ngeh yang dimaksud Rifa yaitu bayang-bayang putih diair yang tampak seperti kucing.

Ternyata itu bayangan celah bukit. Dalam keadaan masih ribut-ribut, mendekat seorang laki-laki dengan menjinjing kamera SLR, namanya Pak Yap, fotografer dari Semarang yang sedang hunting sendirian. Pak Yap kemudian menjelaskan proses terjadinya bayangan yg dikira hantu itu secara ilmiah. Barulah kita benar-benar tenang. Obrolan akhirnya menjadi lebih santai dengan membahas fotografi. Malam itu akhirnya kita bisa mengusir rasa takut, biarpun masih sedikit paranoid.
Sepanjang malam hujan rintik-rintik. Untungnya selepas subuh hujan berhenti. Subuh-subuh males bangun karena udara dingin sehabis hujan. Setelah matahari terbit, kita baru keluar, kelewatan melihat sunset. Jalan ke Pantai, main air dan melihat aktivitas nelayan.

Pak Yap mengajak kami mendaki bukit untuk memotret. Baru mendaki setengah ketinggian, kita menyerah. Turun lagi, lalu memesan sarapan di warung yang direkomendasikan pak Yap. Benar saja, masakan di warung
ini jauh lebih enak dan bersih dibanding warung semalem. Sarapan cumi bakar dan ikan kakap bakar.

Setelah sarapan berfoto-foto lagi sebentar di pantai, lalu balik ke kamar untuk mandi dan siap-siap berangkat. Pukul 09.30 kita berangkat ke Pantai Drini, sampai disana pukul 10.00.Pantai cekungan yang dikelilingi tebing-tebing kapur. Sepi dan damai. Saya suka sekali pemandangan disini.
Tidak terlihat warung dan orang berjualan. Sayang sekali, kami terlalu siang sampai disini. View sunset disini pasti bagus sekali.


Sekitar 30 menit menikmati pemandangan, pukul 10.30 kita beranjak menuju Pantai Kukup. Sampai di Kukup sekitar pukul 11.00. Pantai ini salah satu tujuan wisata yang sering dikunjungi. Tersedia tempat parkir yg cukup luas dengan warung-warung dipinggirnya. Sepanjang jalan dari tempat parkir ke pantai, banyak yg berjualan gorengan hasil laut; udang, cumi dan ikan, serta souvenir dari kerang.

Siang itu pantai sudah ramai, sudah banyak yg mandi air laut. Pengunjung yang datang, selain dari Jogja juga dari Magelang,Solo, Salatiga dan Semarang.

Kami tidak lama-lama disitu. Tidak sampai 30 menit, beranjak lagi. What a small world lagi, pas jalan pulang ke parkiran, ketemu Putri, kakaknya Karin bersama gengnya.

Sekitar jam 11.30 kami beranjak pulang. Langsung menuju Jogja.
Sepanjang jalan cuaca silih berganti panas dan gerimis. Sampai di Jogja jam 13.30. Kita stop di Mirota Batik, Malioboro untuk berbelanja sedikit oleh-oleh. Saya janjian ketemu dengan Hanintyo, temen kuliah yang udah jadi orang Jogja. Saya dengan Hanin tetanggaan , tapi udah lama banget nggak pernah ketemu. Seneng banget bisa ketemu di Jogja. Siang itu kita ditraktir Gudeg bu Juminten yang lezaatttt.

Setelah makan gudeg, pisah dengan Hanin, kita balik lagi ke Malioboro beli lanting, trus pulang ke rumah Nanung. Sampe rumah Nanung sekitar pukul 16.00. Langsung cerita-cerita dengan serunya. Siap-siap sambil disiapin makanan dan teh manis panas. Sayang sore itu terasa cepat berlalu.

Jam 17.30, pamitan, kita sudah harus berangkat ke Stasiun.Pukul 17.50 kita sampai di stasiun.  Kereta kita, Senja Utama sudah ada. Stasiun tidak terlalu ramai. Kita naik dengan nyantai. Duduk di kereta sambil menunggu berangkat, cerita-cerita mengenang lagi perjalanan dua hari itu yang seperti mimpi. Perasaan baru saja kemaren lusa di kantor, lalu kemarin ekspedisi pantai, lalu sore itu sudah siap balik lagi ke Jakarta.

Tidak terlalu ngaret dari jadwal yang seharusnya berangkat pukul 18.30, sekitar pukul 18.40 kereta berangkat. Kereta tidak sepenuh waktu berangkat, perjalanan juga begitu lancar. Pukul 04.30 sampai di stasiun Jatinegara. Sedikit letih dan ngantuk, menghadapi kenyataan bahwa hari itu adalah hari senin, pagi ini harus ke kantor lagi, tapi suara debur ombak pantai-pantai Gunung Kidul masih terngiang-ngiang.

______________________________________________________________________
- Cawang - Nov. 2008

 

 

 

 

9 Responses to “nGaloR - nGiduL di Gunung KiduL”

  1.   diyas said:

    test comment

  2.   karin is the best said:

    Gue suka perjalanan kemaren. Waktunya pas,mepet tapi full aktivity! Masih keinget waktu jadi model berondong - berondong saltiga :D Nama lo siapa? Mira ya?

  3.   diyas said:

    ingetin gw email brondong2 itu RIn !!! gw lupa mulu !, minta foto2 kita !

  4.   Jati said:

    Gunungkidul, Tanah tumpah darahku neeh. Tapi sy blum penah ke Pantai Siung. Blum kesampaian manjat di sana.
    Kalo warung yang dimaksud Pak Yap itu seblah mana ya? Apa nama warungnya Bu’?

  5.   sidig endah said:

    sy lahir dn besar di GK hingga SMA,kemudian hrs hijrah ke ibukota.Bekerja di Garuda sbg flight attendant,sempat singgah dan melihat tmpt indah,tapi GK is a greatest places forever…terimakasih atas sanjungan dan waktu yg mb luangkan utk menulis ttg keindahan pantai2 GK.

  6.   diyas said:

    @ Jati:

    Pantai Siung eksotis karena tebing-tebing karangnya, lebih terasa keindahannya jika bisa memandang dari atas tebing.

    btw warung seafodnya lupa namanya, nanti saya cek dulu difoto2 ya

  7.   diyas said:

    @sidig endah

    salam kenal,
    menyenangkan tentunya jadi flight attendant, bisa singgah di berbagai tempat
    dibelahan bumi..

    Memang banyak pantai indah di Indonesia,tetapi pantai di GK unik karena tebing-tebing kapurnya.
    Saya sangat terkesan dengan pantai Drini, seperti telaga bening.
    Berada disana serasa di negeri dongeng. Semoga saya tidak berlebihan.

  8.   astawan said:

    Hmmm.. Gunung Kidul, daerah dengan sejuta kenangan…, ketika masih mahasiswa saya dan teman-teman sering menginap dirumah penduduk didaerah Ngawen. Walaupun sedikit gersang tapi suasana desa yang tentram dan jauh dari hiruk pikuk kota ditambah keramahan penduduknya serta alunan musik Campur Sari-nya menghadirkan kesan yang tak terlupakan. Pantainya juga indah-indah.
    Foto-foto yang anda posting mengingatkan saya kembali pada Gunung Kidul Handayani… trims.

  9.   diyas said:

    Terima kasih telah mampir di blog saya

    Daerah Ngawen tuh di dekat mana ya ?
    Semoga keindahan dan ketentraman Gunung kiduL tidak terusik dengan rencana dibangunnya jalan Lintas Selatan.

Leave a Reply