Benny & Mice dan nostalgia Tatang S.
March 21, 2008
Beberapa bulan yang lalu ngeliat komik "Lagak Jakarta" karya Benny & Mice di toko buku MPBook Point. Nikmatin fasilitas baca di toko buku yang nyaman itu, saya cekikikan sendiri. Baca dapet hampir setengahnya, belum juga mutusin untuk beli buku itu.
Beberapa minggu lalu akhirnya beli tuh buku, dalam satu paket plus bonus dua pin gambar supir Bajaj yang lagi ngetem sambil nyabutin bulu jenggot pake dua koinan & nenek-nenek pengajian bawa kotakan nasi berkat. Minggu berikutnya jadi kecanduan tuh komik, beli lagi edisi "100 tokoh yang mewarnai Jakarta".
Komik Benny & Mice mengingatkan gw akan komik Petruk Gareng (PetGar) karya Tatang S., pada masa SD di era 80-an. Waktu itu komik PetGar bisa bikin cekikikan. Kesamaan antara Benny & Mice dan Petgar adalah ceritanya yang sangat menggambarkan ironi kehidupan Jakarta dan dikemas dalam cerita yang kocak.
Perhatikanlah detail kartun dalam komik Benny & Mice, begitu kuat mengambarkan suasana Jakarta sampai yang paling detail. Misalnya gambar Bajaj lengkap dengan tulisan "selamat jalan Nike" (maksudnya nike Ardila), atau untuk melukiskan setting ada gambar pohon lengkap dengan tulisan kecil iklan "les privat 08134509871" (iklan-iklan yang biasa ditempel di pohon-pohon, biasanya ada iklan badut untuk panggilan pesta, sedot WC, renovasi rumah dll yang cuma ditulis jasanya dan no. HP ).
Kemiripan lain adalah ketika menggambarkan pemuda pengangguran yang menghayal punya duit banyak & punya cewek cakep, terus pas lamunannya pecah, tersadar menghadapi kenyataan hidup yang pahit.Inget Petruk dulu sering banget digambarin kayak gini, juga cerita AO alias Ali Oncom di lembergar Pos Kota.
Gw yakin orang-orang yang hapal dengan kehidupan Jakarta pasti cekikikan baca komik Benny & Mice ini, apalagi yang dari kecil tinggal di Jakarta. Tapi bagi orang yang nggak kenal Jakarta belum tentu buku ini dianggap lucu. Gw seneng banget komik ini bisa diterbitin Gramedia, selain menghibur juga menambah koleksi komik Indonesia dalam bentuk buku, yang selama ini cuma ada di koran.
Sayangnya, komik PetGas Tatang S. dulu hanya sebatas dicetak kualitas stensilan terbitan Gultom Agency yang konon markasnya di pasar inpres Senen. Dijualnya di tukang koran dan pedagang mainan anak-anak yang mangkal di pinggir sekolah. Harganya antara Rp 100 - Rp 500. Sayangnya koleksi PetGar gw nggak ada yang bersisa satupun :-(.
Gw sempet girang waktu nemu profil Tatang S. di Friendster beberapa waktu lalu (http://profiles.friendster.com/7741203), sayangnya tidak pernah di-update lagi.
Bagi yang masih punya koleksi PetGar Tatang S., atau mungkin Tatang S. nya sendiri, semoga ada keinginan untuk mem-publish di website , komik-komik PetGar yang masih tersisa. Gw yakin yang inget komik ini masih banyak.
Oh iya, seri terbaru Benny & Mice udah ada lagi, judulnya "Gila Hape". Tadi baca dapet setengah di Gramed, diliatin satpam nya mulu, mungkin karena gw cekikikan terus. Bukunya tipis, padahal niat baca sampe abis, tapi salting juga diliatin satpam. Minggu depan beli deh.
_________________________________________________
Pinggiran Jakarta - 21.03.2008
Di Jakarta lagi (2)
March 1, 2008
Jakarta Kebanjiran
Banjir tahun lalu nggak ngerasain, karena nggak di Jakarta, tahun ini akhirnya ngerasain. Jumat, 1 Februari Jakarta kerendem. Sebenernya hari itu nggak ngerasain banjir. Secara jalan ke kantor nggak ngelewatin titik banjir.
Yang gw inget, pagi-pagi rada BT diseruduk Livina. Siangnya baru denger berita Jakarta banjir. Ngelongok Jalanan, tol Jakarta brenti total. Jalan biasa sepi banget. Banyak yang pulang ‘tenggo’ menyelamatkan diri.Agak paranoid, gw ikut2an pulang tenggo. Ternyata arah Bekasi nggak ngaruh sama sekali, yang ada malah kosong melompong.
Banjir kali ini lebih parah dari tahun lalu. Jadwal penerbangan kacau balau. Sempet kebayang juga kalo harus traveling dalam keadaan kayak gini. Seorang temen di Aceh yang lagi R&R sempet ngalamin sengsaranya. Penerbangan yang harusnya jam 17.30 di delay jadi jam 24.00. Nyampe Jakarta subuh. Nggak ada angkutan, yg ada kijang carteran. Seru juga bayanginnya :-P.
Hari Minggu, tanggal 3 Februari, pikir dah rada surut. Ada urusan di Kelapa Gading.Ternyata daerah sana tutup karena kebanjiran. Masih banyak titik banjir daerah sana. Ngelewatin banjir emang bikin deg-degan. Inget bus mogok kerendem banjir di Khuala Bhee, Meulaboh :-S.
