Takjub ! acara kondangan Neni yang digabung travelling pantai selatan bisa terwujud. Hampir sebulan lebih sebelumnya, sohib saya sejak kuliah, Neni
ngabarin rencana resepsi pernikahannya, mewanti-wanti saya supaya tidak ada acara dan bisa hadir ke Banjar, Ciamis pada tanggal 27 Desember 2008.

Jauh-jauh hari saya mengajak teman-teman yang mau jalan ke Pangandaran sekaligus nemenin kondangan. Karin dan RIfa, temen kantor tim GUnung Kidul trip antusias mau. Tadinya mau nekat pergi bertiga, bawa mobil sendiri.

Minggu-minggu berikutnya setelah rencana itu, Ama ngajak Trip ke Pamengpeuk, Garut Selatan pada tanggal yang sama. SEtelah diskusi, akhirnya saya dan Ama sepakat menggabung trip kondangan Pangandaran dengan Garut Selatan dengan jadwal tiga hari 26 -28 Desember.

Itinerary fix nya baru jadi beberapa hari menjelang pergi. SEmpat bingung mengatur jadwal, karena jadwal kondangan yang tengah, serta tempat utama yang akan dikunjungi jaraknya berjauhan. Green Canyon di Pangandaran dan Pantai Santolo di Pamengpeuk, Garut Selatan.  Sampai hari-hari terakhir menjelang pergi yang ikut tadinya enam orang, Saya, Karin dan RIfa dari IKPT serta Ama dengan dua orang teman kantornya di Electronic Solution, Dadang dan Diaz. Sehari sebelum berangkat peserta bertambah satu, Chika, tim hore saya dan Ama.

Jumat, pukul 7.30 pagi, kami kumpul di kantor saya. Avanza sewaan tampak penuh seperti akan pulang kampung, dimuati kami bertujuh plus ransel-ransel. Bahkann kado saya untuk Neni yang lumayan besar tidak muat lagi, setelah menimbang-nimbang saya tinggal untuk diberikan di Jakarta saja. Karena acara packing mobil yang cukup lama, kami baru berangkat sekitar pukul 8.15. Sejak masuk Cikampek dari Cawang sampai Tambun sangat lancar, berhenti dulu di rest area KM 19 untuk isi bensin dan ke ATM. 

setelah itu jalan agak padat merayap disekitar Karawang, yang ruas jalan tengahnya sedang diperbaiki. Selepas itu lancar lagi sampai keluar tol Cileunyi. Padat lagi menjelang Nagreg, tapi tidak terlalu parah. Cuaca berganti-ganti dari panas,mendung, gerimis, sampai hujan deras.Diaz, sang driver kita menyetir dengan nyantai, sehingga saya dan Karin yang duduk di jok belakang tidak mengalami gangguan mual.

Tidak terasa hampir pukul 14.00 siang ketika memasuki Garut, mulai mencari tempat untuk makan siang. Untungnya cemilan cukup readystock
sehingga masih nyantai cari tempat makan siang yang menggugah selera. Sampai Tasik belum juga singgah, sampai akhirnya kita berhenti di Restoran Gentong, selepas Tasik. Restoran bangunan kayu dengan kolam dan taman yang nyaman. Kita memesan ayam goreng kampung dan Gurame.
Resto sangat ramai dengan mobil-mobil yg parkir sebagian besar plat B. akan melanjutkan perjalanan, hujan deras.

Tidak sampai satu jam kemudian sampai di gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Kota Banjar”. Waktu menunjukkan pukul 16.00. Jadwal kita hari itu langsung ke Green Canyon, tetapi tidak terkejar. Green Canyon masih 1-1.5 jam lagi. Akhirnya kita memutuskan untuk langsung ke rumah Neni. Singgah dahulu di kantor Polres Banjar yang terletak dekat gerbang tersebut untuk numpang ke toilet. Setelah itu menuju Masjid Agung dan Alun-Alun kota Banjar. Saya  menelpon Neni untuk minta dijemput. Tidak lama Anto, adik Neni datang dan memandu kami menuju rumahnya yang tidak jauh dari situ.