Jalanan Jakarta kaya’ Papan Congklak
Entah ada hubungannya ama banjir atau engga. Setelah banjir, jalan-jalan protokol di Jakarta bolong-bolong.
Sepanjang Gatot Subroto, bolongan berentet ditengah-tengah lajur. Mirip papan congklak.
Untungnya nggak lama, lobang-lobang disekitar Balai Kartini ditambel. Disana ditambel, lobangnya muncul disekitar Cawang (Indomobil dan sekitarnya).Halah…. Jakarta…Jakarta…
_____________________________________________
Bintara, 29.02.2008
Di Jakarta Lagi (1)
February 23, 2008
Bulan Januari lalu, gw bener-bener menghayati kehidupan gw di Jakarta lagi. Yang agak heran cuaca Jakarta yang lagi diguyur hujan terus-terusan jadi dingin banget, seinget gw nggak pernah deh Jakarta sedingin ini. Apa karena climate change ? ato kulit gw yang udah biasa kepanasan ?!?! dunno lah…
Inul Vizta
minggu pertama di Jakarta, ketemuan lagi ma temen-temen di belakang AA. Udah mau pulang Mr.DJ ngajakin ke Inul Vizta, nggak semuanya mau, cuma berlima yang berangkat ke IV Melawai. Biarpun formasi lagunya aneh2, Mr.DJ yang broken heart style, jadi tampang Rambo lagu Rinto, rebutan lagu ma yang laen yang lagunya tereak2.
Nonton Teater lagi setelah sekian lama
Januari lalu, Teater Koma pentas lagi dengan naskah "Kenapa Leonardo". TEmen-temen AA masih antusias juga untuk nonton teater. Jadilah malem minggu 19 Januari bersembilan ke TIM, biarpun tiketnya dapet di balkon. Gw baru sadar ternyata gw belum pernah nonton di GBB dapet di balkon, dan ternyata nggak enak banget. Malem itu, kawasan Cikini mati listik, persiapan genset untuk pentas agak lama, jadi pentas mundur 50 menit. Cape deh…
Heran deh gedung teater baru belum bisa dipake juga untuk gantiin GBB. Sayang banget tuh gedung keburu rusak baru mau dipake kali. Gw ama Sansan jadi nostalgia worshop drama.
______________________________________________________________
Warnet Bintara 24.02.2008
Ayat-ayat Cinta
January 17, 2008
Pertama kali melihat novel ini, saya mengira novel ini terjemahan novel yang pengarangnya orang timur tengah karena membaca nama pengarangnya. Sekitar dua tahun lalu, novel Ayat-ayat cinta menjadi best seller.Banyak orang memuji novel ini.
Saya sangat suka setting cerita, yang melukiskan Mesir dengan begitu jelasnya. Namun dari segi cerita menurut saya biasa saja. Saya menanyakan komentar temen sesama penggemar novel. Ternyata komen kedua teman ini mirip dengan saya.
Dalam beberapa minggu kedepan, film Ayat-Ayat Cinta akan dilaunching.Tadinya saya tidak terlalu antusias menunggu ditayangkan di bioskop, tetapi ingin menonton juga karena syutingnya di Mesir.
Kebetulan sebelum beredar di bioskop, sudah mendapatkan filmnya.
Karena sudah agak lupa dengan jalan cerita detailnya. Setelah menonton jadi ingat lagi, kurang lebih seperti ini ringkasan
ceritanya.
Fahri, mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Universitas Al Azhar Mesir. Tokoh fahri dilukiskan sebagai pemuda yang baik, pintar, alim, pandai bergaul, berwawasan luas dan ‘agak’ moderat. Ia merasa usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi belum terfikir siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya. Diceritakan ada empat orang perempuan yang jatuh hati padanya, yaitu :
- Nurul; Sahabat Fahri yang merupakan teman satu kampus.
- Maria :Tetangga di flat yang sering mengantar makanan dan membantu Fahri membuat tugas kuliah. Fahri dilukiskan bersahabat dengan Maria yang beragama Kristen. Mereka sering saling ‘curhat’ ditepian sungai Nil.
- Noura.
Tetangga satu flat yang sering disiksa ayah tirinya. Ayah tirinya sering memaksa Noura untuk jadi pelacur,setiap Noura menolak, dia disiksa. Fahri yang sering melihat Boura disiksa, suatu saat akhirnya menolong Noura. Fahri, Maria dan Nurul membantu Noura hingga Noura menemukan orang tua kandungnya. - Aisha
Gadis bercadar berkewarganegaraan Jerman. Fahri bertemu Aisha di MRT. Aisha memberi tempat duduk kepada seorang ibu warga negara Amerika. Lalu ada seorang bapak-bapak yang arah-marah kepada Aisha karena dianggap Aisha berbaik hati kepada kaum kafir yang telah memerangi Islam. Aisha berdebat dengan sang bapak. Dalam debat ini ditunjukkan ajaran Islam yang sebenarnya. Lalu Fahri ikut membantu Aisha memberikan argumen kepada sang bapak dengan mengucapkan dalil-dalil.
Dari situ akhirnya Fahri kenal Aisha, dan Aisha mengenalkan Fahri kepada wartawan asing yang sedang meliput tentang Islam.
Hingga pada waktunya sang guru(syeikh) di kampus menyarankan Fahri untuk menikah dan melakukan taaruf (perkenalan). Kebetulan yang akan dikenalkan adalah Aisha. Paman Aisha merupakan sahabat Fahri di kampus. Fahri dan Aisha akhirnya menikah.
Ketiga gadis lainnya yang mendambakan Fahri patah hati. Orang tua Nurul datang ke Fahri, meminta Fahri untuk memperistri Nurul. Noura, patah hatinya dimanfaatkan oleh ayah tirinya. Noura hamil oleh ayah tirinya. Ayah tirinya ingin menuduh Fahri yang menghamili Noura. Noura yang juga takut oleh ayah tirinya, sekaligus patah hati, ikut memfitnah Fahri.
Fahri ditangkap polisi dengan tuduhan pemerkosaan.Namun Fahri akhirnya bisa bebas setelah Maria dan Nurul bersaksi, bahwa saat Noura diungsikan ke Flat Fahri, mereka ada disana menemani Noura.
Maria, yang mungkin tidak terfikirkan oleh Fahri untuk memperistrinya karena beda agama. Tetapi cinta Maria kepada Fahri begitu dalam. Sampai akhirnya dia sakit keras. Aisha menyarankan Fahri untuk menikahi Maria demi kesembuhan Maria. Fahri akhirnya menikahi Maria. Namun pada akhirnya Maria meninggal dunia.
Kelebihan novel Ayat-ayat cinta menurut saya antara lain :
- Setting tempat. Penulis cukup pintar melukiskan tempat-tempat di Mesir.
- Menyampaikan ajaran-ajaran Islam yang universal dan moderat yang selama ini mungkin belum dipahami dunia barat,yang selalu menganggap Islam sebagai teroris.
- Cerita tentang pergaulan yang Islami serta pernikahan dengan cara ta’aruf rasanya baru kali ini muncul dalam novel dengan banyak muatan-muatan pemikiran moderat.
Lalu mengapa cerita Ayat-ayat cinta saya menurut saya biasa saja;
- Tokoh Fahri terlalu narsis, yang sampai membuat empat orang wanita ‘cinta mati’.
- Karena saya tidak setuju poligami, saya kurang suka ketika Aisha menyarankan Fahri untuk menikahi Maria biarpun untuk alasan kesehatan Maria.
Setelah menonton filmnya, yang saya suka dari film tersebut:
- Selama ini hampir tidak pernah melihat film yang cukup ‘pop’ menyampaikan ajaran-ajaran Islam yang cukup moderat didalamnya, membuat film ini menjadi unik.
- Akting para pemainnya cukup bagus, dulu begitu membaca novel begitu emosi menilai poligami. Di film adegan Aisha menyuruh Fahri menikahi Maria, karena Aisha tidak tega melihat keadaan Maria, dan ketika Aisha sedih melihat Fahri menikahi Maria dan mengatakan cinta kepada Maria, menggambarkan bahwa biarpun diperbolehkan dalam Islam, sangat sulit untuk ikhlas 100% bagi sang istri untuk merelakan suaminya menikah lagi.
- Artistik dan kostum jg sangat mendukung. Jidat dan alis Rianti Cartwrigh (Aisha) sangat cantik, jadi biarpun tertutup jilbab dan panjang, tetap saja terlihat cantik.
Sedangkan yang saya kurang suka ;
- Setting tempat kurang banyak variasi, mungkin karena keterbatasan, hanya beberapa tempat saja yg diambil.Suasana didalam kampus dan didalam MRT tidak terlihat bahwa itu di MEsir.
- Karena dialog dilakukan dalam bahasa Indonesia, jadi terasa aneh. Seharusnya hanya Fahri dan teman-teman mahasiswa
dari Indonesia yang berbahasa Indonesia. - Aisha difilm terlihat sangat ‘tajir abis’ sedangkan orangtua Fahri pedagang tape, sehingga serasa nonton sinetron Indonesia banget.
- Yang sangat disayangkan dalam film ini adalah kurangnya memunculkan ‘kepintaran pemikiran’ tokoh-tokoh perempuannya. Saya membayangkan di film, tokoh Aisha akan dilukiskan sangat pintar dengan pemikiran-pemikiran moderatnya tentang Islam. Kesannya malah Maria yang lebih pandai ketimbang Aisha. Kepintaran Aisha hanya muncul pada adegan ketika memberi kursi kepada turis Amerika di MRT.
Selebihnya kesan yang dimunculkan hanya ia sebagai istri yang sangat cantik, tajir abis, sangat sayang dan perhatian kepada suami, dan ucapan-ucapan manja pada adegan-adegan romantisme yang ingin menunjukkan indahnya menikah. (hayahhhh !!!)
Secara keseluruhan filmnya lumayan menarik, jadi tetep, kalo udah muncul di bioskop kudu nonton. Biar nggak feeling guilty juga
ngeduluin nonton sebelum beredar resmi.
*gambar diambil dari www.ayatayatcintathemovie.com
_______________________________________________________________
Jakarta vicinity - 16.01.2008
Terjebak banjir di hutan Kuala Bhee
December 26, 2007
Minggu pagi, 16 Desember 2007. SAya dan tim akan meninggalkan Teunom. Tidak seperti biasanya diantar mobil LC, Transport Dispatcher yang baru menyewa bus. Banyak yang kurang suka dengan Trans. Dispatcher baru itu. Kami bersebelas, lima orang pesawatnya jam 8 pagi, sementara enam orang lainnya, termasuk saya pesawat jam 15.00. Tetapi semua yang akan terbang hari itu disuruh berangkat pagi .