Rumah Neni tampak ramai oleh tamu, sesorean kami bertamu. MEnjelang magrib kami pamit menuju penginapan yang ‘alhamdulillah’ disediakan Neni. Awal nya disediakan tiga kamar, Pas untuk kami bertujuh. Tetapi salah satu kamar tidak ber-AC. Demi kesamarataan akhirnya cewe-cewe bergabung dalam satu kamar, biar Diaz dan Dadang pakai kamar berAC.
Malam itu Ama, Chika, Diaz dan Dadang muter-muter kota Banjar. Saya, Karin dan RIfa memilih untuk leyeh-leyeh di kamar. Banjar kota kecil yang sepi tidak cukup menarik kami bertiga malam itu. Sekitar pukul 21.00 peningapan ramai oleh kedatangan rombongan keluarga mempelai pria dari Jakarta. Saya sempat menemui Sigit, sang mempelai untuk mengobrol.

Keesokan pagi,kami bersiap-siap menghadiri akad nikah. Jam 8.00 kita semua sudah rapi jali. Seru melihat teman-teman dalam rencana adventure masih menyelipkan kostum kondangan lengkap dengan selopnya.

Sekitar pukul 8.15, kami berangkat menuju gedung Graha Banjar Indah, yang tidak jauh dari penginapan. Gedung yang cukup luas itu tampak cantik berhiaskan bunga-bunga dan karpet merah. meja-meja catering tampak sudah rapi, satu kelompok Sanggar Musik Sunda tampak siap mengiringi acara. di depan panggung pelaminan, tampak barisan kursi-kursi menghadap meja akad nikah, sebagian besar sudah terisi. Seorang ibu setengah baya berkebaya rapi, mempersilakan kami duduk.Kami duduk mengikuti prosesi akad nikah dengan adat Sunda sampai selesai.

Karena waktu kami yang mepet, seusai akad nikah, sekitar pukul 10.00 kami langsung pamit. Tidak menunggu resepsi yang akan dimulai pukul 11.00. Berangkat menuju Green Canyon. Sekitar 2 jam perjalanan,pukul 12.00 kami sampai di Green Canyon. Parkiran padat dengan mobil plat B. Saya nyaris tidak sadar bahwa itu di Green Canyon, bukan di Kebun Binatang Ragunan!. Tempat wisata yang jaraknya terbilang jauh dari Jakarta ini padat seperti Ragunan. ditempat pemberangkatan perahu, orang berkerumun. Syukurnya siang itu terik, sebelumnya kami khawatir hujan, sehingga tidak bisa turun ke sungai. Kami beristirahat dulu untuk makan siang, sholat dan ganti baju, hanya saya dan Karin yg tetap dengan kostum kondangan. Sekitar pukul 13.30 kami membeli tiket perahu, dapat antrian no. 487, sedangkan perahu yang sedang jalan baru antrian 330an. Akhirnya kita ke Pantai Baru Karas yang tidak jauh dari situ.

 

Berfoto-foto sampai pukul 15.15, lalu kembali ke Green Canyon.Masih menunggu sekitar 45 menit lagi sampai nomor antrian kita tiba. Sekitar pukul 16.30 perahu kita baru diberangkatkan. Tetap antusias menyusuri sungai Cijulang, biarpun sudah terlampau lelah menunggu dan kepanasan.
Matahari sudah mulai meredup. Menjelang masuk ke dinding tanah sudah agak gelap, tidak bagus untuk berfoto-foto.

Ke Green Canyon kali ini adalah yang kedua kali untuk saya, dulu tahun 2006 kesini juga ramai. Kali ini berharap lebih sepi sehingga lebih nyaman berfoto-foto, ternyata malah lebih ramai.Diaz dan Dadang ikut berenang. Saya kepengen, tapi melihat kondisi yang penuh dan sudah sangat sore, tidak memungkinkan untuk nyemplung.
Sekitar pukul 18.00 kita sudah siap lagi untuk berangkat. Tujuan berikutnya adalah makan Seafood di Pangandaran. Kali ini posisi driver digantikan Karin. Sepanjang perjalanan gerimis dan langit mulai gepan dan udara mulai dingin. Kita semua sangat-sangat kelaperan. Antrian mobil tampak padat ketika memasuki gerbang Pangandaran sekitar pukul 17.00, selanjutnya menuju deretan rumah makan SEafood di pantai timur. Mencari sisa-sisa ruang parkir diantar padatnya mobil. Kami mencari warung yang ramai namun masih menyisakan bangku. Memilih ikan, cumi dan udang untuk dimasak bermacam-macam. Makan dengan lahapnya sampai tidak bersisa.Selesai makan kita bergegas lagi melanjutkan perjalanan.
Sekitar pukul 21.00 kami berangkat dari Pangandaran menuju Cilawu Garut, untuk beristirahat di rumah kakaknya Dadang. Perjalanan yg cukup panjang dengan perkiraan akan sampai di CIlawu pukul 01.00 dini hari. Diaz kembali menyupir.

Kita tidak akan melewati jalur berangkat (lewat Banjar & Malangbong), menuruti saran bapak tukang parkir di Green Canyon, lewat Green Canyon (Parigi) - Cijulang, menyusuri jalan kecil pinggir pantai sampai CIpatujah lalu menanjak ke utara sampai Singaparna. Ternyata jalan ini tidak lebih baik dan lebih cepat dibanding melewati jalan utama Banjar - Tasik. Jalannya sempit, sepi, mistis, melewati semak belukar dan hutan. Ditambah kondisi badan yang capek dan paranoid menjelang tengah malam. SEpanjang jalan  kita menghibur diri dengan tebak-tebakan garing, nyanyi lagu-lagu dangdut yang norak, sampai berzikir.  Rifa yang sejak berangkat mual-mual tampak tidak terhibur dengan kegilaan yg lain. Hanya sebentar dan sesekali menyahut, kalo obrolan berhubungan dengan Sinetron, sampe dijulukin Rifa Muksin (Muka Sinetron).  Kondisi fisiknya diperparah dengan ketakutan akan bajing loncat dan jelangkung.

Satu persatu mulai bertumbangan, nggak hanya RIfa. Setelah RIfa muntah untuk kesekian kali, disusul AMa, kemudian Karin. Seteleh menemukan daerah yang agak terang dengan jajaran rumah penduduk, kita minggir untuk bertukar posisi duduk. Tidak banyak membantu sebenarnya, karena full seat, , hanya Karin bertukar duduk dengan Dadang.  Saya tetap di blakang, kali ini dengan Dadang, sedangkan Chika mencoba tabah diapit dua orang yang muntah, Rifa dan Ama dideretan bangku tengah.
Tidak berapa lama melanjutkan perjalanan, kondisi Ama dan Karin membaik biarpun kita semua kelelahan. Rifa malah memburuk, ingin pingsan. Kita semua panik. akhirnya berhenti lagi untuk sejenak mengobati RIfa sebisanya. Saya terus menjaga pikiran agar tidak ikut tumbang. Mencium sedikit aroma muntah cukup merangsang untuk mual juga. Saya meminta Diaz untuk jalan pelan mencari warung kopi, minum hangat untuk  memperbaiki kondisi perut.
Setelah Rifa beres, kita melanjutkan perjalanan mencari warung kopi di daerah Cisoreang. Tidak tampak warung kopi, yang ada hanya penjual makanan gerobak pinggir jalan. Saya mengamati seksama, diantara gerobak-gerobak itu manakala ada termos air panas. Akhirnya kita menemukan tukang bubur ayam yang juga menyediakan teh panas. Badan kita semua rasanya sudah merindukan tempat untuk berbaring.