Jam 6.00 baru berangkat, padahal kalau naik LC dan jalan normal, untuk naik pesawat jam 8.00 biasanya jam 5.30 sudah berangkat. Perkiraan saya, pasti telat sampai bandara.
Benar saja, baru lima belas menit perjalanan, rintangan pertama muncul. Jembatan Peurigi, di Lambalek, bulan lalu longsor di mulut jembatan. Perbaikan sementara hingga saat ini, hanya menggunakan batang pohon kelapa. Ketika kami akan lewat pagi itu, baru saja ada truk terperosok dan menghalangi jalan. Terpaksa kami harus melintasi jalan memutar yang lebih jauh, melewati jalan desa yang kecil.
Tembusan jalan desa itu munculnya di jalan baru hutan Kuala Bhee, Woyla, Aceh Barat. Tidak lama kemudian rintangan berikutnya, banjir!. Padahal jalan ini adalah jalan baru yang dibangun setelah tsunami, namun banyak titik banjir. Entah karena kesalahan survey topografi atau karena maraknya illegal logging. Biasanya tidak terlalu masalah melintasi banjir dengan LC. Tapi banjir pagi itu cukup tinggi, dan lintasan yang terendam banjir cukup panjang. Setelah mencoba melintas, akhirnya bus yang kami tumpangi KO!. Knalpot berasap, dan mesin mati.
Untungnya, ada LC kita juga yang jalan bareng, mengantar bos konsultan ke Bandara juga. Dan LC yang di pakai yang lengkap peralatannya. Teman-teman basah-basahan nyebur ke banjir untuk memasang tali pengerek. Setelah melewati banjir, tali pengerek dilepas. Ternyata didepannya masih ada empat titik banjir lagi. Jadilah bolak balik memasang dan melepas tali pengerek. Selepas titik -titik banjir, jam sudah menunjukkan pukul 7.45, padahal masih cukup jauh mencapai Meulaboh apalagi ke Bandara.
Dari pusat kota Meulaboh ke Bandara Cut Nyak Dien masih sekitar 30 menit lagi. Sebelum pemekaran kabupaten baru, bandara ini masih masuk dalam kabupaten Aceh Barat. Namun kini sudah masuk dalam kabupaten Nagan Raya.
Sampai di Bandara pukul 9.10 . Petugas SUsi Air (penerbangan perintis Cessna) langsung menyuruh bergegas. Lima orang teman yang berangkat jam 8.00 langsung terbang. Untungnya berlima (setengah kapasitas pesawat), jadi ditungguin oleh pesawat. Kalo cuma sendiri, pasti sudah ditinggal.
Lebih untung lagi ada LC. Andaikan yang jalan cuma bus. Entah berapa jam kita terjebak di hutan Woyla. LIma orang teman kami mungkin tiketnya akan hangus, dan tidak bisa berangkat hari itu. Sepanjang jalan nggak brenti-brenti mengumpat sang Transport Dispatcher. Seorang Transport Dispatcher belum pernah ke Meulaboh, tidak tau medan jalan Teunom - Meulaboh seperti apa. Enak saja, dia menyewa bus. Padahal hari itu sudah tidak ada kegiatan, LC bisa dipakai semua.
Setelah itu, kami berenam bingung mau ngapain di Bandara Cut Nyak Dien yang jauh dari mana-mana, dan cuma ada satu warung kecil, menunggu dari jam 9 pagi sampai penerbangan berikutnya jam 15.00.Pelarian terakhir untuk membunuh waktu adalah HP. Semua mendaftar Talkmania. Bertelpon ria lah kita berjam-jam.
Jembatan Peurigi, Lambalek,photo Kamis, 13.12.2007
Jembatan Peurigi, minggu pagi 16.12.2007. Nggak bisa lewat…
Jalan Kuala Bhee. Ini jalan apa sungai ?!?!?
LC biarpun kelelep, nggak mogok
Air masuk ke lantai bus, detik-detik menjelang bus mogok
Dikerek lagi, pada titik banjir berikutnya
Untung ada LC
Lolos dari titik banjir terakhir
Terdampar di bandara Cut Nyak Dien
Goodbye Meulaboh
_____________________________________________________________________
Pekanbaru 26.12.2007
Jakwoe*
December 25, 2007
Minggu kedua Desember merupakan minggu terakhir di Teunom bagi sebagian besarTIm Konstruksi BRCS. Puncak acaranyanya adalah Handover keseluruhan (1800) rumah bantuan BRCS padahari Jumat, 14 Desember 2007 yang acaranya tandem dengan selesainya rumah ke 100000 (seratus ribu) yang telah dibangun BRR.
Acara BRR, diadakan direlokasi desa Tanoh Manyang, Teunom, Aceh Jaya. Semula dijadwalkan mulai jam 11, tapi Kuntoro baru dateng jam 12.00 :-(. Kita sudah cukup meleleh kepanasan menunggu sang Boss BRR tersebut.
Acara akhirnya dipadatkan,sekitar 40menit, jam12.40, bubar untuk sholat jumat. Acara selanjutnya adalah acara BRCS,di lapangan desa Keude Teunom, yang dijadwalkan mulai pukul 14.30. Tapi jadi rada kacau, karena pukul 13.30, Kuntoro sudah datang ke lokasi. Terpaksa acara dipercepat. Cuaca juga kurang bersahabat, mendung dan lembab banget. Begitu acara selesai, sekitar pukul 16.00 hujan deras langsung mengguyur. Hiks.. padahal malamnya akan ada konser Rafli. Ternyata sampai malam hujan nggak brenti.
Rafli dan Kande Band mulai konser pukul 21.30. Tapi gw nggak nonton karena dah capek banget dan nggak sanggup hujan-hujanan. ntungnya cukup banyak penduduk yang antusias menonton dibawah guyuran hujan. Padahal dah niat banget motret Rafli manggung,dan potret bareng Rafli dengan background spanduk tulisan Jakwoe.:-(
*Jakwoe= pulang (bahasa Aceh)
Sir Nic Young (CEO BRCS), Kuntoro & Nazir (benef orphan) .(photo by Diyas)
Kuntoro menerima kenang-kenangan dari BRCS; topi & T-SHirt Jakwoe .(photo by Diyas)
Pose bersama bocah-bocah Teunom.(photo by Adjie)
Rafli & Kande band. (photo by mas Khoirul)
Penonton Rafli hujan-hujanan. (photo by mas Khoirul)
______________________________________________________________________
Pekanbaru 25.12.2007
TIKI Meulaboh laris manis tanjung kimpul
December 8, 2007
Bulan ini kantor akan closing program di Teunom. Sebagian besar staff akan end of mission. Dari bulan lalu udah kepikiran mengatur pengiriman barang-barang. Sulit mengandalkan bagasi Cessna yang maksimum hanya 15 kg. Lebih praktis sebagian dipaketkan.
Di Meulaboh ternyata cuma ada satu biro pengiriman, yaitu TIKI JNE. Alternatif lain adalah kantor pos. Karena bisanya ke Meulaboh cuma hari sabtu/ minggu,kantor pos tutup, jadi pilihan terakhir tinggal TIKI.
Minggu lalu, dua bundel barang-barang saya bawa ke Meulaboh.
Kelihatannya nggak banyak, tapi pas ditimbang, masing-masing hampir 10 kg, total jadi 20 kg. Ketika dicatat harganya, kaget juga.
Ternyata ongkos perkgnya 30rb. Total jadi 600rb. Glek! mahal aja! Padahal harga paket pos nggak sampe setengahnya.
Minggu berikutnya, beberapa teman ngirim paket juga. Mereka nggak nyadar kalo mahal. Pas baru mau bayar, baru pada kaget. Ngirim ke Medan, yang jaraknya nggak ada setengahnya Jakarta tarifnya 20rb/kg. Lebih aneh lagi, ngirim ke Pematang Siantar yang masih di Sumut tarifnya sama ama ke Jakarta. Alesan Tikinya, Pematang Siantar termasuk pedalaman ?!?!.
Yang bikin ‘gatel’ ngeliat timbangannya. Untuk nimbang barang yang gede-gede dan berat-berat, timbangan yang dipake model timbangan kue kapasitas 20 Kg. Halah… !!
_______________________________________________________________
Teunom, Aceh Jaya - NAD 03.12.2007
Pantai Barat Aceh di MetroTV
December 3, 2007
Senin malam minggu lalu, nggak sengaja nonton Metro Realitas, ternyata liputan tentang Kaukus Pantai Barat dan Selatan Aceh, yaitu tentang isu lambatnya rekonstruksi di wilayah Barat dan Selatan Aceh dibanding Banda Aceh, Aceh Besar dan Pantai Utara Aceh sehingga memunculkan keinginan untuk membentuk propinsi sendiri.
Sejak sebelum Tsunami, pembangunan di wilayah Barat dan Selatan memang lebih lambat dibanding wilayah Aceh lainnya. Delapan kabupaten termiskin ada di wilayah Barat dan Selatan, dengan Simeuleu berada di paling atas, kabupaten paling miskin.
kurang lebih topik tersebut seperti berita di serambinews.:
http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=37390&rubrik=1&kategori=2&topik=45
Kawasan pantai Barat Aceh disorot antara lain;
Jalan pinggir pantaidi Lhoong yang sedang ada peledakan bukit untuk membuat jalan baru:
Penyebrangan rakit di Lamno:
Jembatan Meudang Ghon yang belum lama ini putus, Calang dan Meulaboh. Sayangnya Teunom nggak ke-shoot :-(.
Saking senengnya, gw sms lah orang rumah dan beberapa orang teman. Yang agak dodol adalah sms-an dengan salah seorang teman di Jakarta yang sering gw ledekin Aceh murtad.
gw : "Ma, nonton Metro,liputan Aceh."
Ma : "aku kangen"
gw : "Ma,rumah lo tuh, Ulee Kareng" (ada liputan pertemuan Kaukus Pantai Barat-Selatan yang diadakan di Ulee Kareng, Banda Aceh).
Ma : "Iya..Mrk pgn bikin prov jg Diy..Aceh udh skecil itu..Tambah kecil.."
gw : "Aceh kecil ?? Banda Aceh - Singkil tuh 600 km-an Ma, udah kaya Jkt-Jawa Timur"
Ma : "Masa siy? kalo gw liat peta kecil..Jgn lu bndingin ma jawa kalee.."
gw : "Peta skala berapa yang lo liat ? Bener-bener Aceh murtad lo ye"
Ma : "Ampun Diy..gw aga murtad ma Aceh, gw akuin lu lebih tau". (ha ha ha…)
Note : photo by Diyas
_____________________________________________________________
Teunom - Aceh Jaya NAD 28.11.2007
Pembeli adalah Raja, Pelanggan apalagi
November 14, 2007
CS Lion Air yang dodol.