Saya celingak-celingkuk mencari tikar yg biasa digunakan tidur untuk si tukang penjual, hanya ada tikar kecil di emperan toko yang sempit, bangku kayu panjang tanpa sandaran akhirnya menjadi pilihan, lumayan untuk sejenak meluruskan punggung. Teh seduh hanyat menjadi penolong berarti pukul 01.00 dini hari itu. Belum ada tanda-tanda akan sampai ke tujuan. Dadang pun, sang tuan rumah tidak tau berapa lama lagikita akan sampai di Cilawu. Kita seperti tersesat di somewhere in nowhere. Sambil ngobrol-ngobrol saya celingukan mencari Karin, ternyata tuh anak sudah jadi sleeping beauty, tidur di bangku kayu panjang dengan bantal kumal dan sarung beraroma apek milik si tukang bubur :-D.

Kita minum teh sambil ketawa ketiwi menghibur diri sekitar 20 menit, kemudian melanjutkan perjalanan. Badan dan pikiran mulai segar kembali, apalagi ketika akhirnya menemukan papan penunjuk jalan menuju Singaparna. Kami kembali nyanyi-nyanyi sambil cela-celaan. Menjelang pukul 02.00 belum juga sampai, kantuk menyerang lagi, akhirnya saya tertidur, sampai sadar lagi dibangunin karena sudah sampai di CIlawu, pukul 02.30.
Rumah kakaknya Dadang terletak di pinggir jalan raya. Kami menurunkan barang-barang, kemudian dipersilakan masuk, langsung menuju kamar yang berada di lantai mezzanine. tanpa ba bi bu, begitu melihat kasur saya langsung tumbang. Pukul 06.00 begitu sinar matahari  masuk kamar, kami terjaga, masih enggan untukbangun. Hangatnya matahari tidak cukup
menggantikan dinginnya udara Garut. Akhirnya bergantian mandi dan berkemas lagi. Akhirnya kondisi badan kita bisa fit lagi setelah bisa beristirahat nyaman sekitar 4 jam.
Kami beramah tamah dengan keluarga kakaknya Dadang serta bermain dengan ponakan Dadang yg lucu. Ditambah pula jamuan sarapan yang lengkap mulai dari kue-kue sampai nasi dan soto hangat. Persiapan yang prima menjelang perjalanan panjang berikutnya menuju Pamengpeuk.

Sekitar pukul 09.00 kami pamit berangkat. Udara cerah melewati jalan raya yang ramai. Selepas Cilawu, jalan mulai berkelok-kelok dengan pemandangan  seperti di Puncak. Semakin jauh jalan mulai menyempit, berkelok semakin tajam dan menanjak bukit. Kami singgah sejenak di “Batu Numpang” untuk berfoto.

Sebagian besar pemandangan perpaduan seperti Puncak, Subang dan Ciwidey. Menjelang tengah hari belum juga sampai.

Saya mulai mengantuk berat ketika jarak menuju Pamengpeukmasih sekitar 40 km lagi. Sekitar pukul 13.00 sampai di Pamengpeuk, tujuan pertama adalah Pantai Karang Taranye, namanya mirip dengan Karang Taraje di Banten Selatan. Pantai dengan hamparan pasir luas, semak-semak khas vegetasi pantai selatan dan hamparan karang berbentuk Taranye.

Matahari membakar ubun-ubun, tampak rombongan mahasiswa FK Unpad sedang akan berkemah disekitar lokasi. Kawanan sapi kurus tampak melepas dahaga di muara kecil. Dari tempat memarkir mobil, harus berjalan sekitar 300 meter menuju pantai dan mandaki bukit karang. Berfoto sambil menikmati pemandangan. Sekitar lima belas menit kita kembali lagi ke mobil dan beranjak lagi.