Minggu lalu, ke Jakarta beberapa hari merupakan hari-hari yang melelahkan. Kali ini, karena urusan pribadi, pulang harus mengurus tiket sendiri dengan biaya sendiri.
Harga tiket selain Garuda yang berbeda 2/3 kalinya memang menggiurkan.Ke Jakartanya lewat rute Medan, dapat tiket Air Asia yang sangat miring, hampir 1/2 kali harga Garuda ekonomi yang biasa dibelikan kantor.
Kembali ke Teunom, memilih via Banda Aceh, karena sudah terlalu lelah membayangkan Polonia yang sumpek serta perjalanan Bandara Meulaboh - Teunom yang cukup panjang. Untuk mengejar penerbangan Cessna Banda Aceh-Calang, harus penerbangan pagi. Penerbangan Jakarta - Banda Aceh pagi, selain Garuda ada dua pilihan, Lion dan Adam. Pilihan jatuh ke Lion.
Senin, saya membeli tiket di Dina Travel, Jatiwaringin, Lion Air Jakarta-Banda Aceh untuk Kamis pagi, seharga 780rb. Selasa sore sekitar jam 16.45, tiba-tiba ada kabar keperluan mendadak untuk hari Kamis. Saya langsung menelpon call center Lion untuk merubah jadwal tiket. Telpon diterima oleh CS perempuan yang saya lupa namanya, dia menyuruh saya telpon ke travel karena travel tersebut sudah on line, katanya. Segera saya telpon ke Dina travel, kata travel saya langsung saja telp. Lion. Saya telpon lagi Lion, kali ini yang terima telp. CS laki-laki. Lagi-lagi si CS menyuruh saya menelpon Travel. Saya bilang, Travel menyuruh saya nelpon kesini
langsung. Akhirnya si CS melayani. Saya jelaskan maksud merubah jadwal dari hari Kamis menjadi hari Jumat dengan jam penerbangan yang sama.
Dia mengecek seat, lalu mengatakan bahwa masih ada seat di kelas yang sama.Saya confirm untuk rubah lalu menanyakan prosedur apalagi yang harus dilakukan.
CS : "Ibu besok dateng ke kantor kami untuk merubah tiketnya."
saya : "Tidak bisa via telpon saja ?".
CS : "Nggak bisa bu, tiketnya harus diganti"
saya : "Dimana sih kantornya mas ?"
CS : "Di Harmoni bu’
saya : "Wah jauh sekali ya, bisa nggak saya lapor di kantor Lion Bandara saja sebelum terbang"
CS : "Sebenernya bisa bu, tapi harus dua jam ebelum keberangkatan, penerbangan ibu kan paling pagi, jadi nggak bisa"
saya : "Oke deh, saya besok dateng ke Harmoni. Tapi tiket saya dirubah dulu sekarang ya."
CS : "Oke bu"
Rabu siang sekitar jam 13.00, saya sampai di Harmoni. Langsung menuju salah satu counter CS yang kosong. Sang CS, perempuan muda yang manis langsung menyambut.
CS : "Selamat siang bu, ada keperluan apa ?"
saya : "Ini mbak, kemaren sore saya menelpon Lion untuk merubah jadwal tiket, lalu saya disuruh dateng kesini untuk mengganti tiketnya".
CS : "Bisa liat tiketnya bu?" (saya serahkan, kemudian si CS sibuk mengetik)
CS : "Ibu, tiket ibu belum dirubah, ini seatnya sih masih ada, tapi ibu kena charge 20% harga tiket karena merubah jadwal kurang dari 24 jam sebelum penerbangan" - (Gubrakkkk !!!)
saya : "Loh gimana sih mbak, saya sudah nelpon kemaren sore,sudah confirm dirubah jadwal, cuma saya baru bisa dateng kesininya sekarang."
CS : "ibu inget nggak kemaren nelp. dengan yang namanya siapa ?
saya : "Saya nggak inget namanya, yang jelas laki-laki"
CS : "tapi tiket ibu belum dirubah"
Sekitar sepuluh menit saya debat kusir dengan sang CS. Nada sudah meninggi, tampang juga sudah jutek abis, sang CS masih berargumen dengan tampang manis. Sudah agak capek dan nyadar nggak punya bukti, akhirnya jurus terakhir saya minta bicara dengan manager sang CS. Dia menyuruh saya ke Customer Care, yang saat itu sedang break makan siang.
Sekitar 15 menit menunggu sambil menyelesaikan pembayaran charge, kemudian CS Customer Care muncul. Saya langsung ke mejanya, lalu menjelaskan complain dan memberi masukan untuk sistem pelayanan perubahan jadwal via telpon, agar customer diberikan semacam kode booking, sebagai bukti.Sehingga tidak perlu pula harus dateng ke kantor penerbangan.
Saya juga menceritakan pengalaman merubah tiket Sriwijaya Air yang tidak bermasalah. Agustus lalu, saya membeli tiket Sriwijaya jurusan Medan - Pekanbaru, di Jakarta. Tiketnya saya bawa ke Teunom. Setelah sampai Teunom saya merubah jadwal, jadi maju sehari. Saya telp. call Center Sriwijaya Air di Gunung Sahari, Jakarta. Memang waktunya agak lengang waktu itu, seminggu sebelum keberangkatan, jadi saya sempat menelpon dua hari berturut-turut untuk memastikan bahwa tiket memang sudah dirubah. Saya disuruh datang dua jam sebelum keberangkatan untuk melapor dikantor Sriwijaya Polonia. Hari H penerbangan, semua lancar.