Tipikal pemandangan di Pamengpeuk adalah sawah hijau yang berada di tepi pantai. Garis pantai menjadi pembatas warna biru laut dah hijau sawah. Sekitar setengah jam perjalanan melewati gerbang Pantai Santolo, tapi kita akan menuju tempat yang lebih jauh dulu, yaitu Cijayana. Pemandangan semakin eksotis selepas Santolo. Jalan lurus dengan alinyemen vertikal turun naik, di kanan jalan hamaran perbukitan hijau yang landai, dikiri jalan hamparan sawah hijau dan laut lepas Pantai Selatan.
Jalan berada cukup tinggi dari permukaan laut, sangat cocok untukmelihat pemandangan indah ke segala arah. Kita tidak sabar untuk foto-foto. Tetapi kita akan makan siang dulu. Waktu hampir pukul 15.00, rencananya akan menuju Cikelet untuk makan seafood. Namun karena tidak sampai-sampai, akhirnya kita mampir di warung nasi sederhana. Hanya Diaz dan Dadang yang makan nasi, yang lainnya Indomie telor. Setelah sholat, kita melanjutkan perjalanan ke arah balik. Karin jadi driver lagi, dan saya duduk depan. Berfoto-foto di beberapa tempat favorit, salah satunya adalah jembatan dengan view RCTI oke.

Sekitar pukul 17.15 kita memasuki gerbang Pantai Santolo. Waktu di rumah kakaknya Dadang, kita mendapat password untuk bebas biaya masuk ke Pantai Santolo dari kakaknya Dadang. Kita disuruh mengaku tamunya Pak Sugeng dari LAPAN. Ternyata didalam komplek pantai Santolo terdapat kantor penelitian LAPAN. Menjelang gerbang masuk, Dadang baru teringat pesan kakaknya, dia yang duduk di belakang minta tuker duduk dengan saya. Saya bilang, biar saja nanti saya yang bilang ke petugas. Di gerbang pemeriksaan, saya bilang ke petugas
“Permisi Pak, kami dari Jakarta, tamunya Pak Sugeng”
kata petugas;

 ”LAPAN ya?”
saya yang Jaka Sembung bawa gitar, sempat bingung, saya pikir, password Pak Sugeng tidak manjur sehingga kita harus tetap membayar, bahkan dihitung delapan orang. Saya malah menjawab dengan;

“Tujuh”


sang petugas tampak bingung juga dengan berkata lagi “LAPAN ?”
saya juga mengulang jawaban dodol “tujuh”.


Si petugas lalu mengaunkan tangannya menyuruh mobil kita jalan. Saya dan si petugas sama-sama bingung. Karin yang sadar duluan, sambil menjalankan mobil perlahan dia bilang “orang itu bukan nanya jumlah Mih”. Hanya jeda beberapa detik, kita semua sadar dan teringat cerita kakaknya Dadang, bahwa pak Sugeng itu orang LAPAN. Sontak kita ngakak rame-rame nggak brenti-brenti sampe sakit perut. Habislah semua mencela saya yang masih juga geli sendiri.

Beberapa ratus meter dari gerbang tampak Pantai Santolo, pantai lengkung seperti busur dengan pasir yang cerah. Cukup ramai pengunjung. Kami berjalan menyusuri pantai sambil berfoto. Tidak lama lagi matahari akan tenggelam. Tidak sampai setengah jam kami bergegas untuk pulang. Menjelang gelap kita berangkat pulang langsung menuju Jakarta.

Pembahasan lapan dan tujuh nggak habis-habis sepanjang jalan. Semua tampak fit malam itu , tidak seperti malam sebelumnya. Perjalanan juga cukup lancar. Menjelang Nagreg mulai macet. Diaz memutuskan ambil jalan alternativ melewati Majalaya. Menjelang Cileunyi sekitar pukul 22.30, singgah di POM Bensin untuk ke toilet. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan ganti driver lagi ke Karin. Tidak jauh kemudian sudah masuk tol Cileunyi, Cipularang dan CIkampek lancar, keluar tol Cawang sekitar pukul 01.15. Saya, Karin dan RIfa turun di halte Carefour Cawang, ber say good bye ke semuanya. Kemudian berpencar pulang masing-masing.
What a real adventure !

____________________________________________________________

Cawang - Januari 2009