Saya meninggalkan kantor Lion dengan rasa capek dan gelo (bhs jawanya nyesel -red.) Banyak yang bikin nyesek. Perjalanan dari rumah ke Harmoni dalam cuti yang singkat hampir memakan waktu 1/2 hari. Sampe sana harus bayar pula.
Kalo dihitung, harga tiket+charge+bensin, sudah hampir mendekati harga tiket Garuda. Bayangkan betapa memudahkannya sebuah sistem. Tiket Garuda 1.2jt, untuk merubah tiket cukup menelpon call center, lalu tidak lama kemudian mengeceknya di website. Menambah Miles Frequent Flyer cukup banyak pula.
Mudik lebaran kemarin, tiga kali ngerubah jadwal tiket Medan-Jakarta dengan mudahnya. Mmm… penyesalan tiada guna…
- when you lose, don’t loose the lesson - (ngutip Feby)
NG yang Molor & Kurir desperado
Sejak National Geographic Indonesia terbit, ketika event pameran photo NG di gedung Arsip Nasional, saya mendaftar untuk berlangganan. Keuntungan berlangganan adalah diskon yang mencapai 20%, dapat merchandise NG, serta datengnya NG yang cukup awal, tanggal 22 bulan sebelumnya biasanya sudah diantar. (iklan banget ya ?!)
Sejak ke Aceh, saya membaca NG sesempatnya ketika pulang ke Jakarta, lalu membawanya ke Aceh. Ketika mudik lebaran kemarin, tiba di Jakarta tanggal 4 Oktober, begitu tiba biasanya langsung mengecek kiriman surat-surat tagihan dan majalah. Kali itu saya tidak teringat NG.
Lima hari kemudian alias tanggal 9 baru teringat kalo NG edisi Oktober belum datang. Hari itu yang sudah mendekati Lebaran saya menelpon Gramedia. Sang CS meminta maaf dan bilang akan dikirim besok. Besoknya tanggal 10, selepas magrib ada yang menelpon ke HP. Ternyata kurir Jasa Pengiriman yang akan mengantar NG, menanyakan detail alamat. Dia nyasar ke komplek yang namanya mirip dengan jalan rumah.
Lima belas menit kemudian, si kurir menelpon lagi, masih kebingunan mencari alamat saya. Saya jelaskan sedetail-detailnya.
Saya merasa aneh. Malam itu sudah malam takbiran bagi yang berlebaran tanggal 11. Lagi pula baru kali ini, ada kiriman datang malam hari. Tidak lama kemudian lagi, saya sedang keluar rumah. Lagi lagi si kurir menelpon.
Kurir : "Bu, rumah ibu jauh nggak dari jalan ?"
saya : "Enggak terlalu jauh, sekitar 100 meter"
Kurir : "Saya bingung nih Bu, ibu nunggu didepan jalan aja deh, daripada nggak ketemu" ( -gubrak!!!-)
saya : "Wah nggak bisa Pak, saya lagi keluar nih, Bapak bukan kurir yang biasa ngirim ke rumah saya ya?!
biasanya nggak ada kesulian tuh."
Kurir : "iya Bu, udah mau lebaran nih, udah malem, makanya kalo bisa ibu cegat aja di depan jalan"
saya : "Nggak bisa Pak, bapak masuk aja ke jalan itu, terus kalo nggak tau, tanya-tanya orang sekitar situ"
Kurir : "Dari simpangan warung masih jauh nggak bu ?"
Saya : "Udah deket, tinggal dua rumah"
Kurir : "Bisa masuk mobil nggak ?’
saya : "Bisa"
Kurir : "Orang rumah ibu suruh tunggu di simpang warung itu deh bu"
Saya : "Ya udah deh Pak, bapak cari aja dulu rumah saya, nanti saya juga suruh orang rumah samperin"
Baru kali ini saya ketemu Kurir yang desperado, mungkin dia mau mudik malem itu.
Kemoloran NG ternyata terulang lagi bulan ini. Senin, minggu lalu, NG edisi November belum juga dateng. Saya telpon lagi Gramedia. Sang CS sangat-sangat meminta maaf. Saya ceritakan kejadian kurir desperado itu, sang CS agak panik, dia bilang NG memang sedang kalang kabut dengan masalah pengiriman karena ganti Jasa Pengiriman. Banyak komplain serupa juga katanya.Sang CS menjanjikan akan mengirimkan hari itu.
Hari Kamis, tiga hari berselang, baru nyadar, NG belum juga dateng, saya telpon lagi.
saya : "Mbak, kok NG nya belum datang juga, kan saya sudah telp. dari hari Senin"
CS : "Aduh, belum ya mbak, padahal sudah saya minta kirim hari itu juga, ada nih surat permintaan saya.Sudah dikirim kok
mbak, mungkin sampai hari ini, atau besok."
saya : "yaa…, besok saya sudah keluar kota, gimana nih mbak, kok NG telat mulu, tolong dong mbak bulan depan jangan telat lagi, saya kan sudah langganan dari awal."
CS : "iya mbak, maaf banget ya, nanti kita ganti deh provider pengirimannya."
Untungnya, Kamis sore NG nya dateng dan tidak pakai acara kurir nyasar-nyasar lagi :-). Entah bulan depan.
______________________________________________________________
Teunom - Aceh Jaya NAD 15.11.2007
Kemana perginya mainanku ?
September 15, 2007
Kemana perginya mainanku?
Mobil-mobilan dari kulit jeruk
Kuda-kudaan dari pelepah pisang
Entah kemana perginya…
Mainanku – Iwan Fals 1993
Waktu main ke rumah kakak bulan lalu, ponakan perempuan saya yang berumur 5 tahun yang sedang bermain di luar rumah tiba-tiba menangis kejer. Rupanya ada tawon menempel di bajunya, teman-temannya teriak, dia kaget dan ketakutan. Untunglah tidak sampai diantup.
Kakak ipar saya lalu menyeret anaknya pulang, sambil mengomeli sang anak. Isi omelannya adalah menyalahi sang anak karena main diluar dan melarangnya untuk bermain di luar rumah lagi.
Melihat kejadian itu, saya miris. Saya ingat masa kecil dimana banyak waktu bermain yang saya habiskan di luar rumah bersama teman-teman sebaya, seperti main Tak jongkok, Tak umpet, Kasti, Main Boy, Galasin, Main Benteng, Maen Karet ( lompatan, lompat jongkok, puteran ), Taplak Geser, Taplak Gunung, dan masih banyak lagi mainan-mainan yang ada unsur lari-larian, lompat-lompatan dan teriak-teriak.
Di Majalah Tempo edisi akhir Juli lalu, terdapat tulisan menarik “Bermainlah Anak-Anak Indonesia” yaitu artikel liputan program Ayo Main Bersama – Jangan Takut Kotor, acara menyambut hari anak yang disponsori Rinso.
Mengutip tulisan pada halaman pertama artikel itu :
Hasil riset Play and Physical Quotient (PQ) atau riset kemampuan fisik dan bermain anak yang dilakukan pada Januari 2006 oleh Rinso, menunjukkan anak-anak Indonesia menempati urutan terendah dibandingkan Thailand, Vietnam dan Jepang. Dan, orangtua di Indonesia memiliki persentase paling tinggi dalam melarang anak-anak bermain di luar rumah.
Test PQ dilakukan terhadap sekitar 4000 ribu anak usia 6-12 tahun di sejumlah kota besar di empat negara tersebut. Hasil riset menunjukkan aktivitas yang sering dilakukan anak setiap hari adalah mengerjakan pekerjaan rumah dan menonton televisi. Jika ada waktu luang, anak-anak Indonesia menggunakannya untuk baca buku dan main komputer, anak-anak Thailand membantu orang tua mengerjakan pekerjaan rumah. Anak-anak Vietnam berolahraga, dan anak-anak Jepang bermain diluar rumah.
Menurut psikolog, bermain diluar ruangan (alam bebas) memberikan warna yang khas dan bernilai positif terhadap kegiatan yang dilakukan anak. Nilai tambah bermain di luar ruangan akan memperkaya pengalaman anak untuk melakukan eksplorasi sehingga wawasan mereka semakin luas.
Sayangnya saat ini banyak orang tua yang cenderung membatasi anaknya bermain di luar rumah dengan berbagai alasan, misalnya demi keamanan – takut anaknya diculik, demi kebersihan – takut baju kotor, over protected – takut anaknya kecapekan, bahkan tidak sedikit ibu muda jaman sekarang yang melarang anak perempuan mungilnya bermain diluar ruang karena takut anaknya hitam (mungkin takut anaknya nggak bisa jadi pemain sinetron nantinya :-P)
Pada Hari Anak Juli lalu itu, bertempat di Lapangan gedung Aldiron – Pancoran, para orang tua dan anak-anaknya mengikuti berbagai permainan luar ruang anak-anak digelar Rinso.
Sudah lama sebelumnya Rinso telah memulai program ini dengan memberikan hadiah langsung pembelian Rinso berupa buku Ayo Main Bersama – Jangan Takut Kotor, yang berisi keterangan tentang permainan luar ruang anak-anak yang saat ini sudah jarang dimainkan oleh anak-anak sekarang. Bukunya cukup menarik karena disertai ilustrasi.
Bukan bermaksud mengiklankan Rinso, saya cukup terkesan dengan program Ayo Main Bersama ini.Setidaknya memperkenalkan lagi nilai-nilai positif permainan anak-anak jaman dulu yang mulai ditinggalkan anak-anak jaman sekarang.
Sayangnya ruang terbuka dikota besar tempat anak-anak bermain memang semakin berkurang. Permainan anak-anak luar ruang juga kini dikemas dalam produk yang harus dibeli. Banyak sekolah mengikutkan siswanya dalam program Outbound yang diselenggarakan provider khusus dengan biaya yang tidak cukup murah bagi yang tidak mampu.
Jaman saya kecil dulu, untuk merasakan tegangnya ketinggian, serunya berayun ditempat tinggi dan nyebur ke kubangan tidak perlu ikut Outbound, cukup menyelinap masuk ke kebun tetangga, manjat pohon jambu klutuk, berayun-ayun diayunan tambang yang diikatkan ke dahannya, dan nyebur ke empang kecil yang ada dibawahnya
.
Ket. foto :
- kiri : Permainan Taplak Gunung - dari sampul kaset album Hijau Iwan Fals 1993.
- tengah : Permainan Lompatan (main karet) - anak-anak di P.Breuh - NAD
- kanan : Permainan Lompatan (main karet) - anak-anak disekitar sanggar Rumah Dunia - Serang , Banten.
_______________________________________________________________
Teunom - Aceh Jaya NAD 15 September 2007







